Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Kontrak Pernikahan (1)


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi! Bunda, Ibuku tidak bisa hidup jauh dari Quinsha, dan begitu pula aku. Quinsha sangat kami sayangi, sangat berharga dalam hidup kami. Kau, kau tidak tahu betapa berharganya Quinsha bagi kami.” Ada kegetiran di sana, dalam dan penuh kepedihan.


Kayana merasakan ada rasa mendalam dalam ucapan Sadewa, tidak mengerti tetapi, bisa memahami ada sebentuk rasa pedih di sana. Kenapa? Kayana menatap mata biru yang di awal tanpa disadari sempat dipujinya, mata biru itu sangat indah menurut Kayana, teduh bagai langit yang menaungi bumi, sangat sesuai dengan wajah tampan Sadewa. Sangat sempurna.


Sekarang mata itu memancarkan kepedihan mendalam, entah kenapa. Yang jelas Kayana bisa merasakannya.


“Boleh saya tahu apa yang terjadi tuan?” Berbicara lembut.


Melihat pada Kayana, tersenyum tanpa ada kehangatan. Hanya senyum formalitas saja. “Kau tidak perlu tahu.”


“Maaf.” Ucap Kayana lirih.


“Jadi?” Ucap Sadewa kemudian.


“Iya?” Tidak mengerti.


“Tentang tawaranku, kita menikah!”


“Tuan,” menarik nafas dalam dan melepaskannya perlahan. Mencoba menenangkan diri, mencoba berpikir logis. “Pernikahan bukan mainan. Kita tidak saling kenal, bahkan kita tidak saling cinta. Bagaimana mungkin kita menikah?”


“Apa yang kau khawatirkan?” Tanya Sadewa heran.


“Astaga.” Frustasi sendiri.


“Ini hanya sebuah kontrak saja. Aku membantumu dan kau membantu aku, kita buat aturan atas pernikahan ini. Ada kontrak yang sama-sama kita tanda tangani.” Sadewa serius.


“Tidak perlu cinta, karena jelas antara kau dan aku tidak  akan ada cinta. Kau bukan tipeku, kau itu…..” memandang Kayana, sedang menilai. “Kau bukan tipeku.” Mengulang kata yang sama setelah merasa menemukan sebuah penilaian.


“Kontrak, pernikahan kontrak ?” Ragu.


“Iya.” Yakin.

__ADS_1


“Kau menjadi isteriku, sah dimata hukum. Kau menjadi ibu sambung untuk Quinsha, dia sangat menyayangimu dan Tomi dapat melihat itu, hingga dia bisa membiarkan kami, aku dan bunda yang membesarkan Quinsha.” Memberi penjelasan. “Sedang aku, aku akan menjaga dan melindungi kau serta keluargamu. Tanpa izin dariku, tidak akan ada yang bisa mendekati keluargamu, apa lagi sampai menyentuh mereka!” berjanji. “Diriku sendiri sebagai jaminannya.”


“Dan..dan sebagai isteri tuan, aku..aku harus apa?” Masih ragu.


“Akan ada saat kau mendampingi aku di depan umum. Tetapi, aku pastikan hanya pada saat-saat tertentu saja. Itu pun kalau kau bersedia, kalau tidak aku tidak akan memaksamu.”


“Hanya itu?” Rasa ragu tidak juga hilang. “Ba..bagaimana dengan kewajiban aku sebagai isteri tuan?”


“Tugasmu sebagai isteriku hanya itu saja! Dan aku, kau tidak perlu mengurusi aku. Di rumah sudah ada banyak pelayana dengan tugas masing-masing. Kau cukup fokus pada Quinsha.  Satu lagi, kau juga tidak perlu melayaniku diranjang, aku tidak akan menuntut hak batiniahku padamu. Dan tentu saja kau tidak berkewajiban melayaniku sebagai istri diranjang!” Serius.


“Benarkah?” Agak kurang yakin. “Tidak bohongkan?” Takut.


“Oooooo...., tentu saja benar. Aku tidak minat padamu. Kau bukan selaraku, tidak ada yang istimewa padamu, pada tubuhmu.” Sadewa menatap lurus kedepan. Menatap dinding putih di belakang Kayana.


Kurang ajar. Merutuk kesal dengan ucapan Sadewa.


Tapi, baguslah kalau kau tidak  suka padaku. Karena aku juga tidak sudi kau sentuh wahai manusia sombong. Ishhhhhhhhhh……


“Iya.” Tegas.


“Hah? Tuan serius?” Kaget.


