
🌹🌹🌹
“Ayah jahat..hikss..hikss..hiksss”.
Suara tangis Quinsha memecah heningnya malam.
“Sa…..” mencoba membujuk, meskipun sudah hampir lewat enam menit dan Sadewa tetap gagal menenangkan Quinsha.
“Po..pokoknya Ayah jahat…hikss..hikss..hikss.” berbicara sambil menangis, padahal suara sudah mulai sesegukan.
“Nak, tapi ini sudah malam.” Sadewa tetap berusaha menyakinkan Quinsha.
“Ya itu..justru kalau sudah malam kenapa Shasa di bawa pulang?” tetap tidak terima.
“Astaga Sa.” Usap wajah, Sadewa mulai frustasi.
“Kenapa, ada apa ini kak?” Tomi berlari cepat masuk kekamar Quinsha. Duduk ditepi tempat tidur gadis kecilnya dan langsung memeluk Quinsha.
“Kakak apakah Quinsha ha?” Beripikir buruk. “Tangisnya sampai terdengar keluar.” Marah
“Aku gak apa-apakan Quinsha, Tom.” Berusaha menghindari salah paham. “Justru aku sedang bujuk dia.”
“Sudahlah, kakak memang tidak bisa aku harapkan.” Masih marah. Sambil membelai rambut Quinsha yang masih juga menangis sedih didalam pelukan Tomi. “Dua hari lagi aku akan bawa Quinsha.”
“Hey..hey…tenang dulu Tomi!” merasa ada kesalah pahaman yang perlu diluruskan. “Kau ini bicara apa?”
“Aku ada di sini saja, Quinsha bisa menangis sekeras ini. Dia sangat sedih kak! Apa lagi kalau aku tidak ada, entah bagaimana kondisinya.” Tidak senang.
“Kau ini, sudah salah mengartikan situasi. Sekarang malah marah tidak jelas.” Menghembuskan nafas dalam.
“Kau tanyakan langsung saja pada Quinsha penyebab dia menangis!” Sadewa malas berdebat.
“Anak papa, kenapa sayang? Kenapa sedih gitu?” tanya Tomi sambil mencium puncak kepala sang anak.
“Bilang papa, ada apa?” Membujuk.
“Ayah, pa…ayah..hikss..hiksss…hiksss.” kembali menangis sedih.
“Ayah apain Shasa? Dipukul, iya nak? Dipukul.” Menuduh sesukanya.
“Heh..kau ini sudah gila ya?” Sadewa sekarang yang marah.
“Bilang papa, ada apa nak?” acuh dengan ketidak terimaan Sadewa.
“Shasa bukan di pukul sama ayah, pa.” mengeleng pelan. “Tapi…tapiiii…Shasa dibawa pulang sama ayah. Huwaaaaaaaa.” Menangis penuh drama.
“Maksudnya Sa?” Gagal paham.
__ADS_1
“Ayah bukan tinggalin Shasa sama bunda, pa. ayah malah bawa Shasa pulang…huwaaaaaa.” Adegan drama kembali terpampang jelas di depan Sadewa.
Sadewa sekali lagi menarik nafas dalam, jelas mengerti ulah gadis kecil nan imut kesayangannya. Tetapi, tidak demikian bagi Tomi. Tomi masih belum bisa mencerna semuanya.
“Kak?” Tomi beralih ke Sadewa. Jelas Quinsha tidak memberikan penjelasan apa-apa padanya.
“Huffftttt.” Satu hembusan nafas panjang.
“Tadi aku bawa Quinsha main di taman yang di daerah Jalan Merang. Aku bawa Quinsha main kesananya bareng sama Kayana, dokter spesialis anak baru di Rumah Sakit kita. Dokter yang sekaligus juga telah menyelamatkan Quinsha.” Memulai penjelasan.
“I..Iyaa pa.” Quinsha memotong cepat. “Tapi, hiksss..hikssss, habis itu Shasa di bawa pulang, bukan ditinggalin.”
“Hah?” Tomi tetap belum mengerti.
“Shasa mau main di taman itu lebih lama? Besok ya nak! Sekarang hari sudah malam. Besok Papa bawa Shasa kesana, kita main seharian ya!” memberi solusi.
“Ahhhh…” merajuk. “Papa sama seperti ayah, jahat….huwaaaaaa.” melepaskan diri dari pelukan Tomi beralih guling-guling di atas kasur sambil menangis keras.
“Kak?” Tomi kembali menuntut penjelasan dari Sadewa. Sikap Quinsha sukses membuat Tomi mulai panik.
“Aku baru saja mengantarkan Kayana pulang, hari sudah malam dan Quinsha tertidur saat Kayana turun tadi.” Lanjut berbicara dengan mata tidak henti memperhatikan si imut Quinsha yang masih menangis di sana.
“Ternyata setelah sampai dirumah, Quinsha bangun dan mendapati tidak ada Kayana di sini. Alhasil, kau lihat sendiri endingnya sekarang.” Mengerakkan kepala pada Quinsha. Sekarang gadis kecil itu memilih menelungkup, membuat suara tangisnya terdengar putus-putus.
“Shasa maunya gimana?” Tomi duduk lebih dekat pada Quinsha. Membelai rambut hitam sebahu itu dengan penuh kasih.
“Hari sudah malam nak.” Tomi berbicara pelan.
“Ya udah, kalau sudah malam biarkan saja Shasa sama bunda.” Duduk dan menatap kecewa pada Tomi dan Sadewa bergantian.
