
Setelah dokter pergi Rendi bergegas memasuki ruang rawat Arumi. Sedangkan Erina da suami memilih menunggu di luar, mereka sepakat untuk memberi Rendi kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Sementara Alex sudah pulang, setelah di ijinkan oleh Rendi.
''klek'' pintu ruangan itu di buka oleh Rendi.
terlihat Arumi sedang berbaring di ranjang rumah sakit dengan pandangan menatap ke arah langit-langit ruangan itu.
''em, Arumi'' Rendi meraih tangan Arumi kemudian berlutut di samping ranjang Arumi.
Arumi menoleh. ''kenapa mas suka sekali berlutut, bangunlah''
Rendi mengecup tangan Arumi dengan lembut. ''kita mulai lagi semuanya dari awal ya,'' pintanya dengan lembut.
''mas duduk dulu, ada beberapa hal yang harus kita bahas dengan jelas.''
Rendi mengangguk lalu bangkit dan mengambil sebuah kursi yang memang di sediakan di ruangan itu.
''mas bukankah kita punya sebuah perjanjian, dan sekarang aku sudah hamil, setelah anak ini lahir aku akan memberikannya pada Sela dan hubungan kita berakhir.''
Rendi menghela nafas mendengar ucapan Arumi. ''perjanjian itu sudah tidak berlaku.'' kata Rendi pelan.
''bagaimana mungkin, bukanlah aku sudah menandatangani surat itu di atas matrai?'' tanyanya polos
Rendi tersenyum sambil mengusap sebelah pipi Arumi. ''Aku sudah merobek surat itu''
"Kapan?" tanya Arumi penasaran
"saat kamu meninggalkan aku di Sura Baya, saat itu aku sadar bahwa aku sudah jatuh cinta padamu. Dan sebenarnya apa yang aku katakan padamu malam itu semua karena aku cemburu kamu bersikap sangat manis pada Alex. Walaupun aku tau kalian tidak mungkin menghianati aku. Tapi saat itu aku benar-benar cemburu.''
Wajah Arumi bersemu merah mendengar ucapan Rendi. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali bersedih.
''lalu bagaimana dengan Sela? Dia pasti akan sangat bersedih jika mengetahui tentang ini."
Arumi memejamkan mata membayangkan wajah Sela. Air matanya seketika ikut mengalir.
"hei, kenapa kamu malah menangis, Arumi, Sela itu gadis yang baik dia pasti akan mengerti jika kita menjelaskan ini dengan baik-baik."
__ADS_1
"tidak mas, jangan. Aku mohon jangan beri tahu Sela, biarlah semua tetap seperti ini dan anak ini akan tetap menjadi milik Sela.''
''tapi Arumi,....'' ucapan Rendi terhenti saat tiba-tiba pintu ruangan itu di buka dari luar.
''pak, buk'' sapa Arumi kepada kedua orang tuanya yang baru saja memasuki ruangan itu.
''bagaimana perasaan kamu sayang, apa ada yang tidak nyaman?'' tanya Erina saat sudah berada di samping ranjang Arumi, berseberangan dengan Rendi.
''sudah lebih baik bu.'' Erina tersenyum dan mengelus puncak kepala Arumi.
''kata dokter kalau kamu sudah merasa lebih baik kamu sudah bisa pulang. Mau pulang sekarang?''
Arumi mengangguk mengiyakan ucapan ibunya.
''kalau begitu aku akan panggil dokter untuk mencabut jarum infusnya.'' Rendi beranjak untuk meninggalkan ruangan itu, namun belum sempat dia mencapai pintu Arumi sudah menghentikannya.
''mas'' panggil Arumi, yang seketika menghentikan langkah Rendi. ''hm, ada apa?'' Rendi berbalik melihat ke arah Arumi.
''biar bapak saja yang memanggil dokter, mas sebaiknya pulang saja.''
''tapi kenapa, apa kamu belum memaafkan aku?'' Rendi keberatan karena Arumi menyuruhnya pulang.
Rendi berjalan kembali ke arah ranjang Arumi. ''pak bisa tolong panggilkan dokter.'' pinta Rendi dengan sopan.
Pak Yanto yang mengerti kalau Rendi perlu bicara dengan Arumi pun pergi meninggalkan ruangan itu. ''bu, temani bapak ya'' pinta pak yanto pada istrinya.
Pasangan suami istri itu pun pergi meninggalkan ruang rawat Arumi. Setelah keluar dari ruangan itu pak Yanto membawa istrinya menju kursi yang ada di luar ruangan itu.