“Akan ada pemberitahuan resmi kalau aku sudah menikah dan memiliki seorang isteri tetapi, siapa dia tidak perlu aku tampilkan kemuka umum! Kemudian, untuk saat-saat tertentu kau akan ikut bersamaku, seperti yang aku sampaikan sebelumnya. Ya..seperti untuk acara resmi perusahaan yang mengharuskan aku pergi bersama isteriku maka, kau harus ikut.”


Kayana memucat, mendengar penjelasan Sadewa yang sangat panjang itu sukses membuat perutnya bergejolak. Ada keringat dingin membasahi tangannya.


“Isteri.” Gumam Kayana. Dan perutnya semakin gelisah, dirinya malah merasa kata itu sangat mengerikan.


“Orang tua saya? Dan, dan orang tua tuan?” bertanya dengan suara pelan, menahan diri agar gejolak di dalam perutnya tidak membuat dia ingin memuntahkan makan siangnya tadi.


“Aku akan jujur pada bunda kalau kita akan menikah tetapi, seperti apa pernikahan kita tentu saja itu adalah rahasia kita berdua.” Tenang. “Sedang orang tuamu, tentu mereka harus tahu. Di mata mereka pernikahan tersebut harus nampak sebenarnya. Toh semua demi keamanan merekakan? Bila perlu, orang tuamu memberitahukan semua kerabatmu kalau kau sudah memiliki suami, agar siapapun yang sebenarnya memiliki niat buruk pada keluargamu dapat berpikir ulang!”


“Tuan bercandakan?” Tidak percaya.

__ADS_1


“Kau ini kenapa sih?” Heran dengan sikap Kayana.


“Tuan yang kenapa?” panik.  “Tuan pikir semua sesederhana itu?”


“Lalu, kalau pernikahan tersebut ada aturan mainnya, ada kontraknya maka, akan ada batas waktunya bukan?” Gelisah, kesal dan takut. Semua perasaan Kayana sedang bercampur aduk, sikap Sadewa, peryataan Sadewa, penjelasan Sadewa, Kayana benar-benar heran mendapati seorang lelaki dengan tenangnya bisa memiliki ide seperti itu. Dan hebatnya lagi lelaki tersebut sedang duduk didepannya dan memintanya setuju dengan keinginanya.


“Pasti.” Menjawab cepat.


“Berapa lama?” Tanya Kayana kemudian.


“Enam bulan, aku rasa enam bulan waktu yang cukup untuk membuat Tomi percaya. Tetapi, meskipun enam bulan tersebut telah berlalu, aku akan tetap menjaga dan melindungi kau dan keluargamu. Tugas itu akan aku emban sampai kau sendiri yang memintanya untuk aku sudahi. Aku bukanlah lelaki yang tudak pandai berterima kasih! Kau menjalankan bagianmu dengan baik, dan aku akan berterima kasih dengan baik pula padamu!” berjanji.


“Astaga.” Setengah berteriak, tidak percaya.


“Hey..kau ini kenapa? Apa perlu bersuara seperti itu?” kesal.


“Saya..tuan tanya, saya kenapa?” mengangkat tangan ke atas, tinggi-tinggi dan sangat prustasi. Kayana pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menggeleng pelan tanpa tahu harus berbicara apa lagi.


“Astaga.” Bergumam pelan.


“Baik, tuan mau tahu saya kenapa?” Melepas tangan yang menutup wajahnya.


“Hufffttttt…” satu hembusan nafas dalam.


“Tuan, pernikahan ini dengan segala penjelasan tuan tadi sepertinya sangat sederhana, terlalu sederhana mungkin bagi tuan. Tetapi, tidak bagi saya.” Menggeleng.


“Menikah tuan, yang kita bicarakan ini adalah kesakralan yang dilakukan dihadapan Tuhan, dihadapan orang tua. Bukan mainan!” bersuara keras.


“Apa pendapat ayah, tuan? Apa beliau setuju anaknya membuat kontrak pernikahan?”


Mata Sadewa membesar, melotot tajam dan penuh ketidaksukaan. “Ayahku bukan urusanmu, tutup mulutmu dan pakai otakmu! Iya atau tidak?  Itu saja!” Marah.


Astaga, hati Kayana menciut. Sadewa bukan sosok lelaki ramah dan lembut, Kayana sudah sangat tahu itu. Hari-hari bertemu Sadewa akan berakhir dengan sikap angkuh dan arogan seorang Sadewa, dan Kayana benar-benar sudah biasa dengan itu, bukan hal aneh. Tetapi, saat ini Kayana medapati ada kemarahan luar biasa di mata biru yang diam-diam entah bagaimana telah dikaguminya itu. Mata biru itu nampak membenci dirinya, marah dan sangat terluka. Kayana takut dan mendadak menciut. Sadewa sangat mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2