Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Pertanyaan Dokter Hadj


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Sekarang ceritakan padaku, ada apa antara kau dengan dokter Kayana !” Sadewa baru saja meneguk air putih hangat yang telah dihidangkan bagian pentry barusan. Dokter Hadi telah memberi banyak waktu pada Sadewa untuk menenangkan diri, meredakan emosinya.


“Aku tidak suka padanya !” Jawab Sadewa lancar.


“Baiklah, baiklah “. Mencoba lebih tenang, berharap Sadewa juga bisa tenang. “Sekarang tenangkan dirimu dulu “.


Martin hanya diam, menunggu di kursi kerja dokter Hadi. Tidak sedetik pun pandangan matanya lepas dari Sadewa. Dan begitu pula dokter Hadi, mencoba menunda rasa penasarannya terhadap diri Kayana di mata Sadewa. Sangat aneh, tergolong tidak masuk akal malah bagi Hadi. Kalau lelaki yang telah menjadi sahabatnya sejak bangku sokalah ini, bisa begitu marahnya terhadap Kayana.


Memang sih, dokter Hadi baru mengenal Kayana dalam hitungan jam saja. Semalam Kayana melapor untuk bertugas sebagai dokter spesialis anak yang baru di Rumah Sakit yang dipimpinnya. Dan hari ini, Kayana memulai tugas mulianya itu. Tetapi, walaupun baru hitungan jam saja, sesungguhnya dokter Hadi bisa merasakan kalau Kayana adalah tipe dokter yang tulus dan berdedikasi dalam bekerja. Dan benar saja, sudah lima orang pasien yang melalui pemeriksaan si dokter baru itu. Dan semuanya memberi nilai plus untuk kinerja Kayana. Semua langsung suka pada Kayana.


Lantas, kenapa Sadewa begitu terlihat membenci Kayana ?


Dokter Hadi berpikir dalam diamnya.


“Boleh aku tahu, apa yang membuatmu tidak suka pada dokter Kayana ?” Dokter Hadi memperbaiki duduknya, kaki di silang di depan. Dirinya berusaha sesantai mungkin menghadapi sahabat baiknya itu. Dia harus tenang dalam menghadapi si tuan muda super pemarah ini.


“Dia lancang sekali. Apa kau tahu ? Dokter barumu itu lancang sekali “. Masih marah, tetapi masih bisa mengendalikan nada suaranya.


“Tidak “. Dokter Hadi menjawab cepat.


“Berani sekali wanita itu memindahkan mobilku keparkiran dengan aku yang ada di dalamnya. Dan dia meninggalkan aku begitu saja di dalam mobil “. Tangan Sadewa mengepal.


“Oya ?” Hadi cukup terkejut. “Kayana melakukan itu ?”


“Iya, wanita yang merepotkan orang itu pelakunya “. Membentak Hadi, merasa kalau Hadi tidak percaya padanya.


“Tunggu !” Dokter Hadi merubah posisi duduknya. “Wanita yang merepotkan katamu ?”


“Iya, merepotkan !” Nampak kesal karena harus mengulang kata yang sama. “Telingamu sedang tidak bermasalahkah ?”


“Dewa, kau kenal Kayana ya ?” Pertanyaan dokter Hadi membuat Martin gelisah. Mulutnya sangat resah untuk bertanya. Hatinya seakan memiliki rasa tidak terima. Sedang Sadewa, dia nampak biasa saja dengan pertanyaan dokter Hadi barusan.

__ADS_1


“Iya “. Sadewa menganggukkan kepalanya.


“Bagaimana bisa, Kayana masih baru di sini, dia baru beberapa hari di sini Dewa ?” Dokter Hadi mengerutkan keningnya.


“Dua hari yang lalu, saat aku membelikan pesanan Quinsha di swalayan langganan, aku bertemu dengannya “. Sadewa menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Sadewa mencoba memutar memorinya tentang pertemuan perdananya dengan Kayana.


“Kemudian ?” Dokter Hadi menunggu lanjutan cerita Sadewa.


“Aku sedang menghitung belanjaan di kasir. Dia berdiri di belakangku dan meminta izin agar belanjaannya didahulukan. Cih, merepotkan saja “. Mata Sadewa mencerminkan sikap tidak sukanya.


“Apakah dia berbicara tidak sopan saat meminta didahulukan ?” Dokter Hadi masih berusaha merunut cerita Sadewa. Dirinya masih belum mengerti.


“Tidak, dia berbicara baik. Bahasanya bagus “. Sadewa masih ingat dengan baik bagian itu.


“Dan apa penyebab Kayana meminta didahulukan ?” pertanyaan baru dokter Hadi.


“Oo, itu karena masalah kewanitaannya “.


“Dia meminta agar aku memberi kesempatan padanya untuk membayar pembalutnya, itu alasannya minta didahulukan “. Sadewa memperjelas ceritanya.


