
Sela baru keluar dari kamar Marisa. Sejak kedatangan Sela Marisa selalu minta ditidurkan oleh Sela.
''Sudah tidur?'' Tanya Wisnu yang melihat Sela keluar dari kamar putrinya.
Sela mengangguk untuk mengiyakan.
''Bisa kita bicara?'' Tanya Wisnu lagi
''Tentu, mau bicara di mana?''
''Di teras saja biar lebih santai.'' Sela dan Wisnu berjalan bersama menuju teras rumah Wisnu.
''Mau bicara apa?'' Tanya Sela saat sudah duduk di kursi yang ada di teras itu.
''Sela sudah satu minggu kamu tinggal di rumahku, apa kamu tidak ingin pulang?'' melihat raut wajah sela yang yangsung berubah Wisnu buru-buru berkata ''Sela jangan salah paham aku tidak keberatan kamu tinggal di sini selama yang kamu mau, aku hanya khawatir suamimu akan mencarimu.''
''Dia sudah tidak perduli padaku, mana mungkin mencari.''
''Kenapa kamu bicara begitu, sebenarnya apa yang terjadi?''
''Suamiku sudah menikah lagi, dia menikah diam-diam dengan sahabatku sendiri. Kau tau dengan siapa?''
Wisnu hanya menggeleng.
''Dengan Arumi. Aku baru tahu seminggu yang lalu dan kamu tau, Arumi bahkan sedang hamil.''
Air mata Sela langsung meluncur tanpa bisa di cegah.
''Di saat aku terus berjuang agar bisa punya anak, suamiku malah menghianati aku dengan sahabatku sendiri. aku sama sekali tidak menyadarinya dan dengan bodoh aku percaya dengan sekenario yang mereka buat. Ironis bukan?''
Wisnu menyodorkan tisu untuk Sela. Sela menerima tisu itu dan menyeka air matanya.
''Kenapa hidupku begitu malang, sejak kecil aku sudah tidak punya keluarga dan di besarkan di panti asuhan. Setelah tamat sekolah masih harus menderita demi bertahan hidup. Hingga akhirnya bertemu Rendi yang menjadi penyelamat hidupku sekaligus sumber kebahagiaanku. Tapi sekarang hilang sudah semuanya.''
Sela kembali menyeka air matanya yang yang tak kunjung berhenti mengalir.
''Wisnu jangan khawatir besok aku akan cari kontrakan dan pergi dari sini.''
__ADS_1
Melihat air mata Sela yang terus mengalir membuat Wisnu jadi tidak tega. ''Kamu tidak perlu pergi dari sini, tinggallah selama yang kamu mau.''
Sela masuk dan meninggalkan Wisnu yang masih ingin menikmati hembusan angin malam di teras rumahnya.
''dreet, dreet, dreet'' ponsel Alex yang berada di saku jasnya bergetar. Alex segera meraihnya, terlihat nama Anisa di layar ponselnya.
''Dia pasti merindukan aku'' gumam Alex sambil menggeser tombol hijau di henponnya.
''Halo Alex apa besok kamu punya waktu?'' Suara Anisa langsung terdengar begitu panggilannya tersambung.
''Kenapa, apa sangat merindukan aku, jangan khawatir aku juga sangat merindukanmu.''
Anisa merinding mendengar ucapan Alex. Buru-buru dia menjauhkan henpon dari telinga dan menatap layar henponnya untuk memastikan dia tiadak menghubungi orang yang salah. Pasalnya Alex bukanlah orang yang pandai menggombal atau mengeluarkan kata-kata manis.
''Alex jangan bercanda, aku sedang serius.''
''Baiklah jangan marah, aku hanya sedang butuh hiburan agar tidak steres menghadapi pekerjaan yang begitu banyak selama tuan Rendi tidak masuk ke kantor. Tapi aku tidak bercanda soal merindukanmu.''
Anisa kasihan mendengar keluhan Alex yang sudah menjadi kekasihnya itu. Anisa tau selama seminggu Sela menghilang tuannya hanya sibuk berkeliling mencari Sela, tanpa menghiraukan urusan kantor. Untunglah dia punya asisten seperti Alex yang selalu bisa di andalkan.
''Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu, tapi kalau kamu sedang sibuk lain kali saja aku bisa menunggu.''
''Di kafe depan kantormu saja. Sudah ya, aku tutup. Asalammualaikum.''
