
''Aku pergi dulu, sebaiknya jangan kerja sampai terlalu malam.''
Arumi pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kecewa. Tadinya dia berharap Rendi akan langsung meminum kopi buatannya dan akan langsung memuji rasa kopi buatannya itu.
setelah kepergian Arumi, Rendi mencium aroma kopi buatan Arumi, Rendi merasa aroma kopi itu tidak asing.
''Alex coba kamu hirup aroma kopi ini!''
''memangnya kenapa tuan?''
'' sudah hirup saja.''
Alex mendekatkan hidungnya ke gelas kopi miliknya.
''Aroma ini, sangat mirip dengan kopi buatan nyonya Sela.'' Lalu Alex menyeruput kopi miliknya,
''tuan ternyata rasanya juga sama. Coba saja tuan cicipi.''
Rendipun segera menyeruput kopi miliknya. ''Kamu benar Alex rasa kopi ini memang sangat mirip dengan buatan Sela, Alex pergilah istirahat, aku yakin kamu pasti lelah.''
''Baik tuan saya permisi.''
Rendi masuk kedalam kamarnya.
Arumi ternyata belum tidur, dia sedang duduk di atas kasur sambil menbaca buku.
''apa pekerjaan mas sudah selesai?'' tanya Arumi saat melihat Rendi masuk ke dalam kamar
''Belum, tapi aku sudah lelah dan ingin istirahat.''
''apa mau aku pijitin?''
''tidak usah.'' tolak Rendi dengan cepat
''Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan?''
''tanya apa mas?''
''dari mana kamu belajar membuat kopi?''
__ADS_1
''memangnya kenapa mas apa tidak enak?''
''jawab saja.''
''Mamaku yang mengajarinya.''
'' kamu bohongkan?'' kata Rendi yang tidak percaya dengan jawaban Arumi
''apa maksud mas bicara seperti itu?''
''Kamu pasti sengajakan mencari tau tentang Sela, dan meniru dia iyakan? Tapi kamu dengar baik-baik Arumi apapun yang kamu lakukan untuk meniru Sela itu tetap tidak akan merubah apapun, karena kamu bukan Sela dan selamanya tidak akan bisa menjadi seperti dia.'' emosi Rendi tersulut begitu saja saat saat berbicara dengan Arumi.
''Kenapa mas, kenapa kamu seperti ini kepadaku apa salahku?''
''Kesalahanmu karena sudah bersekongkol dengan papa dan mamaku sehingga pernikahan ini bisa terjadi. Dan aku membencimu untuk itu.''
Bak di sambar petir, hati Arumi rasanya hancur berkeping-keping mendengar kata benci yang keluar dari mulut suaminya itu.
Air matanya seketika terjun bebas di pipi mulus Arumi.
''terserah apa pemikiranmu mas, tapi asal kamu tau aku juga korban di sini mas. Papamu datang kerumahku dan mengatakan kalau kamu sangat ingin memiliki anak, sementara Sela istrimu tidak bisa memberikanmu anak. Karena itu Sela memintamu untuk menikah lagi. Dan kamu meminta papamu untuk melamar aku atas persetujuan Sela. Dengan bodohnya aku mempercayai semua itu dan kamu tau kenapa? Karena sampai saat ini aku masih sangat mencintai kamu.'' Arumi menyeka air matanya yang terus saja mengalir.
aku, aku mas. Di depanku kamu bisa bebas menunjukkan kasih sayangmu pada Sela, sementara aku jangankan di depan Sela saat kita hanya berduapun kamu bersikap dingin kepadaku. Tapi aku sudah janji untuk bertahan mas, dan akan aku tepati, karena aku ingin memberikan seorang anak untuk Sela. Ini janjiku, kamu bisa pegang janji ini. Dan soal kopi, kenapa rasa kopi buatan kami bisa sama. Karena mamaku yang mengajari Sela cara membuat kopi. Ya, Aku dan Sela sahabat baik saat kami masih duduk di bangku SMA. Awalnya aku tidak tau kalau Sela isrtimu itu adalah sahabatku. Aku pikir hannya namanya saja yang sama, sampai aku melihat fotonya di kamarmu. Hal ini juga yang membuat aku menyetujui kesepakatan yang sesungguhnya sangat menyakiti hatiku. sekarang terserah kamu mas mau bagai mana?''
