
🌹🌹🌹
Quinsha mulai semakin mengeraskan suara batuknya, sepertinya gadis kecil nan imut ini sedang mengalami sesuatu hal yang kurang mengenakkan di bagian kerongkomgan dan rongga pernafasan. Keringat mengucur di wajahnya, nafasnya agak tersangkut, Quinsha mulai gelisah.
Beberapa saat berlalu, Quinsha semakin tidak bisa tenang. Batuknya mulai menggeras, nafasnya mulai berbunyi. Lelaki bertopi kuning memperhatikan dari posisinya berdiri, ada kecemasan di wajahnya, Quinsha jelas sedang tidak baik.
“Gadis cantik, kamu kenapa ?” Si penjaga gerai es krim sudah bersimpu di depan Quinsha.
Dan sebagai jawaban, lelaki muda itu justru mendapati nafas Quinsha sedang tersengal, sekan ada yang menyumbat aliran udara diparu-paru kecilnya, seakan-akan Quinsha sedang tercekik.
“Astaga, kamu kenapa jadi seperti ini dik ?” Panik, si penjaga gerai ek krim memegang pipi Quinsha pelan, sedikit takut, Quinsha mulai nampak pucat dengan keringat yang membasahi bagian depan rambutnya.
“Kamu sakit “, entah itu pertanyaan untuk Quinsha atau pernyataan untuk dirinya sendiri, tetapi yang jelas pemuda bertopi kuning ini tahu bahwa dirinya harus segera menolong Quinsha.
“Mer, Merdiiiiiiii “, teriak pemuda bertopi kuning memanggil sebuah nama.
“Merdi kemarilah sebentar, tolong aku!”
“Aiisshhh, kau ini kenapa teriak-teriak sih ? Aku itu sedang sibuk di belakang “, penuh tatapan kesal, sosok lelaki yang bernama Merdi berjalan malas mendekat ke si lelaki bertopi kuning.
“Ada yang tidak beres dengan adik kecil ini, lihat !” Panik.
“Heh, kau gila ya ? kau apakan anak kecil itu sampai jadi seperti ini ?” Ikutan panik.
“Jaga mulutmu bodoh ! Aku juga tidak tahu dia kenapa. Aku mendapati dia beberapa saat tadi baik-baik saja dan beberapa saat kemudian sudah seperti ini.“ Menunjuk ke arah Quinsha.
__ADS_1
“Apa, apa dia keracunan ? Tapi, tapi es krim kita masih jauh dari kadarluarsakan ? dan, dan es krim kita terbuat dari bahan alami, sangat amat,” mulai sedikit takut, bicara mulai tersendat-sendat. Kondisi Quinsha membuat kekhawatiran.
“Tentu saja bukan karena es krim kita, bahan yang kita pakai semua higienis dan masih jauh dari masa kadarluarsa “.
“Hey, kita harus apa ?” Semakin panik menatap pada lelaki bertopi kuning, sangat berharap solusi. Quinsha mulai menangis, jelas dia sedang menahan sakit.
“Kau jaga gadis kecil ini sebentar, aku akan cari keluarganya !” Berdiri, menepuk bahu Merdi kuat memberi perintah. “Jaga dia baik-baik!”
Secepat yang dia bisa, lelaki bertopi kuning segera berlari ke arah tempat yang mungkin di tuju oleh wanita yang nampak di awal bersama Quinsha, si Melani. Bergegas, sambil melihat kekanan dan kekiri, dirinya nampak sibuk mencari sosok wanita seksi nan cantik itu.
“Ahhh, kemana coba tuh orang ?” Sedikit gos-gosan efek berlari, tetapi yang di cari tidak juga bersua.
Dan….
“Dimana kau ?”
Suara Merdi, teman si topi kuning terdengar setengah berteriak di ujung telepon. bisa di tebak, kepanikan semakin melanda si penelepon saat ini.
“Aku tidak menemukan wanita yang bersama anak itu. Aku harus bagaimana ?”
