Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Kata-kata dan Janji


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Tidak mau cerita sama bibi ya sudah tidak apa-apa “. Bibi membelai punggung Kayana perlahan, mengalirkan rasa sayang yang begitu besar hingga menembus kesudut terdalam hati Kayana. “Tetapi, kalau boleh bibi nasehati, non dokter jangan terlalu sering murung, duduk diam melamun. Non masih muda, bukan seperti ini sikap seorang anak muda dalam menyingkapi suatu permasalahan. Semangat non, masalah itu sudah jadi bagian dari sebuah kehidupan, pasti sifatnya dan tidak bisa di tolak. Itu pertanda manusia hidup non, akan ada masalah di sekitarnya yang menempa dirinya menjadi manusia dewasa “. Ucapan panjang bibi disertai senyum penuh kasih. Berharap akan ada nasehat yang bisa membuka hati Kayana untuk lebih semangat lagi.


“Non..”, panggil bibi kemudian.


Kayana memiringkan wajahnya menghadap pada bibi. Menatap mata tua dengan senyum padanya.


“Pergilah keluar, jangan berkurung di rumah saja. Dunia ini luas, tidak hanya berisi masalah kemarin. Tetapi, ada juga kebahagiaan untuk hari esok !”


***************


“Bunda terserah padamu saja nak “. Suara pasrah Syania di ujung telepon. Sadewa, putra tertuanya sedang menjelaskan situasi yang dihadapinya saat ini. Pertemuan penting dengan pihak Mersi and Phanton tidak bisa di undur lagi. Jam pertemuan tersebut sama seperti dengan jam janjian antara sang bunda dengan si kekasih hati.


Sempat memilih menomor satukan bunda dan kekasih hatinya, meminta Martin mengundur waktu pertemuan, mengatur ulang dengan pihak calon klien mereka. Sayangnya nihil, penjelasan Martin padanya membuat keputusan Sadewa sudah pasti. Melani akan bertemu sang bunda dan gadis kecilnya, Quinsha.


“Semoga pertemuanku nanti gak lama bunda, Dewa langsung menyusul bunda ya “. Suara Sadewa mencoba terdengar antusias.


“Iya Dewa, gimana baiknya saja “. Lagi-lagi jawaban bunda terdengar biasa, hanya iya dan itu saja.


“Bunda, percayalah untuk kali ini saja. Dewa mohon beri kesempatan pada Melani “. Ucap Sadewa kemudian.


“Baik, baik bunda turutin kemauan kamu. Tapi, bisakah bunda minta pada kamu nak, andai jawaban bunda tetap tidak. Maukah kamu menerimanya ? Putuskan hubunganmu dengan wanita itu, selamanya ?” Akhirnya Syania, sang bunda penuh pengertian ini menyuarakan isi hatinya.


Sadewa terdiam, perasaannya yang sedari awal sudah ragu semakin tidak menentu. Tidak enak, ada ketakutan tidak berdasar.


“Bagaimana ?”


“Baiklah bunda, Dewa akan penuhi apapun perkataan bunda saat bunda telah selesai bertemu Melani. Apa kata bunda adalah keputusan Dewa, Dewa janji. Tetapi, tolong bunda berlapang hati, tolong bunda kenali Melani ya bun. Beri kesempatan padanya untuk memperlihatkan sisi baiknya pada keluarga Britania “. Janji adalah janji. Dengan keseriusannya Sadewa menyanggupi permintaan sang bunda. Sadewa harus adil, mempertemukan sang bunda dengan Melani bukan hal mudah. Sekarang, bunda sudah berkenan dan Melani sudah berjanji akan berusaha menjadi calon menantu idaman. Akan membuka sisi penolakan bunda pada dirinya dan membuat dirinya bisa di terima keluarga besar Britania.


“Ya sudah nak, bunda akan pegang kata-katamu “. Syania mengelus dadanya, benar-benar berharap Sadewa tidak akan mengingkari semua perkataannya barusan.


