
Piter tiba di depan rumah sakit untuk menjemput Wisnu dan Sela.
''Sela bisakah kamu membantu aku berjalan keluar? Punggungku sedikit sakit kalau di tegakkan.''
''Tentu saja'' Sela mendekat lalu meraih tangan Wisnu untuk di letakkan di pundaknya semantara tangan satunya memegang pinggang Wisnu.
Meski telah di bantu oleh Sela, Wisnu masih terlihat kesusahan berjalan dan menahan sakit.
''Apa tidak lebih baik menggunakan kursi roda?''
''Tidak, aku tidak ingin terlihat seperti orang jompo.'' Wisnu tetap memaksakan langkahnya meski manahan sakit.
Sela terkekeh dibuatnya ''apa sekarang tidak seperti orang jompo? Ada-ada saja. Ngomong-ngomong kenapa tidak menyuruh Piter masuk untuk membantumu? Apa kamu tidak tau kalau tubuhmu ini berat.'' Omel Sela yang tentu saja hanya bercanda.
''Tidak boleh, di sini ada Rendi. Kalau Piter masuk dan membantuku Rendi akan tau kalau Piter itu orangku.''
Sela menatap dalam mata Wisnu, ''apa yang kamu rencanakan? Jangan terlibat terlalu dalam dengan Rendi, ini masalahku tidak ada hubungannya denganmu.''
''GR!, ayo jalan kalau seperti ini besok pagi baru kita sampai di mobil.''
Arumi juga sudah di perbolehkan pulang setelah selesai menjalani pemeriksaan dan di nyatakan baik-baik saja oleh dokter.
''Rendi bukankah itu Sela?'' Tunjuk Arumi ke arah Sela yang sedang memapah Wisnu. ''Kenapa dia terlihat begitu dekat dengan Wisnu apa dia tidak ingat siapa Wisnu?'' Arumi terlihat seperti orang yang sedang cemas, padahal dia sengaja ingin memanas-manasi Rendi.
Kedua tangan Rendi mengepal karena emosi. Ia berjalan cepat untuk menghampiri Sela. Arumi tersenyum puas melihatnya.
''Kali ini Rendi pasti menceraikanmu Sela, dan aku akan jadi istri satu-satunya.'' gumamnya.
''Apa kamu sudah tidak punya malu, berpelukan dengan pria lain di depan umum sementara masih bersetatus sebagai istri orang.'' Hati Rendi terbakar cemburu saat melihat di rangkul oleh pria lain.
''Bapak Rendi yang terhormat, mumpung masih di rumah sakit sebaiknya anda periksakan mata anda, agar dapat membedakan mana yang sedang membantu orang dan mana yang sedang berpelukan. Satu lagi, istri anda ada di sana sedangkan yang ada di sini hanya akan menjadi mantan.''
Sela mempercepat langkahnya, meninggalkan Rendi yang masih mematung karena tidak menyangka Sela mampu mengucapkan kata seperti itu kepadanya.
''Mas kita pulang ya, aku yakin Sela hanya sedang emosi makanya berbicara seperti itu. Aku janji akan mencari cara agar bisa bicara pada Sela dan menjelaskan semuanya.''
''Dia benar-benar sudah berubah, aku tidak mengenalnya lagi.''
''Bagus mas semakin kamu kecewa semakin mudah aku untuk menyingkirkan Sela dari kehidupanmu.'' batin Arumi.
__ADS_1
Saat pernalanan pulang Sela hanya diam, dia hanya menatap ke luar memalingkan wajah dari Wisnu.
''Menangislah jika ingin menangis, aku siap jika kamu butuh sandaran.''
Sela menoleh untuk menatap Wisnu. ''Konyol. Siapa yang ingin menangis dia sungguh tidak pantas.''
Namun belum sedetik Sela selesai berbicara air matanya sudah mengalir bagai hujan yang sangat deras.
''Hah'' Wisnu mendesah. ''Dasar wanita omongannya selalu berbeda dengan isi hati.''
''Masih ingin menangis?'' jika ia menangislah agar setelah masuk perasaanmu lebih lega dan tidak membuat Marisa cemas.''
''hu...hu...hu'' Sela kembali menangis. ''Kamu pasti berpikir aku sangat bodoh.''
''Aku justru kagum kamu bisa begitu tenang menghadapi Rendi. Padahal pasti hatimu sangat sakit.''
