
🌹🌹🌹
Kayana duduk di bangku pesawat yang akan menerbangkannya pergi jauh ke seberang sana. Perjalanan panjang selama hampir dua jam lebih di udara. Cuaca cerah, gumpalan awan bagai gulai manis menggoda jemarinya untuk bermain di jendela pesawat. Birunya langit selalu mengiringi laju pesawat yang semakin pasti membawanya pergi dari Ayah, Ibu, dan adik kecilnya.
Kayana duduk hanya dengan mata terus memperhatikan keluar jendela. Tidak berniat ramah tamah pada teman sebelahnya. Perpisahan yang terjadi tadi di bandara selalu menari di pelupuk mata indahnya. Sedih ? Jangan di tanya bagaimana kacaunya perasaan Kayana saat ini.
Hatinya tiada henti menangis, air mata jatuh ke dalam karena beratnya beban perpisahaan. Menjerit, itu yang di inginkannya. Tetapi, apa daya ? Semua harus berlanjut.
“Bagus, ternyata otak kecilmu itu berguna juga ya “. Nyonya Ratna Bram Kurnia tertawa terbahak-bahak saat Kayana mengabarkan bahwa dirinya sudah di dalam pesawat, sesaat sebelum pesawat terbang tadi.
“Jangan hubungi anakku ! Menghilanglah di dalam tanah selama kau di Kota itu ! Dan kembalilah setelah lewat enam bulan !” Perintah tegas si nyonya culas.
“Berani macam-macam dengan saya, nyawa keluargamu taruhannya ! Dan saya akan membuat kehancuran yang akan kau ratapi seumur hidupmu !” mengancam dengan semangat.
Ahhhh...Suara kegelisahan hati Kayana mengingat percakapan terakhirnya bersama nyonya Ratna. Setelah apa yang nyonya kaya itu lakukan, membuat Pradito sangat marah dan memasang wajah jijik padanya. Kayana lagi-lagi hanya bisa menangis pilu di dalam hati.
Lama memandang keluar, mencoba memilah awan untuk sekedar mengalihkan perhatiannya. Mata Kayana pun tertidur juga. Masuk ke alam bawah sadar, mengantarkannya pada ketenangan di tempat duduknya, entah berapa lama.
“Kayana “. Suara khas Praditio membuat Kayana terkejut. Dirinya yang sedang melamun, dengan handset terpasang di telinga, di bagian atas Klinik Bersama tempatnya bekerja, hingga tidak menyadari kedatangan lelaki itu. Praditio berteriak memanggil namanya.
 
 
“Iya, ada apa? Kenapa ke sini gak bilang Kak ?” Tanya Kayana sedikit heran.
“Kau menghianatiku ?” Nampak sedang menahan amarah.
“Kak Tio gomong apa ?” Berdiri, berjalan mendekati Praditio.
“Tidak usah sok lugu ! Kau pikir bisa menipu aku kali ini dengan wajah culasmu itu ?” menunjuk ke arah Kayana.
“Ada apa ini Kak ?” Berhenti berjalan, gaya bahasa Praditio sungguh membuat Kayana sontak terdiam. Begitu lama kisah kasih mereka terjalin, tidak sekalipun Pradito berbicara kasar pada dirinya.
“Sudah berapa lama kau hianati aku, hah ?” Marah. “Apa kurang aku padamu, apa kau begitu brengseknya sebagai wanita ? Hingga dengan gampangnya berselingkuh di belakangku ?” Meludah penuh kebencian.
“Jaga kata-katamu, Kak !” Tidak terima dengan semua kata-kata kasar Praditio. Tidak mengerti situasi saat ini, tetapi tidak rela di maki. “Aku tidak tahu apa masalahmu, tetapi aku tidak terima kamu hina !”
“Cuhhh “. Sekali lagi meludah. “Jadi aku yang harus terima, terima kau menduakan aku, terima kalau kau wanita yang tidak tahu diri ! Sialan kau, Kayana !” Membentak.
“Cukup !” Mendengar semua hinaan Pradito padanya, amarah Kayana pun terpancing juga.
“Belum, belum cukup ! Hatiku sangat sakit, kau tidak tahu diri, kau murahan !” Semakin lancar menghina.
“Pergi !” Usir Kayana sudah tidak tahan lagi.