“Cepat kebagaian informasi, beritahu ciri-ciri si anak dan katakan kondisinya saat ini !” Perintah si penelepon, “Jangan buang waktu lagi ! gadis kecil ini semakin memutih. Aku, aku takut dia kenapa-kenapa kalau terlalu lama lagi “.
Lelaki bertopi kuning segera berlari kebagian informasi, secepat yang mampu kakinya tempuh, bahkan beberap kali dirinya tanpa sengaja menabrak para pengunjung. Membuat orang yang tertabrak marah dan kesal. Membesarkan bola mata sebagai wujud tidak suka.
“Tolong, aku mohon pak tolong !” Dengan sisa nafas yang tersisi, si lelaki topi kuning berbicara cepat. “Ada, ada anak yang mendadak sakit di gerai es krimku. Kondisinya memburuk, tolonglah lakukan sesuatu, aku tidak menemukan keluarganya !“
__ADS_1
“Kau tarik nafas dulu, coba tenang !”
Petugas bagian informasi mendekati si lelaki bertopi kuning.
“Kami pasti membantumu, sekarang duduk dulu ceritakan kronologis kejadian dengan lengkap !”
Satu tarikan nafas panjang, si lelaki bertopi kuning terduduk di depan petugas informasi. Setelah tenang, walaupun tidak benar-benar tenang, lelaki bertopi kuning itu menceritakan semua kronologis tentang Quinsha, tentang kedatangannya bersama seorang wanita seksi yang cantik, hingga akhirnya gadis kecil yang sangat imut itu mendadak sakit, mendadak kesulitan bernafas dan sekarang mulai memucat.
“Diberitahukan kepada para pengunjung, orang tua dari anak…………,” Tepat setelah lelaki bertopi kuning menyelesaikan penjelasannya tentang kronologis Quinsha sampai ke gerai es krimnya, hingga kondisi terakhir Quinsha saat di tinggalnya tadi. Maka, secepatnyaitu pula bagian informasi menyuarakan tentang keberadaan Quinsha, ciri-cirinya dan sosok wanita terakhir yang bersamanya. Kemudian, seperti apa situasi yang tengah dialami Quinsha pun diinformasikan melalui pengeras suara. Terdengar jelas, dua kali informasi ini di ulang-ulang oleh petugas. Suara keras si petugas membahana di semua sudut Mall, membuat sesaat aktivitas semua orang berhenti, semua menyimak penjelasan terbaru ini.
EPILOG
“Nona kecil,’’ Bi Nan langsung mengenali ciri-ciri gadis kecil yang diinfomasikan pengeras suara Mall. Mendadak sebentuk perasan cemas memenuhi relung hatinya, percampuran antara takut dan perasaan bersalah. Bi Nan langsung berlari ke pusat sumber suara, matanya mulai berkaca-kaca.
“Bi Nan, tunggu!” Janu, sopir yang bertugas mengantarkan Quinsha bersama bibi pengasuhnya berteriak di antara ramainya pengunjung Mall. Dengan berlari cepat, Janu menghampiri si bibi.
“Kenapa si non ?” Janu langsung mengintrogasi si bibi. “Kenapa bisa sakit bi?”
“Aku juga gak tahu Janu, tadi si non sama nona Melani. Tetapi, entah bagaimana malah jadi seperti ini.”
“Yang aku dengar, si non di tinggal sendiri. Apa benar?”
“Tadi non Melani minta izin bawa nona kecil beli es krim, aku di suruh tunggu nyonya di sini. Aku gak tahu lagi setelah itu apa yang terjadi,” nyaris menangis, si bibi nampak sangat merasa bersalah.
“Bibi telepon Pak Martin, ceritakan kondisi nona kecil! Tuan Sadewa harus tahu. Sedang aku, aku akan ke gerai es krim itu, kita harus segera bawa si non ke Rumah Sakit.” Hanya itu kata-kata yang terdengar oleh bibi Nan sebelum Janu menghilang dalam kecepatan larinya di tengah keramaian. Satu tetes air mata jatuh di sudut wajah tuanya, bibi Nan nampak gemetar saat jemari tuanya mencari nomor telepon Mertin di layar handphone miliknya.
__ADS_1