''Ini'' Wisnu menyodorkan tisu, ''sudah lebih tenang?'' tanya Wisnu.
''Hm'' Sela mengangguk.
''Ehm, tuan apa bisa kita turun sekarang? kaki saya sudah hampir kram menunggu anda berdua.'' Piter menunjukkan wajah minta di kasiani.
Piter membantu Wisnu turun dari mobil. Saat mereka sampai hari sudah sangat malam.
Piter langsung pulang setelah membantu Wisnu masuk kedalam rumah dan duduk di sofa.
''Bik apa Marisa sudah tidur?''
''Sudah tuan baru saja?'' jawab bik Wati.
''Kenapa larut sekali?'' Wisnu merasa heran karena biasanya Marisa tidak pernah tidur selarut ini walau Wisnu pulang terlambat karena sedang lembur.
''Tadi Marisa bilang tidak bisa tidur karena menghawatirkan nyonya Sela. Kata non Marisa dia merasa ada bahaya yang sedang mengincar nyonya Sela.''
Wisnu mengurut keningnya yang terasa pusing. Dia tidak menyangka kalau Marisa bisa begitu cepat menyayangi Sela hingga seperti memiliki ikatan batin. ''Ya Tuhan apa yang akan terjadi dengan Marisa kalau Sela memutuskan untuk kembali pada Rendi. Sementara aku tau cintanya pada Rendi sangat besar.'' Wisnu yang sedang melamun terkejut saat mendengar Sela bicara.
''Maaf membuatmu tidak nyaman. Aku tidak bermaksud merebut kasih sayang Marisa darimu.'' Sela menghampiri Wisnu dan duduk di sofa yang ada di depan Wisnu.
''Sela kamu salah paham. Aku tidak pernah keberatan dengan kedekatanmu dengan Marisa, aku hanya...'' Wisnu menjeda ucapannya dan menghela nafas.
__ADS_1
''Hanya apa?''
''Sela begini saat ini kamu sedang emosi dan sangat kecewa dengan Rendi, tapi aku tau jauh di lubuk hatimu, kamu masih sangat mencintai Rendi dan mungkin berharap semua ini hanya mimpi. Sela Marisa pasti kecewa saat kamu memutuskan kembali pada Rendi.''
Sela menunduk, hatinya membenarkan ucapan Wisnu namun egonya menyangkal semua itu.
''Wisnu aku memang tidak bisa menjanjikan untukmu tapi aku Marisa aku tidak akan pernah mengecewakannya.''
''Terima kasih, perilah istirahat ini sudah sangat larut.''
''Aaaaaa'' teriak seorang wanita yang merasa di perlakukan seperti seorang tawanan, ya dialah Anisa yang merasa seperti terpenjara di apartemen milik Alex.
''Aleeeeexxx, lihat saja saat kalau kamu pulang nanti!'' Teriaknya sambil melemparkan barang-barang ke sembarang arah.
''klek....wusss'' sebuah barang terbang ke arah Alex saat dia baru membuka pintu. Untunglah replex Alex baik sehingga dapat menghindar.
Matanya langsung terbelalak saat melihat kondisi rumah yang sudah seperti kapal pecah.
''Anisa apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan dengan apartemenku?''
''Hah, akhirnya kamu pulang juga.'' Anisa langsung menerjang ke arah Alex. Anisa yang memang memiliki dasar bela diri membuat Alex kualahan menghadapinya. Ditambah lagi Alex tidak mungkin tega membalas serangan Anisa, alhasil membuat Alex semakin terpojok.
''Anisa cukup hentikan, apa kamu ingin membunuhku?''
Anisa tidak menghiraukan ucapan Alex dan terus menyerang, Alex yang semakin terdesak akhirnya pasrah dan merelakan tubuhnya terkena tinju Anisa.
''Buk,....awww'' Alex berguling-guling di lantai sambil memegang perutnya yang terkena pukulan Anisa.
''Alex'' Anisa panik saat melihat tubuh Alex ambruk kelantai terkena pukulannya.
''Apakah sakit? Bodoh, kenapa tidak menyerang balik?''
''Mana mungkin aku tega menyakitimu.''
Anisa memapah tubuh Alex ke sofa. ''Sebentar aku ambil es batu untuk mengompres.''
Anisa pergi untuk mengambil es batu.
''Gila pukulannya sakit sekali, apa benar dia itu wanita?''
__ADS_1