
🌹🌹🌹
 
“Ayah temani ya “. Sadewa menahan tangan gadis kecil kesayangannya yang sudah bersiap untuk turun. Mobil mewah milik Sadewa sudah berhenti di depan swalayan langganannya. Sopir sudah menarik rem tangan, menyiagakan mobil dalam kondisi aman.
“Ayahhhhh....”, menolak tegas.
“Kalau sama Paman gimana ?” Tawar Martin dari posisi bangku depan.
“Ihhhh...”, nampak kesal. “Ayah sama Paman ini “.
“Shasa itu udah gede, ngapain ditemani coba ?” Protes.
“Maaf kesayangan Ayah “. Sadewa memilih mengalah.
“Nah, gituh dong Ayah “. Senang mendengar nada mengalah Sadewa.
“Sebentar ya Ayah !” Berjalan turun, keluar dari mobil dengan langkah riang memasuki swalayan.
Quinsha sibuk melihat ke kanan dan ke kiri, menimbang apakah benda yang akan dirinya beli untuk sang nenek tersayang.
“Beliin nenek kue cokelat aja ahhh “. Tersenyum senang saat menemukan lemari pendingin yang menjulang tinggi di depannya. Ada aneka kue basah yang bisa di pastikan bahan utama pembuat kue itu adalah cokelat. Cukup menggiurkan.
“Ehhhh.....”, Quinsha berusaha membuka lemari pendingin. Dan gagal, tenaganya kurang kuat untuk berhasil membuat benda di depannya terbuka.
“Gak bisa “. Masih berusaha sekuat tenaga, mengulang kali kedua untuk membuka.
“Ihhh.....”, mulai kesal sendiri.
“Apa panggil Ayah aja ya, minta bantuin ?” Berpikir sendiri mencari solusi.
“Tapiiiiii ?” Nampak ragu.
Ternyata...
Selama Quinsha sibuk dengan aktivitas membuka pintu lemari pendingin, selama itu pula ada sosok wanita cantik berambut panjang yang tersenyum sendiri memperhatikan kelucuan Quinsha. Mata indah dengan jajaran bulu mata lentik itu tersenyum sendiri. Quinsha lucu, imut dan yang paling penting sangat gigih berusaha.
“Hallo cantik “. Suara merdu sosok wanita bermata indah menyapa Quinsha. Tidak tahan untuk mengajak si gadis imut berbicara.
Quinsha berbalik badan, memandang si sosok pemilik suara merdu dengan sesama. Dari kepala hingga akhir jari-jari kaki.
Bunda....Tetiba hati kecil Quinsha menyebut sebuah nama.
“Hallo “. Menjawab dengan wajah membalas tersenyum. Sosok wanita bersuara merdu itu sedang tersenyum padanya.
Sepertinya orang baik, cantik lagi, aku mau bunfa seperti ini. Berspekulasi di dalam hati.
__ADS_1
“Kamu ada masalah ? Ada yang bisa aku bantu ?” Menurunkan badannya, berusaha mensejajarkan dirinya dengan Quinsha.
“Itu “. Menunjuk bagian kaca lemari pendingin tempat aneka kue berada. “Shasa mau beli kue itu Kak. Tapi, Shasa gak bisa buka lemarinya “. Menghembuskan nafas kecewa.
“Jadi, nama gadis kecil yang cantik ini Shasa ya ?” Masih berbicara dengan senyum manis di wajahnya.
“Huuh “. Quinsha mengangguk cepat.
“Kalau gituh perkenalkan, Kakak namanya Kayana “. Mengulurkan tangan, berniat menjabat tangan mungil Quinsha.
Quinsha menerima uluran tangan Kayana, menggenggam erat sebisa tangan mungilnya dan mengangguk entah untuk apa.
Boleh panggil bunda gak ya ? Bertanya sendiri di dalam hati.
“Mau Kakak bantu ?” Kembali menawarkan diri.
“Iya...mau “. Bersuara sangat senang.
“Okeh “. Kemudian Kayana berdiri, mengapai Quinsha dan mengendong tubuh kecil itu. Membukakan lemari pendingin yang penuh berisi aneka kue cokelat lezat, yang siap membuat mata penikmatnya kalap dalam sekejap.
“Mau pilih yang mana Sha ?” Melihat si kecil yang mengemaskan itu tampak ragu dengan banyaknya pilihan.
“Nenek suka yang ada cokelat tapi, juga ada blueberrynya Kak “. Berusaha memberi sedikit informasi, berharap mendapat bantuan dalam memilih.
“Emmmm, kalau yang ini gimana ?” Menunjuk kue cokelat di pojok atas rak kedua lemari pendingin, sederhana tampilannya, tetapi ada selai blueberrynya. Bahkan, ada buah blueberry segarnya juga diatasnya.
“Wiiih, itu kayaknya enak deh kak “. Bersorak setuju. “Nenek pasti suka !”
“Hem “. Mengangguk mengiyakan dengan wajah berbinar senang.
