
''Ada apa sayang?'' Sela datang menghampiri Marisa ''kenapa tidak langsung masuk saja ke kamar mama Sela?''
Sela menatap gadis kecil yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya sambil sesekali menoleh ke belakang ''hem, ada apa?''
''Shutt'' Marisa meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar Sela tidak berisik. Lalu memberi isyarat lagi agar Sela berjongkok. Selapun melakukannya dia jongkok di depan Marisa.
Marisa mendekat dan membisikkan sesuatu ''besok papa ulang tahun.'' Marisa langsung pergi setelah mengatakan itu.
Sela hanya geleng-geleng melihat tingkah lucu Marisa.
''Tuan sepertinya ada kesalahan dengan isi kerja sama kita dengan tuan Piter.'' Jelas Alex.
Rendi mengerutkan kening. Dia merasa sudah membaca dengan baik semua berkas itu dengan teliti bagaimana mungkin ada ke salahan?
''Kesalahan apa?'' tanya Rendi.
''Keuntungan yang kita dapat tidak sesuai dengan apa yang pernah anda katakan. Seletah saya cek kembali isi surat perjanjian hasilnya sesuai. Tapi yang saya herankan kenapa anda setuju untuk menandatangani surat perjanjian yang jelas-jelas merugikan kita.''
Rendi semakin bingung mendengar penjelasan dari Alex. Dia meraih laktopnya dan membaca ulang surat perjanjian kerja sama itu. ''Kurang ajar'' Rendi menggebrak meja sangking emosinya.
''Mereka berani mempermainkan aku, jelas-jelas kemarin isi surat perjanjiannya tidak seperti ini. Alex atur ulang pertemuan dengan tuan Piter.'' Perintahnya.
''Baik tuan'' jawab Alex.
'' Alex aku dengar ada perusahaan baru yang sedang membangun sebuah pusat perbelanjaan. Dan katanya detail bangunannya sudah di umumkan ke publik, dan hanya dengan melihat desainnya saja sudah membuat banyak investor yang ingin berinvestasi di sana, apa benar begitu?''
''Benar tuan, desain bangunan itu sangat unik namun sangat nyaman dan aku dengar fasilitasnya juga sangat lengkap. Ada apa tuan, apa tuan juga berniat untuk berinvestasi?'' Tanya Alex.
''Tidak, aku hanya merasa pamiliar dengan desain itu. Aku seperti pernah melihat seseorang menggambar bangunan hampir mirip dengan desain mall itu, tapi aku lupa gambar milik siapa?''
Rendi berusaha mengingat-ingat.
''Ah, sudahlah. Apa berkas untuk miting hari ini sudah siap?'' Tanyanya pada Alex.
''Sudah tuan, apa mau berangkat sekarang?''
''Hm, ayo.''
Rendi dan Alex memasuki ruang rapat. ''Apa semua sudah hadir?'' Tanya Rendi.
''Sudah tuan'' jawab semua anggota miting kali ini.
''Kali ini kita akan membahas laporan ke uangan kita bulan ini.'' kata Alex membuka miting mewakili Rendi.
Rendi memang ikut miting tapi dia hanya jadi pendengar, fikirannya masih terfokus pada isi surat perjanjian yang sangat merugikan itu.
__ADS_1
''Apa yang harus aku berikan untuk hadiah ulang tahun Wisnu.'' fikir Sela.
''Marisa..., kamu sedang apa?'' Sela menghampiri Marisa yang sedang berada di kamarnya.
''Mama Sela'' Marisa yang sedang bermain di kamarnya langsung melompat turun dari ranjangnya begitu melihat Sela datang.
''Sedang apa sayang?'' Sela menggendong Marisa dan memdudukannya kembali ke atas ranjang.
''Bermain berby'' katanya sambil menunjuk boneka berby yang masih tergeletak di atas tempat tidur.
''Mama Sela boleh minta saran?'' Tanya Sela.
''Hm'' Marisa mengangguk ''saran apa?''
''Kira-kira kado apa yang cocok untuk papa?''
Marisa terkikik geli, ''jadi mama Sela sedang bingung? Mau Marisa kasi saran?''
''Iya cepat katakan, kalau sarannya bagus minggu depan kita pergi mendaftar sekolah!'' bujuk Sela.
