
''Sela ada apa, kenapa kamu menangis?'' Tanya Wisnu yang baru saja pulang dari kantor.
''Papa'' Marisa melompat dari sofa dan berlari sambil merentangkan kedua tangannya.
Dengan sigab Wisnu menangkap gadis kecil itu dan meraihnya kedalam gendongannya. ''Papa, mama Sela menangis setelah melihat acara tv.'' Adunya.
Wisnu datang menghampiri Sela dengan Marisa yang masih ada di gendongannya. Sela masih menangis tersedu hingga tak mampu bicara.
''Ada apa, kenapa kamu menangis?'' Wisnu mengulang pertanyaannya karena Sela tak kunjung menjawab.
''Anisa,...hik...hik...hik..., Wisnu, Anisa kecelakaan. Hik..hik..hik.'' Sela kembali terisak.
''Marisa main di kamar dulu ya!''
''Iya papa'' Marisa turun dari gendongan Wisnu dan pergi menuju kamarnya. Meskipun masih berusia 5 tahun Marisa tergolong anak yang pintar. Dia tau orang tuanya sedang ada pembicaraan yang tidak boleh dia dengar. Karena itu dengan patuh dia menuruti perintah papanya.
''Coba cerita dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi?''
''Tadi aku sedang menonton televisi bersama Marisa lalu ada breaking news yang mengabarkan tentang sebuah kecelakaan yang ternyata korbannya adalah Anisa.'' Sela bercerita sambil sesekali masih terisak.
''Kamu yakin kalau korbannya benar Anisa sahabat kamu?'' Tanya Wisnu memastikan.
''Iya benar aku bahkan sempat melihat Alex yang tersorot kamera. Wisnu maukah kamu mengantar aku ke sana. Dari berita yang di kabarkan di televisi Anisa belum di temukan sampai saat ini.''
''Baiklah tapi ini sudah sore kemungkinan kita akan sampai di sana malam, aku akan bicara pada Marisa dulu agar dia tidak khawatir.''
''Wisnu, terimakasih. Maaf karena selalu merepotkan.''
Wisnu tersenyum lalu mengangguk kemudian pergi menuju kamar Marisa.
''klek'' Wisnu membuka pintu kamar putrinya.
''Marisa sedang apa?'' Wisnu menghampiri Marisa dan duduk di sebelahnya.
''Bermain berby'' Marisa menunjukkan boneka berby yang sedang ada di tangannya. ''Papa, apa mama Sela masih sedih?''
''Hm'' Wisnu mengangguk, ''teman mama Sela mengalami kecelakaan makanya mama Sela sedih.'' Wisnu meraih tubuh Marisa dan memangkunya.
''Marisa papa akan menemani mama Sela untuk melihat kondisi temannya mamaSela yang mengalami kecelakaan, apa Marisa tidak apa-apa papa tinggal?''
''Apa setelah melihat kondisi temannya mamaSela tidak akan sedih lagi?''
''Kita berdoa saja semoga temannya mama Sela baik-baik saja agar mama Sela tidak sedih lagi.''
__ADS_1
''Hm'' Marisa mengangguk. ''Papa pergilah Marisa akan baik-baik saja bersama bibik.''
Wisnu mencium pipi Marisa kemudian mengusap puncak kepalanya. Lalu keluar dari kamar Marisa.
''Sudah siap?''
''Sudah.''
Wisnu dan Sela pergi menuju lokasi kecelakaan Anisa.
''Piter tolong kerahkan orang-orang kita untuk mencari seseorang, lokasinya segera aku kirim.''
Dalam perjalanan menuju lokasi wisnu juga meminta Piter untuk mengirim orang-orang mereka untuk membantu pencarian Anisa melalui sambungan telpon.
Sela tidak mengatakan apa-apa, lagi pula menurutnya lebih banyak yang mencari akan lebih baik.
Mereka tiba di lokasi saat hari sudah malam, Wisnu menemui komandan polisi yang bertugas untuk meminta ijin ikut dalam pencarian.
''Haris'' sapa Wisnu saat melihat komandan polisi itu ternyata adalah teman baiknya yang juga merupakan tetangganya saat masih tinggal di rumah pamannya dulu.
''Wisnu, benarkah ini kamu?''
''Iya benar ini aku.'' Mereka saling berpelukan ala cowok. ''Ada keperluan apa kamu ke sini?''
''Begini Ris, aku ke sini ingin meminta ijin untuk ikut dalam pencarian korban kecelakaan yang terjadi semalam.''
