
Sela menyusul Rendi keruang kerjanya. Di dalam ruangan itu terlihat Rendi sedang duduk di sebuah kursi di belakang meja.
Dengan setumpuk dokumen di atas meja itu.
Rendi terlihat sedang membuka sebuah map, dan sedang memeriksa lembar demi lembar isinya.
''Rendi kamu sedang apa?'' Rendi mengarahkan pandangannya ke arah Sela saat mendengar suara Sela.
''sayang , kamu belum tidur? Ini aku hanya memeriksa beberapa berkas perjanian kerja sama dengan perusahaan lain.''
''oh...'' Sela hanya ber ''oh'' saja karena dia sama sekali tidak mengerti tentang urusan seperti itu, maklum dia hanya seorang tamatan SMA.
Sela mendekat ke arah Rendi, salah satu tangannya merangkul leher Rendi. ''Rendi sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu terlihat begitu sedih sejak kita kembali dari Sura Baya, apa aku mengacaukan sesuatu?''
Rendi memutar arah duduknya menghadap Sela. kedua tangannya di letakkannya di pinggang Sela.
''sayang kenapa kamu berpikiran seperti itu? Ini semua tidak ada hubungannya sama kamu. Aku hanya sedang banyak pikiran saja.''
''karena aku menyusul ke Sura Baya, kamu jadi pulang lebih awal, hingga pekerjaan di sana jadi terbengkalai. Iya kan?''
''hei, siapa yang memberi tahumu omong kosong seperti itu? Itu semua tidak benar.''
''ini hanya asumsiku saja, karena aku melihat kamu bersedih sejak pulang dari Sura Baya.'' kata Sela sambil menunduk.
Rendi menarik Sela kedalam pelukannya. ''maaf'' kata Rendi pelan sambil mengusap lembut punggung Sela.
Sela tidak menjawab, dia hanya diam menikmati dekapan suaminya itu.
''sebaiknya kita ke kamar dan istirahat aku rasa kamu sudah sangat lelah hari ini.'' Sela menutup dokumen yang tadi di pegang oleh Rendi.
saat Sela mengangkat dokumen itu untuk di satukan dengan yang lain sesuatu jatuh dari meja Rendi.
''Apa itu seperti sebuah foto'' ujar Sela sambil membungkuk ingin mengambil foto yang jatuh itu. Untung foto itu jatuh dalam kondisi tertelungkup sehingga Sela tidak dapat melihat gambar dari foto itu.
Rendi dengan cepat menahan tubuh Sela.''sayang
Biarkan saja aku sudah sangat ngantuk, kita kekamar sekarang ya.''
__ADS_1
Rendi langsung merangkul tubuh istrinya dan membawanya ke kamar.
Sela sebenarnya merasa penasaran dengan foto yang jatuh itu. Namun karena Rendi keburu merangkul dan membawanya ke kamar Sela tidak bisa berbuat apa-apa.
Sela masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. ''Rendi aku ke kamar mandi dulu ya.'' Sela pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Rendi menggunakan kesempatan itu untuk menelpon Alex.''Alex pergi ke ruang kerja sekarang dan ambil foto yang terjatuh di bawah meja''
''baik tuan'' setelah mendengar jawaban dari Alex Rendi langsung memutus sambungan telpon itu.
Sementara sebelum Alex masuk ke ruang kerja Rendi ternyata sudah ada orang lain yang masuk untuk mengambil foto itu dan menukarnya dengan foto yang lain.
Alex masuk ke ruangan itu dan mencari-cari foto yang di sebutkan oleh Rendi. ''ah, ini dia'' Alex membungkuk dan meraih foto itu.
Alex menaikkan sebelah alisnya saat melihat foto itu. ''Foto ini..., untuk apa tuan menyuruhku mengamankannya? Ah , sudahlah.'' Alex memasukkan foto itu ke saku jasnya dan meninggalkan ruangan itu.
satu bulan sudah berlalu sejak mereka pulang dari Sura Baya. Selama satu bulan ini untuk melupakan masalahnya bersama Arumi Rendi memilih menyibukkan diri di kantor.
