
Anisa dan Alex sampai di ke diaman Wisnu. Anisa turun dari mobil Alex setelah itu Anisa meminta Alex untuk langsung pulang.
''Tok, tok, tok,'' Anisa mengetuk pintu rumah Wisnu.
''Bik coba lihat, siapa yang datang bertamu malam-malam begini.'' Perintah Wisnu, Saat ini Wisnu sedang berada di meja makan bersama Sela dan Marisa. Mereka sedang menyantap makan malam yang di sediakan oleh bik Wati.
''Baik tuan'' gegas bik Wati menuju pintu.
''klek'' bik Wati membuka pintu ''cari siapa ya?''
Tanya bik Wati.
''Bibik tidak ingat saya? Anisa, temannya Sela yang waktu itu pernah ke sini.'' Jelas Anisa.
''Oh non Anisa yang waktu itu pernah kecelakaan?''
Anisa mencebikkan bibirnya ''bibik kenapa yang di ingat masalah kecelakaan sih?'' Protes Anisa.
''Tapi ya sudahlah yang penting bibik ingat. Selanya ada?''
''Ada di dalam lagi makan malam, ayo bibik antar.''
Bik wati berjalan duluan manuju ruang makan, di ikuti oleh Anisa di belakangnya.
''Tuan, nyonya, ini ada temennya nyonya Sela datang.''
Sela dan Wisnu sama-sama menoleh ke arah bik Wati, ''Anisa'' Sela sangat bahagia melihat Anisa datang menemuinya.
Sela bangkit dari duduknya lalu menghampiri Anisa. ''Ayo ikut makan sama kita''
Sela membawa Anisa untuk duduk bergabung bersama mereka di meja kakan.
Anisa tidak menolak karena memang dia tidak sempat makan karena buru-buru ingin bertemu Sela.
''Anisa kamu ke sini sendiri?'' Tanya Sela.
''Tadi di antar Alex tapi dia langsung pulang, katanya masih ada urusan.''
__ADS_1
Setelah itu mereka menyelesaikan makan malamnya dengan tenang. Kemudian Wisnu membawa Marisa ke kamarnya agar segera tidur.
Sementara Sela dan Anisa ngobrol di teras rumah.
''Anisa sebenarnya ada apa kamu datang ke sini malam-malam begini?''
''Apa aku tidak boleh mencarimu?'' candanya.
Kemudian Anisa tersenyum, ''sebenarnya aku khawatir padamu, setelah kejadian di kafe itu aku mencoba menghubungi kamu berulang kali tapi kamu tidak menjawab panggilanku.''
Anisa menjeda ucapannya kemudian menatap Sela ''kenapa kamu tidak menjawab?''
''Ya ampun'' Sela menepuk jidatnya sendiri.
''Maaf ya, henponku ketinggalan di kafe, kamu jadi khawatir gara-gara ini.'' Sela merasa tidak enak.
Kemudian Sela memeluk Anisa ''terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku, Anisa berjanjilah jangan pernah seperti Arumi.''
Anisa terdiam mendengar permintaan Sela, dia merasa bersalah karena ke sini untuk menuruti ke inginan Rendi.
''Sela apa yang akan kamu lakukan selanjutnya pada Arumi?''
Anisa menghela nafas, ''tuan Rendi maafkan aku, aku tidak sanggup membuat Sela kecewa karena berpikir aku memihak padamu. Ini salahmu yang lebih mementingkan nama baik keluarga dari pada perasaan Sela, jika saja kamu mau jujur mengatakan bahwa kamu menyesal dan membiarkan Arumi di hukum kamu dan Sela tidak perlu menderita'' batin Anisa.
''Sela aku sudah lega melihat kamu baik-baik saja jadi sebaiknya aku pulang sebelum hari terlalu malam.'' Anisa bangkit dari duduknya.
''Kenapa tidak menginap di sini saja?'' Kata Sela.
''Tidak usah, terima kasih, aku sudah memesan taxsi sebentar lagi sampai.''
Waktu cepat berlalu, tidak terasa sudah dua minggu dari kejadian di kafe itu.