“Iya bunda, bunda jangan pernah ragukan Dewa “. Tanpa disadari oleh sang bunda, saat ini Sadewa sedang menganggukkan kepalanya. Sadewa benar-benar menyanggupi semua permintaan bunda Syania. “Oo iya bunda, nanti nanti bunda angsung saja ke jalan Dipro, gak usah ke rumah dulu. Nanti bunda terlalu jauh mutarnya. Shasa biar nanti Dewa minta di antar sama Janu dan bi Nan ke sana “. Usul Sadewa.

__ADS_1


“Apa gak apa-apa seperti itu ?” Bunda sepertinya kurang setuju.


“Tidak apa-apa dong bunda, kan sama bibi. Shasa gak di lepas sendiri. Lagi pula kalau ada bibi nanti bunda bisa punya waktu sedikit lebih banyak untuk berbincang-bincang sama Melani “.


“Kalau seperti itu bunda setuju saja. Tapi, ada satu lagi nak “. Selan bunda kemudian.


“Iya bun, kenapa ?” Saswqa mendengarkan di ujung telepon.


“Bunda sebelum ke sana mau pergi ke tempat ayahmu dulu, ada yang harus bunda sampaikan pada ayahmu “. Ucap bunda sedikit bergetar. Sadewa menarik nafas panjang, sekelebat sosok sang ayah nampak di pelupuk matanya.


“Tentu saja, bunda bisa melakukan apa saja sebelum ke sana “. Ucap Sadewa berusaha sebiasa mungkin. Padahal hatinya sekarang sedang berkecamuk, mendadak kegalauan Sadewa bertambah.


Ayah, benarkah semua ini ? Apa aku tidak terlalu jahat pada bunda, terus meminta bunda mengerti situasi aku. Padahal semua ini terjadi karena kesalahanku. Batin Sadewa dengan kepalan tangan kanan di atas meja.


“Ya sudah, bunda siap-siap dulu sekarang “.


“Baiklah bunda, nanti bersenang-senanglah bersama Melani ya “. Sadewa terdengar cukup bersemangat.


“Dewa, tolong pastikan Quinsha di jaga dengan baik oleh bibi dan Janu, jangan lepaskan Shasa sendiri sampai bunda datang !” Mendadak suara bunda terdengar tegas. Sebelah alis Sadewa terangkat, agak heran.


***************


“Seperti ini loh bi isian pempek panggang kalau versi buatan ibu di kampung “. Kayana sedang menunjukkan isian pempek panggang yang terdiri dari ebi giling, cabai rawit ijo giling dengan sedikit garam dan gula sebagai penyedap rasa. Tidak lupa, si bawang putih pamungkas pewangi setiap masakan. Kayana memberikan sepotong kecil untuk penyempurnaan olahan masakannya saat ini, setelah itu mengaduk rata semuanya dengan beberapa sedok kecap sebagai bahan akhir. Selesai, Kayana mempersilahkan bibi mencicipi.


Waktu berlalu, menit-menit dimana si bibi yang baru dikenalnya selama satu minggu telah menasihatinya beberapa saat tadi, benar-benar membekas di hati Kayana.


Benar, itu kesimpulan Kayana untuk semua kata mutiara yang terangkum dari bibir wanita tua itu. Mungkin masalah tentang Kayana yang mendadak diliburkan ini adalah suatu masalah besar baginya. Banyak rentetan penyerta dari situasi yang tengah menimpanya ini. Bagaimana kalau dirinya di pecat ? Bukankah si tuan super sombong dan super pemarah sudah tegas mengatakan, kalau Kayana tidak akan bekerja lagi di Rumah Sakit miliknya.


Lantas, kalau benar dirinya di pecat apa bisa Kayana melengang pulang kembali ke keluarganya ? Apa nyonya Ratna bisa terima, atau malah menyusun siasat baru untuk mencari tempat pembuangan baru baginya ? Dan satu lagi, bagaimana Praditio saat ini. Apakah lelaki itu masih marah padanya ? Atau Praditio sudah bisa berpikir jernih, sudah tahukah lelaki yang telah dipacarinya selama lima tahun itu kalau ternyata selama ini sang mama tercintanyalah yang selalu bersikap jahat, tidak bisa menerima dirinya ?


