Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 53


__ADS_3

''Nyonya'' sapa Piter saat berpapasan dengan Sela ketika ia ingin pergi.


''Sudah ingin pulang?''


''Iya nyonya, masih ada yang harus saya kerjakan.'' Piter ingin melangkah pergi namun urung karena teringat sesuatu. ''Nyonya.''


''Iya ada apa?''


''Sepertinya kondisi tuan kurang baik, mungkin karena takut nona Marisa sedih, tuan menyembunyikan rasa sakitnya. Saat ini tuan sedang tertidur di kamarnya setelah minum obat. Bisakah nyonya membantu merawat tuan saat dia bangun nanti.''


Sela tidak enak jika harus menolak karena Wisnu bisa sampai terluka juga karena dirinya. Tapi Sela tau betul arti kata merawat yang di maksud oleh Piter itu. Rasanya pasti canggung sekali kalau dia harus membantu Wisnu berganti pakaian atau membantunya kalau mau ke kamar mandi.


Setelah berpikir sejenak akhirnya Sela memang harus berkata ''baiklah jangan khawatir.''


''Terima kasih nyonya, saya pamit dulu.''


Sela menghela nafas lalu berbalik menuju kamar Wisnu. Seperti yang di katakan Piter Wisnu saat ini sedang tertidur. Sela menyelimuti tubuh wisnu sampai sebatas dada dan keluar lagi dari kamar itu.


''Mama sela''


Sela tersenyum melihat Marisa berlari ke arahnya.


''Ada apa sayang?''


''Bunga-bunga yang kita tanam di taman samping sudah pada tumbuh, apa mama Sela mau lihat?''


''Boleh, ayo kita kesana.''


''Tuan apa anda sudah siap?'' Tanya Alex saat melihat Rendi datang menghampirinya.


''Mereka sudah memberi kabar?''


''Iya tuan saat ini mereka sudah menuju ke tempat miting sesuai dengan kesepakatan.''


''Hm, kita berangkat sekarang.'' Rendi dan Alex pergi menuju sebuah kafe yang sudah di sepakati sebagai tempat miting mereka dengan Piter yang merupakan asisten Wisnu namun Rendi tidak tau.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit Rendi dan Alex tiba di kafe itu. Piter sudah lebih dulu sampai sekitar 10 menit lebih cepat dari Rendi dan Alex.


Mereka sengaja memesan private room, agar miting mereka tidak terganggu oleh pengunjung lain.

__ADS_1


Untuk menghindari kecurigaan Piter sengaja membawa Tania sekertaris Wisnu di kantor.


''Selamat datang, silahkan masuk tuan'' sapa pelayan kefe itu. ''Apa sudah pesan tempat?'' Tanyanya kemudiaan.


''Sudah atas nama tuan Piter'' jawab Alex.


''Baik mari saya antar'' pelayan kafe itu memimpin jalan membawa Rendi dan Alex menuju private room tempat Piter berada.


''Silahkan tuan ini ruangannya'' kata pelayan kafe itu begitu sampai di depan ruangan yang sudah di pesan.


''Apa tuan Piter sudah di dalam?''


''Ya tuan mereka sampai sekitar 10 menit yang lalu. Jika butuh sesuatu anda bisa menekan tombol remot yang ada di meja di dalam ruangan ini. Saya permisi.''


Rendi dan Alex masuk kedalam ruangan itu. Tetlihat Piter sedang mengetik sesuatu di lektopnya. Sementara Tania sedang asik mengutak atik henponnya.


''Selamat siang tuan Piter, maaf saya terlambat.'' Rendi menjabat tangan Piter di ikuti dengan Alex.


''Tidak usah sungkan kami juga baru sampai, kenalkan ini sekertaris saya Tania.'' Tania segera mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Rendi juga Alex.


''Sebaiknya kita makan dulu baru membicarakan soal kerja sama kita. Kali ini saya yang akan menjamu.'' Piter menekan tombol remot yang ada di atas meja. Tidak butuh waktu lama beberapa pelayan sudah masuk ke ruangan mereka.


''Tolong bawakan hidangan terbaik yang ada di kafe ini, semuanya.'' Para pelayan kafe itu segera pergi untuk menyiapkan pesanan yang di pesan oleh Piter.


