
''Rendi'' Monika bangkit dari duduknya karena kaget melihat Rendi di antarkan pulang dalam ke adaan tak sadarkan diri.
''Alex apa yang terjadi?'' Tanyanya.
''Tidak apa-apa nyonya, tuan Rendi hanya mabuk.''
''Apa, mabuk? Dasar tidak berguna'' omelnya. ''Alex tolong bawa dia ke kamar tamu kalau di kamar atas nanti malah mengganggu Arumi.''
Monika yang kesal beranjak pergi meninggalkan Rendi dan Alex. Dia pergi menuju ruang kerja suaminya.
''tok, tok, tok, apa papa masih di dalam? Boleh mama masuk?'' Tanya Monika.
''Ya ma masuk saja.''
''klek'' Monika membuka pintu dan mendorongnya dengan pelan.
Terlihat Bastian sedang duduk di kursi dengan wajah lelahnya. ''Ini sudah malam kenapa papa masih di sini?'' Monika mendekati suaminya itu lalu meletakkan tangannya di bahu sang suami.
''Ini semua karena ulah anak kesayanganmu. Bisa-bisanya dia menandatangani surat perjanjian kerja sama yang merugikan perusahaan. Aku tidak tau bagaimana harus menyelamatkan perusahaan. Jalan satu-satunya aku harus menemui pemilik perusahaan itu untuk melakukan negosiasi ulang, itupun kalau dia bersedia.''
Bastian terlihat begitu prustasi, ''kamu lihat ma, hasil jerih payahku selama puluhan tahun akan segera habis hanya dalam hitungan hari. Sementara anak pembuat masalah itu entah di mana keberadaannya.''
Monika hanya bisa menunduk dalam diam, dia tidak berani mengatakan bahwa Rendi sudah pulang namun dalam ke adaan mabuk.
''Sebaiknya kita istirahat dulu, besok kita pikirkan solusi untuk masalah ini.''
Bastian mengangguk setuju, merekapun pergi menuju kamar mereka.
Ke esokan paginya Bastian dan keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Rendi hanya bisa tertunduk di bawah tatapan tajam Bastian.
''Apa yang ingin kamu jelaskan?"
"Maaf"
"Papa tidak butuh kata maafmu. Cari solusi untuk masalah ini. Kamu tau Rendi, papa memperjuangkan perusahaan ini dengan keringat dan air mata. Baru beberapa tahun saja papa mempercayakan perusahaan ini padamu
Tapi kamu sudah menghancurkannya.''
Bastian begitu emosi hingga menggebrak meja.
Arumi yang sedari tadi diam juga terkejut.
''Pa semua ini bukan salah mas Rendi, tapi semua ini adalah ulah dari kekasih Sela. Dia ingin membalaskan sakit hati Sela pada mas Rendi.'' Adu Arumi pada Bastian.
__ADS_1
''Arumi ini tidak ada hubungannya dengan Sela, jadi jangan bicara sembarangan.'' Rendi menatap Arumi dengan tatapan peringatan.
''Hik, hik, hik, kenapa mas? Sela sudah menyakitimu tapi kenapa kamu masih saja membelanya, sadar mas selama ini dia sudah menghianati kamu dengan tinggal bersama pria lain.'' Arumi mengeluarkan jurus andalannya.
''Rendi apa maksudnya ini?'' Bastian menuntut penjelasan.
''Cukup pa, kita ini mau sarapan untuk masalah perusahaan nanti kita bahas lagi.'' Lerai Monika.
''Arumi kamu baru sembuh makanlah yang banyak.'' Monika meletakkan seekor gurami asam manis ke piring Arumi.
Arumi sedikit kesal karena dia hampir saja bisa menghasut Bastian tapi Monika malah menghentikan. ''Ternyata mama sama saja dengan Rendi dia juga melindungi Sela, ternyata selama ini dia tidak benar-benar menyayangi aku.'' Pikiran buruk tentang Monika mulai melintas di kepala Arumi.
Sarapan kali ini Bastian hanya makan sepotong roti tidak seperti biasanya, walaupun hanya sarapan tapi dia tetap makan nasi.
''Setelah sarapan temui papa di ruang kerja?'' Kata Bastian sambil menatap Rendi kemudian berlalu menuju ruang kerjanya.
Rendi meletakkan garpu dan sendoknya kemudian pergi menyusul Bastian.
