
''Arumi'' Rendi langsung mendorong tubuh Sela karena panik. Ia segera menghampiri Arumi yang berada di sebelah Wisnu.
''Apa yang sudah kamu lakukan? Jika terjadi sesuatu pada istriku, aku pasti akan membuat perhitungan.''
''Duuaarrr'' bak halilintar yang menggelegar di atas kepala Sela mendengar Rendi dengan lantang mengucapkan kata istri untuk Arumi ditambah kepanikan yang terlihat jelas di wajah Rendi menambah lengkap penderitaan Sela.
''Pergilah urus istrimu sebelum kondisinya semakin buruk'' ucapan Sela yang begitu dingin membut Rendi merasa sedih.
''Sela aku...'' Sela mengangkat tangannya menghentikan ucapan Rendi. ''Tidak usah di teruskan urus saja istrimu.'' Sela langsung berbalik pergi meninggalkan Rendi.
Wisnu juga pergi menyusul Sela Setelah memanggil seorang pelayan toko dan menyuruhnya mengirim kue tert terbaik ke rumahnya.
Melihat Rendi yang terdiam, seorang pelayan toko datang menghampirinya. ''Apakah anda butuh bantuan tuan?''
Rendi yang tersadar langsung menggendong tubuh Arumi tampa menjawab pertanyaan pelayan toko itu.
Sela terus berjalan denagan deraian air mata yang terus mengalir, tanpa menghiraukan tatapan orang-orang sekitar. Tidak bisa di pungkiri Sela masih sangat mencintai Rendi.
Hatinya sangat sakit mengingat bagaimana Rendi tega mendorong tubuhnya karena terlalu menghawatirkan Arumi.
Tanpa di sadari Sela sudah berjalan sampai di pinggir jalan raya. Tiba-tiba sebuah motor sport dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya.
Untunglah Wisnu yang sejak tadi mengikuti Sela langsung menyadari dan bergegas berlari untuk meraih tubuh Sela. Wisnu langsung memeluk Sela dan membalikkan tubuhnya untuk menghalangi tubuh Sela dari pemotor itu. Namun naas karena motor itu melaju dengan kecepatan tinggi Wisnu tidak sempat menghindar, alhasil punggung Wisnu terhantam oleh setang motor sport pemotor itu.
Tubuh Wisnu terpental dan berguling di aspal. Hal itu membuat Sela berteriak histeri, hingga mengundang perhatian orang-orang.
Orang-orang mulai berdatangan untuk membantu Sela dan Wisnu. ''Pak tolong bantu saya untuk membawa teman saya kerumah sakit.''
Sela yang di bantu para warga membawa Wisnu ke rumah sakit terdekat yang kebetulan juga rumah sakit yang sama tempat Rendi membawa Arumi.
Sementara pemotor yang gagal mencelakai Sela mengumpat kasal. ''Sial'' umpatnya sambil memukul setang motornya.
Tubuh Wisnu di dorong masuk ke UGD untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
''Dokter bagaimana kondisi istri saya'' tanya Rendi yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan Arumi.
''Jangan khawatir istri anda baik-baik saja, begitu juga dengan kandungannya. Saat ini istri anda juga sudah sadar.'' Terang dokter itu.
''Baik dokter terima kasih.'' Rendi bernafas lega setelah mendengar penjelasan dokter.
''Rendi mendorong pintu ruang rawat Arumi dan masuk kedalam. Terlihat Arumi sedang duduk bersandar pada ranjang rumah sakit.
''Mas Rendi'' sapanya saat melihat Rendi masuk.
__ADS_1
''Bagaimana perasaanmu?'' Tanya Rendi sembari duduk di samping ranjang Arumi.
''Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat ketakutan dan langsung pingsan setelah melihat pria yang bersama Sela itu.''
''Aku..''
''Sebaiknya katakan dengan jujur'' potong Rendi. ''Aku sudah melihat rekaman cctv toko itu, pria itu bahkan tidak menyentuhmu sedikitpun.''
Tadinya Arumi ingin menyembunyikan fakta sebenarnya, dan membiarkan Sela bersama Wisnu yang menurutnya seorang sikopat. Jika Rendi sampai tau dia pasti akan langsung pergi menyelamatkan.
Namun wajah tegas Rendi membuat Arumi bergidik dan mengurungkan niatnya.
''Dia....Wisnu!''
''Deg'' jantung Rendi seakan berhenti berdetak.