“Astaga Dewa “. Dokter Hadi nampak tidak percaya, menggeleng heran, sangat tidak percaya. “Hanya karena masalah pembalut dan kamu langsung tidak suka pada dokter Kayana ? Ayolah Dewa, yang benar saja ?”


“Terlalu merepotkan. Seharusnya dia bisa mengurus dirinya dan masalah bulannya sendiri, jangan manja apa lagi sampai menganggukku “. Masih merasa dirinya benar.


“Dewa, masalah bulanan wanita tidak sesederhana yang kau pikirkan. Ah, padahal kamu punya adik perempuan dan seorang kekasih pula. Masa itu saja masih tidak paham ?” Dokter Hadi menatap Sadewa serius.


“Adikku dulu tidak pernah merepotkanku dengan masalah bulanannya. Dan Melani, dia bisa mengurus masalah itu sendiri !” Sadewa menantang tatapan kedua bola mata dokter Hadi.


“Dewa, kau ini kenapa sebenarnya ? Cobalah jangan membuat suatu kejadian yang sangat tidak penting menjadi begitu besar ! Kau bahkan menendang Tedi, ada apa dengan isi kepalamu ? Kenapa kian hari kau semakin sulit mengontrol emosimu ?” Yang diberikan pertanyaan malah memasang wajah masam.


“Iya benar !” Setelah sekian lama terdiam, suara emas Martin keluar juga. “Dua kali malah nendang si Tedi tadi “.


“Diam kau Martin !” Mode amarah Sadewa kembali lagi. Membentak Martin yang di rasa ikut menyudutkannya.

__ADS_1


“Tidak hanya itu kesalahan yang di buat wanita itu !” Sadewa kembali melanjutkan penjelasannya pada Hadi.


“Dia juga mencoba menculik Quinsha, untung aku segera menggagalkan niat busuknya itu “. Bicara berapi-api.


“Bohong “. Martin berdiri, membantah perkataan Sadewa dengan suara lantang.


“Apa ?” Dokter Hadi terkejut bukan kepalang.


“Bohong kak Hadi “. Bantah Martin keras. “Aku ada di sana waktu itu, justru Kayana yang membantu Quinsha membeli kue untuk bunda Nia. Dan satu lagi, mungkin kakak lupa, biar aku ingatkan kakak kalau Quinsha sangat menyukai Kayana !” Martin berjalan ke sisi sofa di sebelah dokter Hadi. Mendudukkan dirinya di sana. “Kakak bahkan membentak Quisnha hingga gadis kecil itu menangis ketakutan. Dan semua kakak lakukan hanya karena Quisnha menyukai Kayana “.


“Kau !!!” Kepalan tangan Sadewa kembali membesar. “Aku sudah bilang tutup mulutmu ! Kau inginku tonjok ya ?”


“Cukup Dewa !” Kali ini dokter Hadi berusaha menghentikan kemarahan Sadewa. Suara yang memberi perintah tegas, berhasil membuat Sadewa diam.


“Martin, tolong lihat kondisi Tedi !” Menyentuh bahu Martin.


“Ayolah, tolong kau lihat kondisi Tedi !” Dokter Hadi tahu kalau Martin masih nerniat membantah semua cerita Sadewa.


Martin menghembuskan nafas dalam, dan “baiklah kak “. Suara berat Martin, mengalah pada keinginan Hadi.


Sesaat suasana di ruang kerja dokter Hadi menjadi sunyi. Sadewa diam, menyandarkan tubuhnya pada sandaran empuk sofa. Memandang lurus ke arah langit-langit ruang praktek dokter Hadi, entah apa isi kepalanya saat ini, dokter Hadi hanya bisa menerka-nerka saja.


“Sebenarnya ada apa Dewa ?” Seluruh pengetahuan Hadi tentang sahabatnya ini, dirinya bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya kemarahan Sadewa pada Kayana bukanlah masalah pembalut semata. Pasti, pasti ada hal lain dan Kayana hanya pemicu kemarahannya saja. Itulah kata hati Hadi sedari tadi.


“Dewa, kalau tentang siklus bulanan wanita. Aku rasa kau benar-benar tidak hebat mengarang cerita untuk menjadi alasan kemarahanmu. Apa lagi masalah Kayana bersama Quinsha, sejujurnya aku sangat yakin semua penjelasan Martin adalah benar “. Sadewa masih diam. “Apa ini tentang Melani ?” Tebak dokter Hadi kemudian.


Sadewa diam, hanya suara nafasnya terdengar berat. Dokter Hadi menunggu, tidak berniat memaksa Sadewa bersuara.


“Melani sangat ingin bertemu bunda, dan dia juga ingin menghabiskan hari bersama Quinsha “. Suara pelan Sadewa terdengar.


“Dan bunda masih berat bertemu kekasihmu itu ?” Sekali lagi dokter Hadi menebak situasi Sadewa saat ini.


“Beberapa hari yang lalu iya, tetapi pagi tadi bunda setuju “.

__ADS_1


__ADS_2