
🌹🌹🌹
“Seperti apa kondisi pasien?” Kayana baru saja mencuci tangan dengan sabun dan telah selesai memakai jas dokternya, setengah berlari dirinya menuju ruang layanan gawat darurat Rumah Sakit sambil memakai sarung tangan steril khusus dokter.
Diandra yang mengekor di belakang Kayana menjabarkan semua riwayat pasien. Penyakit bawaan hingga, situasi sebelum pasien masuk Rumah Sakit.
“Alergi kacang ya?” Tanya Kayana sebelum memasuki pintu ruangan.
“Benar,” jawab Diandra sangat cepat.
“Dokter Kayana,” dokter Hadi menyambut kedatangan Kayana, mengarahkan Kayana ke tirai hijau dipojokan ruangan, kebagian penanganan pasien dengan kode merah.
Ya Tuhan….hati kecil Kayana memilu saat menatap wajah kesakitan yang tergolek lemas, mulai memutih dihadapannya.
“Shasa”, Kayana mengusap pipi cabi yang jauh di dalam ingatannya itu sangat mengemaskan. Tetapi, saat ini justru mengenaskan.
“Anda mengenalnya?” Dokter Hadi sedikit heran mendapati Kayana memanggil nama Quinsha barusan.
“Iya,” hanya itu jawaban yang disampaikan Kayana. Dan setelah itu, dirinya mulai berusaha melakukan segala apa yang terbaik untuk gadis kecil yang nampak tidak berdaya.
__ADS_1
Diagnose awal di mulai, Kayana meminta detail tentang riwayat alergi yang di idap oleh Quinsha. Termasuk, asal mula serangan alergi ini menerpa Quinsha, berapa banyak jumlah kacang yang dikonsumsi anak kecil ini. Hingga, sudah berapa lama kejadian tersebut terjadi.
Dengan semua informasi itu, Kayana segera memeriksan fisik Quinsha, dan terakhir meminta pihak laboratorium untuk memeriksan antibody tipe alergi dalam aliran darah Quinsha. Kayana berusaha melakukan yang terbaik untuk Quinsha.
***************
EPILOG
“Nyonya, maaf menganggu,” Bayu berdiri di belakang Syania yang sedang bercerita di depan sang suami, Aisakha Elang Britania.
“Iya ada apa Bayu?” Syania berdiri dan menunggu Bayu berbicara. Agak heran sebenarnya, mendapati Bayu yang mendadak berani menganggu dirinya saat sedang bersama sang suami tercinta.
“Ada telepon dari bi Nan, nona kecil di Rumah Sakit sekarang.” Tidak bermaksud bertele-tele, Bayu langsung menyampaikan berita penting itu pada Syania.
“Alergi nona kecil kambuh nyonya,” Bayu menunduk sopan.
“Ya Tuhan, Ya Tuhan…..,” Syania meletakkan tangan kanannya ke dada. Dirinya lumayan shock.
“Su, suamiku, aku pamit dulu ya. Aku harus melihat cucu kita! Nanti, kapan-kapan aku ke sini lagi ya sayang.” Syania menatap lurus ke depan. “Aku mencintaimu suamiku,” ucap Syania lirih sesaat sebelum berpisah dari suami tercintanya itu.
__ADS_1
Maafkan saya tuan, saya telah lancang menganggu waktu tuan bersama nyonya. Saya benar-benar mohon maaf. Ucap Bayu lirih dalam hati, menunduk hormat ke arah depan tempat sang tuan berada. Ah, andai tuan bisa terus mendampingi nyonya, bersama-sama kami selalu, selamanya.
***************
Hallo...hai...kaka-kaka readers budiman dimana pun berada. Sehat selalu ya kak, dan sukses selalu untuk semua aktivitas hariannya.
Alhamdulilah, setelah tujuh purnama akhirnya novel kesayangan kaka-kaka bisa up lagi😁
Mohon maaf untuk waktu yang sangat lama ini kak🙏semoga ketidaknyaman ini tidak membuat kaka-kaka readers yang budiman meninggalkan author🙏
Author gak bisa hidup tanpa kaka 🥰 (ahh..lebay mu tor)
Hehehehe...ini serius kak, ini adalah ungkapan hati terdalam author untuk semua Like dan Koment kaka🌹juga untuk vote dan poin, serta koinnya🥳🥳terima kasih banyak ya kak.
Mohon supportny selalu kak, mohon jejak LIKE dan KOMENTnya💝
Selamat menikmati kak, selamat membaca dan semoga suka😇
Sehat selalu kaka-kaka readers budiman dan jangan lupa berbahagia😊
__ADS_1