
Anisa menggenggam tangan Sela, ''aku masih bekerja di rumah tuan Rendi.'' Anisa diam untuk melihat reaksi Sela.
Sela sendiri tetap diam membiarkan Anisa untuk melanjutkan ceritanya.
''Ada yang harus kamu tau, sebenarnya tuan Rendi melarang aku cerita ini sama kamu tapi sebagai seorang sahabat aku merasa bersalah karena menyenbunyikan sesuatu dari kamu. Hari itu setelah melihat rekaman percakapan antara Arumi dan Hans sebenarnya tuan Rendi sangat menyesal.''
''Jika dia menyesal kenapa kenapa dia sama sekali tidak marah pada Arumi, malah membawanya pergi dan melindunginya agar polisi tidak menangkapnya.'' Sela yang kecewa dengan Rendi meluapkan emosinya di depan Anisa.
Anisa menghela nafas, ''itu karena tuan Rendi terlalu mementingkan nama baik keluarga dia takut jika publik tau istrinya seorang penjahat dan di tahan di kantor polisi akan langsung menghancurkan nama baik keluarganya, apa lagi kalau sampai anaknya lahir di kantor polisi.''
Anisa melihat Sela mulai melembut dia melanjutkan kembali ''selama ini tuan Rendi selalu memperhatikanmu dari ke jauhan, bahkan di setiap sidang perceraian kalian dia selalu datang dan langsung pergi setelah melihat kamu.'' Anisa kembali menggenggam tangan Sela.
''Kenapa dia tidak menemui aku, ini sama sekali tidak seperti Rendi.'' Sela merasa tidak percaya.
''Kata tuan Rendi dia sudah terlalu malu untuk menemui kamu jadi dia sengaja mengabulkan ke inginan kamu untuk bercerai, dan hari ini aku datang sebenarnya atas permintaan tuan Rendi dia ingin tau di mana kamu tinggal sekarang.''
Sela menyepitkan mata, ''kamu menghianati aku?''
''Mana mungkin, aku tidak akan beri tau kalau kamu tidak mengijinkan.''
Sela menghela nafas lega. ''Anisa aku sangat takut kamu juga sama seperti Arumi.'' Kata Sela dengan tatapan sendu.
''Itu tidak akan terjadi aku janji, cukup selama beberapa hari ini aku terus merasa tidak tenang karena menyembunyikan tentang tuan Rendi padamu, kedepannya aku tidak mau lagi.''
''Terima kasih''
Anisa lega karena Sela tidak marah.
''Eh, ngomong-ngomong bagaimana dengan Arumi?'' Sela tiba-tiba teringat.
''Arumi...,'' Anisa menggantung ucapannya karena mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan Rumah Wisnu.
__ADS_1
Wisnu turun dari mobil di ikuti Sela dan Anisa. Wajah Wisnu terlihat kurang baik saat menatap Anisa, selama perjalanan Wisnu benar-benar tidak nyaman mendengar percakapan antara Sela dan Anisa.
Dia merasa Anisa terkesan ingin mendekatkan kembali hubungan Rendi dan Sela.
Anisa menyadari tatapan berbeda dari Wisnu namun dia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya jadi dia abaikan.
''Bik di mana Marisa?'' Tanya Sela pada bik Wati yang telah lebih dulu memasuki rumah.
''Sedang bermain di ruang bermain, nyonya.''
''Hm'' Sela mengangguk lalu pergi menuju ruang bermain Marisa.
''Bik buatkan minum untuk tamu kita.'' Kata Wisnu sambil duduk di sofa menunggu Sela membawa Marisa.
''Duduklah'' tak lupa dia mempersilahkan Anisa duduk.
''Apa kau berharap Sela dan Rendi berbaikan?'' Tanyanya begitu Anisa sudah duduk.
''Tuan Rendi bukan begitu, anda jangan salah paham, aku hanya takut Sela akan menganggap aku merahasiakan sesuatu jika dia tau masalah ini kamudian hari. Aku hanya tidak ingin dia merasa orang-orang di sekitarnya tidak ada yang tulus padanya.'' Anisa berusaha menjelaskan.
Di rumah sakit, Bastian masih dalam penanganan dokter. Sementara Monika begitu sampai terus saja menangis.
''Ma sudah, papa pasti akan baik-baik saja'' Rendi berusaha menenangkan.
