
tanpa terasa hari sudah berganti pagi, Rendi terbangun dengan merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat dia tidur dengan posisi yang tidak nyaman.
malam ini Rendi tidak pulang dia memutuskan tidur di mobilnya. ''Ternyata sudah pagi. uh badanku rasanya sakit semua, sebaiknya aku pulang sekarang.''
Rendi melajukan mobilnya pulang kerumah.
Sementara Arumi yang baru saja bangun, masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya.
''oh, Tuhan apa yang aku lakukan'' kata Arumi sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
''tenang Arumi tenang, semua akan baik baik saja,
ini memang sudah semastinya.'' Arumi terus saja berbicara dengan dirinya sendiri
''Sebaiknya aku mandi, setelah itu menyiapkan sarapan, aku yakin mas Rendi hanya butuh waktu ,dan sebentar lagi dia pasti puang.''
Setelah mandi, Arumi langsung menuju dapur dan mulai meracik sesuatu untuk dijadikan sarapan.
''Ting...nung...ting....nung''
saat Arumi tengah merajang bawang tiba tiba terdengar suara bel.
''Aduh, mas Rendi sudah pulang, mana sarapannya belum siap lagi'' kata Arumi sambil berjalan ke arah pintu depan.
ceklek Arumi membukakan pintu, ''mas Ren....
Sela?'' Ucapan Arumi terpotong saat melihat ternyata Selalah yang ada di depannya.
sangking syoknya Arumi hampir tidak bisa menopang berat badannya sendiri, Arumi limbung dan hampir jatuh, untung Alex sigap dan langsung menangkap tubuh Arumi.
''Arumi hati hati'' kata Alex
terima kasih mas Alex.
Sementara Sela yang sama syoknya dengan Arumi, hanya berdiri mematung dengan di pegangi Anisa.
''Arumi ada apa, kenapa reaksimu begini, apa kamu kenal dengan nyonya Sela?''
Arumi yang masih bersandar pada Alex hanya bisa mengangguk pasrah ''habislah sudah semua pasti terbongkar'' batin Arumi.
''benarkah?'' bagus sekali berarti saya tidak perlu memperkenalkan kalian lagi.
''Nyonya sela, Arumi ini adalah kekasih saya, maaf saya tidak memberi tau anda kalau kekasih saya tinggal di sini. Tapi anda tenang saja, tuan tidak pernah tinggal di sini kalau malam.''
ke tiga wanita itu menatap Alex dengan expresi dan pemikiran masing-masing.
Sela dengan perasaan lega karena apa yang di pikirkannya tidak benar.
Arumi dengan tatapan penuh terimakasih karena semuanya masih bisa di tutupi.
dan Anisa menatap dengan tatapan kekecewaan dan sedih.
Anisa tidak menyangka perasaan yang baru saja tumbuh harus hasus kandas bahkan sebelum sempat terungkapkan.
Sementara Alex sendiri memandang tidak enak kepada Anisa karena sejujurnya dia juga memiliki rasa untuk Anisa.
Namun apa daya sebagai bawahan Alex harus selalu menuruti apa yang di perintahkan oleh tuannya.
kejadian sebelum Sela pergi menyusul Rendi.
__ADS_1
''dreet...dreeet....''
ponsel Alex bergetar. Alex segera meraih benda pipih di saku jasnya itu.
''Nyonya Sela ada apa dia menelponku malam-malam begini? Apa terjadi sesuatu? Ah, dari pada penasaran sebaikny angkat saja.''
''Halo...iya nyonya ada apa?''
''Alex apa kau sedang sibuk?''
''tidak nyonya. ada apa?''
'' Kalau begitu kesini sekarang!''
tuuut...
Sambungan telpon langsung di putus oleh Sela.
''hah'' Alex menghela nafas
''hilang sudah waktu istirahatku.''
Alex melajukan mobilnya menuju rumah Sela.
saat itu jam sudah manunjukkan pukul 20.00
Jarak rumah Rendi dan rumah Alex memang tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu 30 menit jika di tempuh dengan mobil.
''Tok...tok..tok..''
Alex yang baru sampai langsung mengetuk pintu rumah Rendi.
''Anisa itu pasti Alex, ayo cepat semua sudah siapkan?''
''Bagus, kalau begitu ayo kita pergi.''
''Ceklek'' Sela membuka pintu, Alex melongo melihat Anisa yang berdiri di belakang Sela sambil mendorong dua buah koper.
