Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episode 15


__ADS_3

''Wah ternyata udara di sini sejuk ya.'' Kata Arumi sambil terseyum.


''lihat mas di ujung sana ada taman. Kita ke sana yuk.''


Rendi tidak menjawab tapi dia tetap mengikuti Arumi, kemanapun Arumi berlari tampa protes.


''Mas itu ada bangku duduk di sana yuk.'' Arumi menunjuk deretan bangku yang berjejer di taman itu


''Arumi, sebenarnya kamu ngajak jonging atau jalan-jalan! Kita berlari belum ada satu putaran, tapi kamu sudah ngajak duduk.'' protes Rendi


''dua-duanya '' kata Arumi sambil nyengir kuda


Rendi menghela napas panjang mendengar jawaban dari Arumi. Lalu kedunya berlari kecil menuju ke bangku taman yang di tunjuk oleh Arumi.


''Enak ya mas di sini udaranya segar.''


''hm'' Rendi hanya menyahut dengan suara hidung


dreeet...dreeeet...


ponsel Rendi bergetar dan itu adalah panggilan masuk dari Alex.


''Aku angkat telpon dulu ya.'' Rendi beranjak meninggalkan Arumi


Rendi berjalan sedikit menjauh untuk mengangkat telpon dari Alex.


''Halo Lex, da apa?'' kata Rendi setelah mengangkat sambungan telpon itu


''Tuan saya hanya ingin mengabarkan dua hari lagi akan ada rapat tahunan para pemengang saham, saya hanya ingin bertanya apakah anda akan hadir?''


''Kamu saja yang menghadirinya.''


''baik tuan.''


'' Alex bagai mana kabar Sela? Apa kamu ada bertemu dengannya?''


''Kemarin saya berkunjung kerumah tuan untuk melihat keadaan nyonya dan sepertinya nyonya baik-baik saja.


saat saya ke sana nyonya dan Anisa sedang sibuk berkebun di halaman belakang tuan.''


''Benarkah?''


'' Benar tuan.''


''baiklah aku lega sekarang, sepertinya kamu mencarikan orang yang tepat untuk istriku.''


''Bagaimana urusan kantor?''


''Semua baik tuan.''


''bagus lanjutkan pekerjaanmu.''

__ADS_1


Rendi kembali ke tempat Arumi berada, tapi belum sampai ke tempat Arumi langkahnya kembali terhenti.


''Pak Beni dan istrinya, sedang apa mereka di sini ? Dan kenapa Arumi terlihat akrab dengan mereka? Mati aku kalau sampai terlihat oleh mereka'' batin Rendi.


Rendi berbalik dan bersembunyi di balik rumpunan bunga, saat melihat Arumi memandang ke arahnya.


''Mana suamimu Arumi?'' tanya istri dari pak Beni


''entahlah, padahal tadi cuma permisi untuk angkat telpon, tapi kok lama ya?''


''Ya sudah lain waktu saja kamu kenalkan, om sama tante masih ada urusan.


kalau sempat sebelum balik ke Jakarta, om sama tante bakal main kerumahmu.''


''Kamu tinggal di komplek itukan?'' pak Beni menunjuk ke arah perumahan tempat tinggal Arumi yang memang tidak jauh dari taman itu


''Iya om, janji ya om sama tante bakal mampir, soalnya aku masih baru di sini jadi belum punya kenalan.'' kata Arumi


''Iya pasti nanti sekalian tante kenalin sama anak tante, Yang tinggal di sini. Om sama tante permisi ya?''


'' Iya om hati-hati.'' Arumi mencium tangan pak Beni dan istrinya bergantian


Setelah melihat pak Beni dan istrinya sudah pergi barulah Rendi menghampiri Arumi.


''sudah selesaikan ayo pulang!''


''Mas kamu lama sekali, dari mana saja?'' tanya Arumi sambil berjalan menghampiri Rendi


Rendi dan Arumi berjalan bersama menuju rumah mereka.


''mas kalau berjalan berdua begini, kita terlihat seperti sepasang suami istri sungguhan yang saling mencintai iyakan.'' canda Arumi pada Rendi


''Arumi, bisakah kita bicarakan hal yang lain?''


''maaf aku hanya bercanda, tidak usah di ambil hati.'' Arumi memanyunkan bibirnya ke arah Rendi dan tentu saja Rendi tidak melihatnya.