Sementara Arumi mendaftar menjadi seorang guru di salah satu TK yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Pagi ini Arumi sedang sarapan bersama kedua orang tuanya sebelum berangkat mengajar.
''mas Rendi sibuk pa.'' hanya itu yang keluar dari mulut Arumi.
''Arumi sesibuk apapun dia, kamu itu istrinya, harusnya dia menyempatkan waktu untuk menemuimu walau sebentar'' kali ini Erina yang berbicara.
''ma, pa....'' Arumi ragu untuk melanjutkan ucapannya. ''ada apa sayang, apa terjadi sesuatu di antara kalian?''tanya Erina sambil menyentuh punggung tangan Arumi.
Arumi tak kuasa membendung air matanya. Erina mendekat dan memeluk putrinya itu.
''ada apa sayang katakan?'' kata Erina dengan lembut.
Arumi masih menangis dalam pelukan Erina. Sebelum akhirnya dia mengutarakan ke inginannya.
''ma, pa...., Arumi ingin pisah sama mas Rendi?'' Arumi kembali menangis di dalam pelukan Erina.
Pak Yanto menghela nafas mendengar penuturan putrinya.''sebenarnya dari awal papa sudah yakin kalau pernikahan kalian ini tidak akan berhasil.'' ujar pak Yanto sambil memandang wajah putrinya.
__ADS_1
Arumi semakin terisak mendengar ucapan pak Yanto. ''sudahlah jangan menangis, bukankah kamu yang setuju untuk menikah, jadi anggaplah ini sebagai cobaan dalam hidupmu''
Arumi mengangguk, mengiyakan ucapan pak Yanto. ''tapi Arumi apa Rendi memang bersedia menceraikanmu? Ingat pernikahan kalian itu pernikahan siri, selama Rendi tidak ingin menceraikanmu, kamu juga tidak bisa menuntut.''
Arumi kembali ke kamarnya untuk memperbaiki riasan wajahnya, yang sudah berantakan akibat dia menangis tadi.
Arumi menarik nafas dalam dan di keluarkan melalui mulut untuk menetralkan rasa sesak yang mengganjal di dadanya.
Setelah merasa lebih baik Arumi turun kelantai bawah lalu keluar dari rumahnya, untuk pergi mengajar.
Setelah Arumi pergi, pak Yanto mengambil ponselnya dan menghubungi Rendi. Setelah telpon tersambung Pak yanto tanpa basa basi langsung mengutarakan maksudnya.
''halo assalammualaikum'' kata Rendi dari sebrang sana. ''Waalaikum salam nak Rendi bapak harap kamu bisa datang ke rumah bapak sore ini. Ada yang ingin bapak bicarakan.''
Rendi sudah bisa mendunga kalau pak Yanto pasti ingin membicarakan masalahnya dengan Arumi.oleh Karena itu Rendi langsung menyetujuinya. ''baiklah pa, saya akan ke sana sore nanti'' kata Rendi menyahuti ucapan pak Yanto.
''oke , saya tunggu!'' pak Yanto segera memutus sambungan telponnya.
''Bagaimana pa?'' tanya Erina kepada suaminya. ''Rendi setuju untuk datang sore ini'' ujar pak Yanto.
''mas apa Arumi tau, mas mengundang nak Rendi?'' Erina memandang wajah suaminya, menunggu jawaban dari suaminya.
''tidak...., Arumi tidak tau. Tapi suka tidak suka kita harus melakukan ini, agar masalah mereka tidak berlarut-larut.''
Rendi terus menerka-nerka apa yang kira-kira akan di sampaikan oleh pak Yanto padanya nanti.
''Alex keruanganku sekarang'' kata Rendi kepada Alex melalui sambungan telpon yang ada di mejanya.
''baik tuan'' jawab Alex dari ruangannya.
setelah sambungan telpon terputus Alex bergegas menuju ruangan Rendi.
Tok! Tok! Tok!
alex mengetuk pintu begitu sampai di depan ruangan Rendi.
''masuk'' terdengar suara Rendi dari dalam ruangan.
__ADS_1
Alex mendorong pintu ruangan itu dan masuk kedalam.'' tuan memanggil saya'' kata Alex begitu sampai di depan Rendi.