
Anisa yang merasa kasihan mempersilahkan wanita itu masuk kedalam mobil dan mengantarkannya pulang. Di luar dugaan ternyata rumah wanita itu sangat jauh dan agak terpencil.
Harus melewati beberapa jalanan yang sunyi dan memasuki gang baru sampai. Namun karena gang menuju ke rumah wanita itu tidak bisa di lalui oleh mobil dia meminta Anisa menurunkannya di depan gang saja.
Setelah menurunkan wanita itu tak lupa Anisa juga memberi sejumlah uang.
Anisa kembali melajukan mobilnya untuk pulang. Ponsel Anisa berdering, dia segera meraihnya untuk melihat siapa yang menelponnya.
''Alex'' gumamnya. Anisa memakai heatsead agar mudah untuk mengangkat panggilan dari Alex, karena saat ini dia sedang menyetir.
''Halo Alex ada apa?''
''Kenapa lama mengangkatnya, sedang apa?'' Bukannya menjawab, Alex malah mencerca Anisa dengan pertanyaan lain.
''Tadi aku memasang heatsead dulu, karena saat ini aku sedang menyetir.'' Jelas Anisa.
''Dari mana?''
''Is kamu ini cerewet sekali'' kesal Anisa tapi dia tetap menjelaskan. ''Tadi nyonya Arumi meminta aku mengantarkannya ke rumah tuan besar dan ini aku sedang dalam perjalanan pulang.''
Mobil Anisa sampai di sebuah persimpangan dan tiba-tiba ada sebuah truk barang melaju kencang dari arah yang berlawanan langsung menabrak mobilnya.
Suara teriakan Anisa dan suara benda yang saling bertabrakan terdengar jelas di telinga Alex karena sambungan telponnya dengan Anisa belum terputus.
''Aaaaaa.....braaaakkk.''
''Anisa, Anisa, apa yang terjadi? Tolong jawab aku.''
Tak lama setelah itu terdengar pula suara ledakan, dan sambungan telpon mereka terputus.
Alex langsung mengecek siqnal GPS terakhir henpon Anisa dan segera menuju kesana. Kening Alex berkerut saat mendapati lokasi henpon Anisa bukan jalur yang harus dia lalui jika ingin menuju ke rumah tuan Bastian.
''Kenapa dia bisa berada di tempat ini?'' Batin Alex.
Alex menyetir dengan kecepatan tinggi, tidak perduli walau kondosi jalanan yang sedikit ramai.
Bahkan tak jarang para pengemudi lain ada yang memaki karena cara menyetir Alex yang ugal-ugalan dan terus saja menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depannya.
__ADS_1
''Anisa berjanjilah untuk baik-baik saja.'' pinta Alex dalam hati.
Alex tiba di lokasi kejadian, di sana sudah ramai orang-orang yang ingin melihat langsung kecelakaan yang baru saja terjadi.
Ada juga beberapa polisi yang sedang mengevakuasi bangkai mobil yang di kendarai oleh Anisa.
''Di lihat dari kondisi mobil yang penyok dan gosong sepertinya tidak mungkin pengemudinya selamat.'' komentar salah seorang warga yang sedang berada di lokasi itu.
Tubuh Alex semakin lemas mendengar komentar-komentar itu.
Alex berjalan mendekat ke lokasi kejadian tapi langkahnya langsung di hentikan oleh seorang polisi. ''Maaf tuan anda tidak boleh berada di area penyelidikan.'' Tegas polisi itu.
''Maaf pak, saya keluarga dari pengemudi mobil itu.'' Tunjuk Alex pada mobil yang di kendarai Anisa. Matanya memanas melihat kondisi mobil yang sudah tidak berbentuk lagi.
''Baiklah ikut saya,'' polisi itu membawa Alex menemui atasannya.
''Lapor ndan. Ini ada yang mengaku sebagai keluarga korban.''
''Baik biarkan dia di sini.''
''Siap ndan.''
Komandan polisi itu menghela nafas.
''Kami juga belum bisa memastikan penyebab kecelakaan ini. Penyelidikanya agak sulit karena di jalan ini tidak ada cctv. Jadi hanya bisa mengandalkan saksi mata itupun sangat minim karena kondisi jalan sedang sepi saat kejadian.'' Jelas polisi itu.
''Lalu bagaimana kodisi korban?''