Arumi pergi meninggalkan Rendi yang masih mematung di kamar.
''Buuk'' suara bantingan pintu menyadarkan Rendi dari keterejutannya.dia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Arumi juga korban dari keegoisan orang tua mereka.
Rendi merasa bersalah karena selama ini dia sudah menyakiti hati Arumi. Padahal benar jika ditanya siapa yang paling menderita, jawabannya pasti Arumi.
Rendi duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar. Dan pikirannya menerawang entah kemana.
Setelah mendengar penjelasan Arumi Rendi bingung harus bagaimana, jika dia melanjutkan kesepakatan mereka artinya dia kejam pada Arumi.
Tapi kalau dia menjalani pernikahan ini artinya dia benar benar menghianati Sela. Dan jika dia menceraikan Arumi sekarang, semuanya akan lebih buruk karena dia sudah terlanjur menanda tangani surat perjanjian dengan papanya.
''Aaarg...'' Rendi menjambak rambutnya sendiri untuk melampiaskan rasa prustasinya.
''Ya Allah kenapa jadi begini? Kenapa Kau berikan cobaan yang begitu berat?''
__ADS_1
Arumi pergi ke salah satu kamar tamu di rumah itu. Memang rumah mereka tergolong sangat besar karena memiliki 3 kamar utama dan 3 kamar tamu.
Didalam kamar itu Arumi menangis sejadi jadinya. ''Ya Allah kenapa hidupku begini? Sejak dulu aku sangat mendambakan menjadi istri mas Rendi, tapi kenapa setelah menjadi istrinya aku justru sangat menderita. Apa ini hukuman untukku ya Allah, karena sudah mengambil suami dari sahabatku sendiri.''
Arumi menangis sepanjang malam, hingga akhirnya dia tertidur.
Rendi yang di hantui rasa bersalah, memutuskan untuk mencari Arumi. Di bukanya satu persatu pintu kamar utama, tapi sama sekali tidak ada Arumi.
Kemana dia, apa dia tidur di kamar tamu?
Rendi menuju ke kamar tamu. Di bukanya perlahan pintu kamar tamu yang bersebelahan denga kamar Alex.
Ternyata benar kamu di sini.
Rendi masuk menghampiri Arumi. Terlihat Arumi tidur meringkuk seperti udang. Dan di pipinya masih ada jejak air mata.
Rendi mengambil selimut dari dalam lemari, di selimutinya tubuh Arumi sampai batas leher. Lalu di ulurkannya tangannya ingin menghapus jejak air mata di pipi Arumi.
Namun dia urung melakukannya karena takut Arumi akan terbangun.
lama Rendi berdiri di samping tempat tidur Arumi. Hingga akhirnya Rendi kembali ke kamarnya.
Rendi dan Alex sudah berada di halaman depan rumah Rendi. Karena alex sudah akan kembali ke Jakarta. ''Alex hati-hati dan tolong bantu aku untuk menjaga Sela selama aku di sini.''
''baik tuan.''
Setelah Alex pergi Rendi masuk kedalam rumah, dilihatnya Arumi yang masih tertidur di kamarnya.
''biarlah dia pasti lelah menangis semalaman.'' Kata Rendi bermonolok .
Rendi pergi menuju kedapur dia bermaksud ingin membuat sarapan. Tadi pagi pagi sekali sebelum pulang keJakarta Rendi sudah terlebih dahulu mengajak Alex untuk membeli kebutuhan dapur.
''Aku akan buat sarapan sebagai permintaan maaf untuk Arumi. sebaiknya buat nasi goreng saja sepertinya gampang.'' gumam Rendi.
Rendi yang memang sama Sekali tidak pernah masak akhirnya mengeluarkan jurus andalan yaitu, tanya mbah gugel.
Setelah berperang selama satu jam di dapur akhirnya jadilah dua piring nasi goreng buatan Rendi.
Rendi kembali menghampiri Arumi, dan ternyata Arumi masih tertidur.
__ADS_1
''Arumi bangun, kata Rendi sambil menyentuh tangan Arumi. Astaga!''