
''Sekarang ceritakan apa yang terjadi?'' desak Wisnu begitu mereka memasuki rumah.
''Marisa mandi lalu istirahat ya, nanti mama Sela panggil kalau mama Sela sudah selesai bicara sama papa.''
Marisa meluncur turun dari gendongan Wisnu ''jangan lupa panggil Marisa'' katanya sambil berlari ke kamarnya.
Sela mengacungkan jempol ke arah Marisa.
''Anak itu benar-benar patuh padamu.'' Komentar Wisnu dan Sela hanya menanggapinya dengan senyum.
''Ayo bicara sambil duduk'' Sela berjalan ke arah sofa, begitu juga dengan Wisnu.
''Tadi saat berbelanja dengan Marisa aku bertemu dengan Anisa. Dia bilang kecelakaan yang terjadi padanya merupakan sebuah kesengajaan. Ada yang berniat membunuhnya.'' Sela menatap wajah Wisnu untuk melihat reaksinya. Tapi Wisnu terlihat biasa-biasa saja, Sela jadi enggan melanjutkan ceritanya.
''Kenapa diam?'' Tanya Wisnu yang melihat Sela tak kunjung melanjutkan ceritanya.
''Saat dia sedang berjuang menyelamatkan diri dan berada di dinding tebing dia mendengar suara langkah seseorang yang mendekat sambil bertelponan. Orang itu bilang setelah Anisa target selanjutnya adalah aku.'' Sela melanjutkan ceritanya dengan sedikit enggan.
Wisnu membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. ''Sela sebenarnya aku sudah lama curiga ada yang ingin menyakiti kamu. Kecurigaanku muncul sejak pertama ada orang yang mengirimi kamu paket berisi tikus mati tanpa kepala. Aku sudah mengirim orang untuk menyelidiki masalah ini tapi sayang orang itu sangat lihai,orang-orangku tidak berhasil mendapatkan informasi apapun.'' Jelas Alex.
Sela yang tadinya sedikit enggan kembali bersemangat. ''Maaf'' kata Sela tiba-tiba.
''Untuk apa?'' Tanya Wisnu bibgung.
''Tadi aku fikir kamu tidak perduli. Saat aku bicara kamu terlihat biasa-biasa saja.'' Sela sedikit malu mengutarakannya.
''Ha..ha..ha'' Wisnu tertawa melihat expresi Sela ''kamu tidak salah tadi aku memang tidak perduli, aku fikir kamu hanya akan membahas soal Anisa.'' Jawab Wisnu jujur.
''Mana boleh begitu.'' protes Sela.
''Justru tidak boleh memperhatikan dua wanita sekali gus.''
Sela memanyunkan bibirnya ''tidak seperti itu juga konsebnya.'' kesal Sela.
__ADS_1
''Benarkah?'' Tanya Wisnu pura-pura tidak tahu. Padahal dia hanya ingin menggoda Sela agar melupakan kecemasannya.
''Jangan fikirkan ini lagi, aku akan menyiapkan beberapa orang untuk melindungimu.''
''Terima kasih, tapi aku juga mengkhawatirkan Anisa.''
Wisnu geleng kepala, tidak mengerti dengan jalan fikiran Sela yang terlalu baik. Wisnupun mengalah, baiklah akan aku kirim orang untuk melindungi Anisa juga.
''Kalau begitu aku akan menemui Marisa, dia pasti sudah menunggu aku sejak tadi.''
Paaarrr, ''aaaaa'' Arumi melempar gelas yang ada di tangannya sambil berteriak. Dia sudah seperti orang gila, membuat Erina semakin khawatir.
''Sialan kamu Hans dasar tidak becus! menyingkirkan dua wanita saja tidak bisa.'' Teriaknya.
''Pak kenapa Arumi jadi seperti ini? Ibuk benar-benar takut.'' Keluh Erina pada suaminya sambil mengintip dari celah pintu kamar Arumi.
''Bapak juga tidak tau buk, mungkin ini karma untuk kita atas perbuatan kita kepada Sela. kita sudah merahasiakan kondisinya yang sebenarnya demi melindungi anak kita. Setelah itu malah membiarkan anak kita merebut suaminya.''
''Jangan bicara seperti itu pak ini tidak sepenuhnya salah kita. Kan kita tidak tau kalau Rendi itu suaminya Sela.'' Erina merasa tidak terima dengan pemikiran suaminya.
Pak Yanto menghela nafas kemudian meninggalkan kamar putrinya itu.