“Mau kakak bantuin bayar ke kasir ngak ?” Quinsha masih berada di dalam gendongan Kayana. Sepertinya gadis kecil nan mengemaskan itu sangat senang ada dalam gendongan Kayana. Dan kue pilihan Quinsha pun sudah berada di tangan Kayana satunya lagi.
“Iya..iyaaaa “. Bersorak senang.
“Okeh “. Spontan mencium pipi mengemaskan Quinsha.
“Sudah semua mbak ?” Suara ramah kasir pada Kayana yang kebetulan telah mengumpulkan semua belanjaannya di kasir, sebelumnya.
“Sudah, tolong ya di hitung !” Membalas pertanyaan dengan sikap tidak kalah sopan.
“Dan kuenya mbak ?” Selesai menghitung belanjaan Kayana. Sadar kalau ada kue di tangan Kayana.
“Itu kue buat nenek Shasa tante “. Suara Quinsha heboh. “Itu Shasa yang bayar ya tante !”
Apah...? Tante ? Astaga, aku ini masih muda tahu. Suara hati kekesalah kasir di dalam hati.
“Baiklah “. Jawaban singkat, setengah malas tetapi, tetap berusaha mempertahankan sikap ramah.
__ADS_1
“Ini total belanja mbaknya ya “. Menunjuk beberapa digit nominal pada layar.
Kayana mengangguk paham dan segera membayarnya.
Kemudian, “dan ini belanjaan adik imut ya “.
“Ini tante “. Menyerahkan gulungan uang di dalam genggamannya.
Astogeeee, dia panggil tante lagi. Ihhhhh...
Suara kekesalan hati si kasir semakin menjadi.
“Terima kasih mbak dan adik imut. Semoga puas berbelanja di swalayan kami “. Melepas kepergian Kayana dan Quinsha yang masih betah di dalam gendongan Kayana.
“Jadi, Shasa ke sini sama siapa ?” Hampir mendekati pintu swalayan.
“Sama Ayah dan Paman, Kak. Itu, itu “. Menunjuk ke arah parkiran. Ada dua buah mobil sedang terparkir di sana. Mobil dinas milik Kayana, dan salah satunya adalah sedan mewah yang Kayana tebak merupakan mobil milik orang tua si imut Quinsha.
“Apakah Shasa bisa bawa kue ini sendiri ?” Bertanya dengan mengangkat kotak kue.
“Ee-eee “. Menggeleng.
“Kalau gituh kakak antar sampe mobil Ayahnya Shasa ya ?”
“Asikkkk “. Mempererat pelukan di leher Kayana. Tersenyum bukan kepalang senangnya.
Sedang Kayana, tidak bisa menolak untuk ikut tersenyum dengan kepolosan Quinsha. Sambil berjalan keluar pintu swalayan, Kayana berbincang kecil bersama Quinsha.
Sementara Kayana dan Quinsha sedang melangkah menuju parkiran, ternyata Sadewa menyadari kalau gadis kecil kesayangannya sedang berada dalam gendongan seseorang. Mencoba mengamati dari balik kaca mobil mewahnya, Sadewa nampak bingung. Tidak kenal dan terheran, Quinsha sangat nyaman bersama seseorang itu, tertawa lepas, memeluk orang itu penuh kasih.
Siapa orang itu ? Mulai sedikit curiga.
Tanpa kata-kata apapun membuka pintu mobil sendiri, turun tanpa berbicara sepatah katapun pada Martin dan si sopir pribadinya.
“Kak ?” Martin heran, spontan menghentikan aktivitas tangan di telepon genggamnya, yang tadi sibuk dengan beberapa laporan baru masuk. Ikut serta membuka pintu mobil bagian depan, turun dan menyusul langkah panjang Sadewa.
“Kakkkkk......?” Bersuara agak keras. “Kak, ada apa ?”
Tetapi di acuhkan oleh Sadewa.
“Quinsha !!!” Suara Sadewa begitu sampai di depan Kayana. Sadewa terlihat memberikan tatapan tidak senang.
“Kamu ?” Kayana setengah mengangga saat tahu siapa yang memanggil sosok gadis kecil dalam gendongannya. Cukup kaget dan masih ingat dengan jelas kejadian di swalayan semalam.
“Kamuuuu....?” Sadewa tidak kalah kaget, wanita yang kemarin mengganggu acara belanjanya di swalayan.
“Lepaskan anakku, kau mau menculik anak gadisku ya ?” Segara tersadar. “Quinsha, sini sama ayah !” Setengah menarik Quinsha dari gendongan Kayana.
__ADS_1
“Kamu, jangan sembarangan bicara !” Menyerahkan Quinsha pada Sadewa.
“Ayah, ini tuh Kakak cantik, kakaknya baik banget sama Shasa. Shasa suka sama Kakak cantik “. Ocehan Quinsha setengah menolak saat Sadewa mengendongnya, berbicara apa yang dia rasa. “Aku sayang sama kakak Kayana, aku mau main sama kakak Kayana, ayah !” Merengek.