
''Alex, tunggu aku di ruang kerja!''
''Baik tuan.''
selanjutnya tanpa bicara apapun Rendi langsung mencengkram tangan Arumi dan menyeretnya kedalam kamar tamu yang ada di lantai bawah.
''Mas Rendi sakit.'' Arumi menghentak-hentakkan tangannya agar terlepas dari cengkraman Rendi, namun sia-sia karena karena tenaganya kalah kuat.
Sesampainya di dalam kamar Rendi mendorong tubuh Arumi hingga terhempas di atas karur. Untungnya kasur itu empuk hingga badan Arumi tidak sakit.
''Apa yang kamu lakukan mas? Kamu menyakitiku.''
''ya, perempuan seperti kamu memang harus di beri pelajaran. Agar kamu mengerti di mana posisi kamu.''
''Apa maksud kamu bicara seperti itu?''
''apa kamu lupa kamu itu istriku. Semalam dengan berani kamu datang menggodaku dan memberikan dirimu padaku. Dan sekarang kamu pergi dengan mesra bersama Alex. Apa kamu juga melakukan hal yang sama padanya, ha?''
''Plaak.....''
sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi Rendi.
''Puas kamu mas, sudah menghina dan merendahkan aku? Apa kamu pikir aku suka hidup seperti ini? Apa kamu pikir aku bahagia?
saat aku pergi dengan pria lain, kamu mengingat aku sebagai istrimu hanya untuk menghina aku.
Tapi saat Sela berada di sampingmu, kamu memilih untuk tidak mengakui aku, kamu egois mas! Dan asal kamu tau mas, aku memutuskan pergi dengan mas Alex karena tanpa sengaja aku mendengar percakapanmu dan Sela waktu di kamar. aku hanya tidak ingin membuat kamu sulit. Lagi pula bukankah ini idemu?
Kamu yang menyiapkan cerita ini untukku, tapi sekarang kamu bertingkah seolah-olah aku ini adalah istri yang murahan.
Bagus sekali, aku ucapkan terima kasih untuk semua penderitaan ini!''
Arumi langsung keluar dari kamar itu sambil menangis. Dia benar-benar tidak menyangka Rendi akan menilainya serendah itu.
Anisa yang saat itu kebetulan baru keluar dari dapur usai mengambil segelas air melihat Arumi yang keluar dari kamar tamu dengan menangis.
''Apa, dia menangis? Bukannya mereka baru pulang kencan? Ini aneh sekali.''
Baru dua langkah dia berjalan, Anisa justru melihat Rendi keluar dari kamar yang sama tempat Arumi keluar tadi.
''tuan?'' gumamnya dalam hati
''apa yang sebenarnya terjadi?''
''ingat hal yang paling penting adalah jangan mencampuri urusan majikan'' seketika ucapan Alex saat hari pertama Anisa bekerja tergiang di ingatannya.
''Benar ini bukan urusanku, jadi Anisa anggap kamu tidak melihat apa-apa.'' Anisa kembali ke kamarnya dengan penasaran.
''Gbraaak...''pintu ruang kerja di buka dan langsung dibanting hingga tertutup kembali.
__ADS_1
Alex menelan ludah melihat penampilan tuannya.
''tamatlah riwayatku kali ini.'' batin Alex
Rendi langsung menghempaskan dirinya duduk di sofa tepat di depan Alex.
''Tu..tu..tuan saya dan nyonya tidak melakukan apa-apa sungguh. Saya bahkan tidak menyentuh nyonya seujung kukupun.''
''Kamu bilang tidak menyentuh seujung kukupun, apa kamu pikir aku buta!
sudah jelas saat kalian pergi dia memeluk sebelah tanganmu.'' kata Rendi dengan nada mengejek
''Maksud saya saat kami di sana ka...''
''sudahlah aku percaya.'' Rendi langsung memotong ucapan dari Alex.
''Kalau percaya kenapa anda marah.'' gumam Alex pelan, bahkan hampir tidak terdengar
''sebenarnya aku marah pada diriku sendiri. Karena aku sudah gagal menjaga hatiku sendiri.''
''maksud tuan?'' Alex benar-benar bingung melihat sikap Rendi
'' Huuuh'' Rendi menghembuskan nafas kasar.
''Sepertinya aku mulai jatuh cinta pada Arumi.
kau tau Alex aku sangat kesal melihat Arumi merangkul tanganmu tadi.'' akunya pada Alex
'' Sepertinya begitu.'' Rendi memicit dengah pangkal hidungnya
''ha...ha...ha...''
Alex tertawa mendengar pengakuan tuannya
hal itu membuat Rendi kembali memberikan tatapan membunuh.