Anisa langsung memutus sambungan telponnya dengan Alex.
''Dasar tidak romantis'' gerutu Alex sambil memasukkan kembali henponnya kesaku jas, namun ia tersenyum.
''Anisaaaa'' teriak Arumi dari kamarnya.
''Iya nyonya sebentar.'' Anisa bergegas menghampiri Arumi ''apa lagi yang di inginkan wanita ular ini'' gerutu Anisa sambil berlari.
''nyonya memanggil saya?''
''Makanan apa yang kamu sajikan ini rasanya sungguh tidak enak aku tidak suka.'' Arumi mendorong piring makanannya.
''Dimana mas Rendi, apa dia masih di ruang kerjanya?''
__ADS_1
''Iya nyonya tuan masih di sana, tadi tuan minta untuk makan malamnya di bawa ke sana saja. Apa nyonya ingin saya ganti makan malamnya?''
''Tidak usah, pergilah aku sudah tidak nafsu makan.''
Anisa mengangguk lalu pergi meninggalkan Arumi.
Arumi mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. ''Ini tidak bisa di biarkan! Percuma saja mas Rendi membawaku ke sini kalau setiap hari dia selalu berada di ruang kerjanya" kemudian Arumi berjalan menuju ruang kerja Rendi.
"Tok, tok, tok" mas Rendi apa mas di dalam?" Tidak ada sahutan dari dalam sana. Kemudian Arumi mendorong pintu dan masuk ke ruangan itu. Arumi berjalan mendekati Rendi yang ternyata sudah tertidur di sofa sambil memeluk foto Sela.
Arumi kembali mengepalkan tangannya. Wajahnya pun benar-benar tidak enak di lihat. ''Apa memeluk foto Sela lebih nyaman dari pada memeluk tubuhku ini mas'' Arumi menarik nafas dalam-dalam kemudian memaksakan sunyum di bibirnya agar tak terlihat jejak kemarahan disana. ''Aku akan meluluhkanmu mas hingga tidak ada jejak Sela di sana'' janji Arumi dalam hati.
''Mas, mas Rendi, bangun mas'' Arumi menggoyang pelan tubuh Rendi.'' Rendi membuka matanya perlahan, entah karena belum sepenuhnya terbangun atau karena terlalu merindukan Sela, Rendi melihat bayangan Sela pada Arumi.
''Sela kamu pulang sayang?'' Kata Rendi sambil memeluk tubuh Arumi yang di sangkanya Sela.
''Mas ini aku Arumi!'' Rendi langsung menjauhkan tubuhnya dari Arumi sambil melihat dengan jelas wajah wanita yang ada di depannya.
''Arumi maaf, aku...''
''Tidak apa-apa mas'' Arumi langsung memotong ucapan Rendi. ''Aku mengerti mas pasti sangat merindukan Sela, sekarang sebaiknya mas tidur di kamar agar lebih nyaman, besok kalau mas ijinkan aku temani mencari Sela.''
''Arumi terimakasi karena kamu mau mengerti aku.'' Arumi mengangguk sambil tersenyum kepada Rendi. Walau sebenarnya hatinya sedang sangat panas karena cemburu.
''Sela kamu tidak boleh di temukan!'' batin Arumi.
''Mama Seelaaa'' seperti biasa pagi-pagi sekali Marisa sudah ada di depan kamar Sela.
''Pagi cantik'' kata Sela setelah membuka pintu.
''Mama Sela ayo kita sarapan, bibik sudah masak untuk kita.''
''Apa mama Sela kesiangan?'' Sela melirik jam dinding yang ada di kamarnya.
Marisa tertawa sambil menggeleng. ''tidak, mama Sela tidak kesiangan. Tapi kata papa hari ini kita mau liburan. Makanya bibik di suruh masak sarapan lebih pagi.'' Kata Marisa dengan girangnya.
''Ayo ma'' Marisa menarik tangan Sela. Mereka berdua berjalan keluar dari kamar, bersamaan dengan Wisnu yang juga keluar dari kamarnya.
__ADS_1
''Marisa ke ruang makan duluan ya. Mama Sela mau bicara sama papa sebentar.'' Marisa berlari ke ruang makan meninggalkan Sela dan Wisnu.
''Marisa jangan lari-lari'' teriak Wisnu sambil mengeleng gemas melihat tingkah putrinya.