Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 17


__ADS_3

'' Alex, harusnya kamu jangan seperti itu, Arumi pasti merasa tidak nyaman karena merasa menumpang di sini. Lain kali kamu harus selalu jujur sama Arumi mengerti.'' Sela memperingatkan Alex


''Eh, ngomong-ngomong apa Rendi tidak akan ke sini?''


''ke sini nyonya, tapi mungkin sebentar lagi.'' sahut Alex


''terus apa kamu sudah beri tahu Rendi aku di sini?''


''belum nyonya, bukankah anda bilang ingin memberi kejutan?''


''sebaiknya kalian sarapan dulu setelah itu istirahat. aku yakin kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh.'' kali ini Arumilah yang bicara


''Tidak, setelah sarapan aku ingin ngobrol denganmu Arumi, ada banyak hal yang ingin aku katakan. Aku sungguh tidak menyangka kita dapat bertemu lagi.''


''Baiklah tapi sekarang kalian sarapan dulu ya biar aku siapkan.'' Arumi pergi meninggalkan Sela dan yang lain untuk menyiapkan sarapan


''Anisa kenapa kamu diam saja?'' tanya Sela yang melihat Anisa hanya diam saja sejak tadi


''ah, tidak, aku hanya sedikit lelah.''


''kalau begitu setelah sarapan kamu harus langsung istirahat, mengerti.''


Anisa tidak menjawab dia hanya mengangguk saja.


Mereka berempat selesai dengan acara sarapannya. Alex pergi keruang kerja Rendi untuk memberi kabar kepada Rendi tentang apa yang terjadi di sini melalui sambungan telpon.


Sedangkan Anisa merebahkan diri di dalam kamar tamu yang pernah di tempati oleh Arumi.


tentu saja setelah meletakkan koper milik Sela di kamar utama di sebelah kamar milik Rendi dan Arumi.


Sedangkan Sela dan Arumi melanjutkan ngobrol di ruang tamu.


''Sela aku masih tidak menyangka kalau kamu ternyata adalah istrinya tuan Rendi. Tadinya aku sangat penasaran wanita seperti apa yang sanggup membuat tuan Rendi cinta mati. Secara diakan pria yang sangat dingin.'' kata Arumi


''Ha...ha...ha...


kamu bisa saja Arumi, mana ada Rendi itu pria yang dingin dia itu sangat jahil, apa lagi kalau lagi kumat.'' kata Sela menyangkal ucapan Arumi


''kamu tau Sela, selama di sini tuan Rendi selalu uring-uringan. Aku rasa karena dia merindukan kamu.''


''Benarkah? Tapi aku rasa tidak, selama di sini dia jarang menghubungi aku, membuat kesal saja'' omel Sela


''aku rasa tuan Rendi takut kalau harus menghubungi kamu sering-sering, takut jadi tidak betah di sini dan ingin segera pulang jika mendengar suara kamu.'' canda Arumi yang sebenarnya mengulang ucapan Rendi


''ah, bukan begitu. Sudahlah berhenti membahas mas Rendi . Ceritakan saja bagaimana kamu bisa sampai di sini dan menjadi pacarnya Alex?


''oh itu...emm...aku.'' Arumi bingung harus berkata apa


''aku apa?''


''ah, sudahlah aku malu?''


''Kau ini, dari dulu masih saja seperti ini.'


''maaf, Sela bagaimana bisa aku bercerita, sementara semua itu tidak pernah terjadi.'' batin Arumi

__ADS_1


Sementara di ruang kerja Rendi, Alex sedang berbicara dengan Rendi melalui sambungan telpon.


''Bagaimana?'' tanya Rendi dari sebrang sana


''aman tuan, sepertinya nyonya Sela percaya.''


''bagus, kalau begitu aku ke sana sekarang.''


Arumi dan Sela masih mengobrol di di ruang tamu.


''Arumi, kalau Rendi tidak tinggal di sini lalu dia ke sini untuk apa?''


''Oh itu, tuan Rendi dan mas Alex kerjanya di sini, di ruang atas. Kata mas alex, tuan Rendi tidak suka dengan ruangan kantornya yang ada di sini.''


''Aku harus mengakhiri percakapan ini, kalau terus seperti ini lama lama Sela bisa curiga. '' Arumi membatin


''Tok...tok..tok...''


''itu pasti tuan Rendi.'' kata Arumi


''bagaimana kamu tau?''


'' Soalnya tuan Rendi itu paling malas mencet bel dia lebih memilih mengetuk pintu.''


kening Sela berkerut mengetahui Arumi yang seprtinya sangat memperhatikan Rendi, hingga dia tau kabiasaan Rendi.


Namun Sela memilih diam karena dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya.


''Kalau itu memang mas Rendi, biar aku saja yang buka pintu.''


''Ceklek....'' Sela membuka pintu.


''Rendi,,,,,,,,'' Sela langsung menghambur ke pelukan Rendi.


