
''Ben, putar balik ke kediaman Rendi, cepat!'' perintah Bastian pada sang supir.
''baik tuan''
Bastian kembali mengambil ponselnya dan menghubungi asistennya. ''Robi, Rendi mengambil penerbangan jam berapa?'' tanya Bastian saat panggilan itu telah tersambung
''sore ini tepatnya jam empat sore tuan.''
''hm'' Bastian mematikan sambungan telpon itu.
''Ben, cepat sebelum Rendi pergi.''
''tok..tok..tok..''
begitu sampai di kediaman Rendi, Bastian langsung turun tanpa menunggu supir menbukakan pintu untuknya dan langsung mengetuk pintu rumah Rendi.
Monika hanya bisa geleng kepala melihat suaminya itu.
''klek'' pintu rumah Rendj terbuka.
''maaf anda cari siapa?'' tanya Anisa sopan.
''siapa kamu?'' bukannya menjawab, Bastian justru balik bertanya.
Bastian juga menatap Anisa begitu tajam, membuat Anisa jadi gugup karena tatapan Bastian yang mengerikan.
''saya Anisa pembantu di sini'' jawabnya sambil menunduk.
''mana Rendi?'' Bastian sama sekali tidak menunjukkan wajah ramah sedikitpun.
''tuan Rendi dan Sela,..maksud saya nyonya Sela'' Anisa segera merubah panggilannya kepada Sela setelah mendapat tatapan sinis dari Bastian.
''mereka sedang pergi berlibur.''
''bohong kamu, cepat minggir!'' Bastian mendorong bahu Anisa hingga dia mundur beberapa langkah ke belakang.
''Rendi!,...Rendi!,...Rendi!,... Papa tau kamu masih di rumah cepat keluar. Rendi,..''
Anisa benar-benar ketakutan apa lagi setelah dia mendengar Bastian menyebut dirinya sebagai papanya Rendi.
''pa sudah, ayo kita pulang mungkin Rendi memang sudah pergi, kalau dia ada di rumah tidak mungkin dia akan diam saja setelah mendengar papa teriak-teriak. Ayo papa duduk dulu.'' Monika membimbing suaminya berjalan ke arah sofa.
''kamu ke sini'' Monika menunjuk ke arah Anisa dan memanggilnya.
Anisa segera mendekat ke arah Monika.
''siapa nama kamu tadi?'' tanya Monika yang memang tadi kurang mendengarkan saat Anisa memperkenalkan diri.
__ADS_1
''Anisa nyonya''
''jam berapa Rendi dan Sela pergi?'' Anisa tampak mengingat-ngingat sebelum kemudian menjawab, ''sekitar jam setengah sebelas nyonya.''
Bastian mengerutkan kening, mendengar ucapan Anisa. Lalu dia kembali mengeluarkan ponselnya.
melihat suaminya akan menelpon Monika menyuruh Anisa pergi.
''Anisa tolong buatkan saya dan suami saya teh hangat.''
Anisa mengangguk dan langsung pergi menuju dapur.
''halo Robi, apa yang kamu lakukan kenapa kamu bisa memberikan informasi yang salah kepada saya?''
Robi di seberang sana tanpak bingung, '' maksud tuan?'' tanyanya bingung
''kamu bilang Rendi memesan tiket penerbangan untuk sore tapi ternyata dia sudah pergi sejak jam 10.30 pagi tadi.''
''itu tidak mungkin tuan saya mendapatkan informasi ini dari sumber yang terpercaya.''
''hah, tampaknya sekarang kamu sudah semakin tua Robi sehingga kinerjamu sudah semakin berkurang, apa aku harus mencari asisten baru?''
Bastian memutus panggilan itu, dia merasa sangat kesal karena kali ini dia bisa kecolongan.
''sudah pa, jangan marah-marah terus, ingat ke sehatan papa.'' Monika berusaha menenangkan suaminya.
Anisa datang menyuguhkan teh yang di minta oleh Monika. ''tuan, nyonya silahkan''
''apa yang di katakan Rendi padamu?'' Anisa memandang Bastian sejenak lalu kembali menunduk, ''ternyata tuan Rendi benar tuan besar pasti akan kasini.'' batin Anisa.
Sebelum Rendi dan Sela pergi.
