Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 28


__ADS_3

''setelah kejadian itu kami membawa Sela kerumah sakit dia tidak sadarkan diri selama satu minggu. Sela hampir kehilangan nyawa karena aku dan yang lebih parah, dari hasil pemeriksaan dokter mengatakan akibat hantaman balok itu rahim Sela mengalami kerusakan yang parah dan kemungkinan dia tidak akan pernah bisa punya anak.''


Rendi menatap wajah Arumi. ''tapi kami pernah melakukan pemeriksaan dan saat dokter bertanya apakah Sela pernah mengalami sesuatu yang menyebabkan kerusakan pada rahimnya, dia bilang tidak pernah.''


''itu karena bapak dan ibu meminta dokter yang menangani Sela untuk merahasiakan hal ini.''


Rendi melepaskan pelukannya kepada Arumi, wajahnya terlihat kecewa dan sedih. Dia sungguh tidak tau harus bersikap seperti apa.


''aku keluar sebentar'' Rendi pergi meninggalkan ruang rawat Arumi.


air mata Arumi kembali menetes dia tau Rendi pasti kecewa padanya.


''pak bisa kita bicara sebentar?'' setelah keluar dari ruang rawat Arumi Rendi langsung menghampiri pak Yanto.


Rendi membawa pak Yanto ke lorong sepi yang ada di rumah sakit itu.


''Rendi, apa yang ingin kamu bicarakan sama bapak?'' pak Yanto merasa aneh dengan sikap Rendi yang tiba-tiba ingin mengajak dia bicara.


''kenapa anda melakukan ini pada istri saya?'' tampa basa-basi Rendi langsung menunjukkan sikab dinginnya kepada pak Yanto.


Pak Yanto semakin di buat bingung oleh pertanyaan Rendi.


''apa maksud kamu bapak tidak melakukan apa-apa kepada Arumi.'' Rendi menatap tajam ke arah pak Yanto.


Dia yang semula selalu gugup bila berhadapan dengan pak Yanto yang merupakan mertuanya, kini sirnah sudah.


Sikap Rendi sungguh jauh berbeda. ''saya tidak sedang membicarakan Arumi tuan Suyanto Atmaja. Saya sedang membicarakan istri saya Sela yang sudah kalian perlakukan dengan tidak adil.''

__ADS_1


Kerutan di kening pak Yanto semakin dalam mendapati sikap Rendi yang semakin tidak sopan kepadanya.


''nak Rendi pasti ada kesalah pahaman di sini, coba kamu ceritakan dengan baik apa yang sebenarnya terjadi. bapak merasa tidak pernah mengusik Sela sama sekali.'' pak Yanto berusaha menjelaskan dengan baik karena dia tau saat ini Rendi sedang emosi jadi dia tidak boleh membuatnya lebih emosi lagi.


''Kesalah pahaman anda bilang? Kalian sengaja menyembunyikan kondisi Sela yang sebenarnya setelah kejadian tragis itu.'' emosi Rendi semakin memuncak dan nada bicaranyapun semakin meninggi.


''apa kalian tau betapa ingin Sela memiliki seorang anak, dia bahkan mengikuti banyak program agar bisa hamil? dia melakukan pengobatan secara medis, dia juga memcoba pengobatan alternatif demi bisa hamil.''


Rendi menggenggam jari-jarinya dengan kuat hingga buku jarinya terlihat memutih.''dan anda tau yang paling parah dari itu dia bahkan hampir kehilangan nyawa saat kami menjalani program bayi tabung.''


Rendi mengadahkan kepalanya ke atas untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, dia begitu sedih mengingat betapa menderita Sela hanya karena ingin memiliki seorang anak.


Sementara pak Yanto hanya diam mendengarkan ucapan Rendi.


''anda tau tuan semua itu tidak akan terjadi jika dari awal anda memberi Sela tentang kondisinya, mungkin Sela akan lebih ikhlas dengan kondisinya. Karena memang dia sendiri yang ingin menolong Arumi tanpa ada paksaan dari siapapun.''