''Cepat masukkan ke mobil.''
Anisa hanya mengangguk sambil terus mendorong koper-koper itu menuju mobil Alex.
''Nyo...nyonya a..pa maksudnya ini?'' sangking terkejutnya Alex sampai terbata-bata
''kita akan ke Sura Baya menyusul mas Rendi.''
''sekarang nyonya?'' tanya Alex tak percaya
''iya sekarang!''
''Tapi nyonya ini sudah malam.'' Alex mencoba bernegosiasi agar Sela mengurungkan niatnya
''memangnya kenapa kalau malam?
tenang saja kalau kamu lelah Anisa akan menggantikanmu menyetir, iyakan Anisa?''
Anisa yang sedang memasukkan koper ke dalam mobilpun mengangguk dengan mantap.
''Baiklah Alex ayo kita berangkat.''
__ADS_1
Alex yang tidak punya pilihan terpaksa mengikuti kemauan nyonyanya itu.
''Anisa kamu duduk di depan sama Alex!''
Selapun masuk kedalam mobil, menempati jok belakang, sedangkan Anisa sudah duduk di bangku sebelah setir.
''Alex ayo cepat sebelum tambah malam.''
''iya nyonya.''
sebelum masuk kedalam mobil, dengan cepat Alex mengetikan sesuatu di henponya dan di kirimnya kepada Rendi. ''Gawat tuan, nyonya akan menyusul kesana sekarang''.
Rendi saat terbangun dari tidurnya di pagi hari.
Ternyata sudah pagi sebaiknya aku pulang sekarang.
''Ah, jam berapa ini?'' Rendi meraih henponnya bermaksud untuk melihat jam yang tertera di layar henponnya itu.
Mata Rendi melotot saat melihat pesan yang di kirim oleh Alex .
Untungnya Rendi cerdas. Otaknya langsung menyusun sekenario untuk di jalankan oleh Alex, yang diketik melalui henpon dan langsung di kirim ke Alex.
Jadilah Alex yang hanya seorang bawahan itu terpaksa mengikutinya.
''Nyonya ayo masuk, kenapa berdiri di luar saja?'' kata Alex
''Arumi?'' Sela langsung memeluk Arumi sambil menangis ''aku merindukanmu.''
''aku juga'' kata Arumi sambil mengelus punggung Sela ''kau tau Sela aku bahkan sempat mencarimu ke Suka Bumi, tapi kamu sudah tidak ada di sana.''
''Ayo kita masuk.'' Arumi mununtun Sela dan membawanya masuk ke arah ruang tamu
''Anisa letakkan saja koper itu di kamar atas.''
mata Arumi melotot mendengar ucapan Alex. Pasalnya Arumi teringat apa yang terjadi semalam.
Dia belum sempat membereskan kamar itu karena setelah mandi Arumi buru-buru membuat sarapan.
''Jangan!'' teriak Arumi sepontan
''kenapa?'' tanya Alex dengan polos
''maaf Sela, karena tuan Rendi tidak tinggal di sini aku pikir tidak masalah kalau aku menempati kamar itu, jadi aku tidur di sana dan belum membereskannya. Maaf ya.
Tapi kamu tenang saja aku akan segera membereskan kamar itu, dan pindah dari sana.''
''Ya ampun Arumi, aku pikir kenapa? ya sudah tidak apa, aku bisa menempati kamar yang lain.''
''tidak..tidak. Kamu itu tuan rumah, jadi kamu harus menempati kamar utama, aku akan membereskannya dengan cepat.''
Sela mengangkat sebelah alisnya ''tuan rumah? Bukannya ini rumah Alex?'' tanya Sela heran
''Rumah Alex?'' Arumi mengulang ucapan Sela
''EHm'' Alex berdehem untuk menghilangkan kecanggungan.
''Maaf nyonya saya memang belum memberi tahu Arumi tentang rumah ini, jadi dia pikir ini milik tuan Rendi.''
''Rencananya saya akan memberi tahu nanti setelah kami menikah.'' bibir Alex terasa sangat berat untuk mengucapkan kalimat menikah. Sedangkan Arumi merasa sangat janggal mendengarnya.
__ADS_1
Namun mereka berdua hanya bisa pasrah demi menutupi rahasia yang tidak boleh terbongkar.
mungkin jika harus terbongkar setidaknya bukan saat ini. Mungkin itulah yang saat ini di rasakan oleh Arumi.