“Kenapa ? Supaya kau bisa kembali kepelukan lelaki itu, merayu dia ?” sengaja berbicara dengan wajah merendahkan.
__ADS_1
“Praditio ! Aku tidak tahu setan apa yang merasukimu ? Tapi, satu hal yang pasti, kamu tidak berhak menghina aku dengan kata-kata serendah itu !” Tidak terima dan sangat marah.
“Ooo, jadi ini apa namanya ?” Memperlihatkan sebuah foto di layar handphonenya. “Apa ini namanya kalau bukan kau itu adalah wanita tidak benar ?”
A, apa ini ? Bertanya penuh ketidak percayaan di dalam. Mata membesar, pikiran sedang berusaha keras mengingat apa yang terjadi. Kayana sangat bingung, ada apa dengan semua ini ? Sebuah foto dirinya sedang berada di depan seorang lelaki bertubuh tinggi. Si pengambil gambar sangat pandai mencari sudut foto. Dalam foto itu, nampak Kayana sedang dalam adegan beradu bibir dengan mesranya.
Ya, semua yang melihat foto pada layar handphone Pradito, pasti akan di giring alam pikirannya ke arah sana. Jadi, wajar saja bukan kalau Pradito begitu marahnya ? Bahkan, Kayana sendiri juga marah. Foto itu membuat dirinya merasa mual.
Siapa, siapa yang tega membuat foto aku seperti itu ? Itu jelas tidak pernah terjadi, itu hanya editan. Membatin masih dalam keterkejutan.
“Dari mana kamu dapat foto itu ?”
“Kenapa, mau menyangkal ?” Masih sangat marah.
“Dengar Kak, itu bukan aku ! Aku tidak tahu siapa yang sengaja mengerjai aku, tapi yang jelas, itu bukan aku !” Menjawab dengan berani.
“Maling kalau mengakui kesalahannya, maka penjara akan penuh “. Memandang rendah pada Kayana.
“Aku tidak perduli apa pendapatmu “. Ada kegetiran di hati Kayana. “Mau kamu bilang maling kek, atau apalah itu. Terserah ! Yang jelas itu bukan aku ! Dan harusnya, kamu tahu itu !”
“Lima tahun kita bersama, akhirnya aku melihat juga kebusukanmu, Kayana. Kau wanita brengsek !” Menyipitkan mata penuh amarah pada Kayana. “Untung saja Mama memperlihatkan foto ini padaku, kalau tidak seumur hidupku, aku hanya kau jadikan lelaki bodoh “.
Apa, Mamamu biang semua ini ? Jadi, ini yang di lakukan nyonya kejam itu untuk memastikan hubungan kita akan berakhir. Berbicara tidak percaya dalam hati.
Glekkkk......
Kejamnya dirimu nyonya, sebegitu besar niatmu membuang aku dari sisi anakmu. Sampai tega kamu menciptakan foto menjijikkan itu. Kayana serasa ingin menangis di dalam hati.
“Dan kamu percaya pada Mamamu ?” Bertanya dengan sepenuh jiwa.
“Tentu saja !” Yakin. “Mama sampai menangis ketakutan saat aku memergoki Mama menerima foto kelakuan burukmu itu “.
“Mama tidak mau memberitahu aku, ternyata ini bukan kali pertama Mama mendapat foto tidak pantasmu di luaran sana !” Menunjuk ke arah wajah Kayana dengan tangan kiri. “Cih, kau benar-benar menjijikkan “.
“Apa, apa yang kamu tahu tentang Mamamu, hah ? Apa kamu tahu bagaimana sikapnya pada aku dan keluargaku ?” Berbicara setengah berteriak, Kayana mulai frustasi terhadap semua ini. Foto yang Kayana yakini adalah hasil editan si Mamanya Praditio. Kemudian, tuduhan Praditio padanya, susunan kata-kata Praditio sama parahnya dengan Mamanya pada Kayana. Dan terlebih lagi, di balik semua itu, keyakinan Kayana kalau ibu kandung kekasihnya itu telah dengan sengaja memfitnah dirinya, demi mencapai keinginannya menjauhkan Kayana dari anak semata wayang mereka.
“Tutup mulut kotormu itu “. Bersuara tinggi. “Wanita sialan kau, Kayana “.
