Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
epiaod 38


__ADS_3

Arumi masuk ke kamarnya dengan kesal. ''Aaaaa'' teriaknya begitu masuk ke dalam kamar. ''Praaang! Praaaang! Arumi menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya.


"Kenapa, kenapa mas kamu tidak bisa membuka hati kamu untuk aku, kenapaaaa?'' Arumi berteriak-teriak sepaerti orang gila di dalam kamarnya.


Hal ini membuat Erina kaget dan langsung berlari ke kamar Arumi. ''Arumi, ada apa sayang? Cerita sama ibu.''


Erina mendekap tubuh Arumi yang terlihat sangat berantakan. ''Bu apa aku tidak cantik?'' tanya Arumi pada ibunya.


''Sayang tentu saja kamu cantik, memangnya ada apa?''


''Tapi kenapa mas Rendi tidak bisa mencintai aku seperti dia mencintai Sela? Padahal aku yang pertama mencintai dia bukan Sela dan Sela lah yang sudah merebut mas Rendi dari aku. Tapi kenapa aku yang harus menderita seperti ini, ini tidak adil,...ini tidak adiiiilll.''


Arumi terus saja mengoceh sambil menangis bahkan sesekali ia berteriak. Erina sungguh merasa khawatir melihat kondisi Arumi.


''Bu, aku selalu berusaha bersikap baik di depan mas Rendi, bahkan saat dia bercerita tentang Sela.'' Arumi terus menangis hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri.


''Pak....tolong Arumi pingsan." Teriak Erina sambil berlari mencari keberadaan suaminya


Arumi kembali di larikan kerumah sakit oleh ke dua orang tuanya.


"Bastian, Arumi pingsan lagi, sekarang kami sedang berada di rumah sakit.'' Yanto mengabarkan kondisi Arumi kepada besannya melaui sambungan telpon.


''Pak kenapa malah menelpon Bastian, bukannya Rendi?''


''Ah, biar saja biar Bastian yang menelpon nak Rendi, kalau kita Bapak takut malah tidak di angkat.''


Erina tidak mendebat suaminya lagi, dia hanya fokus melihat pintu ruang pemeriksaan Arumi.


Sela terbangun di tengah malam karena merasa perutnya sangat lapar. Dia keluar dari kamarnya sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


''Huh aman tidak ada orang, bisa malu aku kalau ketahuan Wisnu.'' Sela berjalan mengendap-endap seperti seorang maling menuju kedapur.


''Wah dapurnya bagus sekali, tidak kusangka ternyata rumah Wisnu sangat bagus.'' puji Sela.


Sela membuka kulkas dan hanya menemukan sebuah puding dan beberapa buah apel di sana.


Sela mengambil puding itu dan bermaksud membawanya kemeja makan.


''Perutmu sudah kosong seharian, kamu bisa sakit perut jika makan itu.'' Sela yang tidak menyadari ke datangan Wisnu begitu terkejut hingga menjatuhkan puding yang ada di tangannya.

__ADS_1


''Maaf'' kata Sela dengan tubuh yang gemetar. Ia segera jongkok untuk membersihkan puding yang berserakan di lantai.


Wisnu menghela napas melihatnya.''Biarkan saja nanti akan ada pelayan yang membereskannya.


Ayo aku sudah memanaskan bubur di mickrowave.''


Wisnu berjalan ke arah mickroweve dan mengeluarkan bubur yang tadi ia panaskan, lalu membawanya ke meja makan. Sela mengekorinya dari belakang dengan tubuh yang masih sedikit gemetar.


''Makanlah'' Wisnu meletakkan mangkuk bubur itu ke depan Sela.


Sela hanya diam memandang mangkuk bubur itu.


''Sela apa kamu sangat takut padaku? Maafkan aku, tapi sungguh aku benar-benar sudah berubah, aku juga sudah menerima hukuman dari perbuatanku.''


Wisnu kembali menghela napas ''aku tidak tau kenapa dulu aku begitu bodoh sampai bisa begitu terobsesi pada Arumi''


''Cukup jangan dituruskan, jangan pernah sebut nama itu di depanku.''


''Kenapa bukankah kalian berteman baik?''


''Bisakah tidak usah membicarakan soal dia, aku lapar dan ingin makan!"


