
''Masalah apa?'' Sela yang baru saja masuk dari mengantar Anisa duduk di sofa yang ada di depan Wisnu.
''Setelah mendengar apa yang di katakan Anisa apa tidak ada penyesalan di hatimu?'' Wisnu menatap Sela, yang duduk santai di depannya.
''Kenapa harus menyesal? Ini adalah pilihan Rendi sendiri dia lebih memilih menyelamatkan nama baik keluarganya dari pada menyelamatkan hubungan kami, maka aku akan menghargai keputusan itu.'' Jawab Sela tanpa beban sama sekali.
Wisnu lega mendengar jawaban Sela. ''Sebenarnya tadi aku sedikit tidak nyaman saat Anisa seperti ingin mendekatkan kamu kembali dengan Rendi. Dan aku sempat menegurnya saat kamu masih menemui Marisa.''
Sela sedikit terperangah mendengar pengakuan Wisnu. ''Sekarang aku mengerti kenapa Anisa tidak ingin kamu antar.'' Katanya sambil tersenyum, ''tapi kenapa kamu melakukan itu?''
''Apa kamu tidak bisa merasakan ketulusanku? Sela aku benar-benar berharap kamu mau memberi aku kesempatan, jika kemarin-kemarin aku hanya diam itu karena setatus kamu yang masih istri Rendi. Sekarang kalian sudah resmi bercerai, aku akan terang-terangan mengejar kamu. Aku tidak perduli apapun hasilnya cukup beri aku kesempatan. Dan untuk Anisa aku tidak akan membiarkan dia, jika berniat mendekatkan kamu dengan Rendi lagi.''
Ekspresi tegas di wajah Wisnu justru membuat Sela tertawa. ''Kenapa tertawa?'' Tanya Wisnu heran.
''Tidak, wajah kamu lucu. Wisnu kamu tenang saja aku tidak akan pernah kembali bersama Rendi. Tapi, untuk memberi kesempatan padamu, '' Sela berdiri lalu berjalan ke arah jendela. Di pandanginya pepohonan hijau yang berjejer rapi di samping rumahnya itu.
''Wisnu bisakah kamu menjanjikan kebahagiaan untukku? Jujur saja dari kecil hingga dewasa aku selalu menderita, bahkan saat menikah dengan Rendi aku tidak benar-benar bahagia karena orang tuanya tidak menyukai aku. Saat itu aku mencoba bertahan karena aku pikir yang penting Rendi mencintai aku, tidak ku sangka semuanya tidak sesederhana itu.'' Sela berbalik lalu menatap Wisnu.
''aku tidak ingin menderita lagi.''
Wisnu bisa merasakan tatapan Sela yang penuh keraguan. Dia berjalan menghampiri Sela.
''Kepastian seperti apa yang kamu inginkan, Sela bahkan jika kamu minta seluruh hartaku sebagai jaminan akan aku berikan.'' Katanya dengan sungguh-sungguh.
''Aku tidak butuh itu, buat perjanjian hitam di atas putih jika kamu menyakiti aku hak asuh Marisa sepenuhnya jadi milikku.''
Wisnu tersenyum lalu memeluk Sela, ''kamu benar-benar istimewa. Terima kasih aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini.''
Wisnu dan Marisa pulang kerumahnya. Sepanjang perjalanan Wisnu terus saja tersenyum. ''Kenapa papa senyum-senyum sendiri?'' Marisa bingung melihat kelakuan papanya.
''Marisa senang tidak kalau mama Sela benar-benar jadi mamanya Marisa dan tinggal lagi sama kita?'' Tanya Wisnu sambil tetap fokus mennyetir dan tentu saja dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
''Tentu saja Marisa senang, tapi apa benar?''
__ADS_1
''Hm'' Wisnu mengangguk.
''Yee..'' Marisa melonpat-lompat kegirangan di kursinya.
''Marisa hentikan nanti kamu jatuh.'' Wisnu geleng kepala melihat Marisa.
Anisa sudah sampai di kediaman Rendi, begitu memasuki rumah langsung terdengar suara teriakan Arumi di sertai suara pintu di gedor.
''Hah'' Anisa menghela nafas.
''Arumi apa kamu tidak lelah seperti ini terus?'' Anisa membuka pintu dan langsung di suguhkan pemandangan penampilan Arumi yang berantakan.
