
''Tuan Wisnu satu hal lagi, dari informasi yang kami dengar Nona Sela ini merupakan Istri dari seorang pebisnis Rendi Adi Tama, apakah itu benar?''
Wajah Sela maupun Wisnu terlihat biasa saja berbeda dengan Rendi dan Arumi. Mereka terlihat tengang, Rendi sama sekali tidak menyangka akan ada wartawan yang bertanya seperti itu.
''Benar, tapi sebentar lagi mereka akan bercerai.''
''Bagaimana mungkin, bukankah tuan Rendi terkenal sebagai suami yang sangat menyayangi istrinya?''
''Untuk masalah itu kalian bisa tanyakan langsung pada orangnya.'' Wisnu mengarahkan pandangannya pada Rendi dan Arumi.
Para wartawan mengikuti arah pandangan Wisnu dan mendapati Rendi sedang duduk bersama seorang wanita dengan perut sedikit membuncit.
Sontak saja seluruh wartawan langsung mengerumuni Rendi dan Arumi.
''Tuan Rendi siapa wanita yang sedang bersama anda ini? Apakah saat ini dia sedang hamil? Apa itu artinya anda telah menghianati istri anda?''
Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan oleh para wartawan itu.
Rendi yang merasa tidak mampu menjawab pertanyaan para wartawan itu memilih untuk menghindar. Dia menyeret Arumi agar bisa keluar dari kerumunan wartawan itu.
Namun seperti tidak ingin melewatkan berita bagus, wartawan-wartawan itu terus saja mengikuti.
Arumi yang memakai sepatu hak tinggi kesusahan saat mengikuti langkah Rendi akhirnya terjatuh. ''Aaawww'' Arumi meringis memegangi perutnya. Darah segar mengalir dari celah paha Arumi
''Para wartawan yang melihat itu langsung mundur dan menjauh.
''Mas Rendi sakit.'' Ringisnya sambil memegangi perut dan akhirnya tidak sadarkan diri.
''Tolong panggilkan ambulans.'' Teriak Rendi dengan panik.
Melihat kehebohan yang terjadi Wisnu dan Sela datang menghampiri, ''Arumi'' teriak Sela ikut panik.
''Tenanglah jangan panik'' Wisnu menepuk pelan bahu Sela. ''Tuan Rendi kita bawa kerumah sakit menggunakan mobilku saja. Menelpon ambulans atau menggunakan mobilmu sendiri akan memakan waktu, mobilku parkir di area khusus jadi gampang untuk keluar.'' Terangnya.
Rendi tidak punya pilihan, dia terpaksa menerima tawaran Wisnu. Dia menggendong tubuh Arumi menuju mobil Wisnu.
''Piter tolong hendel yang di sini.'' Wisnu berlalu pergi bersama Sela dan Marisa tanpa menunggu jawaban dari Piter.
Wisnu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di rumah sakit terdekat.
Arumi segera di dorong masuk kedalam UGD untuk di berikan pertolongan.
Rendi, Wisnu, Sela. Menunggu di depan ruang UGD. Sedangkan Marisa sudah di jemput oleh bik Wati atas perintah Wisnu.
''Tuan Rendi sepertinya anda sangat mencitai istri anda itu.'' Ejek Wisnu yang melihat Rendi begitu panik.
__ADS_1
''Sela sebaiknya kita pulang.'' Kata Wisnu pada Sela.
''Tolong jangan pergi aku butuh kamu'' Rendi menatap Sela dengan tatapan memohon.
Sela yang masih sangat mencintai Rendi tidak tega melihatnya.
''Kamu pulanglah dulu, aku masih ingin di sini.''
Wisnu menghela nafas, ''Baiklah, tapi Sela apa yang aku katakan saat peresmian mall tadi semuanya benar dari hatiku jadi tolong pikirkan.''
Wisnu melangkah pergi meninggalkan Sela dan Rendi. Dia berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang menuju ke tempat parkiran.
Saat sudah berada di ujung koridor Wisnu melihat seseorang yang wajahnya tidak asing.
Wisnu berpapasan dengan orang itu. Wisnu keluar sedangkan dia masuk.
''Sudahlah mungkin cuma perasaanku saja'' batinnya.
Saat sudah sampai di mobil, ketika akan membuka pintu mobil tiba-tiba Wisnu teringat. ''Hans, ya orang itu adalah Hans yang beberapa kali pernah ingin mencelakai Sela, untuk apa dia ke sini, apa ingin mencelakai Sela lagi?''
Wisnu bergegas kembali untuk menemui Sela.
