
🌹🌹🌹
Pendaratan pesawat yang sempurna. Kayana masih menunggu semua orang selesai dengan urusan masing-masing, barulah setelah itu dirinya berencana turun dari pesawat.
“Sapu tangan Ibu ?” Sesaat menyadari wanita yang baik hati dan penuh kasih itu telah berdiri, mengambil tas di bagasi atas dan berencana melangkah.
“Buat kamu saja nak “, tersenyum penuh kasih. Sekali lagi, perasaan hangat memenuhi hati Kayana.
“Simpanlah !”
“Terima kasih Bu “. Menunduk hormat di sertai senyuman senang.
Wanita itu pun memegang jemari Kayana erat.
“Sampai bertemu lagi ya !” menarik Kayana dalam pelukannya, membelai rambut panjang gadis cantik itu. Hingga, beberapa saat kemudian melangkah meninggalkan Kayana. Kayana melihat, ada dua orang lelaki dengan setelan baju kemeja biru tua menunggu di ujung jalan, di dalam pesawat. Menunggu penuh kepatuhan pada si Ibu baik hati itu.
“Terima kasih ya Bu dan sampai bertemu lagi “. Kembali menunduk hormat.
Ahh, apa iya aku masih bisa bertemu Ibu itu lagi, di tengah hiruk pikuk keramaian Kota besar ini ? Bertanya sendiri di dalam hati.
Pesawat mulai sepi, Kayana melangkah turun ke bagian penjemputan. Satu tas besar dan satu tas sandang juga cukup besar, di tambah lagi satu tas tangan. Kayana sibuk melihat sekeliling.
Apakah utusan Rumah Sakit yang menjemputku benar-benar datang ya ? Bertanya pada diri sendiri di dalam hati, sambil sibuk menoleh kesana kemari. Sempat gak datang, bisa gawat. Aku mana tahu alamat yang harus aku tuju.
Kayana melangkah agar lebih ke depan, memperhatikan lalu lalang orang yang sangat ramai. Bandara internasional itu sedang di jam sibuk, semua jenis manusia sedang melakukan kegiatan masing-masing.
Kayanaa lebih berusaha memfokuskan diri mencari sekali lagi, seseorang yang tidak di kenalnya yang ditugasnya menjemput dirinya.
Hingga, kertas putih bertuliskan namanya terpampang di kejauhan. Ada lelaki yang mungkin usianya lebih muda dari sang Ayah juga sedang sibuk melihat ke segala arah. Mencari sosok wanita bernama dokter Kayana Zhafira.
“Maaf, apa Bapak yang di tugaskan menjemput saya ?” Berdiri di depan si lelaki pemegang kertas bertulis namanya.
“Apakah Ibu ini adalah Bu dokter Kayana Zhafira ?” Balik bertanya.
“Benar, itu nama saya, Pak “. Tersenyum
“Wah “. Menurunkan kertas tersebut, dan mengulurkan tangan. Kayana pun menerima jabat tangan itu dengan tetap mempertahankan senyumnya . “Saya minta maaf Bu dokter. Saya tidak tahu kalau Ibu adalah orang yang saya jemput “. Menunduk hormat.
“Perkenalkan Bu dokter. Saya Jomi, saya bertugas di bagian administrasi Rumah Sakit Ciraka. Dan hari ini, saya mendapat tugas istimewa menjemput Bu dokter “.
__ADS_1
“Saya dokter Kayana Zhafira, Pak. Bapak bisa panggil saya Kayana atau Ana, Hehehe, terserah Bapak mana yang enak saja “.
“Bu dokter Kayana saja, boleh ?” Menjawab sambil membawakan barang-barang Kayana. Sedang Kayana, serta merta terdiam. Kata Kayana langsung membuat jantungnya berdebar keras. Sesaat pikirannya melayang ke sosok Praditio, kekasih hatinya. Eh, ralat mantan kekasihnya. Selama ini, hanya Pradito seorang yang memanggil namanya depannya lengkap. Alasannya ? Praditio ingin memiliki panggilan berbeda dari yang lain untuk dirinya.
“Soalnya nama Kayana itu artinya ketulusan hati, jadi lebih terasa enak Bu di ucapkan “. Masih sibuk berbicara, tidak menyadari perubahan air muka Kayana.
“Saya terserah Pak Jomi saja “. Berusaha mengendalikan perasaan, meyakinkan diri sekeras mungkin untuk melupakan Praditio.
“Mari Bu, sebelah sini “. Menunjukkan jalan ke arah mobil yang sudah terparkir rapi, dengan tangan memegang kokoh barang-barang Kayana.
Sementara Kayana telah mendarat di Kota besar yang sangat asing baginya, sedang terlena menatap gedung-gedung tinggi sepanjang jalan yang tengah di laluinya. Terkagum-kagum dan terpesona, Kota ini sangat megah, sangat jauh dari kesederhanaan kampung halamannya.
Maka, di sisi lain Kota besar itu, di tengah sibuknya jam kerja orang kantoran pagi menjelang siang ini, di sebuah gedung perkantoran di pusat nadi tersibuk Kota. Sadewa sedang serius membaca laporan terbaru dari Martin. Laporan hasil penyelidikan Martin tentang Paman Gunta, tentang dugaan korupsi yang sempat di tuduhkan Sadewa pada lelaki yang semasa Ayahnya ada, sangat di percaya.
“Jadi “. Menutup bundelan map yang tadi di bacanya. “Paman Gunta di fitnah ? Di jadikan kambing hitam oleh Kisan ?” Melihat kepada Martin yang duduk tenang pada kursi di depan meja kerja Sadewa.
