Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 58


__ADS_3

Benar saja dugaan Sela. Setelah satu jam menyisir dinding tebing Alex bersama orang-orang Wisnu dan Rendi menemukan sebuah celah yang tertutup rerumputan, tidak akan terlihat jika tidak di dekati.


''Tuan lihat ada celah yang bisa di masuki orang'' kata salah satu orang yang sedang bergelantungan di dinding tebing.


''Biar aku yang periksa'' Alex segera mendekati celah itu.


Walau dengan sedikit kesusahan akhirnya Alex berhasil memasuki celah itu. Pintu celah itu sempit namun di dalamnya sedikit lebar.


Mata Alex terbelalak mendapati Anisa yang tergeletak tak sadarkan diri di dalam celah itu.


''Anisa'' teriaknya sambil menghampiri tubuh Anisa. Alex segera memeriksa denut nadi dan detak jantung Anisa. ''Allamdulillah, terimakasih ya Allah.'' gumamnya karena ternyata Anisa masih hidup.


''Aku menemukannya'' teriak Alex pada orang-orang yang berada di luar.


Berita itu segera menyebar kepada seluruh anggota tim yang melakukan pencarian.


seluruh anggota tim sudah berada di atas tebing, termasuk Sela, Rendi dan Wisnu.


proses evakuasi Anisapun berjalan lancar, meski medan yang di hadapi terbilang sulit.


Anisa langsung di larikan ke rumah sakit dengan ambulans yang di hubungi komandan Haris begitu mengetahui korban telah di temukan dengan Alex yang ikut di dalam ambulans. Sela dan Rendi mengikuti ambulans yang membawa Anisa dari belakang dengan mobil Rendi.


Wisnu memutuskan pulang ke rumahnya untuk melihat Marisa.


Beberapa wartawan mengabarkan berita terbaru mengenai korban kecelakaan yang telah di temukan dalam keadaan hidup.


Arumi yang mendengar berita ini mengepalkan tangannya. ''Sialan, bagaimana mungkin dia bisa selamat.'' gumamnya, dia yang dari semalam sudah merasa kesal Karena Rendi terus saja mengabaikan telponnya bertambah kesal mendengar berita Anisa selamat.


Anisa sudah di tangani oleh dokter. Walau mengalami luka yang cukup parah di bagian bahu kanan dan kaki kanannya namun dia sudah melewati masa kritis. Dia juga sudah di pindahkan ke ruang perawatan walau belum sadar karena pengaruh obat bius.

__ADS_1


Sela lega mendengar kondisi Anisa sudah baik-baik saja.


''Apa kamu ingin pulang bersamaku untuk ganti baju?'' Tanya Rendi yang baru saja datang dari mengurus administrasi perawatan Anisa. Rendi memang mengatakan pada Alex agar dia saja yang mengurus administrasinya agar Alex bisa tetap di dalam menemani Anisa hingga dia sadar nanti.


Sela tidak mengatakan apa-apa dia hanya menggelangkan kepala tanda tidak mau.


Rendi menghela nafas dalam sembari duduk di samping Sela. ''Sela kenapa kamu sangat keras kepala? Kenapa kita tidak berbaikan saja dan mencoba menjalani hubungan kita dengan baik-baik. Aku kamu dan Arumi kita hidup bersama dengan rukun.''


Sela sungguh sangat geram mendengar ucapan Rendi tapi dia terlalu malas untuk menanggapi dan memilih untuk tetap diam.


''Kenapa kamu diam saja? Katakan sesuatu, katakan jika kamu setuju'' bujuk Rendi.


''Lagi pula Arumi itu sahabat baikmu, bukankah kamu sangat menyayangi dia, jadi apa sulitnya?''


Sela yang sedari tadi mencoba bersabar akhirnya meledak juga amarahnya. ''kamu benar-benar orang yang tidak punya hati mudah sekali kamu bicara seperti itu. Justru karena dia sahabatku, seandainya orang lain mungkin hatiku tidak sesakit ini.''


''Maafkan aku Sela, aku tidak bermaksud membuatmu sedih aku hanya ingin kamu tidak egois dan bisa mengerti aku. kamu tau Sela Arumi sangat tulus, dia benar-benar ingin kita hidup rukun bertiga.''


