Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 25


__ADS_3

Rendi dan Alex tiba di depan pintu rumah Arumi.


''tok! Tok! Tok!'' Rendi segera mengetuk pintu rumah itu.


Hening tak terdengar apapun dari dalam rumah itu. ''tuan sepertinya tidak ada orang'' Alex menoleh, memperhatikan wajah bingung Rendi.


''bagaimana mungkin tidak ada orang, sementara pak Yanto sendiri yang menyuruh aku datang.'' Rendi merasa semakin bingung.


''tok! Tok! Tok!''


kali ini Alex yang mengetuk pintu. Tak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki seseorang mendekati pintu.


''klek'' pintu di buka tampaklah seorang wanita paruh baya berdiri di hadapan Rendi dan Alex.


''eh, nak Rendi kalian sudah sampai?, maaf ya tadi ibuk lagi di belakang, jadi agak lama buka pintunya. Ayo silahkan masuk.''


Erina menyambut menantunya itu dengan ramah.


hal itu membuat ketegangan dalam hati Rendi sedikit berkurang.


''iya, bu terima kasih.'' Rendi dan Alex mengikuti Erina memasuki rumah.


''bu, apa Arumi ada di rumah?'' tanya Rendi sambil terus mengikuti langkah Erina.


Erina tersenyum sambil menoleh ke arah Rendi, ''Arumi ada di taman samping, apa nak Rendi ingin bicara dengannya?''


Rendi ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab. ''sebenarnya saya ingin bertemu dulu dengan Arumi, tapi apa tidak apa-apa bapak menunggu?''


''hm, pergilah temui dia, biar ibu yang jelaskan sama bapak.'' Rendi segera berlalu meninggalkan Erina dan Alex untuk menemui Arumi.


Sementara Alex hanya bisa pasrah melihat tuannya pergi meninggalkan dia begitu saja.


''kenapa?'' tanya Erina yang melihat Alex tampak tidak bersemangat.


''tidak apa-apa nyonya, hanya saja saya bingung kalau begini saya harus apa?''

__ADS_1


''kamu bisa main catur?'' tanya Arumi pada Alex.


sementara Alex hanya mengangguk sebagai jawaban. ''bagus kalau begitu kamu ikut ibu.''


Alex hanya pasrah dan mengikuti kemana langkah Erina. ''klek'' Erina membuka sebuah ruangan, di dalam ruangan itu ada pak Yanto yang terlihat sedang membaca buku.


Erina maauk keruangan itu dan menghampiri suaminya. ''bapak lagi sibuk?'' tanya Erina pada sang suami.


''tidak bapak hanya sedang membaca buku untuk menghilangkan rasa bosan, apa nak Rendi sudah sampai?'' pak Yanto memandang Alex yang sedang berdiri di depan pintu.


''sudah, cuma dia sedang bersama Arumi di taman samping.'' pak Yanto mengerutkan kening mendengar ucapan istrinya.


Erina tersenyum, memandang suaminya. Dia tau apa yang sedang di pikirkan suaminya. Erina mengelus lembut lengan pak Yanto. ''sudah kita biarkan mereka bicara dulu siapa tau ada kabar baik, tapi biar bapak tidak bosan nak Alex sengaja datang ke sini ingin menantang bapak main catur.''


Alex melongo mendengar ucapan Erina, seingatnya dia tidak pernah menantang pak Yanto, apalagi permainan caturnya hanya pas-pasan.


''benarkah.''wajah pak Yanto jadi berbinar mendengar ada yang menantangnya main catur.


''baik-baik, kalau begitu kita biarkan mereka bicara dulu berdua kalau memang tidak ada jalan keluar baru kita turun tangan.''


''hei, anak muda ayo sini kenapa malah bengong di situ.'' pak Yanto segera mengosongkan isi mejanya dan meletakkan catur kesayangannya.


Melihat hal itu Alex tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain meladeni pak Yanto bermain catur.


Alex pun mendekat dan duduk di kursi yang berada di depan kursi yang di duduki oleh pak Yanto, namun di batasi oleh meja.


