Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 51


__ADS_3

''Lepaskan bajumu'' perintah Anisa saat dia kembali dengan sekantong es batu.


''Apa tidak sebaiknya kita lakukan di kamar saja?''


Alex mengedipkan sebelah mata ke Anisa.


''Yang aku pukul itu perutmu tapi kenapa malah otakmu yang bermasalah?'' Kata Anisa dengan wajah galaknya.


''Cepat buka!''


''Iya, iya, galak benar sih'' Alex membuka kemejanya lalu berbaring di sofa. ''Kalau bukan aku mana ada yang mau denganmu.'' batinya.


Anisa mulai mengompres perut Alex yang terlihat membiru akibat pukulannya.


''Aawww, Anisa bisakah pelan sedikit? Aku jadi ragu kalau kamu ini benar wanita.''


''Lakukan saja sendiri'' Anisa melemparkan kantong yang berisi es batu ke pada Alex lalu berbalik ingin pergi.


Dengan cepat Alex langsung menangkap pergelangan tangan Anisa ''marah?''


Anisa hanya diam sambil memanyunkan bibirnya.


''Sangat menggemaskan'' kata Alex sambil tersenyum.


Alex menarik tangan Anisa agar dia duduk di sebelahnya.


''Apa yang membuatmu marah sampai menghancurkan isi apartemenku seperti ini?''


''Masih berani kamu bertanya ha? Apa kamu tidak sadar kalau beberapa hari ini aku sudah seperti tahanan di apartemenmu ini. Sekedar keluar ke supermarket saja aku tidak bisa.'' Keluh Anisa dengan menggebu-gebu.


''Tapi aku tidak pernah melarangmu.''


''Brak'' Anisa menggebrak meja. ''Kamu memang tidak melarangku tapi semua barangku ada di mobilmu, kamu hanya mengeluarkan pakaianku saja. Bagaimana aku bisa pergi?''


Alex menggaruk kepalanya sambil nyengir. ''Maaf aku lupa.''


Anisa mendesah kesal, ''lupa atau sengaja?'' Walau masih kesal namun Anisa sudah tidak marah lagi.


''Alex bisakah aku minta tolong? Tapi berjanjilah untuk menjaga rahasia.''

__ADS_1


''Apa itu, katakan saja, selama tidak menyuruh aku merampok atau membunuh orang pasti aku lakukan.'' candanya.


''Cek'' Anisa berdecak. ''Kamu ini seriuslah sedikit!''


''Baiklah jangan marah, katakanlah.''


''janji bisa jaga rahasia?'' Anisa memastikan.


''Tidak usah bilang kalau tidak percaya.'' Gantian Alex yang jadi kesal.


''Begini, sebenarnya aku tau di mana Sela dan aku ingin kamu mengantar aku kesana. Tapi berjanjilah untuk tidak memberi tau tuan Rendi.''


''Anisa kamu taukan betapa tuan Rendi sangat ingin bertemu dengan nyonya Sela, apa kamu tidak kasihan?''


''Masalahnya sekarang di rumah itu ada Arumi, tapi percuma bicara sama kamu kamu tidak akan pernah percaya kalau aku bilang dia itu wanita licik.''


''Anisa bukannya aku tidak percaya tapi aku sudah mengenal nyonya Arumi dari awal dia menikah dengan tuan Rendi, hidupnya sangat kasihan. Bisa dibilang dialah sebenarnya yang paling menderita di dalam Hubungan mereka. Bahkan di awal hubungan mereka tuan Rendi sama sekali tidak memperdulikannya dan sempat membencinya. Tapi karena kelembutan dan kebaikan nyonya Arumi hati tuan Rendi jadi tergerak dan mulai mencintainya.''


''Dasar ular betina pandai sekali kamu bersandiwara dan membodohi dua pria sekaligus. Baiklah aku ikuti permainanmu. Dan kamu Alex lihat saja, setelah aku mendapatkan bukti kelicikan ular betina itu apa masih bisa kamu membelanya.'' batin Anisa.


''Baiklah kalau begitu antarkan aku ke rumah tuan Rendi saja, bagaimana?''


Alex jadi dilema dengan permintaan Anisa. ''Apa yang akan di lakukan Anisa?'' pikirnya.


''Mas Rendi kapan pembantu dari yayasan itu sampai? Aku sudah sangat lelah membereskan rumah ini.'' Keluh Arumi yang sedang duduk di sofa sambil mengipas-ngipas wajahnya karena kelelahan membereskan rumah.


