Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Sebuah Kenyataan (1)


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Semua sudah diselidiki tuan?”


Disebuah ruang kerja di Negara tetangga, seorang lelaki tampan dengan setelan jas kerja yang sangat rapi sedang duduk memasang wajah serius mendengarkan penjelasan dari lelaki muda yang berdiri hormat didepannya. Mendengarkan setiap isi laporan dari orang kepercayaannya tersebut.


“Nona tidak bersalah. Beliau di fitnah dengan menggunakan rekayasa teknologi. Pelaku memang ahli dibidangnya, hasil kerja professional sekali tuan. Butuh ahli dibidang yang sama untuk menganalisa semuanya. Dan, nona tidak bersalah tuan.”


Ruang kerja terasa sunyi…


Orang yang dipanggil tuan mendadak kehilangan kata-kata. Lelaki muda yang berdiri hormat didepannya tidak tahu harus melanjutkan atau memilih menyudahi semua penjelasannya, semua laporannya.


“Nona tidak bersalah.” Kata-kata itu berputar memenuhi isi kepala lelaki tampan dengan setelan jas kerja yang sangat rapi tersebut.


“Nona tidak bersalah.”


“Nona tidak bersalah.”


“Nona tidak bersalah.”


Kata-kata itu terus berulang-ulang, tidak bisa dihentikan, tidak bisa dihenyahkan.

__ADS_1


“Kau yakin?”


Mendadak sebuah pertanyaan diajukan. Ada nada kegetiran disana.


“Sangat yakin tuan, karena saya langsung yang turun menyelidiki ini.” Bersungguh-sungguh.


*****


Sementara itu, pagi ini terasa beda bagi Kayana. Tidurnya benar-benar tidak sempurna. Nyaris bisa dibilang dirinya tidak tidur sama sekali malam tadi. Dengan wajah lesu, Kayana sudah rapi pagi ini, menatap tampilan diri sendiri di depan cermin. Sabtu pagi akhirnya datang, sabtu dimana sebuah keputusan harus dijalankannya, tekad Kayana sudah bulat, semua sudah dipikirkannya semalaman.


“Apa mau nyonya menelepon malam-malam begini?” Suara kesal Kayana saat menerima panggilan dari nyonya Ratna, ibu dari mantan kekasihnya dulu, ibu dari Praditio.


“Sudah?” tanya Kayana acuh. “Kalau sudah saya matikan lagi teleponnya.” Muak.


“Heh…perempuan miskin, jaga mulutmu itu!” membentak.


“Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau ini tidak bisa menjauh dari hidup anakku? Kau ini seperti hantu saja, mengikuti dan muncul dikepalanya setiap saat.”


“Saya tidak pernah berkomunikasi dengan anak nyonya. Tidak setelah apa yang nyonya lakukan pada saya, tidak setelah bagaimana anak nyonya menghina saya.” Jawab Kayana lantang.


“Bukan urusan saya kalau anak nyonya mau apa dan sedang apa! Saya hanya ingin tenang melewati hari di sini dan segera bisa kembali ke keluarga saya.”

__ADS_1


“Tutup mulutmu! Jangan harap kau bisa kembali ke sini kalau isi kepala kau itu hanya ingin menganggu anakku saja. Hey…sadar diri. Kau itu siapa!” setengah berteriak.


“Cukup nyonya!” tidak mau kalah membesarkan suara. “Anda benar-benar membuat saya merasa muak. Anda pikir siapa anak anda itu hah? Lelaki terbaik di dunia ini? Saya, saya sangat menyesal pernah mencintai dia! Anda dengar? Saya menyesal pernah mencintai dia! Kalian sama saja, ibu dan anak sama-sama hanya menyusahkan hidup saya dan keluarga saya.”


“Saya tegaskan pada nyonya, saya tidak pernah menghubungi anak nyonya lagi. Dan, saya janjikan pada nyonya kalau sya tidak akan pernah MAU menghubungi dia lagi.” Menekankan kata mau dengan keras.


“Nyonya dengar? Tidak akan pernah!"


“Kurang ajar, perempuan rendahan, dasar perempuan rendah.” Memaki.


“Kau berani berbicara seperti itu padaku? Kau tunggu saja, tunggu kenyataan apa yang akan aku buat dalam hidupmu! Heh..tunggu saja!” mengancam dengan serius.


*****


Kayana tersadar, menatap wajah lelahnya kembali di depan cermin. Sejenak, peristiwa telepon masuk dari nyonya semalam kembali mengisi memori kepalanya. Ada denyutan sakit di sana mengingat semua kata-kata dari seorang ibu, ibu dari lelaki yang tidak bia dibohongi Kayana pernah sangat dicintainya. Dan sejujurnya, apakah Kayana sudah tidak mencintainya lagi pun, dirinya masih tidak tahu pasti.


Yang jelas, semua yang diucapkan oleh nyonya Ratna semalam bukanlah hal sepele. Kayana tahu benar sosok wanita itu. Seberapa jahatnya dia untuk sebuah keinginannya. Apa yang sanggup dia lakukan untuk kepentingan dirinya sendiri.


Inilah, inilah yang menjadi dasar bagi Kayana hingga, pada akhirnya dirinya memutuskan untuk bersiap di pagi sabtu ini. Berdandan ala kadar seperti kesehariannya dan bersiap menunggu kedatangan Sadewa.


Ya, kenyataan tentang ancaman dari seorang nyonya Ratna membuat Kayana memilih setuju dengan ide gila Sadewa. Kontrak pernikahan, Kayana siap melakukan semuanya demi keluarga tercinta disana, demi keamanan keluarga yang jauh dari jangkauannya.

__ADS_1


__ADS_2