''Untuk saat ini pencarian kita tunda sanpai besok, mengingat medan yang kita lalui sangat sulit akan membahayakan jika kita melakukan pencarian di malam hari. Anggotaku sudah mendirikan tenda-tenda darurat. Kalian istirahatlah dulu besok kita akan mulai pencarian lagi.''
Saat mereka ingin memasuki tenda terdengar keributan dari tepi tebing.
Sela dan wisnu serta komandan Haris pergi untuk melihat apa yang terjadi. ''Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian menghentikan pencarian ha? Anisa pasti ketakutan sendirian ditengah hutan. Ayo lanjutkan pencarian.'' Ternyata Alex yang membuat keributan. Dia tidak terima tim sar dan para anggota polisi menunda pencarian sampai besok.
''Alex tenang tolong jangan buat keributan aku tau kamu sedang sangat sedih tapi di saat seperti ini kita tidak boleh emosi.'' Sela mendekati Alex dan berusaha menenangkannya.
''Nyonya Sela anda di sini?''
''Hm, aku akan ikut mencari Anisa sampai ketemu.''
''Nyonya terima kasih, karena anda mau repot-repot datang kesini.''
''Apa yang kau katakan? Anisa itu sahabatku tentu saja aku harus ikut mencari.''
Alex terdiam, matanya memanas menahan air mata. ''Anisa benar anda memang tidak bisa di bandingkan dengan siapapun.''
__ADS_1
Sela terdiam, tidak mengerti arah pembicaraan Alex. Tapi dia memilih abai karena ada masalah yang lebih penting.
Rendi yang sedang bertelponan dengan seseorang memutuskan sambungan telponnya karena mendengar nama Sela di sebut-sebut.
''Sela apa yang kamu lakukan di sini? Kembalilah di sini berbahaya.'' Rendi langsung menarik tangan Sela.
''Lepaskan'' Sela menghentak tangannya untuk melepaskan cengkraman Rendi. ''Anisa itu sahabatku tentu saja aku harus di sini.''
Setelah di bujuk oleh beberapa orang akhirnya Alex setuju melanjutkan pencarian besok pagi.
Semua orang sudah berada di tenda masing-masing. Hanya tinggal Wisnu, Rendi dan Sela.
''Mau ke mana?'' tanya Rendi pada Sela.
''Tentu saja ke tenda untuk istirahat.'' jawab Sela sedikit malas.
''Apa kamu sudah kehilangan harga diri? Suamimu ada di sini tapi kamu ingin tidur satu tenda dengan lelaki lain.'' Mata Sela melotot mendengar ucapan monohok Rendi.
Wisnu segera menengahi. ''Rendi jangan salah paham, aku tidak tidur satu tenda dengan Sela, aku masih tau aturan.''
''Siapa yang tau kamu tidak akan ke sana saat tengah malam?''
Sela sangat prustasi menghadapi Rendi. ''Jadi apa maumu?''
''Tidur di tendaku!" Katanya dengan cepat.
Sela menghela nafas. Karena tidak ingin terjadi keributan Sela menuruti ke inginan Rendi.
Rendi tersenyum penuh kemenangan dan melayangkan tatapan mengejek ke arah Wisnu.
Wisnu menggelangkan kepala melihat tingkah Rendi.
"Seperti anak kecil" cibirnya.
Wisnu memasuki tendanya, begitu juga Rendi dan Sela.
''Sela kita harus bicara.'' kata Rendi begitu mereka memasuki tenda.
''Hm, bicaralah akan aku dengarkan.'' Sela berfikir mereka memang harus segera menyelesaikan masalah di antara mereka, karena itu dia akan memberi Rendi kesempatan untuk bicara.
''Sela kamu pasti tau aku menikah dengan Arumi atas desakan orang tuaku, aku tidak pernah ingin menikah dengannya. Tapi saat itu mama mengancam akan minum racun jika aku tidak menikahi Arumi.''
Rendi menggenggam tangan Sela namun segera di tepis olehnya. ''Bicara saja tidak usah pegang-pegang.''
__ADS_1
''Baiklah maafkan aku, aku hanya terlalu merindukanmu.'' Rendi melanjutkan penjelasannya ''kamu tau Sela sejak awal menikah aku tidak pernah memperlakukan Arumi dengan baik aku bahkan membuat surat perjanjian dengannya.''
''Surat perjanjian apa.'' Sela agak penasaran.