Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Sangat Menegangkan (3)


__ADS_3

🌹🌹🌹


Nafas Quinsha mulai stabil, meskipun masih pendek tetapi, sudah nampak tidak menyakitkan lagi. Wajah nan mengemaskan itu masih memucat, masih memberi tanda kalau si sakit belum sepenuhnya baik-baik saja. Quinsha tidak sadarkan diri, tetapi pertolongan pertama serta obat terbaik telah diberikan kepada gadis kecil ini.


Kayana memperhatikan tetes demi tetes infuse jatuh dan berjalan sesuai hitungan waktunya masuk ke selang yang bermuara di pembulu datah kecil Quinsha. Ada kegetiran dalam di sana, Kayana tidak sampai hati melihat kesakitan yang sedang ditahan anak kecil yang belum genap berusia lima tahun tersebut.


Pelan dan penuh kasih, Kayana membelai kepala Quinsha. Membisikkan kata penguatan yang tulus dari relung jiwanya, yang disertai doa penuh pengharapan pada Sang Maha Kuasa agar Quinsha segera sadar. Kayana duduk di tepi ranjang di ruang gawat darurat itu, menemani Quinsha dalam ketidaksadarannya.


“Bagaimana cucuku?” Kayana mendengar suara bergetar pertanda sedang menaha tangis di pintu masuk ruang layanan gawat darurat. Tebakan Kayana, pasti keluarga Quinsha yang sedang mengkhawatirkan kondisi gadis kecil itu.


“Bunda tenang dulu ya, Quinsha sudah ditangani dokter anak terbaik kita.” Suara doktter Hadi kemudian terdengar menjawab kecemasan si penannya.


“Mana, dimana cucuku? Aku ingin melihatnya?” Sekarang suara itu terdengar serak di telinga Kayana. Kayana menduga kalau keluarga Quinsha ini telah gagal menahan laju air matanya.


“Bunda ikut aku, mari!”


Kayana berdiri, ingin mencoba memberi ruang pada siapapun itu yang terdengar sangat ketakutan dari suaranya.


“Cucuku, ya Tuhan……cucuku.”


Kayana menepi, memperhatikan sebuah pemandangan sedih. Dari posisi dirinya berdiri, Kayana melihat tatanan rambut yang di sanggul kecil dan rapi itu sudah mulai diwarnai nuasa putih. Tebakan Kayana, wanita yang sedang memeluk Quinsha itu pasti adalah sang nenek.


“Beliau nyonya Syania. Nenek dari Quinsha.” Agak berbisik, dokter Hadi memberi penjelasan singkat pada Kayana.


Dan Kayana, dirinya hanya mengangguk pelan untuk penjelasan dokter Hadi ini. Matanya terlalu fokus memperhatikan, bagaimana hancurnya hati wanita yang merupakan nenek si gadis kecil mendapati keadaan cucunya saat ini. Jelas, Kayana bisa tahu bagaimana sayang si nenek pada cucunya.


“Nyonya,” Entah keberanian dari mana Kayana maju mendekati Bunda Syania. “Kami telah melakukan yang terbaik untuk Shasa. Sekarang kita biarkan obat-obatannya bekerja! Nyonya harus yakin, sebentar lagi Shasa akan lepas dari kondisi buruknya!”

__ADS_1


“Apakah sangat buruk?” Tanya Syania sambil mengelus tangan mungil Quinsha. Mendekatkan tangan itu pada pipinya.


Syania menatap dokter Hadi, ada keraguan dihatinya untuk menjawab pertanyaan itu. Dan dokter Hadi, seakan bisa mengerti apa arti tatapan Kayana padanya maka, dengan pelan dokter Hadi menganggukan kepalanya dan memejamkan mata. Memberi tanda agar Kayana menjelaskan semuanya secara jujur pada wanita paruh baya yang sedang bersedih itu.


