Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Memberi Izin


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Aku ada pertemuan penting jam tiga nanti “.


Suara Sadewa terdengar di sisi telepon. Dengan menggunakan handphone super cangih keluaran terbaru miliknya, Sadewa menelepon kekasih hati, Melani.


“Pertemuan apakah itu sayang, apa tidak bisa di tunda ?” Suara merdu nan renyah terdengar diucapkan Melani. Seperti biasa, sikap manis penuh kemanjaan selalu di pakai Melani saat berkomunikasi dengan Sadewa.


“Tidak bisa “. Jawab Sadewa seakan tidak ingin di bantah.


“Jadi, bagaimana dengan aku, sayang ? Akukan sudah mempersiapkan semuanya untuk bertemu bunda dan Quinsha “. Sekali lagi, rengek manja Melani terdengar di ujung telepon.


“Di undur saja ?” Sadewa sepertinya memberi pilihan.


“Jangan dong sayang “, secepatnya Melani memotong pembicaraan Sadewa. “Sayang, sayangku. Setelah dua tahun kita bersama, akhirnya bunda mau temui aku hari ini dan kamu minta di undur lagi ? Jangan dong, ini sudah pengunduran kedua kalinya loh “.


“Tapi aku juga tidak bisa mengundur pertemuan pentingku nanti “. Sadewa mencoba menggambarkan situasinya.


“Sayang, izinkanlah aku bertemu bunda hari ini. Walaupun tanpa kamu, izinkanlah kami tetap bertemu ?” Suara Melani terdengar sangat meyakinkan.


“Kamu yakin ?” Sadewa masih saja ragu.


“Tentu saja sayang. Apa yang harus aku ragukan ? Aku kan mau ketemuan sama calon ibu mertua, aku sangat yakin karena aku sudah mempersiapkan diri ! Percaya sama aku, bunda pasti menyukai aku, sayang. Bunda pasti merestui kita “. Lagi-lagi suara penuh keyakinan terdengar disuarakan oleh Melani kepada Sadewa.


Sadewa terdiam, ada jedah sesaat di posisi teleponnya.


“Sayang...?” Suara Melani yang menyadari kediaman Sadewa.


“Hemm “, jawab Sadewa tanpa minat.

__ADS_1


“Sayang, gimana ?” Tanya Melani segera.


“Apa kamu benar-benar bisa bertemu bunda tanpa aku temani ?” Dengan penuh keraguan, Sadewa meminta kepastian.


“Sayang, percayalah padaku. Aku mohon, kamu percayalah padaku !” Dengar rengekan manjanya, Melani membujuk Sadewa.


“Bisakah kamu berjanji, tidak membuat bunda marah apa lagi bersedih ?” Tanya Sadewa kemudian.


“Pasti sayang, aku janji sama kamu “. Melani tersenyum senang di ujung telepon. “Demi hubungan kita, aku akan berusaha menjadi menantu yang baik untuk bunda “.


Sadewa belum menjawab, telinganya bisa mendengar jelas apa yang diucapkan Melani barusan, tetapi entah kenapa hati kecilnya masih ragu.


Satu helaan nafas panjang dihembuskan Sadewa.


“Baiklah, kalau kamu memang bisa berjanji, aku akan izinkan”.


“Jaga bunda dan Quinsha !” Satu kata terakhir yang diajukan oleh Sadewa persisi sebelum handphonenya dimatikan.


Ah, semoga keputusanku ini benar. Semoga semua baik-baik saja.


Doa pelan di dalam hati yang dipanjatkan Sadewa pada Sang Pencipta, doa yang terkhusus untuk menenangkan dirinya. Menenangkan hati kecil yang sampai detik ini masih meragukan keputusannya sendiri, keputusan memberi izin akan sebuah pertemuan penting.


Bunda, berilah kesempatan pada Melani untuk memperkenalkan diri ya, nanti.


*****************


“Ada apa non ?”


Sudah lebih satu jam bi Mar memperhatikan Kayana. Terheran dengan kediaman sang majikan cantik, melamun dengan mata menatap jauh entah pada apa. Hanya diam dengan kaki bergoyang-goyang pelan dan kedua tangan bertumpu di bangku panjang tempat Kayana duduk.

__ADS_1


Bibi menunggu suara si majikan menjawab pertanyaannya tadi, ikut diam.


“Non ?”


Beberapa detik berlalu, Kayana masih diam, sepertinya tidak mendengar suara si bibi. Tidak menyadari kalau si bibi sudah cukup lama memperhatikan dirinya.


“Non, ada apa ?”


Bi Mar lebih mendekat pada Kayana. Menyentuh bahu Kayana pelan, membiarkan tangan kanannya di bahu kiri Kayana.


“Bi..?” Kayana melihat langsung ke arah pemilik tangan. Menatap dalam mata wanita paruh baya yang nampak khawatir pada dirinya.


“Apa apa ?” Suara pelan bi Mar terdengar sangat lembut, sangat menenangkan di hati Kayana. “Non kenapa ?”


“Tidak ada apa-apa bi “. Seulas senyum tipis ditampilkan Kayana, berusaha meyakinkan bibi. “Ana gak kenapa-kenapa kok bi “.


“Non “, masih berbicara dengan suara lembut. “Berbagilah, ada bibi di sini “. Satu usapan penuh kasih terasa di bahu Kayana.


“Ahhh “, helaan nafas panjang terdengar. “Ana hanya bosan saja bi “. Dalih bohong Kayana menutupi perasaan galaunya yang sedang bercampur aduk.


“Apa memang tidak ada jadwal kerja buat non ? Ini sudah satu minggu ?” Bibi sudah memposisikan diri duduk di sebelah Kayana. Berbicara dengan menatap sisi samping wajah yang jelas sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


“Sampai sekarang pihak Rumah Sakit tidak menghubungi Ana, bi. Mungkin memang sedang tidak ada pasien untuk Ana “.


“Aneh non, masa iya baru satu hari masuk kerja, baru satu hari menjalankan rutinitas praktek, besoknya sudah tidak ada lagi yang mau berobat sama non ?” Bibi mengernyitkan keningnya.


“Hehehehe, mungkin saja bi “. Berbicara di sertai cenggiran kecil, ingin memberi kesan tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.


“Atau non sudah buat salah ? Sudah menyinggung orang tertentu ?” Tebakan bibi membuat Kayana menutup mulut rapat. Jantungnya mendadak berdesir, tidak pernah menduga akan mendapat pertanyaan yang nyaris benar menggambarkan situasinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2