Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 82


__ADS_3

Setelah berdiskusi berdua, pak Yanto dan istrinya akhirnya memutuskan tetap tinggal di desa. Namun setiap kali di perlukan pak Yanto akan pergi ke kota untuk memangil dokter sepesialis anak untuk merawat Fais.


''Menurut kamu yang ini bagaimana?'' Sela menunjuk sebuah cincin kepada Wisnu. Ya, saat ini Wisnu dan Sela sedang berada di sebuah toko perhiasan ternama di Jakarta untuk membeli cincin pernikahan mereka.


''Bagus, apa kamu menyukainya?'' Tanya Wisnu seraya tersenyum. ''Sebenarnya aku sudah memesan cincin khusus untuk kita, tapi jika kamu menyukai yang itu, maka aku akan mengikuti pilihanmu.''


''Mana boleh begitu, jika kamu memang sudah pesan berarti harus kita ambil. Aku mau yang kamu pesan saja.'' Kata Sela dengan cepat.


Seorang pelayan toko datang membawa cincin pesanannya Wisnu. ''Tuan ini pesanan anda'' pelayan itu menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna merah kepada Wisnu.


Wisnu membuka kotak beludru itu di hadapan Sela, ''bagaimana menurut kamu?'' Tanyanya sambil memperlihatkan isi kotak itu.


''Wisnu apa ini tidak salah?''


''Kenapa kamu tidak suka?'' Tanya Wisnu.


''Bukan-bukan,'' Sela buru-buru menjawab takut Wisnu salah paham. ''Aku hanya merasa cincin ini terlalu bagus aku takut akan menghilangkannya, lagi pula harganya pasti sangat mahal.''


''Aku akan menggantinya setiap kamu menghilangkannya, jadi tidak usah khawatir cukup katakan kamu suka.''


''Hm'' Sela mengangguk dengan ragu-ragu. ''Sangat bagus tapi pasti juga sangat mahal'' gumamnya.


Wisnu sangat gemas melihat tingkah Sela. Dia sampai menarik hidung Sela.


''Mau ke butik sekarang atau besok?''


''Sekarang saja aku ingin semuanya cepat selesai.'' Jewab Sela.


''Siap yang mulia ratu'' kata Wisnu sambil sedikit membungkuk, menirukan gerakan seorang abdi yang sedang memberi hormat ke pada rajanya.


Sela tertawa melihat tingkah Wisnu, dia bersyukur karena di saat dia sedang terpuruk Tuhan mengirimkan Wisnu untuknya. ''Ternyata seperti ini rasanya di manjakan'' batin Sela.


Anisa mengemasi seluruh barang-barangnya, dia berniat ingin pulang kampung.

__ADS_1


''Anisa apa kamu benar-benar yakin ingin pulang kampung?'' Tanya Alex yang sedang memperhatikan Anisa berkemas.


''Iya aku rindu keluargaku, sudah terlalu lama aku di sini, bapak dan ibuku pasti cemas memikirkan aku.'' Anisa memasukkan pakaian terakhir yang tersisa di lemari ke dalam kopernya lalu menutup koper itu.


''Bukannya kamu selalu mengirim kabar ke kampung?'' Tanya Alex dengan raut wajah sedih.


''Hei, kenapa wajah kamu seperti itu jelek sekai'' goda Anisa.


Alex tidak perduli dengan caadaan Anisa, dia sama sekali tidak bisa tersenyum, hatinya sangat sedih mengingat Anisa akan segera pulang kampung.


''Aku mohon jangan pergi'' Alex bangkit dan langsung memeluk Anisa.


Anisa membalas pelukan Alex sambil menepuk pelan punggung Alex. Sejujurnya Anisa juga berat untuk meninggalkan Alex karena dia sudah terlanjur sangat mencintainya. Namun Anisa berpikir sudah tidak ada lagi yang bisa dia kerjakan di kota ini oleh karena itu Anisa memutuskan untuk pulang kampung.


''Mas Alex kamu harus segera menyusul aku ke kampung untuk melamar aku.'' Kata Anisa tiba-tiba.


Alek memegang kedua bahu Anisa lalu sedikit mendorongnya. ''Kamu serius?'' Tanya Alex dengan wajah semberingah namun sedetik kemudian wajahnya langsung berubah sendu.


''Tapi saat ini aku sedang tidak punya pekerjaan, bagaimana mungkin bisa menemui orang tuamu, mereka pasti mengusir aku kalau tau'' keluh Alex.


