
Karena kondisi emosi Arumi yang sedang tidak setabil Rendi memutuskan membawa Arumi pulang ke rumahnya. Rumah yang selama ini di tempati Rendi dan Sela.
''Mas terima kasih ya kamu sudah mau mengajak aku tinggal bersama kamu.''
''Kamu istirahatlah ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus di ruang kerjaku, kalau butuh sesuatu panggil saja Anisa.'' Rendi pergi menuju ruang kerjanya.
''Maafkan aku Sela tapi aku tidak bisa mengalah lagi padamu, aku harap kamu jangan pernah kembali lagi'' batin Arumi
Setelah masuk ke dalam ruangannya Rendi langsung menghubungi Alex.
''Halo Alex, apa sudah ada kabar?''
''Belum tuan, tapi kami sudah mengecek cctv yang ada di toko-toko di sepanjang jalan dekat rumah sakit. Terlihat nyonya sela terus berlari lalu rekamannya terputus karena toko selanjutnya tidak memiliki cctv. Kami melanjutkan melihat rekaman di toko selanjutnya lagi, namun nyonya Sela tidak terlihat sama sekali.''
''Maksud kamu Sela menghilang di area yang tidak memiliki cctv itu.''
''iya tuan dan kami sudah menyusuri area itu tapi tidak membuahkan hasil.''
Rendi merasa sangat prustasi karena sudah dua hari belum juga berhasil menemukan Sela.
''Lalu sekarang kamu ada di mana?'' Tanya Rendi
''Saya di kantor tuan, ada sedikit masalah yang terjadi. Salah seorang investor ingin pembagian hasil yang lebih besar dari perjanjian sebelumnya.''
''Bisa kamu atasi?''
''Akan saya usahakan tuan''
''Hm'' Rendi memutuskan sambungan telponnya.
Arumi keluar dari kamarnya karena merasa bosan.
''Anisa'' panggil Arumi saat melihat Anisa sedang membersihkan ruang tamu.
''Ia Arumi ada apa?'' Arumi mengerutkan kening mendengar panggilan Anisa terhadapnya.
''Arumi? Sungguh tidak sopan panggil aku nyonya.'' Anisa terkejut mendengar bentakan dari Arumi.
''Apa dia masih Arumi yang sama yang aku temui di Sura Baya?'' Pikir Anisa.
''Maafkan saya nyonya, ada perlu apa?''
''Aku ingin jus alpukat, antar ke kamarku kalau sudah siap.'' Arumi kembali masuk ke kamarnya.
__ADS_1
''Ya ampun apa seperti ini sifat aslinya. Sela cepatlah pulang aku tidak ingin kerja di sini kalau tidak ada kamu.'' Anisa pergi ke dapur untuk membuatkan jus alpukat pesanan Arumi.
''Ternyata lebih baik separti ini dari pada aku terus bersikap baik tapi sama sekali tidak di hargai.'' kata Arumi sambil menyeringai.
''Papa'' teriak Marisa saat melihat sang papa berdiri di depan pintu. ''Sini'' Marisa yang sedang duduk di samping kursi tinggi di sebelah Sela yang sedang memasak nasi goreng dan naget ayam melambaikan tangan kepada papanya.
''Apa yang sedang kalian lakukan?'' Tanya Wisnu sambil berjalan masuk ke dapur.
''Aku dan mama Sela sedang memasak'' jawab Marisa dengan santainya. Membuat Sela dan Wisnu saling pandang.
''Ctek'' Sela mematikan kompor karena nasi gereng dan naget ayam yang di masaknya sudah masak.
''Sekarang Marisa pergi mandi ya. Setelah itu kita langsung sarapan.''
''Baik mama Sela'' Marisa turun dari kursinya dan berlari ke kamarnya untuk mandi.
''Maafkan putriku, dia selama ini dia benar-benar mendambakan seorang ibu. Nanti aku akan jelaskan kepadanya.''
''Em, Wisnu bolehkah aku juga menganggap Marisa sebagai putriku.'' Kening Wisnu berkerut
Sela buru-buru menjelaskan. ''Jangan salah paham ini hanya antara aku dan Marisa tidak ada hubungannya dengan kita. Aku tidak bisa punya anak.'' Kata Sela sambil menunduk dan dengan suara yang pelan.