“Benar Kak “. Antusias menjawab. “Paman Gunta jujur padamu, dia tidak pernah berkhianat. Justru anak baru yang tidak tahu di untung itu yang memanfaatkan situasi dan menjadikan Paman Gunta tertuduh “.
“Sialan Kisan “. Menunjukkan ekspresi marah.
“Kau juga sih Kak. Dari awal sudah aku bilang, jangan cepat percaya, pelajari dulu ! Ini enggak, main marah langsung, main lempar lagi. Sampe koyak tuh kepala orang tua !” Melotot tajam. “Udah dosa nuduh, dosa marah, dosa ngelempar pula. Makan tuh dosa “. Mengejek senang.
“Kau !” Kesal, tangan refleks mengapai pena di dekat tangan kanan. Dan secepat kilat melempar begitu saja ke arah Martin.
Sadewa acuh, melihat malas pada Martin, sangat tidak terpengaruh.
“Kak, kamu harus minta maaf pada Paman Gunta !” Sudah duduk baik di kursi, di depan meja kerja Sadewa kembali. Sekarang bersikap serius.
“Iya “. Mengangguk patuh. “Kau tahu di mana Paman Gunta sekarang ?”
“Aku menyuruhnya untuk istirahat dalam beberapa hari ini. Mungkin dia ada di rumahnya “. Menjawab dengan sedikit ragu.
“Tolong kau pastikan keberadaan Paman Gunta, nanti saat waktunya sudah tepat, aku ingin menemuinya !”
“Baiklah, akan segera aku kerjakan “. Berdiri dan berjalan menuju pintu.
“Hampir lupa “. Martin memukul kening sendiri dengan tangan kanannya.
“Kak “, berbalik badan. Tetapi, tetap berdiri di posisinya. “Bunda sudah kembali dengan pesawat yang mendarat beberapa saat tadi, tetapi mungkin Bunda gak langsung ke rumah. Sepertinya Bunda ke rumah itu bersama dua pengawalnya “.
__ADS_1
“huuuffftttt.....”, hembusan nafas dalam Sadewa.
“Biarkan saja, jangan ganggu Bunda. Kalau Bunda mau pulang ke sana, nanti kita yang cari waktu pas untuk bertemu bunda di sana !”
“Ya “. Menangguk mengerti.
“Keluarlah !” Sadewa kembali fokus pada pekerjaannya.
 
 
Martin patuh, memegang gagang pintu dan membukanya perlahan.
Hingga....
“Kak...masih ada satu hal lagi “. Kembali mengingat sesuatu.
“Dokter spesialis anak yang baru sudah di jemput Pak Jomi beberapa waktu tadi “.
“Biarkan saja, biar Hadi yang mengurus semua masalah itu !” Tidak nampak antusias.
“Mamang kamu gak penasaran kak ? Lagi pula apa gak aneh, dokter Hadi begitu cepat menemukan penganti dokter spesialis anak yang lama ?” Memasang wajah berpikir.
“Martin !!!!” Merasa sangat terganggu. “Pekerjaan di perusahaan ini sudah sangat banyak, kenapa untuk masalah Rumah Sakit harus aku juga turun tangan. Aku sudah mempercayakan manajerial Rumah Sakit pada Hadi. Aku membayar Hadi dengan nominal lebih dari pantas untuk menjadi dokter sekaligus pengelola Rumah Sakit “. Menarik nafas sesaat. “ Dan setahu aku, Hadi sangat berkompeten ! Jadi, biarkan saja dia yang memikirkan kapan waktu terbaik untuk mencari dokter baru atau tidaknya “. Berbicara dengan nada tidak senang.
“Yaaaaaa, aku kan hanya tanya Kak “. Bersikap biasa saja, tidak terpengaruh dengan nada tidak senang Sadewa. “Dokter spesialis itu bukanlah dokter sembarangan, dan menurut Kak Hadi, dokter yang di terimanya adalah dokter terbaik. Aneh ?” Berbicara dengan pikiran melayang entah kemana.
Sedang Sadewa, yang beberapa detik tadi telah kembali fokus ke laptop di hadapannya. Dengan tangan kiri sibuk memainkan sebuah pena, akhirnya merasa terganggu dengan celotehan Martin. Kesal atas pecahnya konsentrasi dirinya, maka, dengan sekuat tenaga Sadewa melemparkan pena yang tadi bertengger baik di tangan kirinya pada Martin.
“Kakkkkkkkk “. Mengelak cepat dengan perasaan kesal.
“Mangkanya, jangan ganggu aku ! Pergi sana, urus urusanmu sendiri ! Kau itu, aku bayar untuk jadi sekretarisku, bukan tukang gosip “. Merutuki Martin.
“Nah, itu tahu aku di bayar sebagai sekretaris di perusahaan ini. Lantas, kenapa kamu sibuk latihan melempar ke arah wajah tampan mempesonaku ini ? Apa kamu busuk hati padaku ?” Sengaja membuat Sadewa semakin kesal.
“Ya Tuhan !” Mengangkat kedua tangan ke arah kepala, membuat rambutnya terdorong ke belakang seluruhnya.
“Keluarrrrr !” Membentak Martin keras.
__ADS_1
“Iya, iya..... “, sikap biasa dan santai. Ada ekspersi senang di wajah. “Enggak usah teriak-teriak juga Kak ! Aku juga memang mau keluar kok. Memang kamu pikir aku betah bersama lelaki arogan seperti kamu “. Membuka pintu dan segera keluar. Membiarkan Sadewa menghela nafas dalam sambil menggelengkan kepala.
Itulah Martin, selalu saja bisa memprotes Sadewa sebebas yang dia suka. Tidak takut pada sosok Sadewa, karena Martin sangat tahu siapakah Sadewa sebenarnya. Dan karena itu, Martin sangat menghormati Sadewa.