''Ini'' Rendi menyodorkan segelas air putih untuk Arumi. ''Apa sangat lelah?'' Tanya Rendi.


''Hm'' Arumi mengangguk dengan manja.


''Selama ini Sela juga pasti sangat kelelahan membereskan rumah ini sendiri bertahun-tahun. Aku sungguh suami yang buruk untuk Sela.'' Komentar Rendi yang benar-benar sangat jauh dari ekspektasi Arumi.


Tadinya Arumi berpikir Rendi akan menyuruhnya untuk istirahat dan memanjakannya. ''Rendi aku gampang lelah karena saat ini aku sedang hamil tentu saja berbeda dengan Sela.'' Kata Arumi yang merasa tidak terima.


''Tok, tok, tok'' terdengar suara ketukan pintu.


''Ada yang datang aku lihat sebentar.''


Rendi berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. ''Klek'' Rendi membuka pintu.

__ADS_1


''Alex, Anisa'' Rendi terkejut saat melihat ternyata Alex dan Anisalah yang datang.


Awalnya Alex ragu untuk menuruti keinginan Anisa, tapi setelah beberapa saat di bujuk Akhirnya Alex mau juga.


''Mari masuk'' Rendi mengajak Alex dan Anisa masuk ke rumahnya.


''Nyonya Arumi'' sapa Anisa ramah saat melihat Arumi yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


Di ikuti dengan Alex yang berjalan di belakangnya.


''Anisa apa kabar?'' Sambut Arumi dengan tak kalah ramahnya.


''Ayo silahkan duduk'' Rendi mempersilahkan Alex dan Anisa duduk.


''Ada keperluan apa kalian pagi-pagi ke sini? Terutama kamu Alex bukankah seharusnya kamu ada di kantor?''


''Maafkan saya tuan saya yang meminta mas Alex mengantarkan saya ke sini, sebenarnya beberapa hari ini saya tinggal di apartemennya mas Alex tuan. Hari ini saya datang ke sini ingin meminta maaf dengan nyonya Arumi saya mengaku salah karena kemarin terbawa emosi dan bicara kasar pada nyonya Arumi. Untuk itu sekali lagi saya minta maaf.'' Anisa membungkukkan badan di depan Arumi.


Arumi menyipitkan mata. Dia curiga dengan sikap Anisa ini. Tapi di depan Rendi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti permainan Anisa.


''Anisa apa yang kamu lakukan? Sebenarnya aku juga bersalah selama hamil aku terlalu gampang emosi. Maafkan aku juga karena kemarin sempat menamparmu.''


Alex yang mendengar ini sedikit terkejut dia tidak menyangka kalau nyonya Arumi yang menurutnya sangat baik bisa menampar Anisa. ''Pantas Anisa bilang Nyonya Arumi sudah berubah.'' Batinnya.


Anisa tersenyum puas dia yakin setelah mendengar pengakuan Arumi, pendapat Alex akan sedikit berubah.


''Baiklah kalau sudah tidak ada masalah di antara kalian, Anisa bagaimana kalau kamu kembali bekerja di rumah ini?'' Pinta Rendi.


''Yes'' Anisa bersorak dalam hati karena rencananya berhasil, tapi dia tetap berpura-pura menahan diri.


''Aku bagaimana dengan nyonya Arumi saja, kalau nyonya Arumi mengijinkan aku bersedia.''


''Kurang ajar kamu benar-benar pintar memampaatkan situasi, tapi kita lihat saja Anisa aku tidak akan kalah darimu'' Arumi yang tidak mungkin menolak akhirnya mengangguk pasrah.


''Aku juga tidak masalah.''


''Baiklah Anisa selamat bekerja kembali, kamu bisa memasukkan barang-barangmu ke kamarmu. Alex ikut aku mengambil berkas yang sudah aku tandatangani untuk di bawa ke kantor di ruang kerjaku.''


Setelah Rendi dan Alex meninggalkan ruang tamu, tinggallah Arumi dan Anisa di ruangan itu.

__ADS_1


''Anisa, apa sebenarnya tujuanmu kembali ke rumah ini?''


''Apa maksud anda nyonya? Tentu saja untuk bekerja, nyonya aku ini orang susah yang tidak punya rumah, aku sangat menderita setelah berhenti bekerja di rumah anda karena itu aku kembali.'' Katanya sambil mengedipkan sebelah mata dan berlalu dari hadapan Arumi.


__ADS_2