Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 63


__ADS_3

''Aku rasa tidak perlu, aku yakin Arumi seperti itu hanya karena sedang hamil jadi emosinya tidak setabil seperti yang mama katakan''


''Hm, mungkin kamu benar ibu yang terlalu khawatir.'' Erina hanya bisa menurut dengan apa yang di katakan Rendi, dia tidak mungkin menceritakan dengan jujur tentang niat Arumi yang ingin mencelakai Sela. Sebenarnya hal inilah yang membuat dia sangat khawatir, Erina takut jika Arumi benar-benar mencelakai Sela nantinya dia akan di penjara.


''Sudah ibu tidak usah khawatir lagi aku berjanji akan menjaga Arumi dengan baik.''


''Terima kasih nak Rendi.''


Erina pergi kedapur untuk melanjutkan sedangkan Rendi pergi ke kamar untuk menemui Arumi.


''klek'' Rendi membuka pintu kamar terlihat Arumi yang tertidur dengan lelap namun ada jejak air mata di pipinya.


Rendi naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Arumi. Dia mengelus lembut puncak kepala Arumi ''maaf, kamu pasti sangat menderita selama menjadi isriku.'' Dia kemudian mengecup kening Arumi.


Arumi sedikit terusik saat Rendi mengecupnya namun tidak terbangun. Melihat Arumi yang sudah kembali terlelap Rendi pun memejamkan mata sambil melingkarkan tangannya di pinggang Arumi.


Makan malam sudah siap, Erina berniat memanggil Arumi dan Rendi, dia mendatangi kamar Arumi. Setelah sampai di kamar putrinya itu Erina mengurungkan niatnya karena melihat Rendi dan Arumi tidur dengan begitu nyenyak dan mereka terlihat sangat mesra.


Erina menutup kembali pintu kamar Arumi dan meninggalkan kamar putrinya itu.


Dia kembali ke meja makan, di sana sudah ada pak Yanto yang menunggunya. ''Lo bu, tidak jadi panggil nak Rendi dan Arumi?'' Tanya pak Yanto yang melihat istrinya datang sendiri.


''Mereka masih tidur aku tidak tega membangunkannya, biar tunggu mereka bangun sendiri saja.''


''Ya sudah ayo kita makan.''


Ke esokan paginya Sela sibuk menyiapkan acara sepesial untuk ulang tahun Wisnu. Dia dan bik Wati sudah sibuk di dapur sejak subuh.


''Bik biasanya kalau Wisnu ulang tahun acaranya seperti apa?'' Sela belum pernah benar-benar menyiapkan acara ulang tahun untuk seseorang. Dulu saat bersama Rendi, kalau Rendi ulang tahun mereka akan merayakannya dengan makan di luar. Sela hanya perlu menyiapkan sebuah kado saja.


''Bibik juga tidak tau nyonya, bibik bekerja ikut tuan Wisnu setelah istrinya meninggal dunia. Dan selama bibik bekerja di sini tuan Wisnu belum pernah merayakan ulang tahun'' jawab bik Wati.


Sela sedikit terkejut mendengar apa yang di katakan bik Wati. jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Wisnu turun dari lantai dua bersama Marisa. Sela sedikit terpana melihat Wisnu dengan pakaian pormal, terlihat sangat tampan dan berwibawa. Begitu juga Marisa terlihat sangat cantik dengan dres berwarna pink.


''Kenapa bengong?'' Tanya Wisnu saat sudah berada di depan Sela.


''Kamu mau kemana, rapi sekali?'' Sela berpikir pakaian Wisnu terlalu berlebihan kalau hanya ingin merayakan ulang tahun bersama keluarga.

__ADS_1


''Apa biasanya aku tidak rapi?'' Wisnu memasang wajah cemberut.


''Bukan begitu maksudku, semalam kamu bilang hari ini tidak pergi ke kantor dan biasanya kalaupun ke kantor kamu tidak berpakaian sepormal ini.'' Ya memang tidak salah apa yang di pikirkan Sela. Selama ini Wisnu saat berangkat ke kantorpun hanya memakai dalaman kaos yang di padukan dengan jas di luar.


''Nanti aku beri tau setelah sarapan. Tapi sebelum ke sana nanti kita mampir ke salon dulu.''