'' Se..Sela kamu di sini?'' sambil mendorong pelan tubuh Sela ''Benar sayang ini kamu?'' Rendi pura-pura terkejut


''Iya, ini aku memangnya siapa lagi?''


Alex yang sedang berdiri di dekat tangga, hanya bisa geleng kepala melihat tuannya.


''Pandai sekali anda berekting tuan? Aku rasa anda bisa dapat penghargaan untuk ekting anda ini.'' kata Alex dalam hati


ceklek...pintu kamar dibelakang Alex terbuka.


dan Anisa keluar dari dalam kamar itu.


Anisa memandang Alex dan sedetik kemudian dia langsung memalingkan muka dan melangkah pergi.


''Anisa tunggu!''


''tuan memanggil saya, ada apa?''


''Aku ingin jalan-jalan keluar apa kamu mau ikut?''


''Sebaiknya tuan ajak saja kekasih tuan, bukan saya. Permisi.''

__ADS_1


Anisa langsung pergi meninggalkan Alex


''Anisa, bagaimana aku menjelaskan padamu kalau ini hanya sandiwara. tuan anda selamat aku yang tamat.'' kesal Alex


Rendi duduk di sofa, dengan Sela yang masih memeluk sebelah tangan Rendi dan menyandarkan kepalanya di bahu Rendi. Sementar Arumi duduk di sofa yang ada di depan mereka.


''oh ya mas, kenapa kamu tidak cerita kalau di sini ada pacarnya Alex dan apa kamu tau pacarnya Alex ini adalah teman baik aku waktu di SMA.'' terang Sela


''Benarkah itu bagus sekali.'' Rendi megusap-usap lengan Sela dengan sayang


''Sela aku buatkan minuman untuk tuan Rendi dulu ya. Apa kamu mau? Biar sekalian aku buatkan.'' Arumi sengaja mencari alasan agar bisa segera pergi dari sana. Arumi benar-benar tidak tahan melihat Rendi yang memperlakukan Sela dengan begitu lembut, sangat berbeda dengan perlakuan Rendi kepadanya.


''Tidak usah buatkan untuk Rendi saja. Terima kasih ya Arumi.'' kata Sela


''tidak usah sungkan.'' Arumi segera beranjak dari sana dan menuju dapur


''lima menit kemudian Arumi kembali dengan secangkir teh ditangannya.


ini tuan Rendi silahkan.''


''wah Arumi sepertinya kamu sangat perhatian ya sama Rendi sampai langsung tau kalau jam segini Rendi minum teh bukan kopi.''


''Itu...mas Alex yang memberi tahu aku, kebetulan tadi dia sedang ada di dapur.'' kata Arumi beralasan


''oh, aku pikir kamu...''


''sayang apa yang kamu pikirkan? Sudahlah sebaiknya kita ke kamar, kamu pasti lelahkan.'' Rendi langsung menyela ucapan Sela


''iya kamu benar.''


Arumi terduduk lemas, setelah kepergian Sela dan Rendi.''ya Allah bagaimana ini, sepertinya sebagai seorang istri Sela benar-benar sangat waspada. Hal sekecil itu saja bisa memicu kecurigaannya. Aku harus bicara sama mas Rendi, sebaiknya dia dan Sela secepatnya kembali ke jakarta.''


''Rendi apa menurutmu Arumi menyukaimu?'' tanya Sela tiba-tiba


''sayang apa yang kau bicarakan, Arumi itu pacarnya Alex, jangan mengada ngada.''


''Entahlah aku merasa ada yang aneh dengan mereka, mereka tidak terlihat seperti pasangan.


dan aku justru melihat Arumi memiliki perasaan padamu.''


''Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?'' Rendi agak cemas mendengar perkataan Sela


''mungkin cuma perasaanku saja, tapi tatapan dia ke kamu seperti seseorang yang memendam cinta.'' Sela menyandarkan kepalanya di dada Rendi. ''Ren sepertinya aku cemburu pada Arumi''


Rendi menoel hidung Sela ''kamu ini lucu sekali. Tapi Sela, bagaimana seandainya itu terjadi apa yang akan kamu lakukan?''


air mata Sela langsung meluncur begitu saja.


''hei, kenapa menangis aku hanya bilang seandainya.'' Rendi mengusap air mata Sela dengan jarinya


''Rendi, Arumi dan keluarganya sangat baik padaku, bahkan saat mereka akan pindah ke Jakarta papanya Arumi mengajak aku untuk ikut dan berjanji akan menguliahkan aku. Tapi aku menolak, karena merasa sudah terlalu banyak berhutang budi pada mereka. Kamu tau aku rela mengorbankan apapun untuk membalas kebaikan Arumi, tapi tidak kamu, Aku lebih baik kehilangan nyawa dari pada kehilangan kamu.''


''Tenanglah kamu tidak akan pernah kehilangan aku.'' Rendi menarik Sela kedalam dekapannya.


Tanpa mereka sadari sejak tadi Arumi menguping pembicaraan mereka dari celah pintu.

__ADS_1


__ADS_2