''Rendi selesaikan dulu makanmu!" Monika mengingatkan.
"Aku sudah kenyang ma" jawabnya tanpa menghentikan langkah.
"Arumi kamu yang sabar ya, perusahaan sedang gawat makanya mereka seperti itu.'' Monima menyentuh tangang Arumi dan mengusapnya pelan.
''Duduk'' perintah Bastian setelah Rendi masuk kedalam ruang kerjanya.
''Sekarang jelaskan" kata Bastian setelah Rendi duduk di kursi yang ada di depannya.
"Penjelasan yang mana yang ingin papa dengar?"
"Semuanya!"
Rendi menghirup nafas dalam kemudian menghembuskannya. "Untuk masalah perjanjian kerja sama itu aku juga tidak tau cara apa di gunakan oleh mereka, yang jelas saat aku menandatangani surat perjanjian itu aku sudah membacanya dengan baik dan isinya jelas berbeda, tapi sayangnya setelah kami melakukan penyelidikan sampai memerikasa cctv hasilnya tidak terdapat bukti kecurangan di sana itu merupakan surat perjanjian yang sama dan asli.''
Terlihat raut marah dari wajah Bastian.
''Lalu apa yang kamu lakukan untuk mengatasi ini?''
''Aku sudah berusaha untuk menemui pimpinan perusahaan itu tapi dia tidak bersedia menemui aku.''
''Lalu apa hubungan masalah ini dengan Sela?'' Tanya Bastian masih dengan wajah marahnya.
''Sela sekarang tinggal di rumah pemilik perusahaan itu. Dan seperti apa yang di katakan Arumi tadi mungkin benar dia melakukan ini demi menarik perhatian Sela.'' Ucap Rendi dengan Sedih.
__ADS_1
Berbeda dengan Rendi, Bastian justru senang mendengar hal ini. ''Rendi kalau begitu masalah ini masih bisa di selesaikan. Tapi apa kamu yakin pimpinan prusahaan itu memang menyukai Sela.'' Tanya Bastian antusias.
''Sepertinya begitu, dia bahkan memberikan Marisa super Mall kepada Sela.''
''Bagus, berikan nomor henpon Sela ke pada papa.''
''Aku tida punya , Sela telah menukar numor henponnya.''
''Papa tidak mau tau, kamu harus sudah memberikan nomor henpon Sela pada papa Siang ini. Pergilah!"
Rendi kembali ke kamar untuk menemui Arumi.
"Arumi maafkan aku karena semalam meninggalkan kamu saat masih di rumah sakit."
Arumi diam saja, Dia terlihat masih kesal.
''Arumi tolong jangan diam saja, apa kamu masih marah?'' Rendi mendekat lalu duduk di samping Arumi.
''Mas pikirkan saja sendiri, apa menurut mas perbuatan mas itu tidak keterlaluan?'' Sungutnya.
Rendi merarik Arumi kedalam pelukannya. Dia tidak perduli dengan Arumi yang masih menunjukkan wajah kesalnya.
''Kapan jadwal kamu cek kehamilan? Aku ingin menemani kamu.''
Rendi menelus perut Arumi yang sudah semakin membuncit.
Kekesalan Arumi langsung mereda, dia menyandarkan kepalanya di bahu Rendi, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Rendi.
''Mas Rendi bolehkah aku berharap kamu selalu seperti ini? Aku sungguh butuh kamu.
Kamu itu segalanya bagiku. Cinta pertama dan terakhirku. Berjanjilah jangan pernah mengkhianati aku.''
Rendi justru melamun mendengar permohonan Arumi, dia teringat Sela juga pernah memohon hal yang sama dan dia telah mengingkarinya.
''Jangan khawatir'' hanya itu yang bisa keluar dari mulut Rendi.
''Aku pergi dulu, setelah masalah di kantor selesai kita akan pergi liburan.'' Rendi mengecup kening Arumi lalu pergi.
Arumi benar-benar merasa bahagia dengan perhatian Rendi itu.
Di saat masih menikmati perasaan bahagianya sebuah notif pesan masuk di henponnya.
Arumi meraih henponnya untuk melihat pesan itu. dan ternyata kiriman rekaman vidio.
__ADS_1
Arumi membuka dan memutar vidio itu. Tubuh Arumi langsung menengang setelah melihat vidio itu. Itu adalah vidio rekaman percakapan antara dia dengan Hans saat di rumah sakit.