''Maksud saya tuan tidak perlu cemburu kepada saya. Saya tidak mungkin menghianati anda.'' Alex mengusap tengkuknya yang merinding karena tatapan Rendi
''Aku tau, tapi hatiku tetap saja tidak nyaman.
dan tadi, karena kecemburuanku aku sudah membuat kesalahan patal, kepada Arumi.''
''Tenang saja tuan nyonya Arumi itu orang yang pemikirannya dewasa, aku yakin dia pasti mengerti dan akan memaafkan tuan.''
''Semonga saja. Tapi aku tidak yakin untuk kali ini apa dia bisa memaafkan aku.'' Rendi kembali menghela nafas
Anisa terus berguling-guling di atas ranjangnya, dia ingin tidak perduli dengan apa yang di lihatnya tadi, namun rasa penasarannya membuat dia terus memikirkan hal itu.
''Apa ini ada hubunganya dengan ucapannya yang mengatakan kalau dia bukan sainganku.Ya Tuhan!'' sambil duduk dan menutup mulutnya
__ADS_1
''apa jangan-jangan sebenarnya dia bukan pacar Alex tapi pacarnya tuan?'' Anisa terus bersepekulasi, menerka-nerka apa yang sekiranya terjadi
''Astaga! Berarti dia bukan sainganku tapi saingan Sela. Dia pelakor dalam rumah tangga Sela. Aku harus memberi tau Sela.'' sambil melompat turun dari tempat tidurnya
tapi saat tangannya menyentuh panel pintu, Anisa mundur kembali.
''Tidak...tidak..aku tidak boleh memberi tau sekarang. Kalau aku tidak punya bukti, bisa-bisa bukannya percaya, dia jurtru marah sama aku.Ya, aku harus menyelidiki masalah ini, Sela itu orang baik dia tidak pantas di perlakukan buruk.''
sementara Arumi kembali ke kamarnya dan membereskan semua pakaiannya.
''Sebaiknya aku segera pergi dari sini. Aku tau mas kamu tidak mencintai aku, tapi bukan berarti kamu boleh menghinaku. Apalagi sampai merendahkan.'' kemarahan Arumi saat ini benar-benar sudah mencapai puncak
''Sela maafkan aku, tadinya aku pikir aku sanggup bertahan, tapi ternyata tidak. Tapi kamu tenang saja Sela seandainya aku hamil anak ini akan tetap menjadi milikmu.''
Arumi pergi menggendap-endap sambil menyeret kopernya. Saat ini ke adaan rumah masih gelap karena saat ini masih subuh.
Arumi perlahan membuka pintu dan saat dia ingin meluar, tiba-tiba suara seseorang mengagetkannya.
''Mau kemana?''
''dek'' jantung Arumi berdetak kencang, dengan perlahan Arumi memutar badannya untuk melihat siapa orang yang sedang bertanya kepadanya.
''Kamu?''
Arumi menghembus nafas lega, ternyata Anisa yang memergokinya.
''Bukan urusanmu aku mau kemana.'' Arumi segera melanjutkan langkahnya takut ada yang lain lagi yang melihatnya. Terutama Rendi, Arumi sama sekali tidak ingin melihatnya.
''Kamu ingin lari ya, takut rahasiamu dan tuan Rendi terbongkar.''
Arumi menghentikan langkahnya. ''apa yang dikatakan gadis ini, apa dia tau sesuatu?
tidak mungkin, dia pasti hanya menggertak aku harus lebih hati-hati padanya.'' batin Arumi
Arumi memilih abai dan melanjutkan langkahnya.
''sial dia nyuekin aku, dasar plakor'' kata Anisa sambil berbalik kedalam rumah.
Sela terbangun mendengar azan subuh.
''em, ternyata sudah subuh, mas Rendi mana, apa di tidak tidur semalaman?'' Sela meraba bagian ranjang yang kosong dan terasa dingin, menandakan bahwa Rendi memang tidak tidur di sana sejak malam
''Sebaiknya aku sholat baru mencari mas Rendi.''
selesai melaksanakan sholat subuh, Sela pergi ke ruang kerja Rendi, untuk mencari suaminya itu.
''Ceklek...''Sela membuka pintu ruang kerja Rendi.
Sela geleng kepala melihat Alex dan Rendi tidur di sofa, di ruang kerja itu.
__ADS_1
''Rendi...Rendi sudah bagus ada kamar malah milih tidur di sofa.'' omel Sela
Sela mendekat dan membangunkan suaminya itu. Rendi, bangun ini sudah subuh. Ren, Rendi.....