Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 11


__ADS_3

''Lalu apa kamu fikir papamu ini masih muda, ha?


papa hanya ingin punya cucu selagi papa masih sehat, papa ingin merasakan menggendong cucu dan bermain bersama cucu papa. Apa papa salah?''


''Kalau hanya itu yang papa inginkan kami bisa mengadopsi anak.''


''Rendi yang papa inginkan itu cucu kandung papa. Darah daging kamu, yang bisa meneruskan perusahaan dan nama keluarga kita''


''Sudah ku duga papa sebenarnya bukan ingin cucu. Papa hanya ingin seorang penerus. yang menyandang nama Adi jaya iakan.''


''Apa yang salah dengan itu?''


''sudahlah ayo pergi.'' Rendi berbalik dan meninggalkan rumah itu. Dia terlalu malas untuk berdebat dengan papanya yang tidak akan pernah memahaminya.


''pa, ma, Arumi pergi dulu.'' Arumi mencium tangan Bastian dan Monika bergantian.


''ingat telpon papa kalau Rendi berani macam-macam atau kasar sama kamu.''


''iya pa.''


''tin...tiiiiin....''


Rendi membunyikan klakson panjang agar Arumi segera datang.


Arumi berlari dan buru-buru dan langsung masuk kedalam mobil.


''jalan!''


Alex segera melajukan mobilnya, karena belum duduk dengan benar, saat mobil dijalankan Arumi jadi oleng ke samping dan kepalanya membentur bahu Rendi.


''Maaf, aku tidak sengaja.'' kata Arumi


''duduklah dengan benar.''


selanjutnya mobil itu melaju dalam keheningan.


tidak ada satupun antara Rendi, Alex, maupun Arumi yang ingin membuka pembicaraan.


mobil Rendi sampai di sebuah perumahan elit dengan pagar-pagar yang menjulang tinggi.


Alex membelokkan mobil itu, memasuki salah satu dari rumah mewah di sana.


Saat mereka sampai hari sudah malam. Rendi sengaja membeli rumah di kawasan rumah mewah yang ada di Sura Baya, dia sengaja melakukan ini agar Sela dan Arumi tidak ada kemungkinan untuk bertemu.


''Ayo turun'' kata Rendi pada Arumi.


''ini rumah siapa?'' Arumi memperhatikan rumah mewah itu dengan seksama


''Rumah kita, tapi akan menjadi rumahmu saat kita berpisah nanti.'' jawab Rendi sambil melangkah masuk kedalam rumah itu.


Hati Arumi berdesir setiap kali mendengar Rendi mengucapkan kata akan berpisah. Walaupun Arumi sudah siap namun entah kenapa hatinya tetap sedih memikirkan nasib rumah tangganya.


Arumi menyusul Rendi masuk ke dalam rumah dengan Alex mengekor dari belakang.


''Wah, rumah ini besar sekali. Mas apa di sini kita punya pembantu?'' tanya Arumi asal yang tidak tau harus bicara apa pada Rendi.


''tidak, tapi nanti akan aku carikan kalau kamu memang menginginkanya.''


''Tidak usah, lagi pula saat ini aku sedang tidak bekerja. Aku rasa aku sanggup mengurus rumah ini sendiri.''


''baguslah aku juga tidak suka kalau terlalu banyak orang.''

__ADS_1


''Alex pesankan makanan untuk kita malam ini.''


''kalau mas mau aku bisa masakkan sesuatu untuk kita malam ini.'' kata Arumi menawarkan diri


''Tidak usah lagi pula belum ada setok makanan di dapur.''


''mas, emm'' Arumi terlihat ragu-ragu untuk bertanya.


''katakan saja ada apa?''


''Aku ingin mandi, kamarku di mana?''


''Kamar kita ada di lantai dua sebelah kanan.''


''kamar kita? Maksud mas kita...'' Arumi tidak meneruskan ucapannya karena takut Rendi akan marah


''iya, bukankah aku sudah pernah bilang akan memperlakukanmu dengan baik dan menjadikanmu istri yang sesungguhnya sampai batas waktu yang sudah kita sepakati.''


Arumi mengangguk dan pergi menaiki tangga menuju kamar yang di katakan Rendi. Dia masuk dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


''ya Allah apakah berdosa jika aku memohon agar mas Rendi berubah pikiran dan bisa mencintai aku. Dan jika itu terjadi apakah akan menyakiti Sela? Apa angan-anganku ke tinggian ya Allah jika aku berharap kami bertiga bisa hidup rukun dan saling menyayangi nantinya.'' Arumi masih saja berharap Rendi bisa mencintainya walaupun dia tau itu sulit


''Tuan makanan apa yang harus saya pesan?'' tanya Alex kepada Rendi


''terserah kamu saja.''