“Besok kita kerumah Kayana lagi! Shasa boleh main sampe puas di sana.” Sadewa mencoba mencari solusi termudah. Gadis kecil kesayangannya sedang merajuk, sedih dan terus menyalahkan dirinya. Jelas Quinsha berharap akan tidur dirumah Kayana, di dalam pelukan Kayana. Quinsha berharap hal itu yang akan dirasakannya malam ini.
Perasaan bahwa dirinya memiliki sosok perempuan dewasa yang sangat sayang padanya, membuat Quinsha sangat memuja Kayana. Dokter cantik itu ternyata telah memenuhi ruang kosong akan sosok ibu di dalam hatinya.
“Ayah gak bohong.” Secepat kilat menghapus air mata, senyum manis menghiasi pipi gembul yang memerah karena menangis.
Cepat sekali berubahnya. Mendadak jadi imut lagi. Sadewa tersenyum sendiri. Geli.
“Ayah gak bohong!” Mengangkat jari telunjuk dan jari tengah sebelah kanan tinggi. Berusaha membuat sumpah serius.
“Yeeeee…yeeeee..yeeeeee.” mendadak kegirangan. “prok..prokk..prokkkk….” tepuk tangan saking girangnya.
“Ayah yang terbaik deh.” Sekarang menjatuhkan diri dalam pelukan Sadewa.
“Cup.” Mencium pipi kanan Sadewa. “Shasa sayang sama Ayah.”
**********
__ADS_1
“Shasa sangat menyayangi Kayana ya kak?”
Tomi dan Sadewa duduk di ruang keluarga. Televise menyala, sedang memutar sebuah film action di salah satu televise dari Negara luar sana. Namun, dua orang lelaki yang memiliki tingkat ketampanan luar biasa ini tidak ada yang memperhatikan isi siaran televisi itu. Mereka lebih memilih menikmati suguhan minum masing-masing sambil berbicara. Sadewa dengan jus golden melonnya, dan Tomi dengan kopi hitamnya.
“Iya.” Menjawab dengan mata menerawang jauh. “Shasa benar-benar mengekori Kayana.”
“Wanita seperti apa Kayana itu?” Ingin tahu.
“Menurut Hadi, dia sangat berdedikasi. Dia professional dan disukai pasien serta keluarga mereka. Dia pandai dalam menjalankan pekerjaannya.” Jawaban diplomatis.
“Lantas kalau dari segi fisik?” Tomi masih penasaran.
“Emmmmm….” Berpikir. “Cantik sih.”
“Sih? Pakai sih?” heran.
“Ya, gituh.” Malas memberi penjelasan.
Dia terkadang sangat suka membuat akau marah. Merepotkan saja. Batin Sadewa.
“Oke! Dia penyayang pada anak-anak, terbukti dari hasil kerjanya yang diakui Kak Hadi. Terus dia cantik, terbukti dengan pengakuan kakak barusan.” Lagi usaha membuat kesimpulan.
‘Apa maksudmu bilang pengakuanku? Awas kau ya kalau asal bicara!” menatap Tomi memberi peringatan keras.
“Kalau memang dia sosok yang baik, cantik dan disukai Quinsha. Kenapa Kakak tidak nikahi dia saja?” peryataan dan pertanyaan yang berhasil membuat Sadewa tersedak.
“Huk…hukkk.” Sadewa terbatuk.
“Kau sudah gila apa? Sembarangan berbicara padaku?”
Pukkk…satu pukulan mendarat di kepala Tomi.
“Sakit tahu!” mengusap kepala dan kesal.
“Kalau memang Quinsha menyukai dokter itu, kenapa kakak tidak membuat gadis kecil kita memiliki keluarga utuh lagi?” meskipun kesal tetapi, Tomi masih berusaha mengajak Sadewa berbicara terus.
“Aku yakin, kalau Quinsha saja suka, apa lagi bunda!” yakin.
“Bicara aneh-aneh lagi, aku pukul lagi kepalamu!” Sadewa melotot kesal.
“Dan kalau kakak beneran nikahi wanita yang di sayangi Quinsha. Maka, aku akan pergi kak, pergi dan tanpa membawa Quinsha. Sebab aku yakin, kesempurnaan keluarga telah didapatkannya di rumah ini. Bersama kakak dan wanita yang dipanggil Quinsha, bunda itu.” Tetap berbicata meski tingkat ukuran mata Sadewa masih juga melotot besar.
“Quinsha harus tumbuh dewasa dengan belaian seorang ibu, dan aku yakin meskipun belum pernah bertemu sama Kayana ini. Tetapi, dari kesedihan Quinsha tadi, dari kerasnya tangisan anak itu, aku bisa tahu. Dokter Kayana ini sangat sayang pada Quinsha.” Tomi menjelaskan semua pendapat dirinya, semua sudut pandangnya. Karena Tomi yakin, hati Quinsha masih sangat suci. Anak semata wayangnya itu bisa membedakan mana baik dengan ketulusan, dengan kasih sayang dan mana yang hanya kepura-puraan saja.
“Kau gila?” Sadewa masih sulit percaya.
“Demi kebahagiaan Quinsha, biarlah aku sedikit gila kak.” Tomi menatap jauh ke arah dinding didepannya, kosong. Dengan hanya berdiam diri, Tomi lebih memilih mencerna semuanya, semua hal yang mampu dirinya lakukan untuk gadis kecil semata wayangnya. Buah cinta termanis dan terindah bersama sang isteri yang telah tiada.
__ADS_1