''Terserah kamu saja.'' Sela tidak bertanya apa-apa dia masih berpikir Wisnu ingin merayakan ulang tahunnya kali ini di tempat yang sepesial.


''Wao banyak sekali hidangannya, apa ada yang spesial di hari ini?'' Tanya wisnu yang tidak ingat tentang ulang tahunnya.


''Wisnu kamu bercanda ya?'' Sela balik bertanya.


''Selamat ulang tahun papa?'' Kata Marisa untuk menghentikan perbincangan dua orang dewasa di depannya ini.


''Ulang tahun? Ini...astaga aku bahkan lupa tentang ulang tahunku. Terima kasih sayang. Terima kasih Sela!'' Wisnu memeluk tubuh Marisa dan menciumi pipinya.


''Papa bedakku jadi hilang.'' Protes Marisa.


''Tenang nanti kita rapikan saat di salon.''


Sela menyipitkan matanya. ''Kalau memang Wisnu tidak ingat tentang ulang tahunnya, untuk apa dia berpenampilan seperti ini.'' batin Sela.


''Sela kenapa bengong lagi? Ayo sarapan!''


''Eh' iya. Wisnu selamat ulang tahun.'' Sela menyerahkan sebuah kado untuk Wisnu. Kado itu di bungkus dengan kertas berwarna biru dongker sesuai dengan intruksi Marisa.


Wisnu menyimpan kado dari Sela ke dalam saku jasnya. Kado itu tidak besar jadi muat di dalam saku jas.


''Kenapa tidak di buka?'' Tanya Sela. Dia penasaran dengan reaksi Wisnu saat melihat isi hadiah darinya.


''Nanti saja saat di kamar!''


Marisa terkikik geli mendengar jawaban papanya. Dia tau kenapa papanya ingin membuka kado itu di kamar.


Wisnu mengabaikan putrinya yang cekikikan dan tatapan bingung dari Sela. Dia dengan santai menyantap sarapannya.


Mereka selesai dengan acara sarapannya.

__ADS_1


Wisnu mengajak mereka untuk segera pergi.


''Ayo kita berangkat sekarang!'' Wisnu berjalan sambil menggendong Marisa.


''Wisnu tunggu, kita mau kemana? Untuk apa kamu mengajak aku pergi dengan pakaian pormal begini?''


''Ha..ha...ha'' Wisnu tertawa terbahak-bahak.


''Sela apa yang sedang kamu pikirkan? Aku tidak sedang ingin membawamu ke KUA.''


''Apa maksudmu? Aku tidak berpikir seperti itu.'' sangkal Sela dengan wajah memerah menahan malu.


''Lalu kenapa kamu begitu cemas? Dengar Sela bukan tidak mungkin aku berniat melamarmu tapi tentu saja tidak sekarang, tunggu kamu resmi bercerai dengan Rendi.'' canda Wisnu.


''Hentikan omong kosong ini, siapa juga yang mau menikah dengannya. Terlalu percaya diri.'' gumamnya sambil berlalu pergi ke kamarnya.


''Hei, mau kemana?'' Tanya Wisnu sambil berteriak karena Sela sudah hampir masuk ke kamarnya.


''Ganti baju!''


Wisnu, Sela dan Marisa sudah berada di dalam mobil menuju ke salon.


Sepanjang perjalanan Sela hanya diam, dia masih malas memulai obrolan.


''Masih kesal?'' Tanya Wisnu sambil tersènyum.


''Tidak untuk apa kesal'' padahal wajahnya masih di tekuk.


''Benarkah, lalu kenapa tidak turun? Kita sudah sampai.''


Sela celingak-celinguk melihat kiri kanan. ''ternyata benar sudah sampai.'' Batinnya.


''Marisa ayo kita turun, kita lakukan perawatan yang paling mahal, kita habiskan uang papamu yang menyebalkan ini.'' Sela membawa Marisa masuk ke dalam salon meninggalkan Wisnu yang masih tertawa karena merasa Sela sangat lucu kalau lagi kesal.


''Selamat datang nyonya ada yang bisa kami bantu?'' Tanya pekerja salon itu dengan sopan.


''Apa disini menyediakan perawatan untuk anak-anak?''

__ADS_1


''Ada nyonya'' pekerja salon itu menyerahkan katalok tentang perawatan-perawatan yang di sediakan untuk anak-anak.


__ADS_2