Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Dua Sisi dan Sama Berat


__ADS_3

🌹🌹🌹


Satu minggu sudah berlalu, kejadian betapa murkanya seorang Sadewa pafa saat itu masih berputar di kepala Kayana. Sadewa yang akhirnya Kayana tahu adalah pemilik Rumah Sakit tempat dirinya bekerja saat ini. Sadewa yang pernah ditemuinya beberapa kali dan selalu saja memarahinya, selalu berlaku kasarnya, atau bagi Kayana sangat arogan lebih tepatnya. Sungguh sulit Kayana mencerna semua itu.


Entah apa dosaku sampai seperti ini benar nasibku ?


Aku pikir, nyonya Ratna yang membuang aku ke sini akan aku lalui dengan mudah, dengan cepat. Dan enam bulan kemudian berlalu begitu saja, aku akan kembali ke Kotaku, kekehidupanku. Tapi, kenapa realitasnya seperti ini, pelik sekali Tuhan. Ah....


Kayana terduduk di bawah pohon mangga di bagian belakang rumah dinasnya. Hari ini dirinya tidak memiliki jam praktek. Dalam satu minggu ini pihak manajemen Rumah Sakit memberikan Kayana libur. Libur semenjak kejadian waktu itu, libur yang menurut Kayana tanpa alasan jelas. Lebih mirip hukuman mungkin bagi dirinya, hukuman dari sang tuan Sadewa, si tuan arogan yang nyaris memukul wajahnya seminggu yang lalu.


Dokter Hadi memang berhasil meyakinkan Kayana kalau, sikap Sadewa hanya sementara saja. Kemarahan Sadewa tidak akan lama, dan Kayana dipastikan tidak akan di pecat.


Sudahlah, aku ikuti saja alur yang mengalir. Kalau memang aku di pecat, paling nyonya Ratna membuang aku ke tempat antah barantah yang lain lagi. Toh Praditio juga tidak akan terpengaruh, cintanya padaku sudah mati.


Kayana menarik kesimpulan di dalam hati, mencoba menenangkan dirinya atas segala kemelut yang berputatr di kepala. Dan saat ini, walaupun libur Kayana memilih di rumah saja, berjaga kalau-kalau ada yang memerlukan dirinya, mana tahu ada kejadian darurat. Kayana berusaha bersikap profesional walaupun, kepastian pekerjaannya tidak jelas sekarang.


Rasa takut sejujurnya memenuhi relung jiwanya, Kayana terdiam di kursi panjang, ada rasa takut, kengerian luar biasa saat berhadapan dengan Sadewa. Aura kejam Sadewa jelas terpampang di wajahnya, siap menghajar siapa saja termasuk dirinya. Kayana tenggelam dalam pikirannya, bahkan hembusan angin yang sejuk di hari itu tidak berhasil menenangkan dirinya. Kayana terus mengingat kejadian saat itu.


Sebenarnya, apakah kesalahanku sangat fatal ?


Apa aku memang seorang perempuan yang merepotkan ?


Apa aku terlalu lancang, terlalu berani memindahkan sedan mewah milik tuan arogan itu ?


Kayana menghembuskan nafas beratnya, Ya Tuhan...baru juga satu minggu masa aku sudah kehilangan pekerjaanku di sini ?


Kalau seperti inj bagaimana caraku kembali pada keluargaku ?

__ADS_1


***************


“Kak, pertemuan kedua dengan pihak Mersi dan Phanton kali ini tidak bisa kamu batalkan seperti seminggu yang lalu !” Martin menyusun semua lembar kertas yang baru saja di baca Sadewa, berserakan di atas meja kerjanya.


“Memangnya jam berapa ?” Sadewa meletakkan lembar kertas putih yang sedari tadi berada di genggaman tangannya.


“Menjelang jam tiga sore kak, lokasi di jalan Tria, di kafe Meron “. Jawab Martin sambil memungut kertas putih yang telah dilepaskan Sadewa barusan.


“Jam tiga sore ?” Sadewa nampak serius.


“Iya kak, jam tiga nanti “. Jawab Martin. Semua lembaran kertas di atas meja Sadewa sudah tersusun rapi, kembali ke dalam map hitam tempat si kertas-kertas itu berasal.


“Aku lupa sampaikan padamu, jam tiga nanti aku ada kegiatan penting “. Ucap Sadewa kemudian.


