
''Marisa sama papa dulu ya, mama Sela mau ke toilet sebentar.''
Setelah mendapat persetujuan dari Marisa, Sela melangkah menuju toilet umum yang di sediakan pihak pengelola pantai.
Mobil Rendi memasuki area parkiran pantai. Tanpa sengaja mata Arumi melihat Sela yang berjalan memasuki sebuah toilet.
''Sela'' seketika mata Arumi membulat, membuat Rendi jadi penasaran.
''Apa yang kamu lihat Arumi?'' Rendi ingin menoleh kearah pandangan Arumi tapi bersamaan dengan itu Arumi meringis kesakitan.
''Aww, mas perutku sakit.'' keluh Arumi
''Ha, kenapa?'' panik Rendi.
''tidak tau tiba-tiba perutku sakit.'' Arumi terus merintih sambil memengangi perutnya.
''Kita ke rumah sakit sekarang'' Rendi kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
''Mas kita pulang saja tidak usah kerumah sakit.''
''Tidak Arumi kamu harus di periksa!''
''Mas aku hanya butuh istirahat, aku rasa perutku hanya kram karena terlalu lama duduk di mobil.''
''Apa kamu yakin?'' Arumi langsung mengangguk.
''Maafkan aku karena ke egoisanku membuat kamu jadi begini.'' Rendi mengelus puncak Arumi, dia merasa sangat bersalah.
''Tidak apa-apa lagi pula aku yang ingin ikut, karena sebenarnya aku juga sangat mengkhawatirkan Sela.'' Kata Arumi dengan raut wajah sedih.
Rendi meraih tangan Arumi dan mengecupnya. ''Sekali lagi aku minta maaf karena selama ini sudah mengabaikan wanita sebaik kamu.''
Arumi mengangguk lembut masih dengan wajah sedih yang di buat-buat. Padahal dalam hati ia tertawa puas. ''Sayangku kamu harus tumbuh dengan sehat, karena mulai sekarang kamu akan jadi tameng mama untuk menghadapi papamu.'' kata Arumi dalam hati sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.
Anisa tiba di rumah lebih dulu dari Rendi dan Arumi. Anisa masuk ke kamarnya sambil terus mengomel, ''dasar laki-laki lihat wanita bening sedikit langsung di anggap baik, sangat mudah tertipu.''
Anisa menarik koper miliknya dari atas lemari. ''Aku tidak perduli lagi padamu, urus saja Arumi kalian yang menyebalkan itu.'' Anisa terus mengomel sambil memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
''Tin, tin'' terdengar suara klakson mobil Rendi, Anisa menghentikan kegiatan menyusun pakaiannya.
Anisa berjalan keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu. ''Tuan, nyonya kalian sudah kembali?'' Anisa memaksakan senyum di bibirnya walaupun sebenarnya dia ingin sekali mencabik-cabik wajah Arumi yang sok manja di dalam gendongan Rendi.
__ADS_1
Saat akan turun dari mobil Arumi mengeluh perutnya sedikit nyeri. Karena khawatir Rendi berinisiatif menggendong Arumi.
''Ais, kenapa pula mataku ini harus menyaksikan drama wanita ular ini. Sabar, sabar'' Anisa mengelus-elus dadanya.
''Anisa tolong buatkan teh hangat untuk Arumi!''
Anisa segera mengangguk dan pergi ke dapur.
''Bagaimana masih sakit? Perlu telpon dokter?''
''Sudah lebih baik, aku rasa calon anak kita hanya ingin di manja sama papanya.'' Arumi menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
''Tok, tok, tok'' Anisa mengetuk pintu.
''Masuk''
''Tuan ini tehnya'' Anisa masuk dengan segelas teh hangat di tangannya.
''Letakkan saja di situ'' kata Arumi tanpa merubah posisinya yang mesih bersandar di dada suaminya.
Anisa meletakkan segelas teh itu sambil sambil memutar bola matanya. ''Saya permisi tuan'' Anisa buru-buru keluar dari kamar Arumi.
''Huh, lama-lama di sini mataku bisa katarak'' keluhnya sambil berlalu.
''Terima kasih'' Arumi menerima teh itu dan meminumnya. ''kurang ajar, Anisa kamu ingin bermain-main dengan aku ya'' Arumi meletakkan kembali cangkir teh yang baru diminumnya sedikit.