“Iya,” Kayana menarik nafas sesaat. “Saat di bawa ke sini tingkat kesadaran Shasa turun. Agak sedikit lama Shasa baru mendapat pertolongan. Sehingga, Shasa sempat mengalami reaski anafilaksis.”


“Apa artinya itu ?” Syania tidak mengerti.


“Maksud saya, Shasa mendapat reaksi alergi yang bisa mengancam jiwa. Ada pembengkakan pada saluran pernafasannya, sesak nafas dan pusing. Akibatnya kesadarannya menurun, tidak bisa bernafas normal dan merasa kesakitan di bagian dada.” Kayana mencoba menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin, bahasa orang awam.


“Ooooh…cucuku.” Syania mengangkat jemari mungil yang hanya diam di atas ranjang Rumah Sakit itu, mendekatkan pada bibirnya sekali lagi dan mencium dalam di sana. Seakan-akan sedang berusaha menyerap semua rasa sakit sang cucu dan berusaha memindahkan semua pada dirinya. Syania sangat beriba hati.


“Nyonya”. Tidak sampai hati, Kayana maju lebih mendekat lagi, berdiri persis di belakang Syania. Meletakkan tangan kanannya di bahu kiri Syania. Mencoba menghibur dalam ketidak berdayaannya.


Syania melihat jejeran jemari lentik yang terasa hangat di bahu kirinya. Jelas hatinya merasa ada empati dalam yang di kirim si pemilik jemari pada dirinya, membuat relung hatinya merasa dekat.


Syania membalikkan badan. Memperhatikan sepatu santai yang di pakai oleh seseorang di depannya itu. Sepatu sederhana, polos dan berwarna hitam. Kemudian, pandangannya naik lebih ke atas. Celana bahan berwarna biru muda dengan karet di bagian pergelangan kaki, sepertinya itu celana baggy yang juga masuk kategori sederhana. Hingga, jas putih khas jasnya seorang dokter nampak menutupi baju kaos berwarna kuning di dalamnya.


“Nak?” Syania tidak percaya dengan akhir dari pengamatannya, tepat di wajah seseorang yang tadi menyemangatinya. Dan ada pertanyaan yang diliputi keraguan disuarakan Syania. “Kamu seorang dokter ternyata?”


***********


“Ibu,” lama Kayana memeluk Syania. Memeluk tubuh wanita paruh bayu yang nampak sangat sedih terduduk bersama dirinya di sofa double di depan ranjang Quinsha, sangat terpuruk dengan situasi saat ini. Dengan lembut, Kayana membelai punggung bunda Syania, membiarkan si ibu ini menumpahkan isi hatinya.


Entah di detik keberapa, Syania melepaskan pelukannya dari Kayana. Menatap mata cokelat yang teduh itu. Tanpa suara, tanpa kata, hanya desah nafas berat yang terdengar di sana. Sungguh pemandangan yang membuat hati bersedih. Dokter Hadi yang sedari awal sudah terdiam dengan pemandangan kedekatan Kayana dan Bunda Syania, malah semakin tertegu. Sangat takjub melihat bagaimana hebatnya Kayana menenangkan Syania, bundanya seorang Sadewa yang nampak mulai lelah di sofa itu, di dalam kamar rawatan Quinsha. Membujuk si nenek yang tengah bergundah gulana ini dengan suara lembut dan senyum tulus.


Belum lagi bi Nun, dalam deras air mata sedihnya dengan kondisi sang nyonya, dirinya juga di buat tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya. Sang Nyonya besar nampak begitu dekat dengan dokter cantik yang telah membantu menyelamatkan nona kecil yang merupakan anak asuhnya itu. Begitu tulus dan sabar si dokter cantik menenangkan nyonya, Bibi sampai mengerjabkan matanya berkali-kali, seakan-akan ingin memastikan kebenaran tontonannya saat ini.