''Dreeet...dreeeet...dreeeet'' ponsel Alex berdering, Alex mengerutkan kening saat melihat nama penelpon yang berada di layar henponnya.


''Siapa?'' Tanya Anisa yang melihat raut wajah Alex berubah.


Alex mengangkat tangannya mengisyaratkan pada Anisa untuk menunggu. Alex mengangkat panggilan telpon itu.


''Tuan orang yang bernama Hans itu telah kabur.'' Kata orang-orang yang di bayar Alex untuk menjaga Hans, begitu sambungan telpon itu di angkat oleh Alex.


''Astaga kenapa aku bisa melupakan Hans harusnya kan aku menyerahkannya ke kantor polisi.'' pikirnya.


''Halo tuan?'' Panggil orang yang menelpon Alex karena tidak mendapat jawaban apapun dari Alex.


''Eh, iya sudah biarkan saja nanti aku yang urus'' jawab Alex lalu memutus panggilan telpon itu.

__ADS_1


''Ada apa'' tanya Anisa kembali saat Alex sudah memutus sambungan telponnya.


''Hans kabur, aku lupa padahal saat di kantor polisi aku sudah bilang akan menyerahkan Hans tapi aku lupa, dan sekarang kasus itu telah di tutup karena tersangka utamanya telah meninggal dunia.''


Alex tampak berpikir, ''Anisa aku akan mengantarmu pulang kampung'' katanya kemudian.


Anisa sangat senang mendengarnya, dia tersenyum dan langsung mengangguk.


Sela keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun pengantin. Wisnu begitu terkesima melihat penampilan Sela. Dia begitu cantik bak seorang putri dari negri dongeng.


''Sangat cantik'' gumam Wisnu tanpa sadar, membuat Sela tersipu dan wajahnya langsung memerah.


Sejujurnya walaupun ini pernikahan ke dua tapi bagi Sela ini pertama kalinya dia mengalami semua ini. Saat menikah dengan Rendi dulu mereka hanya menikah di KUA tanpa ada acara apapun.


Rendi berjanji setelah mengenalkan Sela ke pada kedua orang tuanya Rendi akan mengadakan resepsi pernikahan untuk Sela, namun sayang hal itu tidak pernah terjadi karena kedua orang tua Rendi tidak pernah menyukai Sela.


Tiba-tiba saja air mata Sela menetes mengingat betapa sulit hidupnya di masa lalu.


Wisnu jadi panik melihat Sela tiba-tiba menangis dia mendekati Sela dan menghapus air matanya.


''Ada apa'' tanyanya dengan panik. ''Apa kamu tidak menyukai gaunnya, ingin ganti yang lain?''


Sela langsung tertawa dan memukul bahu Wisnu, ''konyol, mana mungkin aku menangis hanya karena tidak menyukai sebuah gaun, lagi pula gaun ini sangat cantik aku suka, aku hanya sedang mengingat kehidupanku dulu.''


Wisnu langsung menarik Sela ke dalam pelukannya. ''Jangan pernah ingat masa sedih itu lagi, aku akan mengisi setiap detik yang kita lewati dengan ke bahagian hingga kamu tidak akan pernah bisa mengingat kesedihan itu lagi. Tolong jangan pernah menangis lagi aku benar-benar takut melihat kamu menangis.''


''Kenapa?'' Sela heran melihat Wisnu yang selalu bereaksi lebih jika melihat dia menangis.


''Dulu Sopia sering menangis diam-diam karena menahan rasa sakit saat hamil Marisa, ke hamilannya bermasalah tapi dia tidak ingin cerita padaku takut aku mengikuti saran dokter untuk melakukan kuret.


Setiap kali aku tanya dia hanya bilang selama hamil dia jadi gampang terharu dan menangis karena hal-hal kecil. Hingga akhirnya dia meninggal setelah melahirkan Marisa aku baru tahu dia menangis karena menahan rasa rakit dan menyembunyikannya dari aku.


Jadi berjanjilah jangan menangis lagi, jika pun ingin menangis tolong katakan janan buat aku ketakutan.''

__ADS_1


Sela ingin tertawa mendengar ucapan Wisnu, bagaimana mungkin jika ingin menangis harus bilang-bilang dulu, tapi melihat wajah serius Wisnu Sela urung dia hanya mengangguk dengan patuh.


__ADS_2