Mereka makan dengan santai seolah tidak sedang membicarakan bisnis tapi hanya sedang makan bersama saja.


''Tuan Rendi apa anda sudah berkeluarga?'' Tanya Piter tiba-tiba.


''Sudah dan saat ini istri saya sedang hamil.'' Jawab Rendi.


Piter sedikit terkejut mendengar jawaban Rendi, ternyata istri yang di maksud Rendi adalah Arumi bukannya Sela.


''Apa tuan Rendi sudah benar-benar tidak menganggap nyonya Sela sebagai istrinya?'' Batin Piter.


''Oh, kalau begitu selamat ya tuan. Semoga istri dan calon anak anda sehat selalu.''


''Terima kasih.'' Tatapan Rendi berubah sendu dia merasa bersalah karena malah mengakui Arumi sebagai istrinya di depan rekan bisnisnya, bukan Sela yang bersetatus sebagai istri pertama.


Alex yang menyadari hal itu langsung mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


''Ehm, tuan Piter karena kita sudah selesai makan bagaimana jika sekarang kita bahas mengenai kerjasama kita.''


''Oke baiklah'' Piter kembali menekan tombol remot yang ada di meja untuk memanggil pelayan agar membersihkan meja mereka.


''Ini proposalnya sesuai dengan kesepakatan kita bersama silahkan di periksa kembali.'' Piter menyerahkan map berisi proposal perjanjian kerjasama mereka.


Rendi membuka dan membaca kembali setiap poin-poin yang tertulis di dalam surat perjanjian itu.


''Baiklah saya setuju.'' Rendi membubuhkan tanda tangannya di atas surat perjanjian itu begitu juga dengan Piter.


pertemuan merekapun berakhir setelah kedua belah pihak saling memberi tanda tangan.


''Semonga kerja sama kita berjalan sesuai harapan.'' Piter kembali menjabat tangan Rendi sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.


''Bagaimana Tania semua berjalan lancar?'' Tanya Piter saat mereka sudah berada di dalam mobil.


''Sangat lancar tuan. Tadi saya sempat khawatir saat tuan Rendi membaca ulang surat perjanjian itu. Tapi ternyata dia tidak menyadarinya sama sekali.''


''Tenang saja trik seperti itu hanya sedikit orang yang bisa melakukannya dan belum pernah ada yang terpublikasi karena para korbannya tidak menyadari dan merasa itu adalah keteledorannya.''


''Tapi yang tidak aku mengerti tuan Wisnu itu sudah sangat kaya. Untuk apa dia melakukan hal seperti ini?''


''Huh'' Piter menghela nafas. ''Hati dan wanita adalah hal yang paling tidak bisa di mengerti di dunia ini. Jadi jangan tanya lagi.''


Tania cemberut mendengar ucapan Piter.


''Jangan sampai hal ini bocor sedikitpun atau kamu akan tau akibatnya mengerti.''


Saat Rendi dan Alex pergi, Arumi menggunakan kesempatan ini untuk menelpon Hans.


''Bagaimana sudah beres'' tanyanya pada Hans yang sedang berada di sebrang sana.


''Maafkan aku Arumi, tadinya aku sudah hampir berhasil tapi tiba-tiba ada seorang pria datang menyelamatkannya. Lelaki itu menghalangi motorku dengan tubuhnya sehingga wanita yang bernama Sela itu selamat dan aku malah menabrak lelaki itu.''


''Sial'' Arumi langsung memutuskan sambungan telponnya.


''Ada hubungan apa antara Sela dengan Wisnu? Kenapa sekarang Wisnu mati-matian melindungi Sela. Aku harus segera mencari tau.'' Arumi mondar-mandir sambil berbicara sendiri di kamarnya.


''Mama, ya aku harus tanya pada mama siapa tau mama tau sesuatu?''

__ADS_1


''klek'' Anisa membuka pintu saat Arumi sibuk berbicara sendiri.


''Anisa'' mata Arumi terbelalak karena kaget. ''Sejak kapan dia di sana, apa dia mendengar omonganku'' batinnya, namun Arumi berusaha untuk tetap tenang.


__ADS_2