Begitu banyak pertanyaan, begitu banyak keingintahuan, begitu banyak pengharapan. Dan semua baru tentang efek libur satu minggunya ini. Belum lagi masalah lain, Kayana tersadar. Semua yang dikatakan bibi benar, selama kita hidup maka, masalah akan menyertai kita. Tetapi, bagaimana kita mencapai bahagia di sela masalah itu ? Kayana harus berpikir dewasa, siapa yang tahu apalagi cobaan yang akan mendera dirinya. Hidup berlanjut, jalankan sebaik mungkin, dirinya harus semangat.


Dan akhirnya, Kayana berakhir di dapur bersama si bibi. Bi Mar mewawancarai Kayana tentang pempek panggang. Pernah dengar, pernah lihat juga, ya walaupun lihatnya hanya di televisi. Jadi, bibi sedikit penasaran, seperti apa sebenarnya pempek panggang itu.

__ADS_1


Tentu saja pertanyaan si bibi ini terasa sangat mudah bagi Kayana. Tidak hanya menjelaskan, Kayana malah memasak salah satu panggangan tradisional dari kampung halamannya itu. Mengolah secara telaten dan menghidangkannya untuk bibi. Sesaat, Kayana tersenyum, senyum mekar indah dengan perasaan senang. Aktivitasnya menjelang sore ini bersama bibi memang terasa menyenangkan.


“Walah non...walah “. Bibir bibi terbuka lebar, ada semburan api kepedasan di sana. “Pedes, aduh pedessss “. Teriak bibi cepat.


“Maaf bi “, jawab Kayana sambil berjalan cepat ke arah deretan gelas. Kayana membuatkan bibi segelas susu putih hangat. “Ini, bibi coba minum ini perlahan “.


“Ahhhh “, nafas lega bibi di seruputan awalnya.


“Maaf bi, Ana lupa kalau bibi perdana cobanya “. Wajah bersalah Kayana tampak jelas. “Seharusnya tadi cabai rawitnya dikit aja, trus kecapnya dibanyakin “.


“Tidak masalah kok non. Ini enak kok, bibi suka banget “. Tangan kanan bibi bergerak melambai di depan Kayana. “Hanya saja masih baru non, jadi lidah bibi belum terbiasa “. Aku bibi jujur.


“Kalau begitu, lain kali cabainya kita kurangin ya bi “. Senyum Kayana melihat cucuran keringat di kening bibi.


“Hehehe...gak usah non. Lain kali mah bibi sudah kuat kok “. Cenggir bibi memperlihatkan deretan gigi bersihnya sesaat sebelum kembali menyeruput susu putih buatan Kayana.


“Wenak non, bibi Hooyan “. Ucap bibi yang jelas masih kepedasan. “Si non pinter masak ternyata y “.


“Hehehe, gak pinter kok bi “. Kayana nampak sedikit tersipu. “Kebetulan ibu jago banget masak, ibu punya usaha katering. Ana sering bantu itu siapin ini itu, jadi sedikit bisa beberapa jenis jajanan daerah “. Jelas Kayana.


“Ooo, hebat ibunya si non “. Ibu jari si bibi di acungkan ke depan.


“Bibi benar, ibu memang wanita hebat “. Tersenyum. “Ibu wanita hebat yang sangat setia mendampingi ayah puluhan tahun, ibu juga hebat dalam membesarkan kami bi, ibu luar biasa sekali”.


“Sama seperti non dong “. Bibi juga ikut tersenyum.


“Ana masih jauh dari itu bi “. Geleng Kayana pelan.


“Yang menilai diri kita itu orang lain non, dan bibi berkesimpulan si non hebat kok “. Lagi, jempol si bibi teracung bangga. “Masih muda sudah memiliki gelas dokter spesialis, cantik dan santun, pasti yang jadi suami non nanti seneng banget “.


Su, suami?


Batin Kayana tergagap mengulang kata tersebut.

__ADS_1


Ah, suami ya. Apakah aku bisa memiliki suami di masa depanku ? Suami yang memang disiapkan Tuhan hanya untuk menjadi milikku ?


__ADS_2