“Maaf kak, tetapi semua sudah di atur. Tolong jangan di batalkan, karena peristiwa pembatalan waktu itu sudah membuat pihak mereka tidak senang “. Martin menghentikan semua kegiatannya. Memberi penjelasan pada Sadewa dengan penuh kebijakan.


“Memang janjian apa kak, gak bisa di undur setelah selesai bertemu dengan Marsi saja ?” Martin memberi usul.


“Aku ragu “. Sadewa berbicara jujur.


“Janjian apaan sih kak, aku kok gak tau kamu ada janjian di hari ini ?” Martin akhirnya memilih duduk di depan Sadewa, sepertinya pembicaraan tentang janjian versi Sadewa ini cukup memakan waktu untuk dibicarakan. “Kamu janjian sama orang atau gimana ?”


“Aku janjian sama Melani, hari ini hari Melani akan bertemu bunda dan Quinsha “. Sadewa berbicara pelan. Tetapi, tidak bagi Martin. Suara pelannya Sadewa barusan cukup membuat dirinya kaget.


“Hah ?” Refleks mulut Martin tergangga, terbuka lebar.


“Gak usah sok-sok kaget !” Sadewa nampak malas, menatap Martin dengan sebelah alis naik.

__ADS_1


“Ternyata kamu memang gila kak !” Emosi.


“Kau ini, semakin hari semakin lancang “. Melemparkan tumpukan map hitam tebal di atas mejanya. Map yang berisi lembar-lembar kertas putih yang tadi di susun Martin.


“Astaga kak “. Mengelak dengan suara keras. “Aku baru saja menyusun tumpukan kertas itu. Kau ini, senang sekali melihat aku kepayahan “. Berdiri, memungut kertas-kertas yang bertebaran kesana kemari.


“Bagaimana kalau minta pihak Mersi mengatur ulang jadwal pertemuan ini ?” Bukannya merasa bersalah karena sudah membuat Martin bekerja ulang menyusun tumpukan kertas-kertas kembali ke map tebal, Sadewa malah dengan santai mengajukan pertanyaan pada Martin.


“Jangan macam-macam kak, pihak Mersi and Phanton masih mau bertemu dengan kita pada hari ini saja, itu sudah keberuntungan buat kita. Aku gak mau mengatur ulang jadwal, aku gak mau memberikan kesan kalau kita tidak profesional “. Sikap tegas Martin membuat Sadewa hanya bisa menghela nafas.


“Dan pertemuan Melani bersama bunda juga tidak bisa di tunda !” Ucap Sadewa dengan mata terus memperhatikan kesibukan Martin.


“Kak, apa gak kepikiran sama kakak kalau sebenarnya Melani itu memang bukan jodohmu ?” Martin melihat Sadewa sesaat. “Coba saja kakak pikir, kenapa coba Tuhan mempersulit proses ketemuan bunda sama wanita itu ? Apa ini bukan pertanda kalau Tuhan tidak akan menyatukan kalian ?”


Sadewa diam, menurut sudut pandang martin seperti sedang berpikir.


“Ahh, dari pada bingung bagus aku telepon Melani. Terserah dia mau seperti apa “. Sadewa seakan menemukan solusi bagi dirinya sendiri dalam sikap diamnya tadi.


“Kak, kak..sudah di kasih kode sama Tuhan masih juga ngelawan. Ckckck, apa mau kakak sajalah, yang penting jangan pernah menikahi ulat bulu itu “. Ucap Martin santai sambil melenggang pergi meninggalkan ruang kerja Sadewa. Martin membawa setumpuk map hitam tebal ditangan kanannya, map yang baru saja bernasib malang karena di buat melayang oleh Sadewa tadi.


“Sialan kau, Martin !” Maki Sadewa tidak terima, sekuat tenaga melemparkan pena yang kebetulan terjangkau di dekat tangannya. Pena tidak berdosa yang melayang ke arah pintu tempat Martin yang bersiap keluar.


“Gak kena kak !” Sorak Martin senang yang selamat dari lemparan pena Sadewa. Posisi cantik, pena melayang dan Martin sudah menutup pintu ruang kerja Sadewa.


“Hahahaha, aku hebat kak, aku bisa menghindar loh. Hahahaha “. Tertawa senang dengan suara berteriak agak keras. Mencemooh Sadewa yang ternyata sedang memijat keningnya pelan.


“Sial, sial, sial, Martin sialan “, balas suara Sadewa tidak kalah kerasnya dari dalam ruangannya dengan tangan kanan masih terus memijat pelan keningnya.

__ADS_1


__ADS_2