
🌹🌹🌹
“Apa yang sudah kamu lakukan pada Shasa ?” Curiga luar biasa pada Kayana.
“Aku gak ngapa-ngapain Shasa !” Sewot. “Aku hanya membantu dia tadi di dalam swalayan ! Dan kamu “, mulai kesal. “Jaga bicara kamu, aku gak suka dengan gaya bicara kamu yang menuduh aku !”
“Iya ayah, Kak Kayana itu tadi nolongin Shasa “. Membela sambil menatap sayang pada Kayana.
“Gadis kecil ayah diapain sama dia, cerita sama ayah ? Jangan takut !” Mengintrogasi Quinsha dengan seksama.
“Iihhh......ayah ini “. Memegang kedua pipi Sadewa dengan menggoyangkannya. “Kakak cantik itu baik ayahhhhhhh !” Menatap mata Sadewa.
Astaga, gadis imut yang cantik itu anaknya toh, benaran anaknya ? Membatin tidak percaya. Kok bisa sih, Bapak angkuh gituh, lah anaknya manis banget. Dunia benar-benar aneh.
“Cukup yah !” Rasa kesal sudah sampai di puncak kepala. “Aku sama sekali gak punya niat buruk sama Shasa. Aku hanya bantuin dia dan kamu, kalau kamu memang khawatir Shasa kenapa-kenapa harusnya kamu tadi temani dia, bukan datang-datang nuduh orang !” Suara Kayana sukses membuat mata Sadewa kembali pada Kayana.
“Sha “. Segera bersuara saat melihat Sadewa ingin membuka mulut. “Kakak pergi dulu ya !” Tersenyum. “Da sayang “. Melangkah dan melambaikan tangan cepat. Tidak memberi kesempatan pada siapapun, baik Sadewa atau Quinsha untuk menjawab.
Sadewa terdiam kesal, sesi kecurigaannya pada Kayana belum selesai. Dan beraninya wanita itu pergi begitu saja. Sadewa tidak terima.
Awas kau, kalau sampai kita ketemu lagi, akan ku balas kau. Bertekad di dalam hati.
Langkah Kayana kian jauh dari Sadewa yang mengendong Quinsha, Quinsha yang merengek kesal karena di tinggal pergi begitu saja oleh kakak cantiknya.
“Heyyyy, kita ketemu lagi “. Suara ramah Martin menghentikan langkah Kayana.
“Kakak “. Tersenyum, ingat sosok lelaki tampan versi dirinya.
Martin kenal wanita itu ? Sadewa memperhatikan dari posisinya berdiri, menilai keakraban Martin yang sengaja menghentikan sosok wanita yang tidak di sukai Sadewa itu.
“Paman kenal Kakak cantik. Horeeeee “. Merasa senang, bertepuk riang. “Ayah, Shasa mau main ke rumah kakak itu besok sama paman “. Suara Quinsha masih riang. Membuat suasana hati Sadewa yang sudah kesal semakin bertambah kesal.
“Habis belanja ya ?” Memperhatikan tentangan di tangan kanan Kayana.
“Iya kak “. Menjawab cepat.
“Gak nyangka bisa ketemu kamu lagi “. Tersenyum senang.
Duh..senyumanmmu kak. Mendadak Kayana tertegu.
“Apa kamu rumahnya dekat sini ?”
“Iya kak, gak jauh dari sini “. Angguk Kayana.
“Ayo pergi !”
Perintah Sadewa membuyarkan keramahan Martin seketika, rasa bahagia bertemu sosok wanita yang dikaguminya menguap seketika saat suara keras Sadewa menggema. Sadewa sudah berada di samping dirinya, entah sejak kapan.
“Kak, sebentar “. Membujuk.
“Itu, itu kakaknya kamu ?” Kayana tidak percaya. Bertanya tidak percaya pada Martin.
“Iya ini adik saya, kenapa ?” Menantang Kayana tidak senang
__ADS_1
“Kamu kenal Kak Dewa ?” Martin mencoba mencerna situasi. Ada aura permusuhan antara Sadewa dan Kayana.
“Aku, aku gak kenal lelaki arogan dan sombong ini. Tapi, aku kasihan banget kak sama kamu. Kamu punya saudara seperti dia “. Memandang iba pada Martin.
“Jaga mulut kamu !” Sadwa membentak Kayana.
“Kenapa ? Memang benar kok “. Menjawab tidak terima di bentak.
