
🌹🌹🌹
“Saya panggilnya dokter Kayana atau dokter Ana ya ?” Perawat Diandra memulai bersuara diantara langkah kaki dirinya dan Kayana.
“Terserah saja, enaknya panggil apa “. Jawab Kayana sambil tersenyum.
Mimpi apa aku semalam, tahu-tahu pagi ini bisa punya atasan secantik ini. Berbicara di dalam hati sambil memperhatikan senyum Kayana.
“Kalau di jam kerja panggil dokter Ana saja “. Perawat Diandra memberi pendapat.
“Memang setelah jam kerja berlalu, berencana mau panggil apa ?” Kayana heran.
“Panggil Mbak aja, boleh ?” Berbicara dengan wajah menghadap pada Kayana. Kedua alis Diandra terangkat.
“Memang perawat Diandra umurnya berapa ?” Sedikit penasaran.
“25 “.
“Ooo, memang seumuran sih dengan adik saya, Rana “. Mengerakkan kepala naik turun dengan pelan.
Dan sepertinya kamu memang mirip adik aku deh, cepat akrab. Berbicara di dalam hati masih dengan kepala mengangguk-angguk.
“Jadi gimana ?” Diandra bertanya sekali lagi.
“Gimana bagus menurut perawat Diandra saja. Saya setuju saja “. Tersenyum ke arah Diandra.
“Mbak juga jangan kaku gituh sama aku “. Memasukkan tangan ke saku celana, bersikap santai. “Panggil saja aku, Di ! Seperti yang lain. Gak perlu pake perawat segala ! Terussss, gak usah juga pake saya, anda segala ! Formal banget tau “. Bicara masih santai sambil memandangi wajah Kayana.
Cantik, puji Diandra dalam hati.
“Loh, kok udah panggil Mbak aja ?” Kayana menghentikan langkahnya.
“Perjanjiannya kan gituh tadi. Di luar jam kerja boleh panggil Mbak, dan sekarang kitakan di luar jam kerja “. Ikut menghentikan langkahnya.
“Ehhh..iya ya. Sekarang bukan jam kerja. Hehehe “, tertawa cekikikan, sedikit salah tingkah.
Duh, gemesin banget sih kamu dokter Kayana kalau sedang kikuk gituh. Diandra menatap lekat wajah Kayana.
__ADS_1
Segera, Diandra mengerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri pelan. Berusaha menghilangkan isi kepalanya barusan.
“Baiklah, apa Mbak siap aku ajak keliling Rumah Sakit ini ? Aku akan menjelaskan seluk beluk semuanya sama Mbak “.
“Tentu saja “. Mendadak bersemangat.
“Mohon bantuannya buat jadi pemandu keliling aku hari ini ya “. Tersenyum secerah mentari pagi.
Astaga, tuh kan cantiknya. Batin Diandra terkagum lama.
***************
“Nah, ini rute terakhir yang akan aku tunjukkan pada Mbak Ana “. Diandra menunjuk sebuah pintu tepat di depan mereka. Pengenalan lingkungan baru sudah selesai, semua seluk beluk Rumah Sakit sudah di jelaskan Diandra serinci mungkin. Tiap sudutnya sudah di tunjukkan tanpa terlewatkan barang satu senti saja. “Ini ruang prakteknya Mbak “. Membukakan pintu selebar mungkin.
“Silahkan masuk Mbak “. Berjalan duluan, kemudian berhenti di dalam ruangan menunggu Kayana masuk.
Kayana melangkah pelan, mengamati ruang baru tersebut.
Ruang kerja baru, tempat praktek baru, teman baru. Ahhh, di sinilah aku sekarang, memulai semua dari awal. Jauh dari keluarga dan jauh dari Praditio. Bersuara iba di dalam hati.
“Kenapa Mbak ?” Diandra membuat Kayana terperanjak. Kaget dari pertentangan hati dan pikirannya.
“Kamu gak suka ya ?”
“Ooh, bukan...bukan gak suka “. Menghenyahkan segala isi kepalanya, membuang jauh isi hati yang mengiba.
“Aku cuma kagum saja, ruang praktek ini benar-benar jauh berbeda dari ruang praktek aku di tempat kerja dulu. Ini tuh luar biasa banget “. Kembali memasang senyum secerah mentari di wajah cantiknya.