''Anisa aku mohon keluarkan aku dari sini, aku tidak ingin di sini terus.'' Pintanya sambil menangis.
Jika melihat ke adaannya sekarang Anisa benar-benar tidak tega. Tapi jika mengingat betapa tak berperasaannya Arumi dulu semua ini sepadan.
''Arumi merenunglah dan niknati hidupmu di sini untuk sementara waktu, bersikap baiklah di depan tuan Rendi mungkin dia bisa luluh dan kalian bisa melanjutkan rumah tangga kalian''
Anisa berbaik ingin keluar dari kamar itu. Tiba-tiba Arumi menerjangnya, Anisa yang tidak siappun tersungkur ke lantai. Arumi memanfaatkan kesenpatan itu untuk lari, tapi sayang kakinya tersangkut oleh roknya sendiri, Arumi jatuh terduduk di lantai.
''Awww sakit'' erangnya sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
''Arumi, Arumi, bangun. Arumi..'' Anisa sangat panik dengan situasi ini dia menepuk-nepuk wajah Arumi namun tidak ada reaksi.
Anisa segera menelpon Alex, memberitahukan apa yang sudah terjadi. Untunglah Alex lebih tenang dari Anisa, dia segera menelpon Ambulans untuk menelamatkan Arumi dan bergegas datang kesana untuk membantu Anisa.
Ambulans dengan cepat tiba lokasi dan Arumi pun segera di larikan ke rumah sakit.
Alex dan Anisa mengikuti dari belakang menggunakan mobil Alex. ''Anisa apa kamu sudah memberi tau tuan Rendi?''
Anisa menggeleng, ''aku terlalu gugup sampai tidak ingat.''
''Ya sudah biar aku yang telpon.'' Alex mengeluarkan benda pipih dari saku jasnya.
__ADS_1
''Halo tuan Rendi, telah terjadi sesuatu pada nyonya Arumi, di berusaha untuk kabur, tapi malah terjatuh sekarang kami menuju ke rumah sakit, saya akan kirim lokasinya pada anda.''
Alex mengakhiri panggilan telpon itu.
Begitu tiba di rumah sakit Arumi langsung di masukkan ke ruang penanganan. Dan Alex segera mengirim lokasi rumah sakit itu kepeda Rendi agar Rendi bisa segera datang.
Saat ini Rendi sedang bersama Monika di rumah sakit untuk menemani Bastian yang saat ini masih tertidur. Rendi memicit pelipisnya yang terasa berdenyut.
''Rendi ada apa?'' Melihat Rendi yang seperti sedang dalam masalah Monika datang menghampirinya.
''Ma, Arumi masuk rumah sakit.''
''Apa? Monika kaget. ''Lalu bagaimana kondisinya?''
Rendi menggeleng, ''aku tidak tau, dia mencoba melarikan diri dan terjatuh, Alex sudah membawanya ke rumah sakit.''
''Pergilah lihat dia, bagaimanapun juga dia sedang mengandung anakmu, biar mama yang menjaga papa.''
''Hm'' Rendi mengangguk dan segera pergi menuju rumah sakit tempat Arumi di rawat.
Rendi tiba di rumah sakit, bersamaan dengan dokter yang menangani Arumi keluar dari ruangan tempat Arumi di tangani.
''Dokter bagaimana kondisi istri saya?'' tanya Rendi pada dokter itu.
''Anda suaminya?''
''Iya benar dokter.''
''Begini tuan, kami butuh persetujuan anda untuk menandatangani sutat ini.'' dokter itu menyerahkan selembar surat pernyataan pada Rendi.
''Kondisi istri anda semakin melemah akibat pendarahan yang di alaminya, karena itu untuk menyelamatkan keduanya bayinya harus di lahirkan secara prematur. Kami perlu persetujuan anda untuk melakukan tindakan ini.'' Jelas dokter itu.
Rendi segera menandatangani surat itu kemudian menyerahkan kembali surat itu kepada dokter. ''Tolong lakukan yang terbaik'' katanya sambil menerahkan surat itu.
__ADS_1
Doktrer itu mengangguk lalu kembali masuk ke dalam ruangan untuk melakukan operasi terhadap Arumi.