“Mamamu sudah berkali-kali berusaha memisahkan kita, Mamamu tidak pernah setuju aku menjadi kekasihmu, apa lagi istrimu kelak. Nyonya Ratna berusaha keras membuat aku selalu jauh dari kamu, bahkan dari keluargaku. Dan apa kamu tahu ?” Menantang Praditio kesal. “Saat aku menolak keinginan wanita yang memaksa aku memanggilnya nyonya itu, dia sengaja menciptakan rumor buruk tentang ayahku. Hingga ayah harus berurusan dengan pihak berwajib “.
“Setelah semua yang kau lakukan padaku, sekarang kau mau menjelekkan Mamaku ?” Berjalan perlahan ke arah Kayana. “Kau keterlaluan Kayana !”
“Aku hanya ingin memberitahumu sebuah kebenaran ! Mamamu wanita kejam !” Berteriak marah.
“Kauuu...!” Mengangkat tangan kanan ke udara, bersiap akan memukul Kayana.
“Pukul, pukullllllll.....!” Kayana berteriak putus asa. “Air mata mulai jatuh di sudut matanya. “Ayoool ! Kamu tunggu apa Kak ? Pukul, ini pukul “. Tunjuk Kayana pada pipi kirinya.
__ADS_1
“Kamu, selama itu hubungan kita dan kamu sama sekali tidak mengenal aku dan siapa Mamamu ! Dengar, aku tidak pernah berbuat sebodoh itu kak ! Berciuman di depan umum dan membiarkan orang lain melihatnya ! Bahkan kamu saja tidak pernah bisa menciumku, apa lagi lelaki antah barantah ! Aku punya harga diri !” Kayana berteriak, melepaskan himpitan hinaan di hatinya. Dan Praditio, dia mulai menurunkan tangan kanannya perlahan, membuat jarak antara dirinya dan Kayana.
“Dan Mamamu, wanita yang hanya mengizinkan aku memanggilnya nyonya itu. Selama ini hanya berpura-pura baik padaku saat ada kamu di sampingku. Setelah itu, dia akan memasang tampang benci padaku, dia sangat memusihiku “. Masih bersuara keras.
“Mamamu berkali-kali mencoba memisahkan kita, dia mengirim aku jauh ke tempat entah apa itu, setiap kali dia punya kesempatan. Dan kamu tahu kak ? Saat kamu berhasil menemukan aku kembali dan hubungan kita berlanjut lagi, maka Mamamu memberi aku pilihan menyakitkan ! Jauhi kamu atau keluargaku akan disakiti “. Mengangkat kedua tangan ke udara, suara keras dan tubuh lelah. Kayana akhirnya memilih menceritakan semua rasa yang terpendam di dalam hatinya selama lima tahun menyandang status kekasih Praditio.
“Terakhir, baru kemaren sore nyonya Ratna, Mama tersayangmu itu meminta bertemu denganku. Seperti biasa, dia selalu mencari kesempatan buat menghina aku dan keluargaku. Menganggap kami rendah dan miskin. Setelah itu, apa kamu tahu rencana mamamu terhadap kehidupanku ? Dia menyiapkan tiket pesawat untukku, seperti biasa. Lagi-lagi dia membuang aku ke tempat yang jauh, demi bisa memisahkan kita ! Dan kalau aku tidak nurut, nyonya Ratna akan menyakiti Ayah dan Ibuku, serta menghancurkan masa depan adikku “. Mata Kayana mulai kembali meneteskan air mata. Menceritakan tekanan perasaan yang harus di telannya, akibat ulah sang Mama kekasih hati bukanlah hal gampang. Sedang Praditio, Wajahnya nampak meragukan semua penuturan Kayana.
“Kita putus “. Praditio mengeraskan rahangnya. “Kau tidak cuma murahan dan tukang selingkuh. Sekarang aku juga tahu wujud aslimu, kau munafik, tega merangkai cerita bohong untuk menyelamatkan dirimu, hingga memfitnah mamaku. Kau sangat menjijikkan Kayana !”
“Kamu tidak percaya padaku ?” Ada hantaman keras di hati Kayana.
“Untuk kau ketahui, Mama malah menahan aku tadi. Bermohon padaku supaya jangan ribut sama kamu. Mama yakin kamu punya penjelasan sangat masuk akal untuk ciuman menjijikkanmu itu ! Dan sekarang “. Menunjuk ke arah wajah Kayana. “Kau malah menyalahkan Mamaku. Cih, kau najis Kayana “.