Rendi pulang dari kantor jam sepuluh pagi. Rendi buru-buru masuk kedalam rumah dia melihat Anisa sedang membersihkan debu yang ada di ruang tamu.
''Anisa di mana Sela?'' tanya Rendi
''Sela masih ada di kamar tuan, katanya ada beberapa barang yang terlupa? Apa perlu saya panggilkan tuan?''
''tidak usah, kamu ikut keruang kerja saya''
Rendi berjalan duluan menuju ruangannya di ikuti Anisa dari belakang.
''kunci pintunya'' perintah Rendi begitu Anisa sudah masuk keruangan itu.
Anisa diam tak bergeming, ''apa kamu tidak mendengar apa yang saya katakan?''
Rendi berbicara sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.
__ADS_1
''maaf tuan'' Anisa berbalik dan mengunci lintu seperti perintah Rendi.
''cepat kemari, saya tidak punya banyak waktu!''
Kata Rendi sedikit membentak.
Anisa berjalan kearah Rendi dengan kaki gemetar.
''duduk!'' Rendi memandang Anisa yang gemetar di depannya.
''Kamu tau kenapa saya panggil ke mari?''
Anisa mengelengkan kepala.
''saya akan langsung saja, saya tau kamu sudah tau masalah pernikahan saya dan Arumi, dan saya juga yakin kamu belum membongkar hal ini pada Sela. Dan kamu tau Anisa, kamu sudah melakukan hal yang tepat, dan saya tekankan kalau kamu masih sayang dengan hidup kamu sebaiknya kamu simpan rahasia ini sampai saya sendiri yang akan memberitahukannya kepada Sela. apa kamu mengerti?''
Anisa mengangguk tanda dia mengerti. ''tapi tuan kenapa anda tega melakukan hal ini kepada Sela?'' Anisa memberanikan diri untuk bertanya karena rasa penasarannya.
''saya rasa saya tidak punya kewajiban untuk menjelaskan sesuatu kepada kamu, sebaiknya kamu tetap ingat di mana posisi kamu.'' Rendi menekankan setiap kata-katanya pada Anisa.
''berikan foto yang kamu ambil di ruang kerja saya ke pada Alex, dan sebaiknya kamu berterima kasih kepada Alex kalau bukan karena dia menyukai kamu saya pasti sudah mengambil tindakan atas kelancangan kamu.''
wajah Anisa tampak berbinar mendengar ucapan Rendi.
''kamu boleh pergi'' tapi belum sempat Anisa menarik hendel pintu Rendi kembali memanggil Anisa.
''Anisa tunggu!'' Anisa menoleh kembali ke arah Rendi.
''iya tuan, ada apa?''
''nanti kalau orang tua saya datang berikan ini kepadanya.'' Rendi menyerahkan sebuah amplop kepada Anisa, yang di yakini Anisa itu adalah sebuah surat.
Kembali pada Bastian.
''maaf tuan besar, tuan Rendi tidak mengatakan apa-apa kepada saya tapi tuan Rendi menitipkan ini untuk anda.'' Anisa menyerahkan surat yang tadi di berikan Rendi ke padanya.
Bastian menerima surat itu dan langsung membukanya.
''aku tau papa pasti datang, dan karena papa sudah datang berarti papa pasti sudah tau tentang ke hamilan Arumi, dan aku juga tau setelah ini papa pasti memaksa aku untuk memberi perhatian lebih untuk Arumi. Papa tenang saja aku pasti melakukan itu. Tapi untuk kali ini izinkan aku membahagiakan Sela dan aku mohon satu hal, dengan ke hamilan Arumi jangan membuat papa dan mama mengucilkan Sela karena biar bagaimanapun dia tetap istriku dan akan selamanya begitu. Satu lagi jangan memata-matai aku karena aku lebih pintar dari papa.''
''anak ini benar-benar keterlaluan'' Bastian menggenggam kertas itu lalu membuangnya begitu saja.
''pa apa yang terjadi?'' Monika khawatir Bastian akan jatuh sakit jika dia terus marah-marah begini.
''sudahlah ayo kita pulang anakmu itu semakin hari semakin membuat pusing'' omel Bastian sambil beranjak pergi.
Monika hanya bisa pasrah menghadapi anak dan suaminya yang sama-sama keras kepala ini
__ADS_1