Wisnu menggelengkan kepala "ada apa sebenarnya dengan Sela, tadi dia terlihat sangat ketakutan tapi sekarang malah terlihat sangat galak.'' batin Wisnu


Entah karena memang rasa bubur buatan Wisnu yang enak atau memang Sela yang sedang sangat lapar, dalam sekejap bubur di mangkuk Sela sudah berpindah semua ke dalam perutnya.


''Mau lagi?'' tanya Wisnu


''Tidak aku sudah kenyang. Apa kamu yang memasak bubur ini?''


''Kenapa, apa rasanya sangat enak? Kalau kamu suka aku akan memasakkan untukmu setiap hari''


Sela memicingkan mata ke arah Wisnu hingga membuat Wisnu terkekeh. ''Aku hanya bercanda, apa sekarang kamu masih takut padaku''


Sela berpikir sejenak sebelum menjawab ''aku tidak tau tapi setiap berpikir kamu akan marah, aku akan terbayang kejadian masa lalu dan itu membuat tubuhku gemetar, tapi sebelumnya aku tidak pernah seperti ini, bahkan saat berpikir Rendi akan marah aku juga tidak seperti ini.''


''Rendi, siapa itu?''


Sela menunduk, terlihat raut sedih di wajahnya. ''Dia suamiku'' jawab Sela dengan suara yang sangat pelan.

__ADS_1


Melihat wajah sedih Sela, Wisnu bisa menyimpulkan kalau saat ini dia sedang bermasalah dengan suaminya, tapi saat ini Wisnu tidak ingin membahas hal ini dengan Sela. Wisnu tidak ingin membuat Sela tambah Sedih.


''Wisnu boleh tanya sesuatu? Tapi jangan marah ya?''


''Hm'' Wisnu mengangguk.


''Kenapa kamu bisa berubah jadi baik begini?''


''Pertanyaan macam apa itu, apa kamu tidak merasa selama kita berteman dulu aku ini pemuda yang baik.'' Kata Wisnu dengan tatapan menggoda


''Bercanda terus, sudahlah aku ingin tidur.'' Sela beranjak dari kursinya dan melangkah pergi. Saat sela baru melangkah dua langkah, Wisnu mengucapkan sesuatu.


''Mendiang istri dan anakku yang sudah merubah aku. Mereka mengajari aku betapa dalam hidup ini kita harus saling menyayangi dan saling berbuat baik.''


''Kamu beruntung bertemu wanita separti mendiang istrimu.'' kata Sela sambil berlalu pergi tampa menoleh ke arah Wisnu.


''Kamu benar aku beruntung memilikinya.'' Gumam Wisnu


Setelah menerima panggilan telpon dari Yanto sahabatnya, Bastian terus berusaha menghubungi Rendi tapi tak satu panggilanpun yang mendapat jawaban dari Rendi.


''Anak ini, apa yang sebenarnya dialakukan.'' Kesal Bastian


''Bagaimana pa?'' Bastian menggeleng ''dia tidak menjawab telponku.''


''Pa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Rendi.''


''Ma jangan bicara omong kosong.'' tegur Bastian.


''Tadi papa sudah tanya pada Alex, katanya Rendi sudah pulang dan saat ini sedang berada di rumahnya.''


''Kalau begitu biarkan dia istirahat mungkin dia kelelahan. Besok kita kesana sekalian mengajak dia kerumah sakit.''


Ke esokan harinya Rendi yang sudah bersiap untuk kembali mencari Sela di kejutkan dengan kehadiran ke dua orang tuanya.


''Rendi kamu sudah siap? Baguslah, ayo kita ke rumah sakit sekarang.''


Rendi menatap ke dua orang tuanya bergantian. Melihat kebingungan di mata Rendi, Monika mendekat dan berkata dengan lembut. ''Rendi, semalam Arumi pingsan lagi, kamu harus melihat kondisinya.''


''Maaf ma, aku tidak bisa, aku harus segera menemukan Sela, aku takut terjadi sesuatu dengannya. Lagi pula sudah ada ke dua orang tuanya yang menemani Arumi.''

__ADS_1


Bastian geram melihat Rendi yang sangat keras kepala. ''Rendi kamu harus ikut, jangan jadi suami yang tidak bertanggung jawab.''


''Justru saat ini aku sedang menjadi suami yang bertanggung jawab, yang sedang berusaha menemukan istrinya yang sedang hilang.''


__ADS_2