
''Alex'' Arumi terkejut saat melihat Alex datang menghampirinya. Dia sampai bangkit dari duduknya karena terkejut, lalu tatapannya tertuju kearah belakang Alex.
namun pandangannya menyendu saat sosok yang diharapkannya datang tapi tidak datang.
dan Arumi kembali duduk.
Sebenarnya sejak tadi Arumi sangat berharap Rendi akan datang menyusulnya lalu meminta maaf. Tapi sayang harapannya tidak jadi kenyataan. Yang ada di hadapannya hanya Alex seorang.
''boleh saya duduk nyonya?''
''hm'' Arumi hanya menyahut dengan suara hidung.
''apa dia yang menyuruhmu datang'' sambil menatap Alex dengan tatapan sinis.
''maksud anda tuan?'' Arumi menoleh dengan malas. ''ya, siapa lagi kalau bukan tuanmu itu.''
''sebenarnya tuan ikut, nyonya, tapi dia terlalu malu untuk bertemu dengan anda. Jadi tuan hanya menunggu di mobil.''
''hah, bagus sekali. Menyuruhmu datang kesini karena dia merasa malu. Lalu apa dia tidak merasa malu, menyuruh orang lain yang minta maaf atas kesalahannya?''
Alex merasa serba salah, di satu sisi dia kasihan kepada tuannya, tapi di sisi lain apa yang di katakan Arumi juga benar.
''nyonya saya tau tuan Rendi bersalah tapi saya harap nyonya bisa mengerti posisinya tuan.''
Arumi diam untuk waktu yang lama, dia merasa malas menanggapi ucapan Alex. Hingga terdengar suara azan dari salah satu masjid yang ada di sana.
''Alex sebaiknya kamu pulang, sudah magrib, sampaikan saja kepada tuanmu, aku sudah memaafkannya tapi untuk saat ini aku belum ingin bertemu dengannya.''
Alex dapat mengerti apa yang di rasakan Arumi. Oleh karena itu dia tidak banyak bicara lagi dan langsung undur diri. '' baiklah nyonya saya permisi dulu''
Setelah kepergian Alex air mata Arumi kembali menetes. '' dasar lelaki semuanya egois, Alex kamu minta aku mengerti posisi tuanmu, lalu bagaimana dengan posisiku yang bahkan tidak di akui''
Alex menghampiri Rendi yang sejak tadi menunggunya di dalam mobil.
Saat Alex masuk ke dalam mobil dia langsung di brondong pertanyaan oleh Rendi.
''bagaiman apa Arumi ada? Apa dia baik-baik saja? Apa dia masih marah?''
Alex sampai terbengong mendengar rentetan pertanyaan dari tuannya itu.
''tuan bisakah anda bertanya satu-satu?'' Rendi menggaruk kepalanya.
''itu karena kamu terlalu lama aku sampai bosan menunggumu''
''kalau bosan kenapa tuan tidak masuk saja?''
__ADS_1
Rendi memberikan tatapan tajam kepada Alex, hingga membuat Alex merinding.
Setelah itu Rendi melajukan mobilnya kembali kekediamannya.
Arumi masuk ke dalam rumah untuk melakukan sholat magrib berjamaah bersama ke dua orang tuanya.
Sedangkan Sela mondar mandir di dalam kamarnya, karena cemas menunggu Rendi dan Alex yang tak kunjung kembali.
Tin! Tin!
terdengar suara klakson mobil menandakan Alex dan Rendi sudah kembali.
Sela berlari menuruni tangga untuk menemui Rendi.
''Rendi bagaimana? Apa Arumi ada di rumahnya?''
Rendi berjalan lemas ke arah sofa dan langsung duduk di sana. Dia bahkan tidak mendengar pertanyaan yang di ucapkan Sela.
pasalnya saat di perjalanan tadi Alex bercerita tentang apa yang di sampaikan Arumi saat di rumahnya.
Alex pun menyusul Rendi masuk ke dalam rumah, namun penampilannya terlihat lebih santai.
Karena tidak mendapat jawaban dari Rendi, Arumi kembali bertanya kepada Alek.
''Alex apa yang terjadi, kenapa Rendi seperti itu?''