''Sopir truk tewas di tempat jasadnya sudah dibawa untuk di otopsi. Sedangkan pengemudi mobil itu masih belum di ketemukan. Sepertinya dia sempat melompat dan jatuh kejurang sebelum mobil itu meledak, karena saat kami datang posisi mobil tersangkut pada pohon di tepi jurang itu.'' Polisi itu menunjuk lokasi awal mobil sebelum di evakuasi.
''Lalu apa ada kemungkinan selamat?'' Kilatan harapan terlihat di wajah Alex.
Komandan polisi itu menggeleng, ''kemungkinannya kecil tapi kita berdoa saja semoga ada keajaiban.''
''Sekecil apapun kemungkinannya tolong jangan menyerah. Aku mohon temukan dia.'' pinta Alex lirih.
''Tenang saja kami akan melakukan yang terbaik semampu kami.'' Komandan polisi itu pergi untuk melanjutkan tugasnya.
__ADS_1
Beberapa anggota polisi tambahan bersama tim sar di datangkan untuk membantu pencarian Anisa. Alex tidak tinggal diam, dia ikut serta dalam pencarian.
Tak lupa dia juga menghubungi Rendi untuk memberi kabar serta meminta ijin memakai orang-orang Rendi untuk membantu pencarian.
''Fokuslah mencari Anisa, masalah kantor biar menjadi urusanku. Alex aku yakin Anisa pasti selamat.'' Rendi hanya bisa mengucapkan ini untuk sedikit menghibur Alex.
''Terimakasih tuan'' ucapnya.
Berita tentang kecelakaan Anisa cepat menyebar. Ditambah lagi beberapa stasion televisi ikut menyiarkan tentang kecelakaan itu.
Sela yang sedang menonton televisi bersama Marisa seketika menangis saat melihat breaking news yang mengabarkan tentang kecelakaan yang terjadi siang tadi, di sela-sela acara yang mereka tonton.
''Anisa, tidak mungkin. Pasti itu bukan kamukan?'' Air mata Sela meluncur dengan derasnya. Dia tak kuasa menahan kesedihan membayangkan jika Anisa benar-benar pergi.
Sementara Arumi tersenyum puas. ''itu akibatnya jika berani mengusikku.'' ucapnya, kemudian dia tertawa dengan mengerikan di kamarnya yang berada di rumah orang tuanya.
Ya, saat ini Arumi sedang berada di rumah orang tuanya. Setelah mendengar kabar dari Alex, Rendi pergi menjemput Arumi dan mengantarkannya kerumah orang tuanya. Rendi merasa saat ini Alex membutuhkan dukungan darinya, karena itu dia akan ikut membantu pencarian Anisa.
Jadi Rendi menitipkan Arumi di rumah orang tuanya karena takut malam ini dia tidak bisa pulang.
Erina yang mendengar tawa putrinya bergidik ngeri. Pasalnya Erina belum pernah mendengar Arumi tertawa begitu.
Erina datang menghampiri Arumi ke kamarnya.
Samar-samar Erina mendengar Arumi berbicara sendiri dari luar kamar.
''Ha...ha...ha...kamu lihatkan Anisa apa yang bisa aku lakukan sekarang kamu dan sebentar lagi Sela.''
''Astarghfirullah haladzim, ya Allah apa yang terjadi dengan putriku, kenapa jadi seperti ini?'' Erina memegang dadanya yang terasa sesak.
''klek'' di dorongnya pintu kamar putrinya. ''Arumi, apa yang kamu lakukan sayang?''
''Ibu'' Arumi kaget mendapati Erina sudah ada di kamarnya. ''Sejak kapan ibu di sini?'' Tanyanya gugup.
''Cukup lama untuk mendengar semua ucapanmu. Arumi kenapa kamu jadi begini? Sadar nak, jangan sampai kamu menyesal.'' Erina berusaha menasehati Arumi.
''Sadar? Harusnya ibu ucapkan kata itu pada Sela. Dia itu wanita yang tidak sempurna tapi kenapa Rendi hanya memandangnya. Seluruh pikiran Rendi di penuhi oleh Sela. Bahkan setelah aku hamil tidak dapat mengubah apapun. Bukankah aku yang lebih dulu mengenal dan mencintainya tapi kenapa malah Sela yang memiliki hatinya.
__ADS_1
Apa ibu tau aku pernah berusaha ikhlas menerima ini semua, dan merelakan Rendi untuk Sela tapi ternyata aku tidak bisa hatiku sakit.''