“Mbak kalau gak suka bilang aja, sebelum besok mulai tugas perdana di sini, aku bisa ganti semua yang Mbak suka. Pokoknya tinggal bilang saja sama aku “. Diandra mengajak Kayana ke arah kursi kerjanya.
“Beneran Di, ini tuh lebih dari yang aku mau. Ini benar-benar luar biasa, gak perlu di tukar-tukar lagi “. Duduk di kursi kerjanya.
Empuk, tersenyum simpul.
“Okeh, kalau Mbak yakin seperti itu “. Terlihat percaya.
“Sekarang aku jelasin jadwal praktek Mbak ya !” Mendudukkan diri sendiri pada kursi tepat di meja kerja Kayana.
__ADS_1
“Iya....!” Menjawab cepat, sepertinya semangat Kayana untuk kembali bekerja sudah kembali lagi. Diandra pun jadi ikut terbawa suasana. Sepertinya, dirinya akan menyukai atasan barunya itu.
***************
“Buaaahahahaha “, Kayana tertawa lepas. Begitu plong begitu senang, rasanya hari ini adalah hari terindah bagi Kayana setelah dua hari yang lalu, saat dirinya harus melangkah pergi menjauh dari orang-orang terkasih dalam hidupnya. Dan, menjauh dari lelaki yang tega berpikiran buruk padanya, hingga menyusun kata-kata merendahkan sedemikian rupa menyakiti relung hatinya.
Sore ini, setelah selesai menjelaskan acara perkenalan lingkungan baru tempat kerjanya, hingga penjelasan jadwal praktek dirinya. Diandra membawa Kayana pergi ke pantai. Tidak terlalu jauh, apalagi mereka sengaja mengendarai motor milik Diandra, bisa di tebak. Lalu lintas sore hari pun terlewatkan dengan mudah.
Inilah mereka sekarang, Kayana duduk bersebelahan dengan Diandra dengan ombak yang berkejaran sebagai latar dan putihnya pasir pantai yang tabah menunggu ombak menghampiri, lagi dan lagi.
Diandra ikut tertawa mendengar suara tawa merdu Kayana yang pecah begitu saja saat mendengar leluconnya tadi. Entah kenapa, Diandra merasa takjub dengan gadis cantik yang duduk tiga puluh senti dari dirinya itu.
Kamu gemesin banget sih Kayana kalau sedang ketawa. Hati kecil Diandra tiada bosan memuji pada Kayana.
“Mbak, masih mau disinikan sambil lihat matahari tengelam ? Cakep loh Mbak, senja indah yang di tampilkan alam buat kita “. Diandra bertanya dengan tangan mengapai gelas tinggi berisi jus mangga segar.
“Atau mau aku bawa ke tempat lain, Mall yang dekat sini misalnya ?”
“Aku sebenarnya mau banget Di, tapi....!” Nampak ragu. “Berhubung besok aku kerja jam siang sampe pagi. Jadi, rencananya malam ini mau menikmati makan malam di rumah, makan masakan Bi Mar “.
“Ya udah, acara perkenalan daerah sekitar Rumah Sakit kita lanjutkan lain waktu saja. Mbak gak perlu ragu, kapan ada waktu luang, bilang sama aku. Nanti aku bakal bawa Mbak kelilingi semua tempat deh, seluk beluk kota ini akan aku perkenalkan sama Mbak”. Bicara sangat yakin.
“Boleh, kamu janji ya !” Merasa senang mendapatkan rekan kerja sekaligus teman sebaik Diandra.
“Pasti “. Mengangkat jari telunjuk dan tengah tangan kanan ke atas.
“Hahahaha....”, tertawa bersama.
“Makasih Di “. Tersenyum bahagia.
“He-eh”.
Duh, tuh senyum. Manis amat ya, bisa buat aku meleleh nih. Mencoba menelan isi gelas jusnya sebanyak mungkin demi menutupi isi hatinya.
“Kita balik Rumah Sakit yuk “. Berdiri. “Supaya Mbak gak kemaleman buat makan malam di rumah “.
“Ayukk “. Setuju dan ikut berdiri. Kemudian berjalan santai di lembutnya hamparan pasir putih, berjalan beriringan bersama Diandra sambil memperhatikan lalu lalang keramaian pantai di sore itu.
__ADS_1