''Wisnu teman SMA kalian yang mencelakai Sela dulu?''
Arumi mengangguk.
Rendi langsung bangkit meninggalkan ruang Arumi.
Sementara Arumi hanya bisa pasrah, melihat reaksi berlebihan Rendi, dia tau tidak mungkin dapat untuk menghentikannya.
Memang jarak ruangan Arumi dengan ruang UGD hanya berjarak satu belokan saja.
''Sela'' Rendi mempercepat langkahnya untuk menghampiri Sela dan berhenti tepat di depan Sela.
Sela yang sedang menunduk sepontan mendongak karena merasa ada orang yang berhenti di depannya.
''Rendi'' gumamnya kemudian kembali menunduk seolah tidak punya minat dengan yang dengan orang yang ada di depannya.
Rendi berjongkok dan menggenggam tangan Sela. ''Aku bisa jelaskan semuanya tolong beri aku kesempatan''
''Masalah apa? Pernikahanmu dengan Arumi? Kalian tampak serasi dan bahagia, jadi jalani saja tidak perlu jelaskan apapun, aku akan berbahagia untuk kalian.''
''Apa karena pria itu kamu berkata seperti ini? Sela apa kamu sudah lupa apa yang di lakukannya padamu? Dia yang sudah menyebabkan kamu tidak bisa punya anak.''
Kening Sela berkerut mendengar ucapan Rendi. ''apa maksud kamu?''
''Sebenarnya kamu tidak bisa punya anak akibat cidera yang kamu alami saat menyelamatkan Arumi.'' Rendi kembali menggenggam tangan Sela namun langsung di tepis oleh Sela.
''Kamu sudah tau tapi sengaja menutupi ini dari aku kenapa? Kamu takut aku akan membenci istrimu itu. Tidak kusangka kalian pasangan yang sungguh serasi bahkan bekeja sama menutupi ini dari aku.''
__ADS_1
''Sela aku minta maaf, tapi bukan aku sengaja ingin menutupi ini dari kamu hanya saja...''
''ckleek'' omongan Rendi terpotong saat pintu ruang UGD terbuka.
''Nyonya Sela pasien sudah sadar dan ingin bertemu dengan anda.''
''Bagaimana kondisinya dokter?''
''tidak ada yang serius hanya luka luar, tidak perlu khawatir, setelah mengurus atministrasi sudah bisa pulang.'' Dokter itupun pergi meninggalkan Sela.
''Jangan ikuti aku'' peringat Sela saat Rendi ingin berjalan di belangnya.
''Kamu terlalu keras kepala, bahkan tidak ingin mendengar penjelasan dariku. Sela jika ini keputusanmu aku tidak akan memaksa.'' Rendi yang merasa harga dirinya terluka dengan sikap keras kepala Sela memilih meninggalkannya dan kembali ke ruangan Arumi.
''Hanya sampai segitu perjuanganmu.'' Sela tersenyum kecut menatap punggung Rendi yang menghilang di belokan.
Sela menghampiri Wisnu yang tergeletak diranjang rumah sakit namun tidak tertidur.
''Maaf karena aku kamu jadi begini'' sesalnya.
''Kenapa lama?'' Bukannya merespon Wisnu justru melayangkan pertanyaan untuk Sela.
''Ha'' Sela kebingungan dengan pertanyaan Wisnu.
''Dokter sudah keluar dari tadi kenapa kamu baru masuk sekarang?'' Wisnu memperjelas pertanyaannya.
''Oh itu, di depan tadi ada Rendi.''
''Masih di luar?''
Sela menggeleng ''sudah pergi.''
''Tidak ingin mempertimbangkan?''
Wajah Sela jadi cemberut, '' bisa tidak bahas yang lain. Ini sudah hampir malam Marisa pasti cemas karena kita belum pulang.''
''Benar juga,bisa pinjam henpon? Aku ingin menelpon Piter untuk menjemput kita.''
''Henponmu kemana?'' tanya Sela sembari menyerahkan henpon miliknya.
''Entahlah mungkin terjatuh saat aku terserempet motor tadi.'' Wisnu segera mengetikkan pesan untuk di kirim ke piter dan langsung mengembalikan henpon milik Sela.
''Wisnu lain kali jangan berbuat seperti ini lagi hanya karena masih merasa bersalah padaku. Jangan pernah membahayakan dirimu lagi, ingat ada Marisa yang selalu menunggumu pulang.''
__ADS_1
''Apa hanya Marisa?''