''Sela bukan aku tidak mengijinkan tapi aku takut Marisa kecewa saat kamu kembali kepada keluargamu nanti.''
Sela menata nasi goreng yang tadi dia masak kedalam piring untuk di bawa ke meja maka.
''Sela sebenarnya apa yang terjadi?''
Sela hanya menunduk dan berlalu sambil membawa nasi goreng beserta naget ayam yang sudah selesai ia tata di dalam piring ke meja makan.
''Mama Sela'' Marisa yang sudah selesai mandi berlari ke arah Sela. Anak itu terlihat sangat imut memakai dres selutut dengan motif kuda poni.
Sela jongkok untuk menyamakan tingginya dengan Marisa. karena Wisnu tidak mengijinkan Sela menganggap Marisa sebagai anaknya jadi Sela ingin menjelaskan kepada gadis kecil itu agar dia tidak kecewa. ''Marisa'' belum sempat Sela mengtakan apapun, Wisnu sudah menyela.
''Ehm, aku sudah lapar bisa kita makan sekarang?'' Sela yang tau Wisnu sengaja menghentikannya menjadi kesal.
''Apa sih maunya si Wisnu ini'' batin Sela. Namun Sela tetap tersenyum kepada Marisa sambil membantunya duduk di kursi.
''Hm, masakan mama Sela enak'' kata Marisa sambil menggigit sebuah naget ayam.
''Benarkah, kalau begitu nanti tante akan sering masak untuk kamu.''
''Mama sela tidak mau menjadi mamanya Marisa ya?'' Tanya marisa yang mendengar Sela menyebut dirinya dengan sebutan tante.
__ADS_1
''Tentu saja tante mau tapi kalau papa kamu mengijinkan, jadi Marisa harus tanya papa dulu.''
Wisnu menyepitkan matanya. ''Sungguh cerdik'' katanya pada Sela.
Sela melanjutkan makannya, pura-pura tidak melihat Wisnu.
''Bolehkan pa?'' Tanya Marisa penuh harap.
Wisnu hanya bisa menganguk dengan pasrah.
''Yeee'' sorak Marisa ke girangan. ''Mama dengarkan, papa sudah mengijinkan. Berarti sekarang mama Sela resmi jadi mamanya Marisa.''
''Papa berangkat ke kantor dulu.'' Kata Wisnu pada Marisa.
''Wisnu tadi bik Wati pergi untuk belanja bulanan, tapi kenapa sampai sekarang belum kembali.''
''Oh, dia akan kembali agak siang karena setiap belanja bulanan dia akan mampir untuk melihat anaknya yang tinggal bersama neneknya.''
''Lalu kalau begitu bagaimana dengan Marisa?''
''Saat bik Wati pergi belanja bulanan Marisa akan ikut denganku ke kantor. Tapi hari ini karena ada kamu dia tidak ingin ikut denganku.'' keluh Wisnu
Sela terkekeh mendengarnya. ''Sudah sana pergi Marisa aman bersamaku.''
Sela merasa bersyukur di saat seperti ini dia di pertemukan dengan Wisnu dan putrinya. Sela jadi bisa sedikit melupakan kesedihannya.
Seminggu sudah Sela pergi dari rumah. Namun Rendi belum juga mendapatkan kabar.
''Apa kamu masih belum ingin berangkat ke kantor?'' Arumi tidak suka melihat Rendi yang masih saja mencari Sela.
''Entahlah, aku masih belum bisa fokus mengerjakan urusan kantor kalau Sela belum ketemu.''
''Rendi apa kamu tidak merasa kalau Sela itu keterlaluan, seharusnya dia dengarkan penjelasan dari kita dulu bukannya menghilang seperti sekarang. Bikin susah saja.'' kesal Arumi.
''Arumi jaga bicaramu, Sela begini karena kita apa kamu tidak merasa keterlaluan berbicara begitu.'' Bentak Rendi.
''Hik..hik..hik..'' Arumi langsung menangis mendengar bentakan Rendi.
''Haaaah'' Rendi menghembuskan nafas untuk meredam emosinya.
''Arumi maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu.''
''Tidak apa-apa aku memang salah.'' Kata Arumi sambil terus menangis.
__ADS_1
Rendi menarik tubuh Arumi kedalam dekapannya. ''Sudah jangan menangis lagi, mau jalan-jalan?'' Arumi tersenyum dalam pelukan Rendi.