''Nah, sekarang kita sudah sampai, katakan kenapa tadi kamu lama sekali?'' kata Arumi yang menuntut jawaban


''saat selesai menelpon dan ingin kembali ke tempatmu, aku melihat kamu sedang berbicara dengan pak Beni, karena itu aku tidak jadi ke sana. bagaimana kamu bisa kenal dengan pak Beni dan sedang apa dia di sini?'' tanya Rendi


''Salah satu anak om Beni tinggal di sini. Jadi dia ke sini mengunjungi anaknya, katanya sudah lama dia tidak melihat anaknya itu, makanya dia ke sini, sekalian liburan. dan kalau soal aku yang kenal sama om beni, itu karena mama menanam saham di butik istrinya om Beni yang juga merupakan sahabat mama. Tapi Kenapa mas tidak menghampiri kami? padahal tadi aku ingin mengenalkan kalian.


apa mas punya masalah sama om Beni?''


''Masalah sih tidak ada, hanya saja pak Beni dan istrinya mengenal aku dan Sela.''


''Mati aku '' Arumi memukul keningnya sendiri


''bagaimana ini mas?'' Aku mengundang om Beni dan istrinya kerumah kita sebelum mereka pulang besok.''


''Sudahlah kita pikirkan itu besok, sekarang aku lapar ayo kita makan.'' Rendi berjalan menuju meja makan mendahului Arumi

__ADS_1


hari ini waktu berjalan dengan cepat, terlihat matahari sudah mulai membenamkan diri.


walaupun hanya di rumah saja, tapi Rendi tidak pernah lepas dari urusan pekerjaan.


Arumi menghampiri Rendi yang masih sibuk bekutat dengan laktopnya.


''mas nanti makan malamnya mau di masakin apa?'' Arumi sengaja sering bertanya kepada Rendi, menurutnya dengan banyak berinteraksi akan membuat hubungan mereka tambah dekat


''Apa saja'' kata Rendi tanpa mengalihkan pandangannya dari laktopnya.


Arumi pergi meninggalkan Rendi sambil menggerutu, ''huh, apa dia memang selalu dingin begitu?''


satu jam kemudian, Rendi sudah siap dengan pekerjaannya, begitu juga dengan Arumi.


Rendi datang menghampiri Arumi yang sedang menata makanan di meja makan. Rendi duduk sambil sedikit melamun ''sedang apa Sela sekarang apa dia sudah makan?'' batin Rendi


Arumi menyendokan nasi keping Rendi.


''Sela cukup itu sudah terlalu banyak.'' Rendi yang sejak tadi memikirkan Sela membuat dia sepontan menyebutkan nama Sela.


Tangan Arumi menggantung di udara mendengar ucapan Rendi. ''maafkan aku'' suasana di meja makan berubah menjadi canggung dan Akhirnya mereka makan dalam keheningan.


Rendi yang merasa bersalah tidak berani untuk memulai pembicaraan. Sementara Arumi yang sedang sedih tidak bernafsu untuk bicara.


Selesai makan Arumi langsung masuk kedalam kamar. Lalu pergi kedalam kamar mandi dan berendam air hangat untuk melegakan sedikit perasaannya.


Tak ber selang lama Rendipun masuk kedalam kamar, ''kemana dia kenapa tidak ada'' batin Rendi. Lalu dia mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi, ''oh dia sedang mandi.''


Rendi berbaring di atas kasur sambil menutup mata.


Ceklek pintu kamar mandi terbuka, Arumi keluar dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi dari batas dada samapi pahanya saja.


Arumi berjalan mendekat kearah Rendi namun Rendi sama sekali tidak menyadarinya, karena dia sedang menutup mata.


''Buuk...''tiba tiba Rendi merasa ada sesuatu yang menindih tubuhnya. Seketika mata Rendi membola. Melihat Arumi yang duduk di atas tubuhnya.


''Jangan tolak aku mas aku mohon, aku ingin semua ini segera berakhir'' lirih Arumi.


Dan sedetik kemudian Arumi langsung ******* bibir Rendi, walaupun masih sangat kaku namun ******* bibir lembut Arumi mampu merangsang sesuatu di tubuh Rendi.


hingga akhirnya pergulatan panas itu terjadi.


Arumi tertidur usai semua yang terjadi, sementara rendi pergi meniggalkan Arumi yang tertidur pulas.


Rendi pergi mengendarai mobilnya, mengitari jalanan sunyi malam itu, hingga akhirnya Rendi menepikan mobilnya di sebuah taman di tengah kota.


Rendi keluar dari mobilnya berjalan menuju sebuah warung kecil di pinggir jalan dekat taman itu . Rendi membeli sebungkus rokok dan sebotol air mineral.


Setelah itu Rendi kembali ke mobilnya, dia duduk di kap depan mobilnya sambil mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya.


Sebenarnya Rendi bukanlah seorang perokok bahkan dia hampir tidak pernah merokok. Namun malam ini suasana hatinya sedang sangat tidak baik.

__ADS_1


__ADS_2