“Hahahahaha....!!!!” Tertawa penuh keibaan, ada bulir bening semakin deras jatuh di sudut mata. “Aku sudah tahu kalau nyonya Ratna akan melakukan semua sebaik mungkin untuk memisahkan kita. Tapi, tapi aku tidak pernah tahu kalau dia akan sangat bagus menyusun semua ini, hingga membuat kamu benar-benar tidak bisa membedakan mana benar dan mana yang salah “. Wajah penuh kekecewaan.
“CUKUP “. Membentak Kayana.
“Semakin lama aku di sini, aku semakin ingin muntah. Kau wanita rusak, tidak bermoral dan penuh tipu muslihat. Aku sangat menyesal pernah mengenalmu, bahkan pernah jatuh cinta padamu “. Sangat marah.
“Sekarang kita tidak memiliki hubungan apapun. Kau bebas mau berciuman atau apalah itu bersama seribu lelaki manapun. Terserah !” Berbalik badan dan meninggalkan Kayana.
Kayana memegang kuat lapisan kain di depan dadanya, nafasnya sesak. Ada rasa sakit yang teramat sangat di sana. Hancur sudah pengharapan cintanya, sosok lelaki yang dicintainya malah berbalik bersemangat menghina Kayana. Semua berkat susunan permainan nyonya kaya yang sangat antipati padanya, dan Kayana hanya bisa menerima semua ini begitu saja.
“Tunggu “. Dengan suara pelan, menahan pecah tangis kepiluan terdalam, Kayana berusaha bersuara.
“Karena kita sudah putus, karena semua keinginan nyonya Ratna sudah tercapai. Maka, aku minta padamu ! Sampaikan pada Mamamu, aku tetap akan mematuhi perintahnya, aku akan pergi jauh seperti apa yang telah disiapkannya. Tetapi, tolong berhenti menyakiti Ayah dan Ibuku, dan jangan sentuh adikku “.
Praditio diam di tempat ia berdiri. Hanya mendengarkan tanpa berbalik badan, dan setelah Kayana berhenti berbicara, Praditio melanjutkan langkahnya, tidak melihat atau bersuara. Berbagai rasa tidak suka pada Kayana telah membutakan hatinya, Praditio sangat yakin Kayana telah melakukan dosa besar dalam hubungan percintaan mereka.
Dan,
“Bangun !” Ada suara dan gerakan tangan lembut di bahu Kayana. “Bangunlah !”
Kayana membuka mata perlahan, keringat memenuhi keningnya, ada air mata di pipinya dan nafasnya sangat berat, masih sesak.
“Apa yang terjadi padamu, nak ?” Tanya wanita yang terlihat mulai masuk usia senja, yang duduk persis di sebelah dirinya, di dalam pesawat.
“Kalau kamu mau, kamu bisa cerita pada Ibu “. Tersenyum pada Kayana.
Kayana berusaha mengatur nafasnya, melihat pada wajah wanita disebelahnya. Sudah mulai menua, tetapi jejak kecantikan masa mudanya masih nampak di antara kerutan di bagian kening dan di pipi putih itu. Wanita itu tersenyum padanya, menghapus keringat di kening Kayana dengan sapu tangan bersih dari dalam tas kecilnya. Membersihkan bulir bening di pipi sedihnya. Kayana melihat sapu tangan yang di pakai wanita tua itu, sapu tangan yang membuat dirinya ingat pada sosok Ibu tercinta di kampung halaman, di negeri nun jauh sana.
“Pegang ini !” Memberikan sapu tangannya pada Kayana, selesai dengan aktivitas di wajah Kayana. “Jangan menangis lagi ya, semua akan baik-baik saja ! Kamu harus berbahagia nak, kamu tidak layak bersedih “. Menggenggam tangan Kayana.
Kayana hanya memperhatikan dalam secara silih berganti mata jernih wanita baik itu, begitu hangat begitu penuh kasih, begitu teduh penuh perlindungan, dan akhirnya Kayana menerima sapu tangan tersebut. Memegangnya sangat erat.
Ibu.............berucap sepenuh jiwa di dalam hati. Berharap enam bulan segera berlalu dan segera pulang dalam pangkuan kasih Ibu tersayang lagi.
__ADS_1