“Kak...kamu kenal sama dia ?” Martin bertanya dengan lugunya.
“Enggakkkkkkk......!” Menjawab cepat. “Gak sudi ! Gak penting !”
Loh ?Martin heran.
“Sudah, acuhkan dia ! Kita pergi sekarang, waktu berharga jangan di buang percuma dengan orang yang juga percuma !” Berjalan cepat meninggalkan Kayana begitu saja.
Heh, aku bisa kok cuekin orang seperti yang kamu lakukan tadi. Rasakan, hahahahah. Puas dalam hati.
“Maaf ya..kak Sadewa sebenarnya orangnya baik kok. Jangan masukin ke hati ya !” Martin mengerakkan tangannya di depan Kayana.
“MARTIIINNNN, CEPAT !” Suara teriakan Sadewa yang sudah jauh meninggalkannya.
“Aku pergi dulu ya, semoga kita bisa ketemu lagi “. Martin berbicara cepat.
“Iya kak..sudah sana, nanti manusia sombong itu berteriak heboh hingga menghancurkan kota ini“. Tersenyum penuh rasa kasihan.
“Hahahah, kamu lucu banget deh “. Tertawa dengan kekesalan Kayana. “Ehhh, iya. Nama kamu siapa ?” Masih sempat bertanya sebelum benar-benar melangkah pergi menyusul Sadewa, meninggalkan Kayana.
“Aku Martin “. Berbicara sambil memberikan senyum terbaiknya.
“Kayana, aku pergi dulu ya “. Melambaikan tangan ramah, setengah berlari mengejar Sadewa yang sudah jauh.
Semoga kita bisa segera bertemu lagi Kayana.
Kok bisa ya, anak imut secantik Shasa punya ayah seperti itu dan orang angkuh seperti itu punya adik sebaik dan setampan kak Martin. Ya Tuhan.......
Batin Kayana sambil melambaikan tangan melepas kepergian Martin. Berpikir keras dengan realita yang ada.
“Ahhh, sudahlah. Aku pulang juga deh, jangan-jangan Diandra sudah sampe di rumah duluan nih “. Melangkah menuju parkiran, setelah melihat mobil sedan mewah yang terparkir di sebelah mobil dinasnya telah berjalan, mulai menjauh dari pandangan Kayana.
Kemudian....
Saat Kayana baru sampai di pintu mobil dinasnya, dan di saat itu pula mobil Sadewa telah berjalan pasti di lalu lintas kota, di saat itulah Qunsha memulai bersuara.
“Ayah “. Suara Quinsha membuat Sadewa menatap mata indah gadis kecil kesayangannya.
“Ayah kenapa marah sama Kakak Kayana ? Ayah kenapa berbuat seperti itu ?” Nampak serius. Bertanya dengan pandangan mata menyipit. Jelas gadis kecil ini marah pada sosok Sadewa.
“Bagaimana ayah gak marah sayang, wanita tadi itu mengendong kamu tanpa izin ayah. Apa kamu tahu dia itu orang baik atau bukan ? Gimana kalau dia punya niat jahat ?” Memberi Quinsha banyak pertanyaan. Mengajaknya berspekulasi.
“Nggak “. Secara kebetulan Quinsha dan Martin bersuara berbarengan.
“Tuh kan paman aja bilang enggak “. Senang mendapatkan orang yang seide dengannya. “Iya kan paman, Kakak cantik baikkan ? Kakak cantik bukan orang jahat ?” Meminta kepastian jawaban yang sama dari Martin. “Dan juga ayah, nama kakak cantik itu Kayana ! Oke !”
__ADS_1
“Iyapp, Shasa benar. Kakak Kayana itu baik kok, cantik lagi “. Sangat setuju pada pendapat Quinsha. Bahkan memberikan tambahan jawaban dengan nada penuh pujian.
“Bagaimana kamu kenal dia ?” Suara tidak suka pada Martin.
“Kenapa memangnya kak ?” Bukan menjawab, malah balik bertanya.
“Kamu jangan sembarangan percaya sama orang !” Memberi peringatan.
“Kak, aku bukan anak kecil. Aku tahu mana yang baik dan tidak !” Menatap lurus kearah jalan raya. “Dan Kayana itu orang baik, gadis baik “. Memberitahu apa yang di yakininya.