''Benarkah'' mata Marisa berbinar mendengar kata sekolah. ''Sini Marisa bisikin.'' Kata Marisa.
Sela mendekatkan telinganya pada Marisa ''berikan cinta mama Sela saja.'' Bisiknya.
Marisa kembali terkikik, ''Marisa hanya bercanda'' katanya pada Sela.
''Emm'' Sela mencubit pipi Marisa karena gemas. ''Jangan main-main cepat katakan yang benar.''
Marisa kembali mendekatkan bibirnya ke arah telinga Sela dan membisikkan sesuatu.
''Benarkah'' tanya Sela tak percaya.
''Hm'' Marisa mengangguk mantap.
''Kita cari sekarang.'' Sela menggendong Marisa ke luar dari kamarnya.
Sela dan Marisa sampai di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli barang yang di sarankan oleh Marisa. ''Kalau papa tidak suka bagaimana?'' tanya Sela yang sedikit ragu. Pasalnya dia tidak pernah melihat Wisnu menggunakan barang seperti ini.
''Percaya sama Marisa'' katanya dengan yakin.
Setelah membeli barang yang mereka inginkan, Sela membawa Marisa mampir ke swalayan untuk membeli beberapa bahan untuk masakan yang ingin Sela masak untuk acara ulang tahun Wisnu.
Saat sedang asik berbelanja seseorang menepuk bahu Sela dari belakang. ''Sela''
''Anisa'' Sela sampai berteriak sangking senangnya melihat Anisa, apa lagi kondisinya sudah jauh lebih baik.
__ADS_1
''Kamu sama siapa?'' Sela celingak-celinguk melihat apakah ada Alex di sekitar situ.
''Sela aku tidak bersama Alex'' kata Anisa yang paham apa yang di cari Sela.
''Bagaimana mungkin dia membiarkanmu pergi sendiri dengan kondisi yang belum pulih sepenuhnya.'' Sela tidak habis fikir dengan Alex.
''Aku yang ingin pergi sendiri karena Alex sedang sangat sibuk, tapi aku di antar oleh supir dari kantor tuan Rendi.''
''Syukurlah'' Sela lega mendengarnya.
''Bisakah kita bicara sebentar?''
''Tentu saja aku juga sangat merindukanmu dan ada banyak hal juga yang ingin aku bicarakan.''
Mereka pergi ke kafe yang berada di sebrang swalayan itu.
Sela memasuki kafe dengan Marisa berada di gendongannya dan di ikuti oleh Anisa dari belakang.
''Anisa bagaimana kalau kita duduk di pojok sana, biar kita bisa berbicara dengan bebas.'' Sela memberi saran sambil menunjuk meja yang berada di sudut ruangan kafe itu.
''Aku setuju.''
Merekapun menduduki meja yang di sebutkan oleh Sela tadi. ''Marisa ingin makan apa?'' Tanya Sela sambil melambaikan tangan memanggil pelayan kafe.
''Marisa masih kenyang, jadi ingin makan es krim saja.'' Sela tersenyum dan mengangguk. Marisa memang tidak pernah makan nasi di luar jam makannya.
''Kamu Anisa?''
''Aku jus sirsak saja.''
''kalau aku lemon tea saja'' kata Sela dan mengembalikan buku menu kepada pelayan.
''Sela kenapa kamu sanat jahat?'' Marisa memicingkan mata mendengar ucapan Anisa, namun karena Wisnu selalu mengajarkannya untuk tidak menyela atau ikut campur dalam urusan orang tua Marisa tetap diam.
''Maksud kamu?''
''Kenapa tidak pernah menjenguk aku saat di rumah sakit? Aku benar-benar berharap kamu datang untuk menjengukku.'' Anisa menghela nafas, ''tapi sudahlah yang penting aku sudah sembuh aku juga berterima kasih kamu mau repot-repot ikut mencari aku.''
''Anisa kamu bicara apa kita itu sahabat sudah sepatutnya saling membantu.''
''Sela sebaiknya kamu berhati-hati karena...'' ucapan Anisa terhenti saat pelayan kafe datang membawakan pesanan mereka.
''Berhati-hati dari siapa?'' tanya Sela saat pelayan kafe yang mebawa pesanan mereka sudah pergi.
''Kecelakaan yang aku alami kemarin adalah sebuah kesengajaan.''
__ADS_1