__ADS_1


“Ibu jangan menangis lagi ya,” berbicara lembut dan santun, Kayana menghapus air mata di wajah lelah Syania. “Shasa pasti kuat, dia pasti segera sadar.”


“Ibu sudah bilang, tidak usah berjumpa wanita itu. Tapi, Dewa tidak mau mendengar. Lihat, lihat nak,” Syania menunjuk ke arah Quinsha yang terbaring dengam mata tertutup rapat, infuse bergelayut di tangan kiri dan alat bantu pernafasan di hidung. “Dia masih sangat kecil nak, Ibu tidak mau kehilangan Quinsha.”


“Tidak, ibu tidak akan kehilangan Quinsha. Percayalah!” mengenggam erat tangan Syania. “Bu, Quinsha itu gadis kecil yang kuat, dia bisa melalui semua ini. Ibu harus percaya ! Tidak lama lagi, Quinsha pasti membuka matanya.”


“Iya, iya,” Syania menganggukkan kepalanya, berusaha menyakini semua penuturan Kayana padanya, berharap semua benar. Harapan sangat besar untuk sang cucu tercinta.


**********


Sudah hampir satu jam lamanya Quinsha telah dipindahkan ke kamar rawatan, kamar terbaik dengan dekorasi ala hotel mewah, sungguh menenangkan bagi si pasien dan bagi keluarga yang mendampingi tentunya. Quinsha terbaring dengan tangan masih terpasang infuse di atas ranjang empuk, dokter Hadi telah memerintahkan petugas Rumah Sakit membawakan ranjang terbaik untuk nona kecil keluarga Britania itu.


Di sudut kanan kamar tersebut, ada meja kayu bulat keci dengan vas bunga berisi bunga lili segar diatasnya, memberi kesegaran alami bagi semua orang di dalam kamar, bagai pengharum ruangan saja. Kemudian, ada aneka buah segar, air mineral hingga minuman bersoda dan aneka kue basah dan kering sebagai cemilan pelengkap meja. Tidak lupa, sofa empuk nan nyaman di atur di depan ranjang pasien. Membuat siapapun yang duduk di sana akan langsung bisa melihat kondisi pasien yang sedang di rawat. Terakhir, ranjang bersih dengan seprai hijau juga telah disiapkan di sisi kiri kamar, ranjang bagi siapa saja yang mungkin berencana menemani pasien di sana.


“Ibu sepertinya sangat lelah.” Kayana memijat lengan Syania pelan, berusaha meredakan kepenatan wanita yang masih jelas guratan kecantikan di masa mudanya, pada wajah yang penuh kesedihan itu. “Bagaimana kalau Ibu pulang saja dulu dan beristirahat, Shasa biar Ana yang jaga?”


“Ahhh, perasaan Ibu tidak tenang nak kalau harus meninggalkan Quinsha.” Tolak Syania.


“Bu, kita masih belum tahu berapa lama Quinsha akan sadar, karena itu Ibu harus istirahat! Sebab saat Shasa sadar nanti, dia pasti sangat membutuhkan ibu, neneknya.” Kayana tersenyum pada Syania.


“Jadi maukah ibu pulang dan beristirahat di rumah, tunggu kabar dari Ana ?” Kayana menepuk-nepuk pelan punggung tangan Syania.


“Ibu percayakan sama Ana? Ana pasti jaga Shasa sebaik mungkin!” senyum tulus Kayana kembali menghiasi sudut bibirnya. Kayana sangat santun, sangat lembut, hingga membuat Syania luluh, mengangguk pelan.


“Baiklah nak, Ibu akan pulang. Tapi, berjanjilah akan selalu mengabari ibu ya!” Pinta Syania pelan.


“Pasti, dan ibu jangan ragukan itu. Yang terpenting sekarang adalah ibu istirahat dan tolong bantu doa agar Shasa cepat sehat!” Kayana memeluk Syania sesaat. Megusap-usap punggung Syania dengan begitu lembut.

__ADS_1


__ADS_2