''Rendi semua ini karena kamu, mama tidak menyangka semua akan jadi seperti ini, harusnya kamu bertanggung jawab sama ke salahan kamu bukannya malah menghilang, membuat papamu ke sulitan mengatasi semua ini sendiri. Di tambah lagi kamu membawa Arumi yang sedang hamil, kamu tau Yanto dan istrinya terus mendesak papamu agar segera menemukan kalian.'' Monika yang biasanya tidak pernah marah pada Rendi, kali ini tidak mampu lagi menahan kekesalannya pada putranya itu.
''Mama tau kenapa Rendi menghilang?'' Rendi mengeluarkan henponnya dan menunjukkan rekaman vidio yang sudah dia salin dari henpon Sela.
''Lihatlah'' Rendi menyodorkan henpon itu pada Monika.
Monika menerima henpon Rendi dan menonton Vidio itu, dia hampir tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat. Monika sampai mundur beberapa langkah sangking syoknya. ''Rendi ini?'' Monika menutup mulutnya sendiri.
__ADS_1
''Iya ma, dan Sela sudah melaporkan masalah ini ke polisi karena itu Rendi terpaksa membawa Arumi untuk bersembunyi demi menyelamatkan nama baik keluarga kita.''
Rendi menghampiri Monika yang terlihat masih begitu syok, dia memeluk mamanya. ''Ma maafkan Rendi, Rendi memang anak yang tidak berguna.''
Tangis Monika kembali pecah dalam pelukan Rendi. ''Mama yang salah, mama sudah mencelakaimu. Kalau saja mama dan papa tidak memaksamu menikah dengan Arumi semua pasti masih baik-baik saja. Maafkan mama'' Monika sangat menyesal dia tidak menyangka Arumi yang terlihat baik dan lemah lembut adalah seorang wanita yang sangat mengerikan.
Pintu ruangan tempat Bastian ditangani terbuka, keluarlah seorang dokter dari sana. Monika gegas menghampiri dokter itu sambil mengusap air matanya yang sejak tadi terus bercucuran.
''Dokter bagaimana keadaan suami saya?''
''Pasien terkena serangan jantung ringan. Untuk saat ini kondisinya sudah setabil dan melewati masa kritis, tapi harus di ingat untuk saat ini jangan biarkan suami anda terlalu banyak berpikir agar tidah ada masalah-masalah yang mengganggu pikirannya agar hal seperti ini tidak terulang lagi. Karena jika terulang akan sangat membahayakan dan penanganannyapun akan lebih sulit.''
Monika dan Rendi mengangguk paham, dokter itu pun pergi meninggalkan mereka.
''Rendi buka, apa yang kamu lakukan padaku? Cepat buka pintunya. Buk..., buk....,buk....,''
Arumi terus menggedor pintu berharap Rendi akan membukakan pintu itu. Begitulah setiap hari yang dia lakukan selama Rendi mengurungnya.
Lain hal dengan Hans yang saat ini mengalami nasib yang sama dengan Arumi dia juga di tahan oleh orang-orang suruhan Rendi. Namun diam-diam dia merencanakan untuk melarikan diri. Hans sudah menggali sebuah lubang di dalam gudang itu untuk jalannya melarikan diri.
Keadaan penjagaan Hans juga tidak terlalu ketat seperti awal Hans di tangkap. Hal itu karena saat ini Rendi sedang kesulitan dalam keuangan maka dia dan Alex mengurangi penjagaan untuk Hans.
Acara makan bersama yang di adakan Sela di rumahnya sudah selesai dia meminta Wisnu untuk mengantarjan Anisa pulang namun Anisa menolak dia lebih memilih pulang sendiri.
''Anisa kamu yakin tidak ingin di antar Wisnu?''
''Hm'' Anisa mengangguk, ''akan sangat canggung bila aku hanya berdua saja dengan tuan Wisnu di mobil.'' Jawabnya apa adanya.
Sela tidak memaksa lagi, dia kembali ke rumahnya setelah Anisa menaiki taksi on laen yang di pesannya.
''Sela bisa kita bicara?'' kata Wisnu.
__ADS_1
''Tentu saja, bukannya setiap hari kita juga bicara? Kenapa sekarang kamu jadi sungkan?''
''Aku ingin bicara masalah serius tentang kita!''