Belum sempat Rendi berbicara pada Sela, dokrer yang menangani Arumi keluar dari ruang UGD. Rendi segera menghampiri dokter itu.
''Syukurlah pak kondisi istri dan anak anda baik-baik saja. Namun karena sempat terjadi pendarahan istri anda harus di rawat beberapa hari untuk pemantauan. istri anda akan segera di pindahkan ke ruang rawat dan anda bisa menemuinya, dia juga sudah sadar.'' jelas dokter itu kemudian pergi meninggalkan Rendi.
Tak lama kemudian Arumi di dorong keluar dari ruanggan itu menuju ruang rawat inap.
Rendi mengikuti dari belakang, sementara Sela hanya diam di tempat. Melihat hal itu Rendi kembali dan meraih tangan Sela ''ikutlah denganku.''
Dengan malas Sela berjalan mengikuti Rendi hingga tiba di ruang rawat Arumi.
''Ikutlah masuk, Arumi akan senang melihatmu.''
''Tidak kamu masuk saja, aku akan menunggu di sini. Aku tetap di sini karena ada yang ingin aku berikan kepadamu.''
''Apa itu?'' Tanya Rendi.
''Nanti saja setelah kamu menemui Arumi akan aku berikan.''
''Baiklah tunggu aku, aku tidak akan lama'' Rendi menemui Arumi dengan perasaan bahagia dia pikir Sela sudah berubah pikiran.
''Arumi'' Rendi menghampiri Arumi.
''Mas Rendi aku...''
__ADS_1
''Sudah jangan bicara apa-apa dulu'' Rendi menghentikan omongan Arumi.
''Tidak usah khawatir calon anak kita selamat, dia sangat kuat.'' Rendi menggenggam tangan Arumi untuk menenangkannya.
''Mas ini semua karena Sela, dia pasti sengaja menyuruh Wisnu melakukan ini, dia ingin aku ke guguran dia iri padaku.'' Arumi menangis sambil memeluk lengan Rendi.
''Jangan bicara sembarangan ini tidak ada hubungannya dengan Sela, sebaiknya kamu istirahat aku keluar sebentar.'' Rendi mengecup kening Arumi lalu keluar dari ruang rawat Arumi.
Arumi mengepalkan tangannya karena kesal.
Rendi keluar dari ruang rawat Arumi tapi tidak melihat Sela. Rendi lalu bertanya kepada salah seorang suster yang sedang lewat di sana.
''Permisi suster apa kamu melihat seorang Wanita yang tadi duduk di sini.'' Rendi menunjuk kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat Arumi.
''Oh wanita itu, tadi saya melihatnya berjalan ke arah taman.''
''Terima kasih suster.'' Rendi pergi menyusul Sela.
Melihat Rendi sudah meninggalkan Ruangan Arumi, seseoranng yang sejak tadi mengintip di lorong yang sepi bergegas mendekati ruang rawat Arumi, begitu melihat ke adaan aman dia segera masuk ke dalam.
''Mas Rendi kamu kembali?'' Tanya Arumi yang mendengar suara pintu di buka lalu di tutup kembali.
''Kamu'' mata Arumi terbelalak begitu melihat siapa yang masuk.
''Hai cantik apa kabar?''
''Mau apa kamu ke sini Hans? Bukankah sudah aku katakan jangan pernah temui aku atau menghubungi aku jika bukan aku yang menghubungi kamu.'' geram Arumi.
''Tenang cantik jangan marah-marah, tadinya aku tidak ingin datang ke sini tapi aku sedang butuh uang dan sepertinya kamu sengaja tidak ingin aku menelponmu jadi terpaksa aku datang ke sini.'' Katanya sambil tersenyum.
''Uang, bukannya terakhir kali aku sudah mentranfer 30 juta untuk kamu.''
''Itu bayaran untuk mencelakai Sela sedangkan untuk mencelakai Anisa kamu belum membayarnya.''
''Tapi kamu gagal, tidak satupun rencana kamu berhasil. Masih berani kamu datang minta bayaran?'' Arumi semakin emosi.
''Cantik, berhasil atau tidak berhasil resikonya tetap sama jadi kamu harus tetap membayarku. Karena kalau tidak kamu taukan apa yang bisa aku lakukan?''
Arumi tidak berkutik mendengar ancaman Hans.
''Baiklah tapi tolong pergi dari sini sekarang sebelum ada yang melihatmu.''
Tanpa Arumi sadari sejak tadi Wisnu sudah merekam semua percakapan mereka.
''Bagaimana mungkin dulu aku bisa tergila-gila dengan wanita iblis ini.'' Batinnya.
__ADS_1