''baiklah tuan''


Alex segera memesan beberapa jenis masakan yang menurutnya enak melalui aplikasi pemesanan makanan yang ada di hpnya.


''Alex selama aku tinggal di sini tolong kamu hendel semua urusan pekerjaan yang ada di Jakarta. aku hanya akan datang untuk pertemuan-peetemuan penting saja.


sisanya kirimkan melalui email saja.''


''mungkin aku akan di sini selama satu bulan, dan selanjutnya aku akan ke sini satu minggu sekali.''


''Ting..nung...'' bel rumah Rendi berbunyi


''coba kamu lihat sepertinya makanan yang kamu pesan sudah sampai. Aku akan ke atas untuk memanggil Arumi.''


Di dalam kamar ternyata Arumi malah tertidur, mungkin karena kelelahan akibat perjalanan.


''klek'' Rendi membuka pintu kamar.


''Arumi ayo turun, makanannya sudah datang.''


Arumi sama sekali tidak bereaksi mendengar kata-kata Rendi.


''Hem'' apa dia tidur?


Rendi mendekat, ternyata dia benar-benar tertidur. Sebenarnya kamu cantik Arumi, tapi kenapa kamu harus masuk di kehidupanku dan Sela. Harusnya kamu bisa mendapatkan lelaki lain yang lebih baik dari aku, dan kita bisa tetap jadi teman.


''Arumi...bangun.....Arumi...'' Rendi menggoyang-goyangkan tangan Arumi.


''emmm sebentar lagi ma.'' Arumi yang setengah sadar mengira mamanya yang membangunkannya.


''Arumi...''


''hemmm.'' namun tiba tiba Arumi merasa ada yang aneh, kenapa suara mama berbeda. Arumi membuka mata dan langsung duduk.


''mas Rendi maaf, tadi aku sedang bermimpi mama yang membangunkan aku.'' Rendi tidak menanggapi ucapan Arumi

__ADS_1


''ayo turun makanannya sudah siap.'' Rendi berlalu meninggalkan Arumi.


''uh '' Arumi memukul kepala sendiri. ''kenapa aku bisa sebodoh ini, sampai tidak bisa membedakan suara mama dan mas Rendi.''


Arumi, Alex dan Rendi menikmati makanan yang di pesan oleh Alex tadi.


''mas, apa mas Alex langsung pulang besok?'' tanya Arumi pada Rendi


''Iya, memangnya kenapa nyonya?'' karena melihat Rendi hanya diam saja Alex yang berinisiatif menjawab ucapan Arumi.


''lalu mas Rendi?'' tanyanya lagi


'' Aku akan di sini bersama kamu satu bulan ini.''


''kalau mas Rendi di sini selama satu bulan bagai mana dengan Sela, bukankah Sela takut kalau hujan di malam hari?''


''Bagai mana kamu tau kalau Sela takut hujan di malam hari.''


''em, itu...aku hanya menebak saja.''


''aku sudah selesai, dan masih ada yang harus aku kerjakan di ruang kerja bersama Alex.


kalau kamu ingin tidur pergi saja duluan.Alex, ayo.''


Rendi dan Alex pergi meninggalkan Arumi sendiri di maja makan.


Arumi diam memandangi kepergian Rendi.


''sabar Arumi setidaknya ini masih lebih baik dari sebrlumnya. Rendi sudah mulai mau berbicara denganmu.'' kata Arumi menyemangati dirinya


Dreet...dreeet...ponsel Rendi bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dan itu dari Sela


''Halo sayang, ada apa?''


''tidak ada cuma kangen saja.


''astaga ternyata istriku sudah mulai bucin ya.'' kata Rendi menggoda istrinya


''kan nggak apa-apa bucin sama suami sendiri.


Ren kamu kenapa nggak ngabari aku, saat sampai tadi?''


''Iya sayang maaf, tadi saat sampai aku dan Alex makan dulu, dan ini baru mau nelpon kamu eh, ternyata kamu malah nelpon duluan.''


''Sekarang kamu sedang apa?''


''ini lagi sama Alex mengerjakan laporan untuk besok di ruang kerja.''


''ya sudah, selamat bekerja. Aku tutup ya, assalammualaikum.''


''waalaikum salam.''


''Tok..tok..tok...mas Rendi boleh aku masuk?''


''ya, silahkan.'' Arumi masuk keruangan Rendi sambil membawa dua gelas kopi


''mas, ini aku buatkan kopi untuk mas Rendi dan mas Alex.'' kata Arumi sambil meletakkan kopi di meja kerja Rendi


''termakasih, Kenapa kamu belum tidur?'' tanya Rendi pada Arumi


''belum ngantuk mas. Mungkin karena tadi sempat tertidur saat di mobil''

__ADS_1


''Pergilah masih banyak yang harus aku kerjakan bersama Alex.''


__ADS_2