Pak Yanto tertunduk lemas mendengar penuturan Rendi. Dia menyadari kesalahan yang dia buat.


Rendi memandang lekat wajah pak Yanto, untuk melihat apakah ada kebohongan di sana, namun Rendi merasa bahwa pak Yanto berkata jujur.


Dia semakin bingung harus berbuat apa. Ternyata kedua wanita yang sekarang menjadi istrinya itu pernah sama-sama menderita.


dan bahkan mereka sama-sama memiliki tekanan batin. Sela merasa tertekan karena tidak bisa memiliki anak sementara Arumi merasa tertekan karena rasa bersalah yang menghantuinya hingga kini.


''saya butuh waktu untuk menenangkan diri. Karena ini sudah malam sebaiknya Arumi besok saja pulangnya. Katakan padanya saya akan menjemputnya besok.''


Rendi berlalu meninggalkan pak Yanto begitu saja.

__ADS_1


Pak Yanto kembali keruangan Arumi dengan perasaan lega. Walau dia tau Rendi masih marah namun setidaknya dia masih mau datang besok untuk menjemput Arumi.


Pak Yanto tau walau Rendi terlihat biasa-biasa saja sebagai seorang CEO. Namun sebenarnya dibalik itu dia memiliki kekuatan tersembunyi yang tidak bisa di singgung. Pak Yanto sadar betul jika Rendi benar benar marah padanya dia bisa menghilangkan perusahaan milik pak Yanto hanya dalam satu malam.


''pak mas Rendi mana?'' tanya Arumi begitu melihat pak Yanto masuk.


''nak Rendi sudah pulang, tadi Alex menelponnya dan sepertinya ada urusan yang sangat penting.''


Arumi terlihat kecewa dengan apa yang di sampaikan oleh bapaknya itu.


''mas Rendi marahkan sama aku.'' kata Arumi sambil menunduk dan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


''hei, siapa yang bilang kalau nak Rendi marah, kamu tidak percaya sama bapak ya? Nak Rendi memang sedang ada urusan penting, dia bahkan sempat berpesan agar kamu pulangnya besok saja karena ini sudah malam. Katanya besok dia akan menjemput kamu.''


''benarkah?'' mata Arumi kembali berbinar dan itu membuat hati pak Yanto menjadi lega.


Erina yang baru saja datang dari toilet menghampiri Arumi, ''sayang ini sudah malam kalau begitu kamu tidur ya'' Erina menarik selimut untuk menutupi tubuh Arumi sampai batas dada.


lalu mengecup kening putrinya itu.


Pak Yanto dan bu Erina berjalan kearah sofa yang ada di ruangan itu. Erina memandang ke arah Arumi untuk memastikan bahwa dia sudah benar-benar terlelap.


''pak apa yang sebenarnya terjadi'' tanya Erina dengan suara yang sangaf pelan.


''sepertinya nak Rendi marah, tapi sudahlah tidak enak kita membahas itu di sini takutnya terdengar oleh Arumi. Sebaiknya ibu istirahat juga, ini sudah sangat malam.''


Erina tidak membantah ucapan suaminya dia langsung merebahkan tubuhnya di sofa itu, beruntung sofa yang ada di ruang tunggu itu cukup besar jadi kalau pak Yanto ingin istirahat juga sofa itu masih muat.

__ADS_1


Setelah dari rumah sakit Rendi langsung pulang kerumahnya dengan menggunakan taksi onlaen, Rendi sengaja tidak menelpon Alex karena dia yakin saat ini Alex pasti sudah tidur.


Rendi sengaja tidak ingin mengganggu Alex karena besok Alex harus menggantikan dia untuk miting. Alex memang asisten yang selalu bisa di andalkan oleh Rendi dalam segala hal. Dan dia merasa sangat beruntung karena memiliki asisten seperti Alex.


__ADS_2