''Kalau mas Rendi masih ada yang harus di kerjakan pergilah, aku akan istirahat.''
''Kalau begitu baiklah, aku keluar dulu.''
''Hm'' Arumi mengangguk.
Arumi membuka sedikit pintu kamarnya untuk mengintip, memastikan Rendi sudah masuk ke ruang kerjanya.
''Anisaaaa, kemari!" teriak Arumi dari dalam kamar.
"Iya nyonya ada apa?" Anisa datang secepat kilat.
"Biurrr" isi teh yang tadinya berada di dalam cangkir segera berpindah ke wsjah Anisa karena ulah Arumi.
"Apa yang anda lakukan nyonya, apa salah saya?''
__ADS_1
Anisa masih berusaha bersabar menghadapi Arumi. Walau sebenarnya dia sudah sangat ingin mencakar wajah wanita itu.
''Teh apa yang kamu buat untukku? Rasanya sungguh tidak enak dasar tidak becus.'' Bentak Arumi.
''Nyonya itu teh yang biasa saya buat untuk Sela. Biasanya Sela selalu minta teh yang tidak terlalu pekat dengan sedikit gula.''
''Kamu dengar baik-baik, aku bukan Sela aku Arumi nyonya baru di rumah di rumah ini.''
''Nyonya baru percaya diri sekali kamu, kamu bukan apa-apa jika di bandingkan dengan Sela. Kamu lihat sampai saat ini tuan bahkan tidak menempatkan kamu di kamar utama.'' Ejek Anisa yang sudah sangat geram dan tidak mampu bersabar lagi.
''Kamu!'' ''Plak'' sebuah tamparan mendarat dipipi Anisa. Anisa yang tidak siap harus merelakan pipi mulusnya jadi sasaran ke marahan Arumi.
"Apa yang terjadi?" karena mendengar keributan dari yang berasal dari kamar Arumi, Rendi gegas ke sana untuk melihat apa yang terjadi.
Betapa terkejutnya Rendi melihat kondisi Anisa yang berantakan. Wajah dan sebagian rambutnya juga baju di bagian dada terlihat basah di tambah lagi ada jejak tangan yang tercetak di pipi Anisa.
''Tuan saya mengundurkan diri'' kata Anisa dengan suara bergetar. Kemudian dia berlalu meninggalkan Arumi dan Rendi.
''Arumi apa yang sudah kamu lakukan?''
''Maaf, tapi dia menghina aku!"
''Arumi kamu harus bisa mengontrol emosi kamu, tidak akan baik kalau kamu terus seperti ini.'' Rendi berusaha berbicara selembut mungkin agar Arumi tidak tersinggung, walau Rendi tau Anisa pasti tidak bersalah. Namun Rendi juga tau emosi Arumi sedang tidak setabil karena kehamilannya.
''Mas menyalahkan aku?'' Arumi mulai terisak.
''Jangan menangis, aku hanya khawatir kamu akan melukai dirimu sendiri, istirahatlah aku akan melanjutkan pekerjaan.''
''Anisa tunggu,'' Rendi menghentikan Anisa yang sudah bersiap meninggalkan rumah dengan menyeret kopernya.
''Apa kamu benar-benar ingin pergi?''
''Hm'' Anisa mengangguk. ''Tuan terima kasih untuk kebaikan anda selama ini.'' Anisa kembali menggeret kopernya dan pergi dari rumah Rendi.
Anisa masuk kedalam sebuah taksi. ''Selamat tinggal Sela, selamat tinggal Jakarta.''
Rendi menghembuskan nafas kasar. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan Anisa. Jika Anisa tetap tinggal Rendi juga tidak bisa menjamin Arumi yang emosinya sedang tidak setabil tidak akan berulah lagi.
Rendi meraih henpon dari sakunya lalu mentransper sejumlah uang ke rekening Anisa. Kemudian Rendi menggunakan henponnya untuk menghubungi Alex.
''Halo tuan ada apa?'' Tanya Alex saat panggilan sudah tersambung.
__ADS_1
''Alex, Anisa sudah pergi dari rumahku, sebaiknya susul dia sebelum ke hilangan jejak!''