“Paman, besok bawa Shasa main ke rumah kak Kayana ya !” Mengacuhkan Sadewa. “Paman gimana kalau paman membujuk kak Kayana supaya mau jadi teman Shasa, trus kalo sudah jadi temas jadi bundanya Shasa lagi deh ?” Mengerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, senang sekaligus serius dengan permintaannya barusan pada Martin.
“QUINSHA...... “. Membentak. Entah bagaimana caranya, Sadewa lepas kontrol mendengar permintaan Qinnsha pada Martin tadi.
“A, ayah kenapa marah ?” Suara bergetar ketakutan. “Pamannnnn.... “, merengek, berharap dijauhkan dari Sadewa.
“Kak, kamu apa-apaan coba !” Membalikan badan, menatap marah pada Sadewa. Mengulurkan tangan dan mengapai Quinsha. Membawa gadis kecil yang ketakutan itu agar duduk di pangkuannya, di kursi depan.
“Kamu kenapa sih kak ?” Bertanya masih dengan rasa marah. Sadewa keterlaluan, membentak Quinsha untuk hal tidak jelas. Martin tidak suka itu. Martin memeluk Quinsha, jelas gadis kecil itu sangat sedih mendapatkan perlakuan berlebihan, bahkan cenderung keterlaluan dari lelaki yang di panggilnya ayah.
“Shasa gak suka ayah. Ayah jahatttttt.....hiks, hikss...hiksssss “. Akhirnya pecah juga tangis ketakutan Quinsha. Menyembunyikan wajah takutnya dalam pelukan Martin.
 
“Shuuuthhhh, cup-cup, sayang. Shasa sayang “. Martin memeluk Quinsha erat. Mencium puncak kepala gadis kecil yang sedang menangis itu. “Sudah ya....”.
“Lihat, apa akibat ulah kamu, kak !” Berbicara dengan terang-terangan memperlihatkan rasa tidak senangnya. Tangisan Quinsha jelas menandakan betapa sedih hati gadis kecil ini mendapat bentakan tanpa sebab dari Sadewa.
“Ini semua karena kamu “. Bicara pelan, tidak sampai hati melihat kesedihan Quinsha.
“Aku, aku yang salah ? Heh, kamu tuh kak !” Menggeleng heran.
“Kamu racuni pikiran Shasa dengan memihak wanita itu “. Memberi tuduhan telak.
“Astaga kak “. Mulai frustrasi menghadapi Sadewa. “Apa memangnya yang kamu tahu tentang Kayana ? Hingga kamu sangat yakin kalau Kayana itu bukan orang baik !”
“Perasaan aku yang bilang !” Menjawab sepenuh jiwa.
“Kamu itu punya masalah apa sama Kayana, kak ? Kenapa kamu gak suka sama dia ? Salah dia apa ?” Masih heran.
“Kak Kayana orang baik. Shasa mau punya bunda seperti kak Kayana, huaaaaaaaa “. Masih sibuk menangis.
“Kalau ayah gak mau temenan sama kak Kayana, juga gak mau jadikan kak Kayana bunda buat Shasa ya sudah “. Menatap wajah Martin. Perlahan merenggangkan pelukannya dari Martin. “Paman saja yang berikan Shasa bibi seorang kak Kayana “. Memberi tatapan penuh harapan.
“Tenang sayang, paman akan berjuang untuk Shasa “. Berbicara sambil menghapus sisa air mata di pipi bulat Quinsha.
“Kalian berdua berhenti membicarakan wanita itu !” Tidak senang dengan pembicaraan Martin dan Quinsha. Merasa kedua manusia itu semakin aneh saja. “Kalian berdua membuat kepalaku pusing “. Memijat pelan keningnya sambil bersandar.
“Jangan dengarkan ayahmu itu sayang !” Bersuara pelan pada Quinsha sambil tersenyum. Suara pelan yang sebenarnya masih bisa di dengar oleh Sadewa.
“Paman akan mencari cara agar Shasa bisa temenan sama kakak cantik ya “. Rangkaian kata-kata Martin yang membuat Quinsha mengangguk kegirangan, langsung lupa kesedihan tiada taranya beberapa saat tadi.
Sedang Sadewa yang mendengar pembicaraan antara Martin dan Quinsha, hanya bisa menghembuskan nafas jengahnya. Keheranan dan merasa aneh, Sadewa merasakan itulah isi kepalanya sekarang terhadap sosok wanita yang menurutnya penganggu itu, merepotkan dan menyusahkan. Tetapi, malah membuat Martin dan Quinsha terkagum-kagum.
__ADS_1