''baiklah anak muda kamu pilih warna apa?'' pak Yanto mempersilahkan Alex untuk memilih warna.


''sebaiknya yang lebih tua yang memilih lebih dulu.'' kata Alex berusaha untuk terlihat santai.


''hm, baiklah kalian teruskan mainnya, aku akan kedapur dulu untuk membuat minuman untuk kalian, nak Alex kamu mau minum apa?'' Erina menghentikan langkahnya sejenak untuk melihat Alex.


''apa saja nyonya, asal tidak metepotkan.''


''oke'' kata Erina sambil berlalu meninggalkan Alex dan pak Yanto.

__ADS_1


Sementara di taman samping rumah, Arumi sedang duduk dan termenung sambil mengayun-ayunkan kaki seperti anak kecil.


Rendi yang melihat hal itupun tersenyum, menurutnya Arumi terlihat sangat menggemaskan, membuatnya betah untuk berlama-lama memandangnya.


Arumi yang merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannyapun menoleh untuk melihat siapa orang itu.


Wajah Arumi seketika berubah ia langsung berdiri dan ingin pergi dari tempat itu. Namun dengan langkah cepat Rendi segera mendekati Arumi dan memegang pergelangan tangannya.


''Arumi kita perlu bicara.'' pinta Rendi dengan suara memohon.


''Lepaskan aku mas tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Kalaupun ada bicarakan nanti saja di pengadilan saat sidang perciraian kita'' sesungguhnya hati Arumi sakit mengatakan hal itu karena sejujurnya beberapa hari ini Arumi benar-benar sangat merindukan Rendi.


''gdebuk'' tanpa Arumi sangka Rendi berlutut di hadapannya, tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Arumi.


''mas Rendi apa yang kamu lakukan, cepat bangun tidak pantas kamu berbuat seperti ini, kamu itu seorang pemimpin sebuah perusahaan, bagaimana kalau kabar ini tersebar.''


Rendi hanya menggelengkan kepalanya. ''aku tidak perduli jika reputasiku harus hancur asal aku bisa mendapat maaf darimu dan kita mulai lagi semuanya dari awal.''


Arumi menatap lekat wajah Rendi untuk melihat kesungguhan dari ucapannya. Namun Arumi sama sekali tidak melihat kepura-puran dari wajahnya. Dia justru melihat ketulusan dari setiap ucapan Rendi.


Hampir Arumi goyah dengan keputusannya, namun Arumi langsung teringat kepada Sela dan segera menepis segala keinginan di dalam hatinya.


''tidak mas, sudah tidak ada yang perlu di perbaiki di antara kita. Kebersamaan kita sejak awal memang sudah salah, bagaimana mungkin kita membangun ke bahagiaan di atas penderitaan Sela.'' air mata Arumi meluncur begitu saja di pipi mulusnya. Rasanya semua ini begitu berat untuknya.


Memiliki lelaki yang selama ini sangat dia cintai bahkan sejak masih duduk di bangku SMA, tapi dengan menghancurkan hati sahabat yang sudah berkorban begitu besar untuknya. Atau menjaga hati sahabatnya dengan merelakan orang yang paling dia cintai.


''Arumi aku mohon beri aku kesempatan sekali saja aku berjanji akan membuatmu bahagia.''


''bahagia mas bilang? Bahagia yang seperti apa, kalau pernikahan kita saja harus terus di sembunyikan.'' Arumi menyentak tangannya dengan kuat agar terlepas dari genggaman Rendi.


Arumi ingin melangkah pergi meninggalkan Rendi, namun tiba-tiba pandangannya menjadi buram dan tubuhnya ambruk ke lantai.


Rendi yang masih dalam posisi berlutut tidak sempat bereaksi. Dia begitu terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu.


Begitu tersadar dari keterkejutannya Rendi langsung berlari dan langsung memangku tubuh Arumi. ''Arumi,...Arumi,...bangun'' Rendi menepuk-nepuk pelan wajah Arumi untuk menyadarkannyanamun sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2