Erina yang merasa tidak tenang masuk ke kamar Arumi untuk menenangkannya.
''Sayang kamu kenapa?'' Tanya Erina dengan hati-hati.
''Ibuk'' Arumi membenamkan wajahnya di bahu ibunya. Dia langsung menangis tersedu di pelukan ibunya.
''Ada apa sayang cerita sama ibuk'' bujuk Erina.
''Kenapa bu, kenapa Sela selalu beruntung? Ada Rendi yang begitu mencintainya sekarang di tambah Wisnu yang begitu perhatian padanya. Apa lebihnya dia?'' Rasa irinya kepada Sela telah menutup mata hatinya. Arumi hanya berfikir bagaimana cara menyingkirkan Sela dan menjadi wanita satu-satunya di hati Rendi.
''Arumi Ibu rasa pemikiranmu itu salah, kamu lebih beruntung dari Sela. Lihat kamu masih punya ibu, Bapak dan mertua yang sayang sama kamu dan sepertinya Rendi juga sudah memilih kamu. Lagi pula kalian itu sahabat tidak baik seperti ini.'' Erina berusaha membujuk Arumi.
__ADS_1
''Tidak ibu salah Rendi tidak pernah mencintai aku dia hanya menganggap aku alat untuk menghasilkan anak. Dan Sela dia bukan sahabatku dia adalah saingan dalam hidupku. Dulu aku bodoh tidak menyadari hal ini dan menganggap dia sahabat.''
Erina menghela nafas, dia bingung dengan jalan fikiran Arumi ''ya Tuhan semoga ini hanya karena hormon kehamilannya, semoga Arumi kembali seperti dulu setelah melahirkan.'' Pintanya dalam hati.
''kamu istirahat jangan terlalu banyak fikiran.'' Erina membaringkan tubuh Arumi kemudian pergi mengambil sapu untuk membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai.
''Bagaimana Alex, apa kamu sudah mengatur pertemuan ulang dengan tuan Piter?''
''Sudah tuan dan dia menyetujuinya. Tapi untuk waktunya katanya dia yang akan menentukannya dan tidak bisa dalam minggu ini.'' Jelas Alex dengan sedikit takut.
''Brak'' Rendi menggebrak meja. ''Kurang ajar, apa dia sengaja ingin mempermainkan aku.'' Rendi mondar-mandir di ruangannya.
''Alex atur jadwalku untuk besok, kosongkan di jam 10 pagi. Aku akan menemuinya langsung di kantornya.'' Rendi kembali duduk di kursinya dan membuka surat perjanjian kerja sama itu. Untuk hari ini sudah lebih dari 10 kali dia membuka dan membaca ulang surat perjanjian itu tapi tidak menemukan kejanggalan kecuali isi surat yang menurutnya berbeda dari yang dia tanda tangani.
''Huh'' Rendi menghembuskan nafas kasar. ''Bagaimana mungkin jika ini surat yang sama kenapa aku bisa sebodoh itu menandatanganinya. Tapi jika surat ini telah di tukar, kapan? Dan tanda tangan ini asli tanda tanganku bagaimana mungkin? Aaaaaa''
Rendi begitu prustasi karena tidak menemukan titik terang.
Rendi kembali ke rumah mwrtuanya untuk menjemput Arumi. Sudah beberapa hari ini Rendi menitipkan Arumi di rumah orang tuanya agar Arumi tidak sendirian.
Saat Rendi tiba Arumi sedang tertidur, setelah lelah marah-marah dan menangis.
''Nak Rendi kamu sudah sampai?'' Erina datang menghampiri Rendi yang baru saja memasuki rumah.
''Iya bu, di mana Arumi?'' Tanya Rendi karena tidak melihat keberadaan istrinya itu.
''Arumi sedang tidur. Nak Rendi bisa kita bicara sebentar, ini soal Arumi.''
Rendi terlihat bingung ''ada apa dengan Arumi bukankah dia baik-baik saja?''
''Sebaiknya kita bicara di sana!" Erina menunjuk ke arah ruang tamu."
Rendi berjalan mengekori Erina yang sudah berjalan terlebih dahulu.
__ADS_1
''Ibu mau bicara apa, ada apa dengan Arumi.'' Rendi tidak sabar menunggu jawaban dari meetuanya.
''Arumi sepertinya kurang sehat. Beberapa hari ini dia suka marah-marah tidak jelas lalu tiba-tiba menangis. Apa menurut kamu kita perlu membawa Arumi untuk konsultasi ke dokter?''