Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 68


__ADS_3

''Sialan, si Hans ini bisa berbahaya kalau aku biarkan terus, dia bisa jadi bomerang untukku. Aku harus cari cara untuk bisa menyingkirkannya.'' Wajah Arumi terlihat mengerikan. Sudah tidak ada lagi kelembutan terlihat di sana.


''Arumi sayang bagaimana keadaan kamu?'' Tanya Monika yang baru saja datang bersama Erina.


Erina mendekati ranjang Arumi dan memeluknya.


''Di mana suami kamu sayang?''Tanya Monika yang tidak melihat keberadaan Rendi di ruangan itu.


''Arumi tidak tau ma, mas Rendi pergi dari siang sampai sekarang belum balik.''


''Keterlaluan! Istri sedang sakit dia malah pergi entah ke mana." gerutu Monika.


Monika mengeluarkan henponnya untuk menghubungi Rendi, tapi hanya terdengar suara operator yang menyahuti.


''Dasar suami tidak bertanggung jawab kemana sih perginya dia?''


Monika kembali menggunakan henponnya kali ini dia menghubungi Alex.


Henpon Alex bergetar tanda ada panggilan masuk. ''Nyonya besar? Ada apa dia menghubungiku?'' Batinnya.


Alex segera menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu. ''Halo nyonya besar.''


''Alex di mana Rendi?'' Tanya Monika tanpa basa-basi.


''Maafkan saya nyonya tapi saya juga tidak tau keberadaan tuan Rendi. Sejak tadi saya juga berusaha menghubunginya tapi henponnya mati.''


''Segera temukan dia dan bawa ke rumah sakit sekarang!"


"Ta..." Alex tidak sempat melanjutkan ucapannya karena Monika langsung memutus sambungan telponnya.


Alex menghela nafas, dia terlihat begitu prustasi.


''Kenapa jadi aku yang repot sih, urusan kantor belum kelar sekarang ditambah lagi harus mencari tuan Rendi.''


Belum selesai Alex mengomel telponnya kembali bergetar, terlihat nama Bastian di layar henponnya. ''Oh Tuhan, apa lagi ini?'' Batinnya.


Meskipun enggan Alex tetap mengangkat panggilan telpon itu. ''Halo tuan.''


''Apa saja yang kamu dan Rendi lakukan, kenapa perusahaan bisa sampai seperti ini?'' Tanya Bastian sambil berteriyak.


Alex sampai harus menjauhkan henponnya dari telinga, sangking kuatnya suara Bastian.


''Maafkan saya tuan saya..''


''Sudahlah tidak usah bicara lagi di mana Rendi suruh dia temui aku sekarang!"


"Tapi tuan saya juga tidak tau di mana keberadaan tuan Rendi saya juga capek menghadapi masalah ini sendiri." Teriaknya yang tentu saja tidak di dengar oleh Bastian karena sejak tadi dia sudah memutus sambungan telponnya.

__ADS_1


''Tuan Rendi di mana sebenarnya kamu? Kenapa menghilang di saat seperti ini.''


''Hai tampan sendiri saja apa ingin aku temani?''


Seorang wanita penghibur datang menghampiri seorang pria yang sedang duduk sendiri sambil meminum minuman keras yang sudah entah berapa gelas dia habiskan.


''Menyingkirlah dari hadapanku aku tidak butuh siapapun.'' Bentaknya, membuat wanita penghibur itu ketakutan dan pergi.


''Sela kenapa kamu begitu bodoh ha? Apa hebatnya si Wisnu itu'' racaunya sambil terus minum.


''Ha...ha...ha.., kamu ingin bercerai? Jangan mimpi, aku tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapanpun. Sampai kapanpun kamu dengar itu Selaaaa.'' pria itu terus saja mengoceh tidak perduli walaupun semua orang memperhatikannya.


Ya dialah Rendi, sejak Sela memberi surat gugatan cerai Rendi pergi ke Clap untuk minum-minum.


''Tuan Akhirnya saya menemukan anda, ayo sebaiknya anda pulang bersama saya.'' Alex baru bisa menemukan Rendi saat hari sudah malam. Setelah berkeliling beberapa kali dan meminta bantuan dari orang-orang suruhannya barulah dia berhasil menemukan Rendi.


''Bantu aku untuk membawanya ke mobil.'' kata Alex pada salah seorang anak buahnya.


Arumi sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Tapi dia tidak pulang kerumah Rendi. Monika membawanya ke rumahnya. ''Sayang mama harap kamu betah tinggal di sini'' kata monika pada Arumi.


''Hm'' Arumi hanya bisa mengangguk pasrah. Padahal dia sama sekali tidak ingin tinggal di rumah mertuanya ''sial kalau begini bagaimana aku bisa menyingkirkan Sela?''


