Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Urusan Parkiran


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Apa Hadi tidak ada ?” Suara pelan Sadewa dengan mata terpejam. Sadewa merasakan ada pergerakan pada mobil mewahnya, tetapi masih berat membuka mata.


 


Mobil berhenti, Kayana memarkir mobil diposisi terbaik. Membiarkan mesin mobil hidup agar pendingin udara tetap bekerja.


 


Kayana turun, menutup pintu mobil sepelan mungkin, tidak berniat mengganggu siapapun yang ada di kursi belakang mobil. Kayana sangat ingin segera menyelamatkan pasienny.


 


“Martin “. Sadewa mendengar pintu mobil di tutup perlahan. “Tedi ?” Merasa tidak mendapat jawaban dari Martin, Sadewa memanggil nama sopir pribadinya. Tetapi, tidak juga ada suara yang menyahut panggilannya.


 


Sementara itu...


 


“Segera bawa mobil ambulansnya ke depan !” Memberi perintah kepada sopir ambulans. Kayana berdiri siaga, menunggu di pintu lobbi.


 


Matilah kita semua.


Si sopir ambulans berlari kecil mobil yang berisi pasien, ada rasa takut dan debaran jantung keras yang tengah di tanggungnya. Bayangan kemarahan Sadewa sedang memenuhi isi kepalanya.


 


“Ayo, semua segera bantu !” Perintah tegas Kayana saat pasien telah di bawa berjalan di koridor menuju ruang gawat darurat.


 


Dengan cekatan Kayana segera melalukan perawatan, kondisi pasien cukup tidak baik. Ada tanda merah yang merupakan kode kondisi gawat untuk semua personil di Rumah Sakit, siaga untuk segala kemungkinan terburuk.


 

__ADS_1


Kita tinggalkan sejenak dokter Kayana dengan usaha terbaiknya menyelamatkan pasien kecilnya, kita beralih keparkiran, jangan lupakan pewaris Sunjaya Company yang masih memejamkan mata, sendirian di dalam mobil.


 


“Martin !!!! Tedi !!!!” Teriakan Sadewa memenuhi area parkir. “Kurang ajar kalian semua !” Marah dan sangat ingin menghajar siapa saja.


“Beraninya kalian meninggalkan aku sendirian, sudah bosan hidup ya ?” Berteriak keras.


Ba, bagaimana ini.


Tedi, sopir pribadi Sadewa gemetar ketakukan. Nyaris sesak nafas saking takutnya.


 


“Tuan Martin, segeralah kembali ! Tuan muda sedang mengamuk “. Bergumam penuh harap. Betapa berat kaki Tedi di pakai untuk melangkah.


 


“Kau sudah tidak sayang nyawamu lagi ya ?” Sadewa keluar dari mobil, berdiri dengan tatapan membunuh pada Tedi. Sedang Tedi, dia sedang berusaha tingkat kesadarannya di titik maksimal. Rasa takut luar biasa terhadap amarah sang majikan, nyaris membuat dirinya kehilangan kesadaran.


 


 


“Sialan kau “. Menendang dada Tedi, si sopir setia itu langsung tersungkur. “Kalau sudah bosan hidup jujur saja, jangan mengerjai aku seperti ini !”


 


“Ampun tuan “. Dengan suara bergetar Tedi segera berdiri. Padahal rasa sakit sedang memenuhi seluruh dadanya. Tedi mencoba mengabaikan rasa sakit itu, ketakutannya lebih besar dari kesakitannya.


 


“Kurang ajar, setannnn !!!” Berteriak marah dengan kaki yang kembali melayang ke dada Tedi, kedua kalinya Tedi terjungkal. Rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


 


“Astaga, kenapa kak Dewa mengamuk kak ?”


Ternyata adegan terakhir kaki Sadewa sampai di dada si sopir pribadi terlihat oleh kedua mata Martin. Kaget, Martin pun memaksa Hadi mempercepat langkah kaki mereka ke arah Sadewa. Jelas terlihat, Sadewa sedang marah besar.

__ADS_1


 


“Apa lagi kali ini masalahnya ?” Dengan langkah kaki cepat, Hadi sempat menggeleng sambil mengajukan pertanyaan kepada Martin. Dokter yang merupakan pengelola manajemen Rumah Sakit milik Sadewa ini, terlihat tidak habis pikir dengan kemarahan sahabatnya itu.


 


“Entahlah kak, padahal tadi semua baik-baik saja. Aku tinggalkan kak Dewa sedang tertidur di mobil, Tedi menjaganya “. Martin sama tidak habis pikirnya.


 


 


“Semakin hari emosi Sadewa semakin sulit di kendalikan. Kenapa Sadewa sebenarnya, apa yang terjadi belakangan ini ?” Hadi masih sempat mengajukan pertanyaan kembali pada Martin.


“Aku juga heran kak, tambah hari tambah temperamen. Kaki dan tangannya tambah aktif saja menghajar orang. Ampun aku, kak “. Menghela nafas, sempat menatap Hadi sekilas.


 


***************


 


EPILOG


 


“Kak, jangan cari ribut !” Martin memegang erat tangan Sadewa, menghalangi Sadewa yang terlihat akan memorak-porandakan Rumah Sakit mewah itu.


 


“Lepaskan aku !” Menepis keras tangan Martin. Membesarkan bola mata marah pada Martin. “Jangan coba menghalangi aku, atau kau akan merasakan akibatnya !”


 


“Dewa, ini Rumah Sakit. Kau jangan berbuat kekanak-kanakan begini !” Dokter Hadi ikut membantu Martin mencegah kemurkaan Sadewa. “Lihat semua orang memperhatikan kamu. Tidak tahu malukah kau ini, seorang keturunan Britania membuat keributan di Rumah Sakit “.


 


Benar saja, semua orang-orang di Rumah Sakit itu, semua mata di lobby utama sedang menjadikan lelaki tampan dengan barisan rambut halus di dagunya sebagai tontonan. Penasaran, semua orang ingin tahu apa yang terjadi dengan lelaki tampan dengan massa otot yang nampak luar biasa itu. Keributan sedang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2