Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Awal Cerita (2)


__ADS_3

🌹🌹🌹


Cerita Pun Di Mulai !!!!!


Praakkkk...


Map tebal berwarna hitam, dengan isi lembar-lembar kertas penting di lempar begitu saja oleh tangan kekar dari sosok lelaki tampan yang sedang sangat marah, ke arah pria tua yang mungkin usianya sudah di angka lima puluh tahun.


Lemparan yang sempurna, tepat sasaran. Map hitam tebal itu mendarat di pelipis kanan si pria tua.


Sakit, erang di pria tua di dalam hati. Ada tetesan darah jatuh ke pipinya, hingga berakhir di baju kemeja maronnya. Sayang, dirinya terlalu takut untuk bersuara, memberitahukan betapa sakit akhir dari lemparan map tebal tadi, apa lagi untuk mengelap tetesan merah yang mulai mengotori kemejanya itu . Pria tua ini, lebih memilih meringis di dalam hati, menahan semua yang sedang terjadi padanya.


“Jangan karena kau sudah lanjut usia, jadi kau bisa merasa bebas mau berkhianat di sini “. Si lelaki tampan, si pelempar map hitam tadi bersuara keras. “Aku tidak suka pada penghianat yang diam-diam menikamku dari belakang “.


“Saya bersumpah tuan muda, saya tidak pernah berkhianat pada anda “. Dengan sisa keberanian mencoba menjawab jujur. “Saya setia pada anda, juga pada tuan besar dahulu. Saya berani sumpah tuan “. Menepuk dada sebelah kiri dengan tangan kanan berkali-kali. “Saya berani sumpah “.


“Lantas, bagaimana semua ini terjadi ?” Si lelaki tampan tetap tidak percaya. “Bagaimana mungkin dana perusahaan di bawa divisimu menghilang sampai hitungan puluhan juta ?”


“Tuan muda, tuan boleh melaporkan saya pada pihak keamanan kalau tuan sangat ragu pada saya !” Pasrah dan sangat sedih mendapati sang tuan tidak percaya padanya. “Penjarakan saya kalau tuan ragu saya akan menghilang selama kasus di selidiki ! Tapi, satu hal tuan. Satu hal yang pasti, saya tidak bersalah !” Berbicara sangat yakin.


Si lelaki tampan yang di panggil tuan muda oleh pria tua itu mendadak terdiam, jelas dirinya agak terkejut dengan keberanian si pria tua memberi solusi barusan. Sebuah tantangan yang terlihat sadar di utarakan, berani dan penuh keyakinan.

__ADS_1


Dalam diam, ada ruang kecil di dalam hatinya yang mulai bertanya-tanya pada sosok pria yang usianya nyaris sama dengan usia Ayah kandungnya, jikalau sang ayah tersayangnya itu masih ada.


Sementara itu...


“Tu, tuan, akhirnya anda kembali “. Suara senang di antara rasa gemetar gadis muda yang bertugas sebagai penunggu lobby ruang kerja Presdir, si pria tampan bertangan kekar yang sedang terdiam di antara amukannya di dalam ruang kerja.


“Ada apa ?” bertanya heran.


“Tu, tuan muda mengamuk di dalam “. Informasi singkat yang membuat siapa saja bakal lari menjauh. Sosok tuan muda, Presdir pewaris Sunjaya Company bukanlah sosok pria ramah, meskipun dia sebenarnya punya wajah setampan titisan Dewa. Tetapi, siapa yang tidak tahu, dalam kondisi baik saja si Presdir muda ini sudah di kenal arogan dan dingin. Apa lagi kalau sedang marah, terbayang bukan seberapa mengerikan dirinya ?


“Kenapa kalian tidak segera menghubungi saya “. Mendesah kesal. “Ah, kalian sungguh bodoh “. Segera menuju ruang kerja Presdir.


Dua kali ketukan pintu, tanpa menunggu sahutan pintu pun segera di buka.


Sang Presdir masih diam, tetapi sudut matanya jelas menyadari siapa sosok yang telah begitu berani masuk ke ruang kerjanya begitu saja, tanpa mendapat izinnya terlebih dahulu.


“Ckckckck “, si pengetuk pintu masuk, menggeleng heran dengan mata kecewa pada sang Presdir muda itu.


“Mari Paman, saya bantu Paman keluar “. Memenang tangan pria tua bernasib malang, yang masih meringis kesakitan di dalam hati dengan luka mengaga di dahi kanannya.


“Saya tidak bersalah Martin “. Sebuah kalimat penuh rasa kecewa yang terpancar di wajah kesakitannya. “Tapi tuan muda tidak percaya “.

__ADS_1


“Sudah-sudah, kita obati dulu luka paman ! Yang tidak penting lainnya, nanti saja kita bicarakan !” Sengaja mengeraskan suara untuk kata-kata bagian akhir. Sepertinya lelaki yang bernama Martin ini sengaja untuk mengejek sang Presdir.


“Ayo, saya bantu Paman keluar “. Menuntun lelaki tua itu menuju pintu ruang kerja.


Aaaaah, suara putus asa di dalam hati si lelaki tua, sebelum dirinya benar-benar pergi dari ruangan itu.


“Yona “. Memanggil gadis muda si petugas lobby. “Cepat bawa Paman Gunta ke Klinik di lantai 2, perintahkan dokter untuk mengobati lukanya, kemudian minta surat izin untuk Paman !”


“Paman beristirahatlah barang dua atau tiga hari ini, pastikan luka Paman sembuh dulu, baru masuk kerja lagi !” Lelaki bernama Martin ini menepuk bahu Paman Gunta, lelaki tua yang tadi merasakan sakitnya lemparan map hitam tebal di pelipis kanannya.


“Martin, harapanku hanya kamu “. Menatap Martin penuh permohonan. “Martin Jawhari, tolong pulihkan nama baikku ! Bantulah aku ! Aku sungguh tidak bersalah. Kalau aku mau korupsi, kenapa menunggu sekarang, kenapa tidak semasa tuan besar masih ada ? Atau, atau di masa peralihan tuan muda menjadi Presdir, apa lagi nominal yang hilang hanya puluhan juta “.


“Aku di jebak, tolong aku, tolong aku Martin “. Suara yang sangat bermohon.


“Paman jangan khawatir, aku akan menyelidiki semua ini “. Mencoba menenangkan. “Yang penting sekarang, obati luka Paman dulu !“


Lelaki tua yang kemudian diketahui bernama Paman Gunta ini mengangguk patuh. Dirinya sangat percaya pada Martin Jawhari. Putra tunggal sekretaris yang melegenda di Sunjaya Company, putra kebanggaan Kristo Jawhari dan Resya Maytini ini pasti akan membantunya.


Lelaki tua itu sangat yakin. Dengan segala pengharapan, dirinya berusaha tersenyum dan menunduk hormat, sebelum berlalu mengikuti langkah Yona, si petugas lobby ke Klinik perusahaan.


Aku bergantung pada kamu Martin, suara hati Paman Gunta penuh pengharapan sebelum benar-benar pergi meninggalkan Martin.

__ADS_1


__ADS_2