''Benar-benar tidak masuk akal. Rendi sebaiknya kita sudahi omong kosong ini.'' Sela beranjak dari duduknya ingin segera pergi namun tangannya di cekal oleh Rendi.


''Sela kamu tidak boleh pergi, kamu masih sah sebagai istriku, jika kamu tidak bisa di ajak bicara baik-baik maka aku akan memaksa kamu untuk ikut pulang bersamaku. Ingat Sela, sebagai suami aku masih berhak penuh atas dirimu.''


Rendi menyeret Sela agar ikut dengannya tanpa memperdulikan Sela yang terus meronta minta di lepaskan, hingga mereka sampai di area parkir rumah sakit. ''Rendi lepaskan aku, aku tidak ingin ikut dengan kamu lepas.'' Sela terus menghentak-hentakkan tangannya agar terlepas dari cekalan Rendi namun tenaganya kalah.


Untung di saat bersamaan, Wisnu yang tadinya pulang untuk melihat Marisa sudah kembali lagi ke rumah sakit, karena Marisa terus mendesaknya untuk menjaga Sela.


''Apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan dia!'' Wisnu langsung melayangkan sebuah pukulan ke wajah Rendi, hingga membuat Rendi terhuyung ke belakang dan cekalan tangannya pada Sela terlepas.


''Siapa kamu berani ikut campur urusan rumah tangga orang? Apa sudah tidak ada wanita lain lagi di dunia ini hingga kamu terus menempel pada istri orang.?'' ejek Rendi.

__ADS_1


''Hanya lelaki bajingan yang sanggup berbuat kasar pada istrinya sendiri. Jika memang kamu sudah tidak bisa menyayangi dan melindungi dia maka lepaskanlah akan ada orang lain yang bersedia menyayangi dan melindungi dia.''


''Kurang ajar'' Rendi yang geram melayangkan sebuah tinju ke wajah Wisnu hinga kondisi wajah Rendi dan Wisnu jadi sama-sama memiliki memar.


''Cukup hentikan semua ini, apa kalian tidak malu menjaditontonan orang?'' Sela berusaha melerai kaduanya.


Rendi yang belum puas menarik kerah kemeja Wisnu. ''Tau apa kamu soal melindungi ha? Apa kamu tau apa yang terjadi pada rumah tangga kami adalah karena ulahmu.'' Buk, Rendi melayangkan satu pukulan lagi.


''Kalau kamu tidak mencelakai Sela hingga mengakibatkan dia tidak bisa punya anak, orang tuaku tidak akan mendesakku untuk menikah lagi dan kami masih bahagia sampai sekarang.''


''Apa, apa yang kamu katakan?'' tubuh Wisnu melemas mendengar kenyataan bahwa secara tidak langsung dialah penyebab kehancuran rumah tangga Sela.


''Kenapa, kamu tidak percaya? Kamu bisa cek kebenarannya di rumah sakit tempat Sela di rawat dulu, agar kamu tau cidera yang di alami Sela akibat ulahmu adalah penyebab Sela susah punya anak bahkan mungkin tidak akan pernah bisa.'' Jelas Rendi.


Wisnu menatap Sela dengan rasa bersalah yang tidak mampu dia ungkapkan, hal itu di manfaatkan Rendi untuk kembali melayangkan sebuah pukulan. Wisnu yang tidak siappun ambruk ke lantai akibat pukulan itu.


''Tolong, tolong pak satpam tolong!" Teriak Sela meminta pertolongan.


Seorang satpam segera berlari menghampiri mereka. Sebenarnya di sana banyak orang yang berlalu lalang karena saat ini mereka berada di area parkir rumah sakit, namun semuanya hanya menoleh tanpa mau ikut campur.


''Ada apa ini?'' tanya satpam yang baru saja datang.


''Pak satpam tolong orang ini memukuli teman saya'' kata Sela.


Mata Rendi terbelalak, dia tidak percaya Sela lebih memilih Wisnu dari pada dirinya. ''Sela kamu'' Rendi menunjuk ke arah Sela, namun pak satpam langsung menengahi.


''Pak tolong jangan buat keributan di sini. Ini rumah sakit tolong jaga ketenangan para pasien di sini.''


Saat Rendi sedang berdebat dengan pak satpam Sela memanfaatkannya untuk membawa Wisnu.

__ADS_1


__ADS_2