''tidak ada apa-apa nyonya tuan hanya kelelahan saja, karena tadi tuan yang menyetir''
''Lalu bagaimana dengan Arumi, apa dia ada di rumah orang tuanya?''
''iya nyonya dia ada dan kami juga sudah bicara.''
''baguslah, aku lega mendegarnya.''
Kruuuuk.....! Saat Sela ingin bertanya lebih jauh tiba-tiba terdengar suara dari perut Alex.
Alex hanya tertunduk malu. ''astaga aku sampai lupa kalian belum makan.'' Sela berjalan menghampiri Rendi.
Saat itu Rendi masih terligat bengong. sejak dulu Rendi memang tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan perasaan. Kalau sedang ada masalah dia akan langsung uring-uringan.
''Rendi makan dulu yuk, tada aku sudah memesan beberapa makanan untuk kita. Aku yakin kamu pasti sudah sangat lapar.''
''Sela aku tidak berselera, kamu pergilah makan bersama Alex.'' Rendi bangkit dari duduknya dan pergi menuju ruang kerjanya.
Sela mengerutkan kening melihat tingkah Rendi.
__ADS_1
dia bingung melihat tingkah Rendi. Selama ini Rendi belum pernah seperti ini, mau selelah apapun dia tidak akan menolak kalau Sela mengajaknya makan. Walaupun hanya duduk untuk menemani.
''Anisa....!'' mendengar panggilan Sela, Anisa berlari keluar dari kamarnya.
''iya Sela ada apa?''
''kamu siapkan makanan untuk Alex ya.''
Wajah Anisa langsung sembringah dia sangat senang karena bisa berduaan dengan Alex.
Sela berlalu meninggalkan Anisa dan Alex.
Anisa dan Alex berjalan ke arah meja makan. Anisa meladeni Alex layaknya seorang isteri yang sedang melayani suaminya.
Anisa mengambil piring dan ingin mengambilkan nasi untuk Alex. ''Anisa tidak usah aku bisa sendiri.''
Anisa tidak menghiraukan ucapan Alex dia tetap mengisi nasi ke piring itu. ''apa segini cukup? Lalu mas Alex mau lauk apa?''
Alex pasrah melihat tingkah Anisa, sejujurnya dia dia suka diperhatikan oleh Anisa. Tapi sebelum masalah tuannya selesai Alex bahkan tidak berani untuk sekedar berpikir mengenai suatu hubungan.
''ini'' anisa meletakkan piring yang sudah terisi nasi dan lauknya di depan Alex.
Alex mulai makan dengan lahap, karena memang dia sangat lapar. Di tengah kegiatan makannya Alex menoleh ke arah Anisa yang duduk di sampingnya.
''Anisa lain kali kamu tidak usah seperti ini kepadaku, aku tidak enak.''
''kenapa, apa karena Arumi?''
Alex hanya diam dan tidak menjawab, dia memilih melanjutkan makannya.
''mas Alex tidak usah pura-pura lagi aku tau kalau Arumi itu pacarnya tuankan?''
''uhuk....! Uhuk...! Uhuk...!"
Alex tersedak makanan yang ada di mulut nya. Dia segera meraih segelas air dan meneguknya sampai habis.
"apa yang kamu bicarakan Anisa jangan sembarangan. Kalau nyonya Sela sampai dengar bisa jadi masalah."
"aku tidak sembarangan bicara aku lihat sendiri tuan berduaan dengan Arumi di dalam kamar, dan aku tau kamu pasti sengaja mengaku sebagai pacar Arumi untuk menutupi kesalahan tuan kan."
wajah Alex pucat mendengar pengakuan dari Anisa. "apa Anisa udah mengatakan tentang ini kepada nyonya Sela. Tidak, pasti belum karena kalau sudah nyonya Sela tidak mungkin setenang ini.'' batin Alex.
"Anisa kamu jangan sembarangan, bukankah aku sudah pernah bilang jangan pernah mengurusi urusan majikan. Lagi pula apa yang kamu lihat itu belum tentu sama dengan apa yang kamu pikirkan."
Alex pergi meninggalkan Anisa sendiri.
__ADS_1
Anisa mengepalkan tangannya karena marah.
"ini semua karena kamu Arumi."