''Pak bagai mana ini, kenapa Arumi tidak di bisa di hubungi apa yang terjadi?'' Erina merasa khawatir karena sudah berulang kali mencoba menghubungi Arumi tapi tidak bisa. ''Nomor henponnya juga tidak pernah aktif.'' Keluh Erina pada suaminya.
''Tenanglah besok kita temui Bastian dan istrinya untuk menanyakan tentang hal ini, sebaiknya sekarang kamu tidur.'' Erina tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti suaminya itu.
Di rumah Bastian dan Monika juga sama paniknya karena tidak bisa menghubungi Arumi, mereka sudah berulang kali kerumah Rendi tapi tidak pernah bertemu hanya ada tukang kebun yang menjaga rumah itu.
__ADS_1
''Pa, kamu harus bisa menemukan Rendi dengan cepat. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan calon cucuku.''
Bastian tidak memberi jawaban apa pun, dia sendiri sedang pusing memikirkan cara agar bisa lepas dari kerja sama yang begitu merugikan yang sudah di tanda tangani Rendi.
Bagaimana tidak, di dalam kerja sama itu tertulis jika perusahaan Rendi harus memenuhi setiap pasokan bahan baku untuk pembangunan setiap gedung untuk perusahaan Wisnu sementara harga bahan baku itu di bawah rata-rata.
Baru memenuhi pasokan untuk satu gedung saja mereka sudah rugi ratusan juta, bagai mana jika lebih? Itulah yang di pikirkan Bastian, sementara Rendi seperti tidak perduli dan malah menghilang.
''klek'' Anisa membuka pintu sebuah kamar yang sudah di jadikan gudang, terlihat Arumi sedang duduk di atas sebuah ranjang di kamar itu. Ranjang berukuran kecil yang hanya cukup untuk satu orang, yang sengaja di letakkan sebagai tempat tidur Arumi.
Anisa masuk ke dalam dengan membawa makanan untuk Arumi.
''Arumi makanlah'' Anisa meletakkan makanan untuk Arumi di atas meja yang ada di kamar itu.
Bagitu Anisa ingin keluar dari kamar itu Arumi segera turun dari tempat tidurdan berlutut di depan Anisa sambil memeluk kakinya.
''Anisa aku tau aku bersalah padamu dan Sela tapi aku mohon maafkan aku, tolong minta Rendi untuk melepaskan aku, aku takut di sini.'' Arumi memohon sambil menangis di depan Anisa.
''Arumi apa kamu tau saat aku hampir mati di dinding tebing itu rasanya seperti apa? Ketakutan seperti apa yang aku alami? Kamu hanya tidur di kamar seperti ini sudah ketakutan, bagaimana dengan aku yang berjuang antara hidup dan mati tanpa ada siapapun saat itu?'' Anisa menatap Arumi dengan tatapan mengejek.
''Jika saat ini yang berada di sini adalah Sela dia mungkin akan luluh dan memaafkanmu tapi jangan harapkan itu padaku.'' Anisa keluar dari kamar itu dan kembali mengunci pintunya.
Dia tidak perduli walau Arumi terus menggedor pintu sambil berteriak hingga kelelahan dan akhirnya diam sendiri.
''Tuan sampai kapan kita di sini?'' Tanya Alex.
Ya Alex juga ikut pergi bersama Rendi, mereka berempat saat ini sedang berada di sebuah rumah yang berada di pinggiran kota dan sangat terpencil. Ini adalah rumah milik Rendi yang tidak di ketahui orang tuanya.
Rumah ini merupakan tempat Rendi pergi setiap kali menghindari amukan Bastian saat dia belum menikah dulu.
''Sampai Arumi melahirkan'' jawabnya.
''Tapi tuan bagaimana jika nyonya Arumi nekat dan menyakiti calon anak kalian?''
''Tenang saja dia tidak bodoh, dia tau anak itu satu-satunya pelindungnya sekarang, mana mungkin dia akan menyakitinya.'' Jawab Rendi.
''Lalu tuan bagaimana dengan perusahaan?''
__ADS_1
Rendi menghela nafas mendengar pertanyaan Alex, dia tau perusahaan itu tidak dapat di selamatkan lagi, kecuali Wisnu mau membatalkan kerja sama itu. Dan egonya masih terlalu tinggi jadi dia tidak mungkin memohon pada Wisnu.