''lo, pak kok malah duduk di sini'' Erina heran melihat suaminya itu malah duduk, alih-alih pergi memanggil dokter.
Pak Yanto menarik tangan istrinya agar ikut duduk di sampingnya. ''mereka perlu bicara berdua bu, jadi kita beri mereka waktu sebentar.''
Erina mengangguk tanda dia paham maksud dari suaminya.
''Arumi kamu sedang sakit aku tidak mungkin meninggalkanmu.''
''mas aku tidak apa-apa aku hanya sedikit lelah saja. Mas berjanjilah untuk tetap merahasiakan hubungan kita dari Sela.''
__ADS_1
Rendi menatap lekat wajah Arumi dia bingung dengan keputusan Arumi, bukannya memaksanya untuk mengakui hubungan ini, tapi malah ingin hubungan mereka tetap di rahasiakan.
''aku tau mas bingung dengan keputusanku'' kata Arumi yang mengerti dengan pikiran suaminya.
''tapi satu hal yang harus mas tau aku berhutang nyawa dan sebuah rahim pada Sela'' kening Rendi berkerut mendengar penuturan Arumi.
''apa maksud kamu Arumi?'' Arumi tersenyum kecut menatap suaminya. Sebenarnya dia belum siap menceritakan ini pada Rendi.
Arumi tau cinta Rendi untuk Sela sangat besar, sedangkan cinta untuknya Arumi sama sekali tidak tau sebesar apa, atau bisa jadi hanya perasaan sesaat.
Arumi menghirup nafas dalam sebelum memulai bercerita kepada Rendi. ''mas masih ingat aku pernah bilang Sela sudah mengorbankan sesuatu yang sangat penting demi menyelamatkan aku?''
Rendi mengangguk untuk meng iyakan ucapan Arumi.
''kalau aku bilang Sela tidak bisa punya anak karena aku apa mas akan membenci aku?'' Rendi masih mendengarkan ucapan Arumi walaupun dia tidak mengerti apa yang di bicarakan Arumi.
''mas pasti bingungkan?'' Rendi kembali mengangguk.
''saat kami masih duduk di bangku SMA ada seorang kakak kelas yang mengaku menyukai aku. Tadinya aku pikir itu hanya perasaan cinta sesaat dan karena aku sama sekali tidak menyukainya jadi aku menolaknya.''
Arumi kembali menghirup nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak yang tiba-tiba datang.
''aku tidak menyangka kalau dia bukan sekedar suka tapi dia teropsesi kepada aku. Dan hari itu ibu memberi tahu aku kalau kita sudah di jodohkan.'' mata Arumi mulai berkaca-kaca. Tapi dia tetap melanjutkan ceritanya.
''aku memberi tau Sela tentang hal ini dan tampa sengaja obrolan kami di dengar olehnya. Dia sangat marah dan memaksa aku untuk ikut dengan dia, dan saat itu bertepatan dengan bel masuk, jadi aku menyuruh Sela untuk meninggalkan kami.''
Air mata Arumi tidak dapat terbendung lagi. Meluncur begitu saja membasahi pipinya.
Rendi memberikan sapu tangannya kepada Arumi namun dia sama sekali tidak menghentikan Arumi untuk bercerita. Selain merasa penasaran dengan masa lalu antara Arumi dan Sela, Rendi juga berharap setelah bercerita hati Arumi bisa menjadi lega.
''dia menyeret aku sampai kedalam gudang, dia terlihat sangat marah, dan dia bertanya kenapa aku harus di jodohkan. Aku,...aku,...sangat ketakutan saat dia bilang tidak ada yang boleh memiliki aku kecuali dia. Dan dia mengayunkan sebuah balok ke arahku sambil berkata lebih baik aku mati dari pada di miliki orang lain.''
Arumi semakin terisak dan kesulitan untuk berbicara. Rendi tidak tega melihatnya di tariknya Arumi kedalam dekapannya, agar Arumi lebih tenang.
di dalam dekapan Rendi Arumi merasa lebih tenang dan melanjutkan ucapannya.
''aku sangat takut saat itu dan sudah pasrah, sangking takutnya aku menutup mata dengan kedua tanganku. Tiba-tiba terdengar suara ''buk'' dan saat aku membuka mata, Sela sudah terbaring di lantai tidak sadarkan diri.''
__ADS_1
Rendi mengusap air mata Arumi yang terus saja mengalir.