''Arumi apa yang kamu pikirkan? Kenapa bengong.'' Tanya Monika.


''Ma aku ke pikiran mas Rendi.'' bohongnya.


''Hah, tidak perlu kamu pikirkan dia, mama benar-benar emosi bisa-bisanya dia pergi meninggalkan kamu begitu saja.''


''Arumi mama kan sudah bilang jangan pikirkan dia, biarkan saja dia. Sudah kamu istirahat sekarang.'' Monika meninggalkan kamar Arumi.


Sementara itu Rendi yang sedang mabuk terus berontak saat akan di bawa pulang oleh Alex. ''Lepaskan aku, aku masih ingin minum, pergi dari sini jangan ganggu aku.''


''Tuan aku mohon jangan seperti ini. Hah, sudahlah paksa saja, tidak ada gunanya bicara dengan tuan Rendi di saat seperti ini.''


''Buk'' akhirnya Alex memukul tengkuk Rendi hingga tak sadarkan diri karena dia terus saja berontak.


Mereka pun membawa pulang Rendi dalam ke adaan pingsan.


''Nyonya anda di mana?'' Tanya Alex pada Monika melalui sambungan telpon.


''Di rumah, kenapa? Apa kamu sudah menemukan anak kurang ajar itu?''


''Sudah nyonya.''


''Bagus bawa dia ke sini!'' Monika mematikan sambungan telpon itu.


''Tuan bagaimana kalau nyonya besar marah karena kita sudah membuat tuan Rendi pingsan.'' Tanya orang yang di pekerjakan Alex untuk membantu mencari Rendi.

__ADS_1


''Jaga saja mulutmu itu agar tidak bicara.'' ciiiitttt, buk. Tiba-tiba mobil Alex menabrak seseorang.


''Hei apa yang terjadi?'' Tanya Alex.


''Sepertinya kita menabrak seseorang tuan.''


''Ah, sial. Kenapa ada saja masalah. Cepat kamu periksa.'' perintah Alex.


''Baik tuan'' orang suruhan Alex turun untuk melihat kondisi orang yang mereka tabrak.


''Aaawwww'' terlihat seseorang sedang merintih sambil memegangi kakinya yang berdarah.


''Tuan bagaimana ke adaan anda?''


''Aaawww, kakiku'' rintihnya sambil terus memegangi kakinya.


Orang suruhan Alex memapah orang itu untuk masuk ke dalam mobil.


''Tuan kaki orang ini terluka, sepertinya dia tidak bisa berjalan.'' Kata orang suruhan Alex setelah membantu orang itu masuk ke dalam mobil.


''Ayo jalan kita antar dia ke rumah sakit dulu.'' Kata Alex.


''Tidak usah tuan antarkan saja saya pulang. Keluarga saya akan cemas kalau saya tidak segera pulang.''


''Tapi kamu terluka, tenang saja saya yang akan menanggung semua biayanya.''


''Tidak usah tuan'' tolak peria itu lagi. ''Saya yang salah karena tidak melihat saat menyebrang, tapi kalau tuan ingin membantu, tolong berikan saja saya pekerjaan. Sudah satu harian ini saya berkeliling mencari pekerjaan tapi tidak ada. Saya sangat membutuhkan uang untuk biaya berobat ibu saya.'' jelasnya.


''Baiklah apa ke ahlianmu?'' Tanya Alex.


''Saya bisa apa saja tuan tapi sebelumnya saya bekerja sebagai supir tuan.''


''Lalu kenapa berhenti?''


''Majukan saya pindah ke luar kota, sebenarnya saya di ajak, tapi saya tidak mungkin meninggalkan ibu saya yang sedang di rawat di rumah sakit.'' jasnya.


''Baiklah ini kartu nama saya, setelah kakimu sembuh datanglah ke alamat yang tertera di situ. Apa kamu yakin tidak perlu ke rumah sakit?'' Alex kembali memastikan.


''Tidak tuan. Turunkan saja saya di depan gang itu rumah saya berada di dalam gang itu.''


Mobil berhenti tepat di depan gang yang di tunjuk oleh pria itu. Pria itu pun turun dengan tertatih-tatih dari mobil Alex.


''Terima kasih tuan.'' Ucapnya.


''Hm'' Alex mengangguk. ''Eh tunggu, siapa namamu?''


''Hans tuan.'' jawabnya.

__ADS_1


''Baiklah Hans kami pergi dulu.''


Mobil Alex melaju meninggalkan Hans, Hans tersenyum licik menatap kepergian mobil itu. ''Bodoh'' gumamnya.


__ADS_2